Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 123



Entah merasa lebih lemah atau lebih sial, berkali-kali Zerowolf menantang Yudai dalam mock battle, hasilnya selalu sama. Yudai sering sekali memenangkan setiap mock battle.


Tanpa pernah bosan, ia tidak pernah menyerah dalam menantang rival bebuyutannya itu selama awal semester kedua berlangsung. Terlalu sering mengajaknya dalam mock battle, semakin banyak pula murid-murid yang bosan menyaksikan kehebohan tersebut sehingga mereka memilih tidak menonton atau menghindari situasi.


Sering sekali, Zerowolf hampir mendapati situasi saat ia hampir menang, sangat tipis. Entah itu ia meleset dalam melakukan tembakan terakhir pada Yudai, benar-benar ceroboh dalam mengukur akurasi, atau bahkan hal terkonyol baginya, dirinya terkena tembakan penentu poin terakhir duluan.


Zerowolf meratapi nasibnya dengan menempelkan kepala pada meja perpustakaan, kehabisan akal dalam merenungi kesalahannya dalam setiap mock battle yang dia lalui. Bukan hanya itu, ia telah malu, sangat malu ketika banyak murid yang mengejeknya setelah berkali-kali kalah.


Sering sekali ia melayani tantangan mock battle dari murid archer lainnya, termasuk murid tingkat atas. Sangat lelah, perpustakaan yang hening dapat menjadi tempat istirahat sempurna baginya, tidak seperti di gedung asrama yang kadang ramai itu.


“E-eeeh!” sahut Katherine pelan menghampirinya. “Ze-Zerowolf, ada apa denganmu! Sa-sadarlah!”


Katherine menggoyangkan bahu Zerowolf layaknya  menggerakkan ikan yang keluar dari air, memastikan kesadarannya masih utuh.


“Uh.” Zerowolf mengangkat kepala dan bahunya dari meja serta menoleh. “Katherine, apa aku ini benar-benar lemah? Sangat lemah?”


“A-a-anu—” Katherine terbata-bata lagi. “—ja-jangan berpikir begitu.”


Katherine menghentikan ucapannya, menyadari kata-katanya mengundang reaksi agresif hingga memicu kecanggungan. Ia kewalahan dalam menenangkan Zerowolf.


“Ah, setiap kali aku mock battle melawan Yudai, selalu saja dia yang menang. Bosan sekali!!” Zerowolf mengencangkan suaranya, bahkan tanpa memperhatikan sekelilingnya. “Padahal berkali-kali aku menunjukkan kekuatanku, mereka malah menertawakanku!! Aku jadi buah bibir dan—”


Salah satu murid yang tengah membawa buku memperingatkan, “Pelankan suaramu, ini perpustakaan tahu!”


Dua murid di sebelahnya juga bertutur, “Hei, itu Zerowolf. Si archer pencari perhatian.”


“Dia bisanya hanya banyak omong. Pasti kekuatannya payah.”


Terpicu! Zerowolf kembali membanting kepalanya pada meja. Omongan murid akademi turut membuatnya malu, sangat malu hingga tidak berani menunjukkan muka.


“Sebaiknya kamu tinggalkan aku dulu, Katherine. Tidak baik kalau kamu bersamaku sekarang.”


Katherine membela, “A-anu, kamu juga sudah menerima tantangan mock battle tiga kali dari murid lain, itu sudah bagus.”


“Belum cukup. Aku bahkan tidak bisa mengalahkan Yudai. Tidak heran, banyak murid yang bosan melihatku bertarung melawan Yudai semenjak Festival Melzronta berakhir. Harusnya aku yang menjadi pemenangnya saat aku melawan Yudai dalam Festival Melzronta, tapi kita akhirnya jadi seri dalam stage pertama, kedua, dan keempat!


“Ah, bagaimana aku bisa jadi lebih kuat dari Yudai ….”


Katherine menggaruk pipinya menggunakan telunjuk. “A-anu … Yudai sering sekali menjalankan misi akhir-akhir ini, baik bersama Beatrice atau sendiri. Kurasa sebaiknya kamu mengambil misi untuk berlatih.”


***


“Misi kelas A? Tidak, terlalu tinggi. Misi kelas D? Tidak, terlalu rendah. Misi kelas E? Apalagi itu!”


