Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 98



Tanpa terasa, setiap butiran salju di daratan benua Aiswalt, terutama di kota kerajaan Anagarde, telah mencair menyuburkan tanah. Perlahan, tanah kembali subur. Warna setiap tumbuhan bermekaran kembali di sekitar taman kastel akademi, seakan kembali seperti semula.


Semester kedua pun masih berlanjut seiring masa transisi dari musim dingin menuju musim semi. Kehangatan udara musim semi turut menyambut kegembiraan seluruh orang dalam secara leluasa kembali ke luar. Tidak perlu memakai baju hangat, hanya seragam atau baju bebas yang mereka pakai ketika pergi ke pusat kota atau hanya menjalankan misi.


Bertepatan dengan tibanya musim semi, ruang depan kastil menjadi tempat terramai  Terdapat setidaknya tiga buah antrean yang berujung pada tumpukan lembar di meja. Antusiasme setiap murid untuk menunggu giliran mengisi lembaran itu sangat tinggi.


Wajar, Akademi Lorelei mengadakan sebuah kompetisi untuk setiap murid pada awal musim semi. Setiap murid ingin mengikuti lomba dan mempersiapkan diri untuk menang. Cukup banyak murid laki-laki yang mengantre untuk mendaftar.


Hari pertama musim semi, setiap murid yang baru saja menyelesaikan kelas pada hari itu terbirit-birit menuju ruang depan kastel. Tidak sabar ingin mendaftar, bahkan rela mendapat antrean terdepan. 


Sans dan kelima teman dekatnya melihat keramaian ruang depan kastel ketika menuruni tangga mengikuti yang lain. Antrean sudah mendominasi seluruh ruangan depan, sangat tidak sabar untuk mendaftarkan diri.


Neu menerka, “Pasti Festival Melzronta sebentar lagi akan diadakan, berhubung sudah musim semi.”


“Festival Melzronta?” ulang Sans heran.


“Kalian belum tahu ya?” Neu lagi-lagi mengandalkan diri untuk menjelaskan, “Festival Melzronta ini diadakan untuk menyambut datangnya musim semi. Musim semi merupakan awal dari musim panen. Festival ini diadakan dua tahun sekali.”


Yudai memotong, “Kukira festival ini diadakan setahun sekali. Lihat begitu antusias setiap murid, lelah dari kegiatan akademi, apalagi menyelesaikan misi. Ya, jujur, menyelesaikan misi memang lebih menyenangkan daripada hanya belajar di kelas umum.”


Neu melanjutkan, “Nah, Festival Melzronta diadakan untuk mewujudkan rasa syukur pada dewa kesuburan Archerub yang telah memberikan kelimpahan panen dan memberikan kesehatan bagi orang-orang yang menyelenggarakan festival tersebut.”


“Archerub?” Beatrice mengulang nama dewa itu.


“Oh!” Yudai menubrukkan kedua tangannya. “Jadi begitu. Festival Melzronta intinya seperti festival syukuran tibanya musim semi.”


“Itu kan sudah kubilang, Yudai,” Neu protes, “Intinya, pihak akademi bersama pihak ibu kota yang menyelenggarakannya, semua orang akan berpartisipasi dalam festival. Kita, para murid, berpartisipasi dalam sebuah kompetisi. Masyarakat ibu kota akan membuka stand di bazaar yang diadakan di alun-alun selama tiga hari pertama, tentu saja untuk menambah penjualan barang dagangan masing-masing semenjak festival ini sangat ramai.”


Tay berkomentar sambil menunjuk tiga antrean yang mulai panjang hingga mencapai tangga menuju lantai atas. “Jangan jelaskan saja. Kalau mau daftar, lebih baik kita ikut mengantre seperti mereka!”


Beatrice sangat antusias hingga matanya berbinar-binar bintang. “Hadiah khusus job pemenang! Pasti sangat berharga!”


“Apalagi hadiah uangnya cukup besar! Cukup selama setidaknya untuk sebulan, atau untuk membeli satu senjata baru!” tambah Yudai mengepalkan kedua tangan.


“Lalu … satu hal lagi. Akses menuju lantai enam gedung perpustakaan yang selama ini hanya khusus profesor dan staf akademi!” seru Neu. “Dan juga … kelas khusus!! Jika salah satu dari kita menang, kita bisa menjadi lebih kuat!”


Sierra justru melongo terhadap antusiasme Beatrice, Yudai, dan Neu akan hadiah kompetisi itu. Tay hanya membuang muka menatap yang lain. Sans justru hanya terdiam memendam ketegangan dan sebuah semangat.


