Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 165



Mendaki gunung dan melewati lembah memang tidak semudah yang terbayangkan siapapun. Keduanya membutuhkan tenaga ekstra untuk berulang kali menaiki dan menuruni setiap tanjakan. Meskipun hawa cukup menyejukkan, peluh tetap mengalir berkat keluarnya tenaga dan panas mengimbangi usaha untuk melewati pegunungan Santavale.


Kaki mulai terasa nyeri menjalar dari atas, seperti sedang mengangkat bongkahan batu hanya menggunakan kedua kaki secara terpisah. Napas pun mulai ngos-ngosan bagi beberapa dari mereka. Bagi royal guard seperti Tatro dan Irons, hal ini sudah menjadi seperti sarapan sehari-hari.


Lana yang tengah menjadi salah satu di barisan belakang sampai mengeluarkan pedang dari selongsong punggungnya. Ia sampai menancapkan pedang pada lantai tanah bercampur batu, seperti menggunakan tongkat sebagai penyangga. Katherine, juga menggunakan tongkatnya untuk menyeimbangkan diri dalam berjalan. Ia dan Lana menjadi murid yang berada di posisi terbelakang.


Beatrice, meski penuh determinasi dan semangat, mulai berat napasnya sampai ia berhenti sejenak, membiarkan dirinya terlewati oleh Sandee. Beruntung, ia menyaksikan matahari seperti tertutup oleh awan putih dan kelabu. Ia akan merasa lebih lelah dan panas sampai mengeluh kalau cuacanya cerah dan memicu hawa panas, apalagi ia tidak memakai topi putihnya lagi, jenis sun hat.


Sandee memperhatikan keadaan Katherine, Lana, dan Beatrice di belakangnya yang semakin melamban. Saat ia berbalik ke depan, ia menyaksikan puncak bukit masih amat jauh, apalagi jalannya berbelok-belok. Terlebih, ada peluang mereka harus rela memanjat tebing.


“Teman-teman!” sahut Sandee. “Kurasa kita istirahat dulu sejenak.”


Semuanya yang berada di barisan di depan mereka menoleh pada Sandee. Ruka pun mengeluh hanya dengan mendesah, sementara Zerowolf hanya menggeleng.


“Puncak gunung masih jauh, kan?” sahut Yudai.


Tatro mengangguk. “Baik. Karena kelihatannya kalian cukup lelah—”


Irons langsung memotong secara datar, tanpa berpikir panjang. “Tolong jangan bilang untuk minta istirahat. Kita membuang-buang waktu.”


Riri, sebagai pemimpin, mengambil alih perintah saat melihat semuanya terlihat ngos-ngosan, termasuk dirinya. Mereka, sebagai murid Akademi Lorelei, belum terbiasa mendaki pegunungan yang cukup panjang.


“Baik. Kita istirahat dulu. Kurang lebih lima belas menit.”


Semuanya bernapas lega dan mulai mengambil posisi masing-masing, berbalik dan mulai menempatkan bokong pada tanjakan agak datar, menatap langit berawan. Mereka juga tentu saja berbagi botol air minum, sampai mengingatkan agar tidak rakus sampai menemukan sebuah mata air di tengah-tengah pegunungan.


Udara lembut bercampur hawa dingin dari pegunungan berembus tidak hanya menyapu keringat dan hawa panas dari tubuh. Seluruh pikiran karena masalah Royal Table, terutama teungkapnya Sierra sebagai seorang mata-mata, seperti terusir sejenak dari bayang-bayang.


Sans menutup mata membiarkan udara mengosongkan pikirannya. Begitu ia membuka mata, ia memandang pemandangan di samping kanannya. Dari ketinggian, ia dapat melihat sebuah padang rumput membentang luas, juga beberapa monster yang berkeliaran seperti kumpulan butir bergerak.


Ia melirik pada yang lain, tidak ada satupun yang memulai percakapan. Semuanya menikmati embusan angin bersama dengan suasana pegunungan. Ingin sekali membebaskan diri dari keterpurukan, apalagi setelah mereka menghadapi banyak masalah.


Beatrice menghela napasnya. Ia juga sama seperti Sans, memancarkan juluran bibir ke atas pada semuanya. Secara teknis, ia sudah berhasil mencapai tujuannya, melihat dunia luar. Tetapi … masih ada tempat di kerajaan Anagarde yang belum ia eksplorasi sama sekali. Suatu saat nanti setelah ia lulus, ia akan berkeliling dunia untuk mengekplorasi dunia luar.


