
Mungkin kebetulan atau tidak, Beatrice, Neu, dan Sierra telah berada di halaman depan kastil akademi tepat setelah Sans, Yudai, dan Tay pergi untuk memulai tujuan yang sama tanpa saling mengetahui, yaitu mengambil air mata phoenix.
Beatrice, Neu, dan Sierra justru keluar dari kastil akademi bersama-sama saat fajar. Beatrice juga memegang tiga buah baguette yang telah dia beli pada sore lalu di kedai roti, demi menghemat waktu keberangkatan.
Neu telah menaruh botol kecil bertutup gabus ke dalam sebuah kantung dari genggamannya. Baginya, botol itu akan menjadi benda penting dan harus tersimpan dalam utuh jika terisi air mata phoenix.
“Isi perut dulu sebelum berangkat,” ajak Beatrice santai memberi Neu dan Sierra masing-masing satu buah baguette.
Neu mengambil salah satu baguette dari genggaman Beatrice. “Terima kasih. Tumben kamu cukup pintar membeli baguette kemarin untuk persiapan.”
“Habisnya, kita sering beli makan pagi di kedai roti, kan? Memang lebih baik lagi kita beli yang baru keluar dari pemanggang.” Beatrice mulai melahap roti tersebut.
Meski aroma kesegaran roti tidak lagi tercium, kulit roti tetap terasa renyah jika digigit, salah satu hal favorit Beatrice jika menikmati roti yang dia beli dari kedai roti.
“Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas. Kita tidak boleh kembali ke sini larut malam.” Neu mulai memimpin dalam perjalanan meninggalkan halaman depan akademi.
“Ayo!” Beatrice mengayunkan kepalan tangan kanan begitu mengikuti langkah Neu.
Sierra hanya menikmati roti menyaksikan kedua rekan di hadapannya itu mulai bersemangat untuk pergi ke gunung berapi tempat keberadaan phoenix. Tidak tahu ingin bereaksi seperti apa, dia hanya terfokus pada rasa roti, tawar, manis, dan renyah melumer di lidah.
***
Beatrice, Neu, dan Sierra mengambil jalan arah utara akademi, menyusuri hutan, jalan yang sama seperti dilewati oleh Sans, Yudai, dan Tay. Kelompok Beatrice sebenarnya lebih dahulu melewati dibanding kelompok Sans tanpa saling mengetahui.
Ketika bahaya datang, seperti binatang buas, Neu tanpa ragu membasmi menggunakan sihir demi melindungi diri. Mulai dari harimau hingga ular, sihir Neu begitu kuat hingga dapat melumpuhkan atau membunuh hewan buas.
Beatrice sampai tertegun dan deg-degan hingga menggigit jari seakan menggigil menatap setiap hewan buas berdatangan, tidak mampu melakukan apapun selain menambah kekuatan Neu dengan nyanyian. Namun, Neu merasa hal itu tidak diperlukan untuk saat itu.
Mengubah arah menuju barat laut, setelah menyusuri hutan lebat, Beatrice terhenti ketika sebuah gua bercahayakan merah jingga mengalihkan perhatian.
“Ah! Apa itu! Menarik sekali!” tunjuk Beatrice pada gua tersebut.
“Beatrice!” Neu menarik tangan kiri Beatrice dari belakang, berusaha mencegah untuk memasuki gua tersebut. “Kita tidak punya waktu untuk ini!”
“Warna indah sekali! Aku tidak pernah melihat gua seterang itu!!”
Sierra menggeleng kepala secara khusyu, tidak menyangka di balik sebuah cerita masa lalu yang menguras emosi terdapat kepribadian kegembiraan secara ceroboh. Hal tersebut dapat terpandang pada Beatrice.
Tidak ingin membuang waktu lagi, mereka melanjutkan perjalanan. Memasuki area tebing, rerumputan seakan sedikit berubah menjadi tanah tandus semakin lama melangkah, ditambah, tanah tandus tersebut berupa tanjakan memutar seperti labirin kecil, berdinding tebing. Hawa panas juga mulai mengengat pada kulit, berarti mereka sudah tiba di area gunung berapi.
Beatrice sama sekali tidak memedulikan hawa panas. Semangatnya juga tidak luput dengan mendaki sambil bernyanyi.
Neu dan Sierra menarik napas berkali-kali saking dilanda kelelahan dan hawa panas menusuk kulit hingga ke tulang. Setiap tanjakan yang mereka lewati memiliki seperti cabang bagai labirin, kerap tersesat. Tenggorokan pun mulai mengering.