Sekali lagi, Sans menganggap Festival Melzronta sebagai ajang pembuktian diri bahwa ia bukan sekadar murid bermantel putih tanpa job. Ia ingin menunjukkan kekuatannya pada setiap murid lain dan dirinya sendiri. Ia yakin ia mampu melakukannya.


Ketika mereka berenam mulai mengantre dan berbaris, Zerowolf pun berseru mengagetkan semua orang, terutama Yudai sebagai sang rival. Ia menunjuk rivalnya itu sambil bersemangat dalam mendeklarasikan sesuatu.


Yudai menelan ludah ketika memperhatikan Zerowolf mulai membuka suara.


“Yudai. Mari kita bersaing di Festival Melzronta secara sportif! Bahkan, aku akan mengalahkanmu dan menjadi nomor satu! Akan kubuktikan kalau aku bukanlah orang yang sama saat menantangmu dalam mock battle dua kali waktu itu!”


Yudai menjawab datar, “Ah. Baiklah.”


“Ah!” jerit Zerowolf. “Padahal aku benar-benar serius, Yudai! Baik, sampai jumpa di hari pertama Festival Melzronta!!”


Zerowolf penuh semangat berlari melewati tangga. Kehebohannya turut mengundang perhatian murid lain, baik yang sedang ikut mengantre atau hanya numpang lewat dalam lalu lalang. Memang tidak perlu heran lagi bahwa persaingan mereka berdua telah menjadi buah bibir di kalangan murid tahun pertama.


Tay mengomentari tindakan Zerowolf, “Terlalu berlebihan. Bahkan aku bisa saja menghina dia, sama seperti si mata empat ini.”


Neu sangat tersinggung dan menggeram, “Ka-kamu belum puas juga ya dengan apa yang kuajarkan? Dasar tidak tahu berterima kasih.”


“Aku sama sekali tidak meminta. Nanti jangan meminta bantuanku saat Festival Melzronta berlangsung.”


“Baiklah! Aku juga tidak butuh bantuanmu! Lebih baik aku menyelesaikan lomba sendiri! Kalau perlu, akan kubuat kamu gagal saja sekalian!”


“Baik! Akan kusabotase rencanamu nanti!”


Giliran pertengkaran antara Tay dan Neu menjadi pusat perhatian bagi murid lain. Sans, Beatrice, Yudai, dan Sierra bahkan hanya terdiam tidak tahu harus bagaimana untuk menghentikannya sebelum menjadi kekacauan besar.


Setidaknya, kekacauan besar itu sama sekali tidak terjadi.


***


Festival Melzronta masih menjadi topik pembicaraan hangat bagi para murid, apalagi ketika makan siang di kantin. Selesai mendaftarkan diri, mayoritas murid memilih untuk pergi ke kantin, meski sempat terdistraksi oleh topik utama.


Selesai makan siang dan menaruh baki, mereka berlalu dari keramaian kantin. Sierra terlebih dahulu berpisah dari Sans dan teman-temannya terlebih dahulu, mengatakan bahwa ia ada kelas khusus priest.


Beatrice juga mulai memisahkan diri. “Aku ada janji dengan teman sekamarku.”


“Eh? Ta-tapi bagaimana dengan latihan kita seperti biasa?” Yudai melongo.


“Maaf ya. Aku sudah janji dengannya kemarin. Soalnya baru-baru ini aku mengajaknya untuk pergi bersama. Ah. Aku pergi dulu!”


Teman sekamar Beatrice. Memang benar Sans dan teman-temannya sama sekali tidak pernah melihatnya secara tatap muka. Padahal Beatrice merupakan teman yang sering berada di dekat mereka, tetapi sama sekali belum mengenal teman sekamarnya.


Melihat Beatrice mulai meninggalkan kantin, Neu mengingat ketika mereka menemui Sandee, teman sekamar Sierra, pada akhir semester lalu. Selama ini ia juga tidak pernah bertemu teman sekamar Beatrice secara langsung, membuatnya sangat penasaran.


“Jadi sekarang apa?” Tay meminta keputusan setelah makan siang di kantin.


“Tentu saja! Kita berlatih seperti biasa, mempersiapkan diri sebelum Festival Melzronta!” Yudai sangat bersemangat sampai mengayunkan kedua tangannya.


Sans kembali mengangkat senyumannya menatap antusiasme Yudai bukan hanya dalam pelajaran akademik, tetapi juga sebuah kompetisi bergengsi antar murid. Ia sama sekali tidak tahu harus berkata apa untuk menganggapi.


