Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 96



“Kenapa peri ini selalu saja tidur!”


Frustrasi, Neu menatap Cherie hanya bermalas-malasan semenjak mereka tiba kembali di kota Kerajaan Anagarde. Seperti seekor naga, tubuhnya seakan membentuk lingkaran dengan kedua tangan bersandar pada pipi.


Sudah beberapa kali Neu berusaha membangunkan peri pendampingnya itu. Meski ia perlahan memindahkan Cherie dari bahunya menuju meja, upaya untuk menekan dan menggoyangkan tubuh peri mungil itu berujung sia-sia.


Kelima teman dekatnya tengah sibuk menikmati baguette dan secangkir teh di balik keramaian kedai roti yang menjadi tempat bercengkerama terfavorit di luar akademi, sama sekali tidak membantu Neu untuk membangunkan Cherie.


Beatrice berkomentar, “Mungkin dia sangat lelah sehabis dari Pulau Familiar Izaria.”


Neu menggeleng kembali frustrasi. “Dari tadi malam dia sudah terlelap, saat kita tiba kembali dia masih tidur, lalu … sampai sekarang dia masih tidur! Aku ingin tahu apa kekuatan Cherie! Setiap Familiar memiliki sebuah kekuatan unik untuk membantu seseorang.”


Tay menyindir setelah menghabiskan baguette-nya, “Tidak kusangka, familiar yang kamu tangkap ini benar-benar tidak berguna. Kerjanya hanya tidur saja. Tidak heran dia sama bodohnya denganmu, Mata Empat.”


“Diam kau!” Neu menyindir balik. “Daripada dirimu yang kerjanya hanya menyindir orang tanpa memberi solusi.”


Tay memukul meja cukup keras. “Tarik kembali ucapanmu! Setidaknya aku juga berusaha untuk menangkap Familiar! Dua kali! Dua kali!”


Sierra mendengus sebagai tanggapan kedua rival bebuyutan itu sekali lagi bertengkar di dekatnya. Ia hanya mengunyah baguette cukup cepat tanpa memedulikan rasa dan tekstur.


Sans kembali menatap Cherie yang masih terlelap, menganggapi, “Tapi seperti katamu tadi, Neu, untuk menangkap Familiar pakai cara khusus itu, kita jadi secara tidak langsung ‘menangkap’-nya, kan?”


“Bisa dibilang begitu. Familiar menguji kepribadian kita selama di sana. Mau tidak mau, kita secara tidak langsung ikuti cara mereka. Tidak heran, banyak yang frustrasi dan akhirnya tidak dapat,” jawab Neu.


“Sekali lagi sok tahu,” Tay menyindir sekali lagi, “kalau kita sudah sabar waktu itu, kenapa hanya kamu yang dapat makhluk seperti dia?”


“Ah!” Beatrice berdiri tepat setelah menghabiskan baguette-nya. “A-aku ada urusan di akademi, ja-jadi aku harus lebih awal ke sana. Sa-sampai nanti.”


Neu dan Sierra menatap Beatrice bahkan belum menghabiskan secangkir tehnya, sangat heran karena terburu-buru. 


Bagi Sans dan Yudai, kepergian Beatrice secara mendadak itu merupakan pertanda bahwa ia tidak sabar ingin bertemu kembali dengan phoenix di halaman belakang kastel akademi. Memang sudah rahasia di antara mereka bertiga, wajar jika Tay, Neu, dan Sierra tidak boleh tahu.


Tay berkata, “Urusan apa? Kalau soal song mage, hari ini kita libur sehabis dari Pulau Familiar Izaria.”


***


“Lho?”


Tidak ada jejak phoenix di sekitar pohon di sudut timur laut halaman akademi. Di sarang di kolong pohon itu juga tidak nampak sama sekali.


Beatrice langsung berlutut memegang kolong pohon itu, panik mencari keberadaan phoenix.


“Phoenix? Phoenix!”