Semangat Beatrice pun menurun bersamaan dengan naiknya rasa penat. Keringat semakin mengalir pada kulit. Tenggorokannya pun turut seperti tertusuk duri kaktus karena tidak henti-henti bernyanyi melontarkan semangat.
“Beatrice,” bujuk Neu, “kita istirahat saja dulu. Sekalian melihat pemandangan kota dari sini. Indah sekali.”
Beatrice menoleh ke sebelah kirinya, tertegun akan sebuah pandangan kota dari ketinggian tebing area gunung berapi. Langit biru membantu memancarkan setiap warna, hijau dari pepohonan atau rerumputan, berbagai gedung di kota dan kastil juga seakan tersusun seperti sebuah miniatur.
“Wah ….”
Melihat pemandangan kerajaan Anagarde dari sebuah tebing, seperti sebuah harta karun yang baru saja terbuka, Beatrice dan Sierra tidak dapat berkomentar apapun terhadap keajaiban tersebut, tampak seperti diperkecil.
Neu berkomentar, “Melihat pemandangan ini, rasa penat seakan mereda sejenak.”
“Indah sekali,” tambah Beatrice.
***
Mereka bertiga kembali mendaki setelah cukup lama beristirahat, menikmati pemandangan kota. Butuh setidaknya satu jam untuk tiba di dataran dekat puncak gunung berapi dengan mendaki tebing menanjak. Lantai pun seketika menjadi campuran antara tanah dan batu diiringi oleh beberapa pohon kecil. Asap dari kawah pun sudah mulai terlihat membentang mendekati langit pada pandangan.
Neu menunjuk arah langit. “Kalau kita tiba di dekat puncak gunung berapi, seharusnya phoenix sudah mulai terlihat. Berdasarkan buku yang kubaca kemarin, peluang untuk menemukan phoenix hanya 1 banding 100. Memang tidak diketahui berapa ekor phoenix akan muncul di sekitar sini.”
“E-eh? Selangka itukah?” Beatrice sama sekali tidak menyangka.
“Namanya juga phoenix itu langka. Oke, phoenix pasti ada di sekitar sini. Pertama, kita cari phoenix, lalu kita cari tahu bagaimana mengambil air matanya.”
Sierra berkomentar, “Memangnya kamu belum tahu bagaimana caranya?”
Neu menggeleng. “Terpaksa kita pakai cara coba-coba.”
Mereka bertiga kembali melangkah, melihat setiap sudut dataran dekat gunung berapi, mencari phoenix yang bisa saja berterbangan di sekitar langit biru cerah atau hanya singgah di batang pohon.
Setiap sudut, belokan, dan jalan pada dataran mereka lewati, menghindari kawah dan puncak gunung berapi demi keamanan. Karena tidak menemukan jejak atau keberadaan phoenix, tempat awal kedatangan menjadi tempat kembali.
Neu tentu tidak ingin Beatrice dan Sierra menyerah begitu saja dan pulang tanpa membawa apapun, sekali lagi memutuskan untuk kembali mencari phoenix.
Ketika rasa lelah kembali menyerang, belum sempat memutuskan untuk beristirahat, seekor burung berbulu merah muncul dari arah utara, terbang seakan merintangi langit. Jeritan burung tersebut memicu perhatian mereka bertiga.
Bulu merah penuh api, itu ciri khas dari burung tersebut. Neu menyimpulkan burung tersebut merupakan phoenix yang selama ini mereka incar.
Mereka bertiga pun berbalik mengejar phoenix tersebut yang mengepakkan sayap cukup cepat. Langkah lari pun dipercepat menapakki tanah pada dataran dekat puncak gunung berapi tersebut.
Begitu melihat phoenix tersebut berbelok, lari mereka bertiga terhenti, menoleh pada tiga orang familier di depan, benar-benar familier. Beatrice dan Neu melongo ketika melihat wajah ketiga orang familier, tercengang.
Pandangan mereka sama sekali tidak salah, tidak perlu lagi untuk memastikan. Ya, tidak salah lagi. Sans, Yudai, dan Tay telah berdiri di hadapan mereka bertiga.
“Be-Beatrice?” panggil Sans.
“S-Sans?” balas Beatrice.
“L-lho? Sans? Yudai? Lalu … Tay?” ucap Neu.
“Whoa, whoa, whoa.” Yudai mengangkat kedua tangan. “Aku benar-benar tidak mengerti, sangat tidak mengerti.”
“Seharusnya kami yang mengatakan itu!” bentak Neu pada Yudai.