Yudai menepuk bahu Sans seraya menyemangati. “Ayolah! Festival Melzronta akan menyenangkan sekali! Tidak usah ragu lagi! Setidaknya tidak masuk penilaian semester kok!”


“Mudah sekali berbicara seperti itu, Alis Melengkung,” sindir Tay.


Neu mempercepat langkah kakinya melewati lorong selasar. Secara berhati-hati, ia juga bersembunyi di balik dinding belokan agar ia tidak dapat ketahuan oleh Beatrice secara langsung.


Senyuman Beatrice menjadi pesona bagi Neu untuk membuatnya ikut gembira saat membuntuti. Semua orang di sekitar perjalanan, terutama di ruang depan yang masih penuh dengan antrean juga terpesona hingga membalas senyum. Aura positif bagi Beatrice menyegarkan segala hiruk-pikuk di dalam kastel.


Dalam pikiran Neu, semua orang dapat mendapat aura positif dan mencerahkan itu mungkin karena faktor bahwa Beatrice adalah song mage. Mengingat bahwa song mage merupakan pencapaian seorang murid yang lolos dua dari tiga bagian aptitude test, sudah menjadi kebanggaan tersendiri dan semua orang untuk kagum.


“Ah!” Beatrice melambaikan tangan saat menoleh menatap seseorang.


Neu juga ikut tercengang ketika menatap “teman sekamar” Beatrice. Tentu saja seorang gadis, tetapi ia sama sekali tidak pernah melihatnya di mana pun, termasuk di kelas. Tidak heran Beatrice sangat jarang bersama teman sekamarnya ketika keluar dari asrama, apalagi menuju kelas atau ke sekitar kota.


Perempuan berambut pirang pendek berpedang pun menyapa Beatrice, mengangkat tangan kanan sambil menemuinya. Selongsong pedang terpasang di punggungnya. Tidak seperti kebanyakan murid perempuan bermantel biru tua, bagian lengannya pun ia buat lebih pendek.


Neu menggosok kepalanya sambil penasaran akan identitas “teman sekamar” Beatrice itu.


“Hei!” sahut Yudai menghampiri dari belakang.


Neu bergetar menoleh ke belakang, lega ketika Yudai, Sans, dan Tay berada tepat di belakangnya. Jika suara Yudai lebih keras lagi, tentu mereka akan ketahuan.


“Jadi ternyata kamu mengikuti si song mage itu, Mata Empat,” Tay menyimpulkan.


Sans menambah, “Gadis itu … aku belum pernah melihatnya bersama Beatrice.”


“Begitu juga denganku.” Yudai menyentuh dagu menggunakan telunjuk.


“Ah,” Tay mengingat perempuan berambut pirang pendek itu. Terlintas bukan hanya satu, tetapi beberapa momen ketika melihatnya. Perempuan itu benar-benar tidak asing baginya, tidak salah lagi. “Dia sama seperti, murid ber-job swordsman tahun pertama. Namanya Ruka. Aku pernah berlatih tanding melawannya. Dia hebat dalam teknik mengayunkan pedang dan menghindar secara bebas.”


“Bebas?” Yudai mengomentari, “tapi … kelihatannya tidak.”


Beatrice terlihat sangat antusias untuk memulai dan melanjutkan percakapan, mengungkapkan rencana untuk bercengkerama bersama pada hari itu. Meski usaha terbaiknya, raut wajah Ruka sama sekali tidak berubah.


Tatapan kosong, matanya yang setengah terbuka, bibir datar, dan ekspresi nada bicaranya datar. Itulah yang Neu dapatkan tentang Ruka saat menyaksikan percakapan antara kedua teman sekamar itu.


Meski sikap Ruka yang datar, Beatrice tetap antusias dan bersemangat untuk mengajaknya. Ia menarik tangan teman sekamarnya itu saat melewati pintu keluar utama kastel.


“Apa dia selalu bersikap seperti itu?” Yudai ikut antusias dalam mencari tahu tentang teman sekamar Beatrice itu.


Tay mengangguk. “Saat orang lain mencoba untuk menyapanya dan meminta saran, dia hampir selalu menolak. Dia selalu bilang tidak ada waktu. Dia juga selalu menyendiri, baik di kantin atau di kelas umum.”


“Kalau begitu sama seperti dirimu, Tay. Kamu tidak jauh berbeda daripada—”


Tay menunjuk Neu keras-keras. “Dilarang membandingkan diriku, dasar Mata Empat!”