Ia bangkit dan mulai meraba-raba dinding pagar, menatap ke atas, masih mencari phoenix. Tatapannya beralih pada bagian atas pohon yang masih tak berdaun, sangat cemas ketika phoenix yang ia rawat juga tidak nampak.


“Phoenix!”


Beatrice kembali berlari terengah-engah, mulai mengelilingi taman halaman kastel. Hampir setiap sudut telah ia telusuri, termasuk jalan bersalju. Tetap saja, phoenix tidak berkeliaran di sekitarnya.


Ia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kastel. Larinya pun menjadi tolehan murid lain di ruang depan akademi ketika dirinya menaiki tangga. Tidak peduli akan hal itu, ia menambah kecepatannya mengitari selasar menuju gedung asrama.


Menuruni tangga secara terbirit-birit juga turut mengundang perhatian murid-murid lain di lounge room, heran dengan tingkahnya cukup panik memasuki gedung asrama. Beberapa orang yang juga menaiki tangga kanan juga bergeser seakan mempersilakannya untuk melewat duluan.


Tiba di lantai lima bagian kamar khusus laki-laki, Beatrice menghampiri pintu kamar Sans dan Yudai.


Mengetuk pintu sambil memanggil berujung tidak ada jawaban, ia berbalik kembali menuruni tangga. Sensasi debaran jantung dan gemetarnya tubuh memicu lebih banyak kecemasan baginya.


***


“Belum ada misi kelas C lagi.”


Yudai menghela napas menyaksikan quest board lagi-lagi penuh dengan lembaran misi kelas A, B, dan D. Sama sekali tidak puas dalam mencari misi sesuai kemampuan dan kebutuhan uang.


“Sans! Yudai!”


Sans dan Yudai menoleh ke kiri, menyaksikan Beatrice baru saja tiba di alun-alun untuk menghampiri mereka.


Beatrice terengah-engah ketika menghentikan langkah dan menuduk sambil menghentikan lutut, membiarkan waktu jeda untuk membiarkan menarik napas.


“Beatrice?” Sans menyaksikan wajah Beatrice yang gelisah.


“Phoenix! Phoenix!” Beatrice langsung mengatakan intinya.


“Tu-tunggu, ada apa dengan phoenix?” Yudai ingin memastikan.


“Phoenix yang kita rawat! Dia menghilang!”


“E-eh!” jerit Sans dan Yudai bersamaan.


Tidak perlu waktu lama untuk tetap kaget, mengetahui phoenix yang telah mereka rawat sudah tidak nampak di sekitar halaman akademi, mereka berpencar menuju setiap penjuru kota. Setiap jalan dan tempat mereka hampiri sambil mencari phoenix.


Berlari sambil memanggil phoenix, satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan dalam berusaha mencarinya. Berkeliling kota juga tidak menjadi solusi ketika sama sekali tidak menemukan burung itu. Hingga pantai dan sudut perbatasan kota pun mereka telusuri.


Sempat mengira suara kepakan sayap sebagai pertanda keberadaan phoenix, kumpulan burung merpati lah yang menjadi sumber suara saat berterbangan mengelilingi kota sehabis singgah.


Meski usaha terbaik mereka untuk mencari keberadaan phoenix itu, langit pun menjadi jingga tanpa terasa. Asap dari setiap cerobong bangunan mulai berterbangan menuju langit. Setiap toko mulai tutup. Seluruh orang menghentikan aktivitas masing-masing, termasuk di alun-alun.


Kelelahan seharian penuh berlari mengelilingi kota sambil berteriak, alun-alun menjadi tempat persinggahan terakhir ketika matahari akan terbenam. Titian keramik air mancur di pusat alun-alun menjadi tempat duduk. Menatap lantai keramik sambil termenung, tumpukan salju mulai mereda.


Sans menghela napas. “Phoenix kita … apa terjadi sesuatu padanya?”


“Tidak, tidak mungkin terjadi sesuatu yang buruk.” Beatrice menggeleng.


Yudai bangkit begitu menatap langit mulai menghitam. “Kita tidak tahu. Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada phoenix kita. Sebentar lagi jam malam. Kalau kita terus mencarinya malam-malam begini, kita bisa dihukum begitu tiba di akademi.”