Terlebih, impiannya akan jauh lebih lengkap jika Neu berada di sampingnya sebagai teman petualang. Saat itu, keberadaan Neu sama sekali tidak diketahui, apalagi setelah mendengar Sierra sebagai seorang mata-mata Royal Table yang mungkin tahu keberadaannya. Selanjutnya, ia melirik Yudai.


Yudai bangkit dari duduknya dan mengangkat kedua tangan, membiarkan udara sejuk menyerbu dirinya. Peluh pun seakan tersapu dari wajah dan lehernya. Ia mendekatkan tangan pada kening, lebih tepatnya jempolnya. Ia memutar kepalanya, cukup semangat menyaksikan panorama dari ketinggian pegunungan.


“Hati-hati, Yudai,” bujuk Riri.


Zerowolf melirik semuanya. Tidak ada satupun yang bersuara sama sekali. Kesunyian memicunya canggung, sangat canggung. Ia sampai naik darah saking sunyinya, wajahnya juga mengerut.


“Kenapa tidak ada siapapun yang mengajak bicara!” sahutnya.


Kehebohan Zerowolf menginterupsi ketenangan yang dialami hampir seluruh teman-temannya, bahkan kelima royal guard sekalipun. Beberapa dari mereka, terutama Sandee dan Ruka, sungguh jengkel atas perilakunya.


Ruka mengangkat tangan begitu menoleh pada Zerowolf di kirinya. “Tampaknya semuanya ingin bisu dulu. Terlalu banyak masalah. Pasti kita akan mengalami masalah lagi.”


Sandee memperingatkan, “Tolong jangan ingatkan kita semua tentang semuanya.”


***


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan menuju gunung kedua dari pegunungan Santavale. Saat mencapai puncak gunung tersebut setelah berlama-lama mendaki, memanjat, dan mengalahkan berbagai monster. Sungguh melegakan bagi Sans dan lainnya, mereka dapat berjalan secara leluasa di puncak tersebut.


Tatro dan Irons merentangkan tangan bahkan sebelum mereka menapakkan kaki pada puncak tersebut. Saat melihat puncak tersebut dengan mata sendiri, terdapat beberapa lubang besar di setiap sisi. Sungguh, meski begitu, gunung tersebut tetap berdiri kokoh. Juga, terdapat tulang berulang di dekat salah satu lubang itu.


“Giant worm,” ucap Tatro.


“Giant worm?” ulang Zerowolf heran.


“Apa maksudnya ini?” Sandee juga tertegun menatap sebuah tulang berulang itu.


Katherine dan Beatrice mulai gemetar mendapati giant worm memang sangat berbahaya bagi siapapun yang melintas pegunungan Santavale.


“Omong-omong, Beatrice,” Zerowolf mengutarakan pertanyaan, “bagaimana keluargamu pergi ke Silvarion dari Beltopia? Mereka tidak mungkin lewat sini, kan?”


“U-um … keluargaku belum pernah ke Silvarion lewat sini. Mereka … hanya melewati lautan, hanya memutari laut semenjak mereka dengar pegunungan Santavale menjadi salah satu jalan berbahaya.”


“Ja-jalan berbahaya katamu!!” Katherine tidak dapat menahan lagi untuk memalingkan wajah. Panik tergambar pada air mukanya.


“Berarti berburu giant worm di sini sering sekali menjadi misi kelas A?” Yudai asal menyimpulkan. “Aku mengerti mengapa Irons memilih jalan ini daripada santai-santai di kapal kembali menuju ibu kota! Pasti dia ingin melatih kita semua untuk bersiap menghadapi misi kelas A!”


Tay merespon datar, “Itu sih hanya kamu yang berharap.”


Tatro mengangguk dan mulai menapakkan kaki pada puncak gunung berlubang itu. “Aku duluan saja.” Ia juga menarik tombaknya dari selongsong di punggungnya, mengeratkan genggaman kedua tangan padanya. Ia melangkah perlahan memancing perhatian para giant worm dari setiap lubang.


Tatro tidak melangkah pelan dan diam-diam, melainkan berlari dan menghadap salah satu lubang di kiri. Muncullah getaran kecil memicu sebuah bundaran berukuran setara dengan lubang itu keluar.