Banyak sekali lembaran misi kelas A, D, dan E tertempel di quest board di alun-alun ibukota. Zerowolf hanya tergiur misi hanya dari kelasnya. Ia memindai setiap lembaran untuk memastikan misi yang ia incar.


“AAAAAH!!” Zerowolf menjerit. “Mana mungkin aku mengambil misi kelas D dan E! Kudengar Yudai sudah sering mengambil misi kelas C dan B! Kalau begini, mana mungkin aku bisa lebih kuat!”


“Oh, Zerowolf! Ternyata kamu mengambil misi juga?” Lana menyapa.


Zerowolf menoleh saat tertegun Lana telah berada di samping kirinya, memegang sebuah lembaran misi. Selain itu, ia tertegun ketika murid knight perempuan itu juga memegang sebuah perisai.


“Kenapa? Kagum dengan perisai baruku?” Lana memamerkan perisai berbentuk trapesium berwarna logam putih keperakan. “Akhirnya aku sudah membelinya setelah mengumpulkan uang cukup banyak!”


“Kamu mengambil misi kelas D atau E, kan?” tebak Zerowolf.


“Bukan keduanya. Tada!!”


Lana menunjukkan lembaran misi itu tepat pada wajah Zerowolf agar dapat terbaca cukup jelas. Misi kelas B, itu jenis misinya,


“Butuh bantuan segera! Ambil satu buah telur cockatrice di puncak gunung Sandora. I-ini misi kelas B!! Cockatrice itu makhluk berbahaya.”


“Ya, makanya aku butuh tim, t-i-m. Aku ingin kamu ikut serta dalam misi ini. Sebenarnya, aku ingin mengajak Kakak juga dalam misi ini, sayang sekali dia tidak ada di akademi akhir-akhir ini. Padahal aku ingin sekali menjalankan misi bersama Kakak.”


“Ka-kakak? Maksudmu Sans?”


“Ya, setidaknya aku sudah mengajak Tay, kebetulan dia sedang menganggur. Lagipula, temannya Neu sedang sibuk di perpustakaan, sepertinya selalu saja sibuk saat ingin kuajak.”


“Kamu mengajak Tay? Murid yang paling dibenci di akademi itu?”


“Dan … aku juga mengajak Sierra, sang priest papan atas. Sayang sekali, Katherine ikut Riri dalam misi lain, padahal ingin kuajak juga.”


“Cukup adil. Omong-omong, kita butuh surat izin dulu, kan? Jarak menuju gunung Sandora menempuh dua hari lho, meski besok adalah akhir pekan.”


Lana mengeluarkan surat izin yang ia sembunyikan di balik lembaran misi itu. “Sudah! Tinggal kuisi siapa saja yang akan ikut misi selama dua hari ke depan! Kita akan berkemah! Berangkat besok fajar sekali!”


Hal yang tidak mereka ketahui adalah … Neu seperti memata-matai dari balik samping kanan quest board, mencuri dengar seluruh percakapan Lana dan Zerowolf. Mendengar Tay disebut-sebut akan ikut misi kelas B sudah memicu iri dengki.


***


Ketika fajar menyingsing pada esok hari, Zerowolf dan Lana telah menjadi dua orang pertama pada hari itu yang telah berada di lounge room. Kekosongan pada sofa dan perapian turut mendampingi situasi sepi karena banyak murid yang masih terlelap di kamar masing-masing.


Lana duduk menghadapi perapian yang telah padam. Kaki kanannya bergetar menandakan tidak sabar menunggu Tay dan Sierra menuruni tangga.


Suara langkah kaki pada tangga pun membuyarkan lamunan mereka. Begitu menoleh, Sierra telah menuruni tangga, siap sambil membawa tongkat (staff) emas bercincin setinggi dirinya. Kilauan emas dari tongkat tersebut memicu pancaran keemasan pada mata Lana.


“Aaaah! To-tongkat yang indah sekali!”


Sierra menjelaskan, “Tongkat sihir seperti ini cukup mahal, dan kekuatan penyembuhanku akan lebih efektif jika menggunakannya. Setidaknya, aku sudah menabung untuk membelinya.


“Sebenarnya, murid priest tingkat pertama tidak memakai tongkat seperti ini untuk belajar menggunakan mantra penyembuhkan di kelas. Nantinya, mulai dari tingkat kedua, beberapa murid mulai menggunakan tongkat, sama seperti mage.”