Yudai setuju. “Ya, sejak kamu diajak untuk bercengkerama bersama kami, sikapmu cukup berubah, Tay. Dari seperti Ruka, ya bisa dibilang kamu juga menjadi salah satu murid paling dibenci, menjadi seperti sekarang. Memang jangan menilai orang dari penampilan benar-benar tepat.”


“Tetap saja. Dia orang yang sama, teman sekamar yang menyebalkan. Jika kami hanya berdua di kamar, jangan heran kalau merasa tidak nyaman.”


Tay menggerutu dan membuang muka. Menatap Neu sebagai “teman sekamar” apalagi “teman dekat” saja ia sudah tidak sudi. Sama sekali tidak berubah. Tidur saja ia sudah tidak tenang hampir setiap malam saat menatap musuh bebuyutannya itu di kamar.


Hal yang sama juga terpendam dalam benak Neu.


***


“Kamu tahu, jika kita berdua menjalankan misi bersama-sama, aku akan lebih menikmati dalam bernyanyi Give Us Strength untuk menambah kekuatanmu!”


Baru saja menuruni tangga menuju lounge room gedung asrama, Beatrice menghentikan langkah ketika menatap Sans, Yudai, Tay, dan Neu tengah duduk terdiam di depan perapian, menatapnya bersama Ruka.


“Ha-hai?”


Beatrice sama sekali tidak tahu ingin berkata apa. Ia belum mengenalkan Ruka, teman sekamarnya, pada seluruh teman dekatnya.


“Oh. Dia teman-temanmu?” tebak Ruka datar. “Ah. Kamu Tay? Tidak kusangka orang yang dulunya bisa dibilang murid paling dibenci di akademi ini adalah temanmu, Beatrice.”


Tay menganggukkan kepala menatap wajah Ruka langsung. “Kamu ketinggalan begitu banyak, Ruka. Tidak heran kamu jarang bersosialisasi dengan teman sesama swordsman di kelas.”


“Nah. Aku melihat kamu dan si murid penyihir yang itu,” Ruka menunjuk Neu, “ya, kamu; kalian berdua, berkelahi di tengah-tengah perang makanan. Profesor Alexandria juga menghentikan kalian. Bagi setiap orang, keseruan itu terganggu oleh kekejaman perkelahian fisik kalian. Aku sama sekali tidak menyesal tidak dekat dirimu, Tay, saat kelas swordsman berlangsung.”


Selesai mengungkapkan pada Tay dan Neu, pandangan Ruka beralih pada Sans. Mantel putih menjadi fokus perhatiannya terlebih dahulu.


“Kamu, murid mantel putih, yang gagal saat aptitude test, semua bagiannya.”


“Eh?” Sans menganggapi begitu menyaksikan Ruka tengah berbicara padanya.


“Katanya murid yang gagal dalam aptitude test takkan bertahan lama di akademi setelah tahun pertama, bahkan setelah mereka mendapat nilai tidak memuaskan saat akhir semester pertama. Aku mengingat kalau Dolce meluluskanmu di ujian bagian bertarung waktu itu, meski kalah melawannya … lagi.”


Datar, sangat datar, tanpa ekspresi. Kesan pertama bagi Sans dan Yudai menatap Ruka berbicara, sama sekali tidak tahu perasaan apakah yang ingin mereka tunjukan. Ingin sekali “bergembira” telah bertemu Ruka secara langsung, tetapi mereka tidak dapat mendapat respon yang sama.


“Murid bermantel putih, aku punya saran untukmu. Meski kamu telah berjuang keras dan sekuat tenaga untuk bertahan, kamu tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu. Karena kamu tidak mendapat kelas khusus job, kamu mungkin sedang tidak diuntungkan seperti murid bermantel putih lain. Sebaiknya kamu persiapkan diri dan berhati-hatilah.


“Kalian pasti ikut Festival Melzronta juga, bukan? Tentunya. Aku ingin melihat kalian beraksi. Mari kita bersaing secara sehat dan sportif. Selamat berjuang.”


Tanpa pamit, Ruka melangkah menuju tangga untuk pergi ke kamarnya. Sans, Yudai, dan Neu melongo heran menatap dirinya berbicara tanpa ekspresi apapun.


Beatrice membela teman sekamarnya, “Dia … adalah orang yang unik, sangat unik.”


Tay menangguk. “Kamu benar. Tidak semua orang dapat mendekatinya dengan cara umum.”


Sans menghela napas. “Sangat aneh. Perasaan yang aneh saat berkenalan dengannya.”