Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 52



Yudai menepuk kedua pundak Sans. “Sans, dengarkan kami dulu. Aku paham kamu masih terguncang oleh kata-kata Profesor Alexandria, tapi menurutku ini satu-satunya cara untuk mencapai tujuanmu, menjadi alchemist. Benar kata Profesor Duke, kamu punya potensi untuk menjadi alchemist. Apa kamu ingin membuang potensimu begitu saja? Apa kamu ingin terus terpuruk tanpa melakukan apapun demi tujuanmu?”


“Ta-tapi—” Sans berupaya untuk membalas.


Duke menoleh  ke belakang pada salah satu murid yang melangkah kembali menuju pintu asrama. “Sebaiknya jangan di sini. Kita bicara saja di ruangan pribadi saya. Sans, kamu harus mau dengarkan kami dulu.”


***


Berbagai peralatan dan bahan-bahan alchemist menjadi perhatian Yudai ketika tiba di ruang pribadi Duke. Sebuah meja lebar menjadi perhatian Yudai semenjak botol berisi cairan telah menonjol pada pandangannya.


Diambilnya sebuah botol berbentuk labu berisi cairan hijau, sama persis seperti salah satu ramuan pemberian Nacht waktu di kapal menuju benua Aiswalt dari Grindelr. Yudai terpikir, salah satu pertanyaan tentang ramuan hijau tersebut sama sekali belum terjawab.


Yudai berbalik menatap Duke. “Profesor Duke, aku dan Sans pernah mendapat ramuan seperti ini. Kira-kira fungsi ramuan ini apa?”


“Itu ramuan penawar racun, racun apapun.”


Yudai mengangguk. “Jadi begitu. Untung saja kami masih menyimpannya.”


Sans masih terdiam menatap jendela, menatapi rindangnya pepohonan dan berwarnanya halaman kastel akademi. Ia mengibaratkan setiap kata-kata yang terlontar oleh setiap orang sebagai angin lalu tanpa makna ambigu.


Yudai menghela napas ketika kembali mendekati Sans. “Sans, maafkan aku telah memaksamu untuk berbicara. Maafkan aku karena aku tidak tahu apapun tentang alchemist sebelum Profesor Alexandria mengatakan hal yang sesungguhnya. Aku … sebenarnya tidak ingin kamu mengambil risiko yang sangat besar, tapi karena keadaanmu sebagai murid bermantel putih dan juga tujuanmu—”


Duke memotong, “Ini bukan salahmu, Yudai. Ini salah saya tidak mengatakan larangan ini dari awal. Saya tentu tidak ingin kamu dikeluarkan dari akademi ini karena kamu kurang mampu seperti yang lain atau ingin menjadi alchemist. Sans, saya mohon, bisa saya bilang ini menjadi hal yang tepat untuk mencapai tujuanmu.”


Sans berbalik menoleh pada Duke dan Yudai, mulai menjelaskan, “Profesor, ibu saya terkena penyakit yang sulit disembuhkan, penyakit yang benar-benar langka. Penyakit itu membuat ibu saya lumpuh, tidak bisa menggerakkan badan. Bahkan, ibu saya lupa dengan diriku, ibu saya kehilangan semua ingatannya.”


Duke bersimpati, “Aku turut prihatin dengan ibumu, Sans. Obat untuk penyakit itu hanya bisa dibuat oleh alchemist, itulah mengapa saya ingin kamu menjadi alchemist begitu memikirkan tulisanmu tentang tujuanmu untuk masuk ke akademi ini.”


“Tidak cara lain? Selain menjadi alchemist?” Sans ingin memastikan.


“Obat untuk penyakit ibumu hanya bisa dibuat oleh alchemist, juga, obat itu cukup sulit untuk dibuat. Mau tidak mau, kalau kamu ingin menyembuhkan ibumu, kamu harus menjadi alchemist, tidak peduli siapapun yang melarang, bahkan Profesor Alexandria sekalipun, kamu tidak boleh menyerah, apalagi gundah.


“Sans, bukan hanya itu, saya melihat bakat terpendam kamu untuk menjadi alchemist, mungkin itu dari saat kamu membaca Buku Dasar Alchemist pemberian Nacht. Saya tidak ingin kamu menyia-yiakan semuanya, segala potensi yang telah tertanam di otakmu, apalagi hingga kamu tidak berhasil mencapai tujuanmu.”