“Semuanya sudah siap?” Giliran Tay yang muncul dengan pedang di punggungnya. “Lebih baik daripada aku harus menghabiskan waktu dengan si mata empat dan familiarnya yang tidak berguna itu.”


Tay berkomentar, “Kamu hanya ingin menonjolkan diri hanya untuk dapat menandingi si alis melengkung itu, bukan?”


“A-alis melengkung?” Lana sedikit terhran.


“Maksudnya Yudai,” Sierra menjelaskan.


“Kalau begitu, ayo kita—” Zerowolf berseru sebelum menyadari seseorang yang lain telah berada di hadapannya. “Se-sejak kapan kamu ada di sini?”


“Neu!” Lana dan Sierra tercengang ketika mendapati sosok itu telah bergabung di antara mereka.


“Kalian akan menjalani misi pagi-pagi sekali, bukan?” tanggap Neu yang telah memegang tongkat ber-orb biru itu.


“Cih.” Tay membuang muka. “Kenapa tidak kamu urus saja familiar yang tidak berguna itu?”


Neu menganggapi dengan meledak-ledak, “Kamu sendiri juga tidak membantu! Sekarang aku mengerti mengapa kamu bangun pagi-pagi! Memang benar, kamu ingin jadi lebih kuat dalam misi ini!”


“Kamu juga sering sekali tidak mengajak yang lain dalam misimu sendiri, bukan? Lalu mengapa baru sekarang kamu protes? Apa karena kamu jarang menjalankan misi bersama Beatrice, Yudai, atau Sans? Begitu?”


Sierra menghela napas. “Neu, maaf jika kamu tersinggung, tapi kamu sebenarnya tidak dalam daftar nama surat izin yang telah Lana sampaikan pada Profesor Arsius.”


Lana juga memasamkan wajah. “Sayang sekali, kalau kamu ingin ikut misi juga, seharusnya kemarin kamu bilang dulu—”


“Aku sudah mengajukan surat izin pada Profesor Arsius.”


Ucapan Neu membungkam semuanya. Tidak ada yang menyangka bahwa Neu juga ikut menyerahkan surat izin sendirian, bahkan sebelum ia memutuskan untuk ikut misi tersebut.


Zerowolf menyeringai atas perkataan Neu. Ia sampai berkacak pinggang sebelum akhirnya melipat tangan pada dadanya.


“Hebat, hebat. Pantas saja kamu begitu akrab dengan teman sekamarmu, Tay. Tidak heran Neu ingin ikut denganmu dalam misi kali ini.”


“Kami akrab? Tentu saja tidak!” tanggap Tay tersinggung.


“Aku ingin ikut misi ini atas kemauanku sendiri!” tambah Neu.


Zerowolf kembali menyindir, “Kemauanmu untuk ikut Tay, bukan? Pantas kalian benar-benar pasangan terheboh di Festival Melzronta stage ketiga waktu itu. Ingin membuatku tertawa saja.”


Lana memasang muka tak bersalahnya dan mengunjukkan telunjuk dengan lembut. “Benar! Dengan begitu, kalian dapat diandalkan sebagai tim! Ini adalah awalnya. Kalian bisa saling lebih mengenal daripada sering bertengkar. Kalian kan juga sudah lama menjadi teman sekamar, makanya jadi bosan melihat kalian bertengkar terus. Lalu—”


Tay dan Neu menjerit bersamaan, “Kami sudah kenal betapa buruknya dia!!”


***


Perjalanan untuk melaksanakan misi kelas B, yaitu mendapatkan telur cockatrice di gunung Sandora, akhirnya dimulai saat meninggalkan gerbang timur ibu kota. Dengan peta menjadi andalan navigasi, mereka mendapati gunung Sandora terdapat di dekat pusat benua Aiswalt, dekat sebuah sungai yang menjadi satu-satunya jalan ke sana.


Begitu memasuki hutan, Zerowolf mengajukan diri sebagai pemimpin dalam misi tersebut semenjak ia yang menginisiasi untuk menjalankan misi. Pada kenyataannya, Lana yang mengajaknya ketika di quest board.


Akan tetapi, awal perjalanan tidak semulus yang Zerowolf bayangkan. Berawal dari menentukan rute perjalanan. Argumen untuk menentukan arah mana mereka akan tuju, apalagi Zerowolf bersikukuh menunjuk arah demi menunjukkan kepemimpinannya, sedikit meledak.