“A-anu … a-apa yang kalian lakukan di sini?” Beatrice secara ragu mengemukakan pertanyaan.
“Hei!” jerit Neu mulai mengambil langkah.
Sans dan Yudai teringat jawaban Beatrice ketika mengajak pada hari sebelumnya, menyimpulkan urusan tersebut berkaitan dengan gunung berapi.
Beatrice juga menyimpulkan ekspedisi yang dilakukan Sans dan Yudai berlokasi di gunung berapi. Merasa terbebani oleh kenyataan yang terungkap tanpa saling mengetahui, dia benar-benar tidak menyangka.
“Ke-kenapa?”
Neu meminta penjelasan pada Sans dan Yudai, “Kenapa? Kenapa kalian bawa Tay kemari? Yudai, apa karena aku sudah keterlaluan? Apa aku ini sudah tidak kamu anggap lagi teman? Apa kamu berpikir Tay lebih baik daripada diriku? Itu maksudmu tentang jangan nilai orang dari penampilannya? Jangan nilai orang dari luarnya? Begitu!”
“Neu—”
Neu tidak membiarkan Yudai menjawab, “Mari kita ingat kembali saat kita bertengkar, Yudai! Aku mengatakan yang sebenarnya, tapi kamu justru marah padaku. Lalu kamu bilang aku salah. Kamu mengikuti kata-kata Tay! Tidak heran kamu lebih memihak si swordsman penyendiri itu! Kalian mengajaknya untuk mengincar kami ya? Seperti saat Tay waktu aptitude test bagian dalam!”
Sans dan Yudai tidak tahu lagi ingin membalas perkataan Neu. Neu memang pintar dalam berkata-kata, apapun yang diutarakannya hampir tidak dapat terbantahkan.
Tay mengambil alih untuk menjawab, “Kalau aku yang mengajak mereka, pasti aku akan mengincarmu. Tapi mereka punya tujuan lain—”
“Jangan pura-pura bodoh!” Neu mengayunkan tangan kanan, mengumpulkan energi berjaga-jaga agar dapat menyerang menggunakan sihir. “Kamu mengajak Sans dan Yudai untuk mengincarku? Sudah jelas! Seperti yang kamu lakukan saat aptitude test bagian dalam! Kamu hanya mengandalkan sebelum berniat mencampakkan temanmu sendiri! Pantas saja kamu adalah setan, setan yang menjelma sebagai manusia dan selalu—”
“Bajingan!” Tay mengeluarkan pedang dari selongsong di punggungnya dan melesat mendekati Neu.
Sans dan Yudai bahkan tidak sempat bereaksi untuk menahan Tay. Gerakan badan Tay justru mendorong lengan keduanya ke samping seakan seperti dobrakan gerbang.
Gesekan pedang warna perak milik Tay menggores lengan kiri Sans hingga meneteskan darah dari luka kecil berbentuk garis. Yudai pun tercengang menyaksikan dua hal tersebut secara bersamaan.
Sans meringis menempatkan telapak tangan kanan untuk menutupi luka pada lengan kirinya. Darah segar terus menetes sedikit demi sedikit menuju tanah, bersamaan dengan rasa sakit menusuk pikiran.
Tay sekali lagi mengayunkan pedangnya mengarah tepat pada Neu semakin mendekat. Beatrice memalingkan wajah tidak sanggup menyaksikan aksi tersebut, kedua tangannya bahkan menutupi mulut.
Neu dengan gesit bergeser menghindari ayunan pedang tersebut, mengetahui amarah justru melemahkan serangan.
“Tay, hentikan!” jerit Yudai.
“Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!” jerit Neu ketika Tay sekali lagi mengayunkan pedang mengarah padanya.
Berbagai kumpulan api berbentuk seperti belati atau kristal bermunculan dari telunjuk Neu. Tanpa pertahanan sama sekali dan berkat kecerobohan dalam menyerang, dada Tay terdorong sehabis terkena serangan Fire Blades tersebut.
Beruntung, Tay masih berdiri tegak sehabis menerima serangan tersebut. Api dengan api, amarahnya semakin meluap dan meluas. Dia tidak segan untuk menebas musuh bebuyutan di hadapannya itu, jika perlu sampai mati karena telah mengecap dengan panggilan “setan”.
Sierra ikut tertegun atas perkelahian kedua musuh bebuyutan tersebut. Bukan kali pertama dia menyaksikan pertengkaran seperti ini. Melihat pertengkaran secara langsung di depan matanya justru membuatnya tidak berdaya untuk menghentikan Tay dan Neu.