Yudai mengangguk setuju. “Benar, semuanya benar. Meski Profesor Alexandria sudah melarang kita semua untuk menjadi alchemist, tapi ini satu-satunya jalan untuk menyembuhkan ibumu, Sans. Apapun yang terjadi, kamu harus terus berjuang, belajar menjadi alchemist, demi sampai pada tujuanmu.


“Aku sudah tahu dari awal semenjak Nacht memberimu Buku Dasar Alchemist, lalu setelah kamu gagal dalam aptitude test, kamu mempelajarinya. Kamu mengajakku untuk berburu jaring laba-laba es untuk membuat gauntlet khusus alchemist. Melihatmu terpuruk seminggu terakhir, apalagi setelah mendengar larangan Profesor Alexandria, aku tidak ingin kamu terpuruk terus, aku tidak ingin kamu diam saja. Sans, jadilah alchemist demi mencapai tujuanmu.


Sans termenung kembali, terkilas kembali ketika dirinya menenggelamkan sang ibu di mata air kehidupan. Penantian sang ibu akan sia-sia jika dia menyerah begitu saja di tengah jalan, apalagi sebagai murid gagal di Akademi Lorelei. Pembelajaran tentang alchemist dari Buku Dasar Alchemist dan bimbingan langsung dari Profesor Duke juga dia renungkan kembali. Kedua hal tersebut membuat dirinya menjadi seperti sekarang, memiliki potensi untuk menjadi alchemist.


Sans menegakkan kepalanya. “Baik. Aku akan menjadi alchemist, tidak peduli apa risikonya, tidak peduli siapapun yang melarang, yang jelas, selama kita sembunyi-sembunyi mempelajarinya, tidak apa-apa, kan? Ini demi ibuku.”


Yudai melengkungkan bibir ke atas, sampai terbuka menunjukkan gigi. Sans yang seperti dulu telah kembali di hadapannya.


Duke mengulurkan tangan pada Sans. “Baik, Sans. Kamu siap untuk belajar lebih lanjut tentang alchemist.”


“Baik.” Sans membalas salam Duke.


“Yudai.” Duke melirik. “Maaf telah merepotkanmu, kamu jadi terlibat dengan hal ini.”


“Tidak apa-apa.” Yudai menyeringai. “Aku justru sudah tahu dari awal. Aku juga turut senang pada Sans. Meski seharusnya aku tidak mengetahui hal ini, apa boleh buat, aku bakal simpan baik-baik rahasia ini.”


“Tidak ada yang boleh tahu tentang ini, alchemist, apalagi Profesor Alexandria.”


“Siap. Yang penting Sans bisa belajar pada Anda setiap hari.”


“Oh ya, Sans. Ini bahan-bahan yang harus kamu dapatkan untuk obat penyakit ibumu, tapi bahan-bahannya sangat langka. Ada tiga. Air mata phoenix, sisik kraken, dan batang pohon kehidupan.”


Seperti dugaan Duke, ketiga bahan itu terdengar asing bagi Sans, sangat asing. Tidak heran pembuatan obat yang terbuat dari ketiga bahan itu benar-benar sulit bagi alchemist manapun.


“Phoenix? Burung api langka itu, kan?” ulang Yudai.


“Benar. Phoenix, burung berbulu merah penuh dengan api, sangat langka. Ada sebuah gunung berapi di benua Aiswalt, cukup jauh dari Akademi Lorelei, di situlah keberadaan Phoenix. Tapi keberadaan mereka cukup langka, jarang terlihat. Kalian bisa pergi ke sana untuk berburu Phoenix dan mengambil air matanya.”


Duke mendekati dan membuka lemari begitu lebar. Tangannya memasuki ke dalam dan menggenggam sebuah botol kecil bertutupkan sebuah gabus cokelat.


“Ini. Kalian membutuhkan ini untuk menyimpan air mata Phoenix. Setetes air mata Phoenix mungkin cukup untuk satu obat, tapi sebaiknya kalian menyimpan sebotol ini untuk berjaga-jaga. Patut diingat, Phoenix merupakan hewan yang cukup cepat. Kalian harus berhati-hati mendekati Phoenix untuk mendekati air matanya.”


Sans meraih botol kecil dari genggaman Duke. “Jadi, dua bahan lainnya? Apa Anda tahu di mana keberadaan dua bahan lainnya?”


“Saya masih mencari informasi tentang itu. Dengar, sebaiknya kalian pergi sekarang. Sans, kamu tetap harus kemari mulai besok. Atau begini, besok kalian boleh mulai mencari Phoenix di gunung berapi itu. Berhati-hatilah. Sans, percayalah, kamu akan menjadi lebih kuat.”