
“Mulai!”
Begitu seorang kru yang menjadi penengah pertarungan terakhir memberi aba-aba dan menurunkan tangan kanan dari udara cukup cepat, Sans menjinjitkan kaki kanan di belakang mengumpulkan momentum untuk mulai meluncur.
Kaki kanannya terlepas dari lantai dan ia mulai melangkah mengayunkan belati. Di depannya, Irons juga mulai melesat dan mendorong belati menggunakan tangan kiri. Ia sampai menghela napas dan sedikit membelalak mata, lawannya kidal.
Saking tercengangnya, belatinya terpental ketika bertubrukan dengan milik Irons. Hampir saja gagang belatinya sampai terpeleset dari tagannya. Ia buru-buru menguatkan genggamannya kembali dan mundur sejenak.
Ia kembali berkonsentrasi, menyaksikan secara saksama lawannya yang amat tenang dan tanpa ekspresi, hanya kembali bersiap dengan mengangkat belati ke arahnya.
“Sans! Apa yang kamu lakukan!!” jerit Zerowolf.
“Aaaah … awal yang tidak baik untuk Kakak, sangat tidak baik!!” Lana menyentuh kedua pipi sampai seperti menampar. “Bisa saja Irons yang menguasai keadaannya!!”
Sans menarik napas dan mendorongkan belatinya ke samping, kembali menempatkan kaki kanan di belakang seraya mengambil ancang-ancang. Ia pun melesat dan menjerit melampiaskan tenaga, ingin sekali mengalahkan Irons dan membawa teman-temannya menuju kemenangan.
Irons lagi-lagi tanpa bicara dan sangat tenang menubrukkan belatinya pada belati milik Sans. Setiap Sans mengayunkan belatinya, ia tangkis berkali-kali, tidak heran bunyi sering terdengar, seperti irama tersendiri baginya.
Sans tidak ingin mengakuinya dalam hati, Irons memang memiliki kemampuan hampir setara dengan Dolce dalam menggunakan belati. Akan tetapi, ia tahu pasti Irons punya sebuah kelemahan, kelemahan yang harus ia manfaatkan.
Ia berusaha tidak membiarkan luapan amarah dan frustrasi memenuhi benaknya agar tidak menjadi kacau. Begitu ia menubrukkan mata belatinya lagi, ia memusatkan tenaga pada lengan untuk mendorong. Sayang, sayang sekali, dorongan dari genggaman belati Irons masih terlalu mendominasi membuatnya terguncang.
Serangan pun tertangkis. Sans hampir saja membiarkan belatinya terselip dari genggamannya. Ia hampir tersandung saat menguatkan genggaman belatinya hingga posisi tubuh miring dalam berdiri.
Belum mampu bernapas lega, Irons melompat dan mengayunkan belati menggunakan dua tangan, layaknya menebaskan pedang. Ia sigap mengembalikan posisi tubuhnya berdiri tegak dan menangkis serangan itu. Namun, tubrukan belatinya masih terbilang lamban memicunya untuk mengambil langkah mundur.
Sans hanya bisa bertahan saat Irons begitu santai mengempaskan ayunan belatinya sambil secara konsisten maju mengikuti irama langkah mundurnya. Ia sampai menggeretakkan gigi, sungguh, tidak jauh berbeda daripada saat melawan Dolce.
“Bagus, Irons!!” sahut Tatro membara.
“Ah! Sans kewalahan!” seru Yudai panik.
Sans tahu ia tidak bisa terus bertahan dan mundur. Ia harus melawan, akan tetapi keraguannya mulai menggerogoti, terpicu oleh ingatan saat ia melawan Dolce dua kali. Kuat, sungguh kuat, Irons, seorang royal guard kerajaan, saja masih membuatnya kewalahan, apalagi Dolce.
Ia tidak ingin begini terus, ia harus mengincar celah agar dapat mengalahkan Irons.
Ia pun mencoba bergeser dan mengambil langkah besar dengan sedikit melompat ke sisi kiri lawannya itu. Begitu menyeret kaki kanannya terlebih dahulu, ia kembali mendorong belatinya demi menyerang.
Irons pun sampai terbelalak menyaksikan Sans melakukan sebuah serangan yang tidak terduga sebagai murid bermantel putih. Kini gilirannya yang menahan serangan itu, sedikit terlambat.
Sans pun menggeretakkan gigi dan mendorong kembali tubrukan belati Irons. Lagi-lagi, ia terdorong sampai kakinya meluncur ke belakang. Ia sampai menarik napas cukup cepat.