Sans mengepalkan kedua tangan di pangkuan lututnya. Tidak percaya bahwa sebuah kesempatan untuk mengambil air mata phoenix berujung sia-sia. Ia belum cukup membentuk sebuah “faktor lain” dalam membentuk hubungan dengan phoenix.


“Ma-maafkan aku, Sans.” Melihat keadaan Sans yang mulai tersesat dalam perenungan, Beatrice mencoba untuk menenangkannya. “A-aku … aku—”


Sans memastikan, “Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Waktu itu, phoenix lebih memilihmu untuk mengambil air matanya. ‘Faktor lain’ dalam dirimu lebih kuat daripada diriku, Beatrice. Mengingat keadaanmu juga … saat pelayanmu meminta air mata phoenix dalam tiga hari, wajar kalau kamu lebih membutuhkannya saat itu.”


“Sans.” Yudai ikut iba.


“Phoenix,” gumam Beatrice, menyesal karena tidak dapat menemukannya.


***


Tepat setelah langit menghitam, mereka bertiga perlahan memasuki kastel akademi, seperti saat melewati jam malam waktu mencari Sierra akhir semester lalu.


“Akhirnya kalian kembali juga.” Dolce telah berdiri di hadapan pintu utama untuk menyambut.


Mereka bertiga mematung menatap Dolce, menelan ludah menyadari bahwa mereka tiba tepat saat dimulainya jam malam di akademi.


“Do-Dolce?” Yudai membuka suara sambil kaget.


“Tidak apa-apa. Saya tidak akan menghukum kalian.”


Mendengar kepastian Dolce sudah membuat mereka bertiga bernapas lega, cukup lega, mengingat juga tidak ada aktivitas oleh murid lain di ruang depan kastel.


“Kalian telah memelihara seekor phoenix selama libur musim dingin, dari bayi hingga akhirnya bertumbuh kembang menjadi makhluk berbulu api membara.”


“A-Anda tahu?” ucap Sans.


Dolce menghampiri mereka bertiga. “Kalian pasti menyimpulkan sendiri dari cara menangkap phoenix yang sebenarnya bahwa dia adalah Familiar, seperti makhluk di Pulau Familiar Izaria.”


Mereka termenung, mengingat penjelasan Neu mengenai “cara khusus” untuk menangkap Familiar agar menjadi makhluk pendamping. “Faktor lain” sebagai ujian untuk mengambil air mata phoenix dan juga menangkap Familiar.


“Familiar? Phoenix. Jadi maksud Anda …,” terka Yudai.


Dolce mengangguk. “Phoenix tidak tinggal di Pulau Familiar Izaria, maka dia bukan salah satu dari Familiar. Dia adalah makhluk liar yang nyaman di alam bebas. Gunung berapi adalah tempat tinggal yang sesungguhnya bagi seekor phoenix, bukan di kolong pohon. Kalian tidak perlu heran phoenix yang kalian rawat telah terbang bebas meninggalkan halaman akademi ini, itu adalah nalurinya saat ia bisa terbang.”


Beatrice menebak, “Ja-jadi … maksud Anda … dia sudah bisa terbang saat kami pergi ke Pulau Familiar Izaria.”


Sans menambah, “Kami bahkan tidak sempat mengucapkan salam perpisahan.”


Dolce berbalik dan mulai melangkah menuju tangga, secara tidak langsung mengajak mereka untuk kembali ke gedung asrama murid sebagai pengantar. Mereka bertiga pun perlahan mengikuti sambil mendengarkan penjelasan lebih lanjut.


“Bisa dibilang begitu. Phoenix merupakan makhluk yang istimewa, salah satu makhluk langka terkenal akan keunikannya. Bukan hanya dari kecantikan fisik, bulu merah membara dan paruh emas. Air matanya juga menjadi sebuah keunikan dengan kegunaan yang spesial, sangat spesial.