“Brengsek! Hanya itu sihirmu!” jerit Tay menyimpulkan. “Lemah! Aku sudah melihat itu!”
“Tay!” Yudai kembali melesat menemui Tay, berusaha untuk menahannya.
“He-hentikan …. Tidak perlu berkelahi … seperti ini,” Beatrice terbata-bata dalam berucap, tidak tega melihat temannya, Neu, sekali lagi berkelahi.
“Tarik ucapanmu!” Tay menyikut dada Yudai bahkan tanpa menoleh ke belakang.
“Ah!” jerit Yudai tersandung ke tanah begiut menerima sikutan Tay.
“Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!!” Neu lagi-lagi menggunakan mantra yang sama demi melindungi diri.
Sekali lagi, kumpulan api berbentuk belati kristal bermunculan dari tangan Neu. Begitu amarahnya semakin membesar, semakin banyak kumpulan api yang meluncur tepat menuju Tay.
“Uh!!” jerit Tay tetap berdiri tegak menggunakan pedangnya sebagai perisai, tidak peduli dirinya masih terkena beberapa api berbentuk belati kristal. Setidaknya dia sama sekali tidak terjatuh ke tanah dataran.
“Su-sudah. Berkelahi sama sekali tidak menyelesaikan masalah,” Beatrice sekali lagi memperingatkan.
Tay mendorong serangan fire blades Neu menggunakan ayunan pedang cukup keras hingga terpantul ke segala arah di hadapannya.
“AAAAAH!!” jerit Beatrice memalingkan wajah.
Salah satu pantulan fire blades tersebut melewati tubuh Beatrice, hanya terkena sedikit bagian lengan kanan bajunya.
Sierra dengan cepat bergeser, namun, bagian lengan kiri bajunya juga terkena sedikit pantulan fire blades tersebut.
Tay membentak lagi, “Mana sihirmu yang lain! Hah? Tunjukkan sihirmu yang lain! Mata empat lemah!”
“Hei!” Yudai kembali bangkit dan menarik bahu Tay untuk menahan agar perkelahian tidak berlanjut. “Cukup. Tidak perlu seperti ini.”
Tay kembali menyikut pelan melepas tarikan Yudai pada bahunya. Tatapannya kembali menajam pada Neu, api dengan api, lagi-lagi belum padam pada pandangan masing-masing.
Jeritan phoenix yang kembali terbang melewati mereka turut membuat semuanya menoleh. Tujuan utama masing-masing kedua kubu masih tertanam tajam, mendapatkan air mata phoenix, hanya itu.
Neu pun berbelok mengikuti arah terbang phoenix tersebut. Namun, tanpa sempat meletakkan kaki mengambil langkah, Tay kembali mengayunkan pedang mengarah tepat padanya.
Menyadari bahwa Neu telah dihentikan oleh Tay, Sierra dengan cepat mengambil alih untuk mengejar phoenix. Langkah lari mulai dipercepat meninggalkan perkelahian antara kedua kubu.
“Phoenix!” jerit Yudai. “Sans, botolnya!”
Beatrice melongo membuka mulut, seperti terpukul oleh palu, menyadari bahwa kedua kubu memiliki tujuan yang sama persis. Tujuan ekspedisi ke gunung berapi bagi Sans dan Yudai benar-benar sama, mengambil air mata phoenix.
“Sa-Sans?” Beatrice mengucapkan.
“Cepatlah! Botolnya!” pinta Yudai mengulurkan tangan kanan pada Sans.
Sans dengan cepat memasukkan tangan kanan pada kantongnya, mengambil sebuah botol kecil bertutup gabus pemberian Duke tersebut. Dia pun meletakkan botol tersebut pada telapak tangan kanan Yudai.
Tanpa perlu aba-aba lagi, Yudai langsung melesat mengejar mengikuti arah terbang phoenix tersebut.
“Kamu mengacaukan semuanya, Tay! Tidak heran kamu dijauhi teman-temanmu! Kamu pantas tidak punya teman!” jerit Neu kembali meluapkan amarah.
“Lalu apa! Aku ke akademi tidak untuk membuat teman! Aku tidak tahan dengan omelan busukmu!” Tay mengeratkan genggaman pada pedangnya. “Lebih baik kamu mati saja! Aku lelah menjadi teman sekamarmu!!! MATI KAU!!”
“Hentikan!!” jerit Sans menyaksikan Tay kembali mengayunkan pedang, kali ini tepat mengajah pada leher Neu.