Neu menjadi orang yang vokal untuk mencari rute paling aman menuju gunung Sandora meski harus rela tiba lebih lambat. Tanpa memberinya kesempatan untuk berargumen, Zerowolf justru mengabaikan sarannya dan langsung mengambil rute tersebut tanpa persetujuan yang lain.


Lana hanya bersemangat mengikuti langkah dan keputusan Zerowolf sebagai pemimpin. Tay dan Sierra tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Akan tetapi, Tay justru menyindir Neu yang sama sekali tidak memihak Zerowolf dalam memilih rute.


Rute yang diambil Zerowolf akhirnya menjadi rute cukup berisiko. Bukan hanya lebih banyak monster telah menanti seperti babi hutan, slime, jamur, dan kadal rumput; tetapi juga monster yang lebih berbahaya seperti orc, beruang, dan kobra selebar tinggi manusia.


Entah jumlahnya banyak atau memiliki tingkat bahaya cukup berisiko, mereka sampai berlari terbirit-birit menghindari ancaman tersebut. 


Ancaman terbesar ketika mereka dikejar-kejar gerombolan orc ber-mace berduri di padang rumput. Tentu saja, mereka berlari terbirit-birit sangat panik.


Dengan begitu, Neu pun menyimpulkan keputusan Zerowolf untuk mengambil rute perjalanan dapat berdampak fatal. Bahkan, Sierra cukup kerepotan ketika menyembuhkan luka menggunakan mantra dan tongkatnya.


Kerepotan pun akhirnya berakhir ketika mereka tiba di sebuah kota untuk singgah tepat saat sore menyingsing. Kota tersebut berlokasi dekat sungai yang akan mengarah pada gunung Sandora.


Letih, sangat letih. Kelegaan akhirnya memuncak saat mereka tiba di gerbang masuk kota tersebut. Kesan pertama terhadap kota tersebut terlihat dari beberapa bangunan berdinding kayu tanpa warna mencolok, banyaknya jembatan yang melintasi sungai pada beberapa titik perbatasan kota, dan banyaknya dagangan ikan serta daging hewan eksotik berjajakan di pusatnya.


Melihat tenda lapak dagangan daging hewan eksotik sudah membuat Neu menahan muntah, apalagi ketika melihat hewan atau monster itu disembelih hidup-hidup di hadapan setiap pembeli. Memang akan aneh jika seseorang menjadikan monster slime sebagai bahan makanan.


Zerowolf membaca nama kota tersebut pada peta. “Wow, Evermaw. Kota yang terkenal menjual barang eksotik.”


Tay berkomentar, “Hanya daging hewan? Daging monster? Kenapa tidak sekalian menjual telur cockatrice sekalian, atau setidaknya dagingnya?”


Neu menjawab, “Tampaknya semuanya adalah hewan atau monster yang sering muncul di sekitar Evermaw. Jadi monster yang lebih langka dan berbahaya tampaknya tidak dijual di sini.”


Lana menancapkan pedangnya di lantai batu, napasnya ngos-ngosan kelelahan sehabis melawan dan menghindari setiap monster yang mereka hadapi selagi menuju Evermaw. “Mana penginapannya? Aku benar-benar lelah.”


Sierra juga mengungkapkan, “Manaku juga menipis.”


Tanpa mendengar keluhan Lana dan Sierra, Zerowolf justru mengabaikannya begitu saja dan tetap berjalan, melewati berbagai tenda pasar di pusat dan beberapa bangunan menjajar.


Neu menggerutu lagi, “Dia itu! Tidak jauh berbeda dengan Yudai! Sungguh bersemangat!”


Menyaksikan Zerowolf dan Neu berjalan duluan, Tay tetap berdiri di samping Lana dan Sierra yang sudah kelelahan. Ia mendengus sambil melirik berbagai daging hewan dan monster eksotik, terutama di sekelilingnya, dua orang penduduk melewati mereka sambil melirik.


Sierra pun menghampiri kedua penduduk tersebut. “Permisi.”


Kedua penduduk tersebut seperti tersedak ketika mendengar sapaan Sierra sebagai orang asing tidak biasa jika menilai dari gaun hitam panjang dan tongkat sihirnya.


“Bisakah kalian tunjukkan di mana penginapannya? Juga kami ingin menyewa kapal.”


“Se-sewa kapal?”