“Aku tidak menyangka,” Irons akhirnya bersuara, masih tanpa ekspresi, “sebagai murid bermantel putih, murid yang tidak lulus aptitude test sama sekali, seharusnya kamu tidak bertahan begitu lama, seharusnya kamu tidak sekuat ini. Kurasa aku benar-benar meremehkanmu. Kamu penuh determinasi—” Irons kembali mengangkat belatinya dalam posisi horizontal, dengan mata belati membelakangi mata, “—tapi masih tidak cukup.”
Determinasinya semakin membara bagi Sans. Hal itu memicu dirinya untuk kembali melangkah dan mengayunkan belati demi menyerang. Seperti dugaan, Irons mampu menangkis setiap serangannya dengan mudah, baik targetnya bahu, perut, dan lengan.
“Lengah.” Irons mengincar salah satu celah bagi Sans.
Irons pun berputar dan mengangkat genggaman belatinya serta mendorongnya. Sans sampai tercengang dan tidak sempat menghindar, membiarkan bahu kirinya teriris oleh mata belati Irons.
Terpicu akibat bagian kulit terbuka membentuk luka hingga merembeskan sedikit darah pada mantel dan kemejanya. Tangan kanan Sans yang masih menggenggam belati menekan luka itu sejenak seraya mencoba menghentikan nyeri.
Riri menggeretakkan giginya, menghela napas dan berkomentar, “Kalau begini terus, Sans bisa kalah.”
“Setidaknya bukan bahu kirinya!” seru Yudai.
Ruka tetap membuka mulutnya lebar, matanya berbinar terfokus lurus pada pertarungan itu. Zerowolf pun terheran ketika murid swordsman itu tidak seperti biasanya, berseri-seri alih-alih penuh kerut dan gelap.
“Um, Ruka. Memangnya dari tadi kamu menikmati pertarungan Sans?”
“Awannya mulai gelap, kelabu, dan lama kelamaan menyatu.” Ruka sangat datar dalam menjawab. “Oh, anginnya juga mulai kencang, semakin kencang, semakin—”
“Gawat!!” sahut salah satu kru sampai mendobrak pintu ruang kemudi di belakang seluruh penumpang yang tengah menonton pertarungan. “Apa tidak ada yang memperingatkan!”
Tatro protes, “Apa? Ini sedang asyik-asyiknya.”
“Kalian tidak merasakannya? Angin!!”
Suara petir menggelegar sampai mencengangkan. Hujan pun mendadak tiba dengan deras, setiap tetesannya memicu bunyi membasahi lantai geladak cukup cepat.
“Angin kencang, awan kelabu, hujan rintik menjadi deras, dan petir,” ucap Irons.
“Ba-badai …,” ucap Lana.
“Ba-bagaimana dengan pertarungannya?” lanjut Yudai.
“Kenapa tidak bilang dari tadi!!” Kecuali Tay dan Sierra, seluruh penonton pertarungan itu menjerit memperingatkan.
Laut pun mulai bergelolak sampai melewati geladak kapal. Hal itu memicu Sans dan Irons menghentikan pertarungan dan menurunkan belati masing-masing begitu menatap ombak mulai memasuki area geladak kapal. Air laut mengalir deras pada lantai geladak.
Irons kembali bersuara pada Sans secara halus. “Kamu lolos kali ini, murid mantel putih.”
Riri langsung memberi perintah sebagai pemimpin, “Jangan diam saja. Semuanya, lari dan masuk ke dalam!”
Mematuhi perintah Riri, semuanya berlari terbirit-birit menuruni tangga. Akan tetapi, Yudai menghentikan langkah saat beberapa kru kapal justru berlari mendekati tali layar yang terpasang di bagian depan kapal.
Alih-alih mendekati pintu ruangan kapal, Yudai berlari mengikuti para kru, bertekad untuk setidaknya membantu.
“A-apa?” Riri langsung tertegun mendapati keputusan Yudai.
Tatro membukakan pintu agar seluruh rekannya dan murid akademi yang ikut dalam misi dapat masuk ke dalam ruangan untuk berlindung. Terlebih dahulu, ketiga rekannya, kecuali Irons yang justru lebih santai dan tenang, berlari masuk. Lana, Sandee, Sierra, Katherine, dan Ruka menjadi lima murid pertama yang memasuki ruangan. Zerowolf dan Tay ikut menyusul.
Sementara Sans … ia tertegun menyaksikan Yudai menghampiri para kru yang mulai menarik tali pada layar kapal. “Yu-Yudai!” Reaksinya, ia berlari mengikuti sahabatnya itu.
“S-Sans! Tunggu!” jerit Riri juga mengikuti.
“Hei!” sahut Tatro.