“Konon, masyarakat percaya bahwa air mata phoenix merupakan cairan keajaiban. Cairan yang menyembuhkan segala penyakit, terutama penyakit yang langka dan belum ditemukan obatnya.”


Beatrice merenungi kembali sang ayah yang terkena sebuah penyakit langka, lumpuh tidak berdaya di tempat tidur. Kekhawatiran kembali menyelimuti benaknya mempertanyakan nasib sang ayah setelah mendapat air mata phoenix.


Ia belum mendapat kabar sama sekali akan nasib sang ayah. Satu-satunya harapan adalah berharap agar ayahnya dapat sembuh dan kembali seperti sedia kala.


Dolce melanjutkan penjelasannya, “Saat awal informasi itu tersebar, manusia benar-benar serakah, berlomba-lomba untuk melakukan apapun untuk mendapat keajaiban itu. Phoenix sudah mengantisipasi hal itu dengan hanya memberi air mata pada orang tertentu dengan penilaiannya. Ia hanya ingin orang baik yang berhak mendapat air mata phoenix, bukan orang jahat yang akan menggunakannya dengan semena-mena.


“Maka, itulah cara mendapat air mata phoenix, yaitu membiarkannya menilai masa lalu dan ketulusan setiap orang. Ketulusan itu dapat terlihat dari tujuan mengambil air mata phoenix. Ya, phoenix memang jarang terlihat, sangat langka.”


“Faktor lain,” Sans menyimpulkan, “kalau kita merawat phoenix itu dengan tulus selama liburan musim dingin, apakah kita bisa bertemu dengannya lagi di gunung berapi? Membiarkannya memberi air mata phoenix lagi?”


“Ya … dan tidak.” Kedua kemungkinan jawaban terlontar dari mulut Dolce. “Faktor lain itu bukan sekadar sifat kalian. Bukan pula bagaimana kalian membuat hubungan dengan phoenix selama merawatnya. Hal yang paling penting, phoenix sangat langka. Peluang untuk menemukannya kembali cukup kecil. Siapa tahu jika beruntung, kalian akan melihatnya lagi.


“Satu hal lagi, tujuan untuk mengambil air mata phoenix menjadi salah satu dari faktor lain. Hanya orang yang memiliki tujuan mulia dapat mengambil air matanya. Seperti yang saya bilang, phoenix akan memindai pikiran dan jiwa kalian, mempertimbangkan sifat terdalam dan masa lalu.


“Mungkin kalian akan beruntung dapat melihatnya kembali jika kembali ke gunung berapi asal phoenix itu, benar-benar beruntung.”


Beatrice mengusap pipinya, menyingkirkan bekas air mata. “Aku mengerti sekarang. Phoenix … sudah tidak butuh bantuan kita lagi saat dewasa. Dia … sudah berada di alam bebas, bisa terbang sesuka hati, di tempat tinggal yang sebenarnya.”


Yudai mengangguk setuju. “Sudah menjadi pembelajaran bagi kita semua tentang phoenix.”


Sans merenung kembali, sekali lagi ia tidak dapat mengambil air mata phoenix. Dua kesempatan telah terlewatkan begitu saja karena kenyataan. Ia harus bersabar dalam menunggu agar dapat menemukan phoenix di gunung berapi dan mengambil air matanya.


Menunaikan tujuan untuk menyembuhkan sang ibu sekali lagi harus tertunda, satu bagian darinya.


Mereka menghentikan langkah saat tiba di pintu masuk gedung asrama. Sangat sepi mengingat jam malam sudah berlaku pada malam itu.


“Kalian akan menghadapi masa-masa sulit mulai sekarang. Tidurlah,” Dolce pamit.


“Terima kasih banyak, Dolce,” ucap Sans menundukkan kepala seraya hormat sebelum melewati pintu masuk gedung asrama.


Beatrice ikut menanggukkan kepala pada Dolce dan mengikuti Sans. Yudai juga menyusul, tetapi Dolce menahan bahunya, menghentikan langkahnya.


“Yudai, saya ingin berbicara denganmu, berdua. Di kantor saya.”