Sans dan teman-temannya sampai tertegun dan melongo, jantung mereka berdetak lebih kencang menatapi lingkaran yang keluar dari lubang itu seakan melebar dan meluncur.


“A-AAAA!!” jerit sebagian dari mereka, terutama Katherine dan Beatrice, saat wujud tersebut terungkap sebagai seekor giant worm. Sebuah monster ulat raksasa tanpa bulu berkulit cokelat seperti cangkang dan bergading besar setara dengan ukuran mulutnya yang sudah lebar itu.


“Awas!!” jerit Yudai.


Tatro melompat saat giant worm itu mencapai tanah datar sambil membuka mulut lebar. Ia mendarat tepat pada kepala giant worm dan menancapkan tombak menuju bagian atas kepala, lebih tepatnya di antara kedua mata hitam besar. Tombak berhasil ia tusukkan begitu giant worm itu meluncur menuju lubang satu lagi di hadapannya.


“Menyingkir!!” Zerowolf panik mendapati giant worm itu meluncur di tanah cukup cepat, seperti sebuah kereta.


Tatro mengangkat tombaknya yang tertancap dan melompat ke samping kirinya, jalan lurus menuju akhir dari puncak gunung, semuanya ia lakukan tanpa menoleh ke belakang. Giant worm itu kembali memasuki lubang tersebut.


“Hebat,” ucap Sans takjub.


Irons dan ketiga royal guard lainnya segera menarik pedang dari selongsong di punggung masing-masing, bersiap siaga untuk melindungi Sans dan teman-temannya. Irons dan satu rekannya mengambil posisi di depan, sedangkan dua royal guard lainnya berlari mengambil posisi di paling belakang mereka.


Riri kemudian memberi perintah, “Berhati-hatilah. Kalian juga siapkan senjata masing-masing. Kita tahu lima royal guard tidak akan melindungi bagian tengah kiri dan kanan, apa boleh buat.”


Selagi semuanya mengeluarkan senjata, Beatrice menelan ludah, berpikir mungkin salah satu dari mereka akan menjadi santapan giant worm. Ia sampai menggenggam song sphere-nya cukup erat.


Katherine, meski keraguan dan ketakutan menggerogoti benaknya, ia menempatkan tongkatnya ke tanah dan mulai membacakan mantra. “Obdel eht shezid orf protectio.”


Sebuah salib putih muncul menyelimuti dirinya dan seluruh teman-temannya, juga Irons, Tatro, dan ketiga royal guard lainnya. Salib putih itu seakan terserap seraya menambah ketahanan fisik. Tay, Lana, dan Ruka telah siap mengenggam pedang masing-masing, Yudai dan Zerowolf juga mulai mengambil panah dari quiver dan menempelkannya pada busur, Sandee menggenggam erat tombaknya. Sans juga mulai mengunci genggaman belatinya.


“Maju!” sahut Riri.


Semuanya mulai melesat, beberapa dari mereka bahkan sampai menjerit. Hal itu memicu satu per satu giant worm keluar dari lubang masing-masing dan berpindah menuju lubang lainnya. Para giant worm itu mengincar mereka sebagai mangsa.


Riri pun menyadari hal ini, ia membuat keputusan dan mengubah pikirannya. “Berpencar!!”


Perpindahan giant worm yang mereka saksikan di hadapan mereka seperti lumba-lumba melompati lautan. Ada pula yang mendarat di dataran dan meluncur cepat membuka mulut.


Kelima royal guard mengempaskan senjata mereka menuju giant worm yang berdatangan. Yang lainnya juga mengempaskan kekuatan masing-masing dengan menggunakan senjata untuk sedikit membantu. Sungguh sulit bagi murid-murid akademi itu untuk menyaingi royal guard.


Irons mampu mengiris tubuh salah satu giant worm yang melompat mendatangi mereka menjadi dua tanpa ampn, memicu cipratan darah keluar dari tubuh. Semuanya menghindar saat dua bagian tubuh itu terjatuh di puncak tersebut.


Bagi Sans dan teman-temannya, membantu kelima royal guard pendamping dapat menjadi pengalihan dari masalah Sierra sebagai mata-mata Royal Table. Mereka ingin tetap maju, mereka ingin terus maju mencapai tujuan, yakni menuju ibu kota dan kembali ke akademi.