Tanpa berbicara, Yudai mengambil inisiatif untuk membantu, menarik salah satu tali tambang yang terpasang pada layar putih, mengambil posisi belakang di barisan antara kru. Ia beralih pandangan layar yang terpasang sebanyak tiga kain putih berembus kencang menahan angi
Saat melihat Yudai membantu para kru untuk menurunkan layar, Sans dan Riri sampai menghentikan langkah dan menyaksikan mereka kesulitan menarik tali tambang melayan arus angin. Keduanya mengangguk dan ikut mengenggam tali tambang itu dan menariknya, mengikuti tindakan Yudai.
Akan tetapi, kencangnya badai justru memicu layar seakan berembus dan menarik tali dari genggaman para kru, seperti lomba tarik tambang. Kaki mereka mulai tergelincir ke depan meski usaha mereka untuk menahannya dan tetap menarik tali.
“Uhh!! Anginnya kuat sekali!!”
“Bertahanlah!!”
Melihat kru itu benar-benar kesulitan menarik tali tambang melawan angin, Tatro menutup pintu ruangan dek kapal dan berlari. Entah apa yang ia pikirkan, ia memutuskan untuk membantu Sans, Yudai, dan Riri untuk menurunkan layar kapal bersama para kru. Begitu menggenggam tali itu, sekuat tenaga ia kerahkan, seakan menambah kekuatan.
“Bertahanlah!!” seru Tatro.
Sans, Yudai, dan Riri terkejut, sangat terkejut. Mereka tidak berpikir bahwa Tatro, salah satu royal guard, telah membantu. Setelah apa yang ia dan keempat rekan royal guard lakukan pada pihak murid akademi, mereka mengesampingkan kenyataan itu, saling membantu.
Sekuat tenaga, mereka menarik tali tambang itu ke belakang agar layar lebih rendah dalam melawan angin kencang.
***
Badai pun berakhir, awan kelabu seakan mengungkapkan warna oranye kehitaman di langit. Napas lega pun akhirnya keluar mendapati tidak ada satupun yang terluka atau menghilang. Kini seluruh penumpang dan kru telah berkumpul kembali di geladak.
Selagi seluruh kru membersihkan seluruh dek kapal karena basah akibat badai dari hujan dan ombak, kedua belah pihak, sebagai hanya penumpang dari ibu kota; murid akademi dan kelima royal guard; saling berhadapan dan bertatap muka.
“Bagaimana? Siapa yang menang?” tanya Tay.
“Pertarungannya kan terhenti karena ada badai,” jawab Lana, “jadi sepertinya mereka akan melihat bagaimana kemampuan mereka berdua bertarung.”
“Ini dia, kita akan jadi budak,” Zerowolf menyimpulkan dan mengeluh.
“Kita sendiri tahu, menempatkan Sans sebagai petarung terakhir di pihak kita merupakan ide yang buruk.” Lagi-lagi Ruka bersikap sinis seperti biasa, membuang muka juga.
“Seharusnya kita tahu.” Sandee menundukkan kepala.
Irons mengumumkan, menjawab kekhawatiran, “Pertarungan terakhir … tidak ada pemenang.”
Semuanya terbelalak, terutama pihak murid akademi. Tidak ada pemenang. Mereka tidak salah dengar. Mengingat pertarungan terhenti karena muncul badai kencang, bagi mereka sungguh masuk akal. Tapi … mereka ingin tahu alasan sebenarnya mengapa tidak ada pemenang, selain datangnya badai.
Irons melanjutkan, masih tanpa ekspresi, “percuma saja kalau kita bertarung terus. Ujung-ujungnya kalau kalian kalah, kami akan memperbudak kalian. Pada akhirnya, kami akan merasa bersalah kalau hal itu terjadi. Kita ini sama-sama manusia, sama-sama berjuang untuk menyelesaikan misi.”
Tatro mengangkat tangan kanannya, menginterupsi pemimpinnya. “Aku melihat kalian. Tiga dari kalian.” Ia menunjuk Sans, Yudai, dan Riri. “Kalian sampai rela membantu para kru kapal saat badai datang, cukup cepat. Memang, butuh keberanian lebih untuk menghadapinya.”
Yudai menyeringai merespon tanggapan Tatro. “Habisnya, aku pikir aku juga harus membantu saat melihat mereka kesulitan.”
Giliran Riri untuk berbicara, ingin memastikan. “Artinya kita impas, kan? Kalian akan benar-benar membantu kami untuk mencari Beatrice di Beltopia?”
Irons berbalik menatap matahari terbenam. “Dua hari lagi, kita akan tiba di Beltopia. Kami akan dengan senang hati membantu kalian.”
“Hei, Irons,” Tatro menegur, “kalau senang, tersenyumlah sedikit. Masih saja tanpa ekspresi.”
Pada akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk damai. Hanya tinggal tiba di Beltopia dan mencari Beatrice.