Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 53



Perpustakaan, tempat untuk mencari referensi dalam hal apapun, terutama mempelajari sejarah dan barang buruan. Tempat tersebut dikunjungi oleh Sans dan Yudai, tanpa ditemani oleh Beatrice dan Neu.


Berbagai buku mereka ambil dan baca demi menemukan lokasi keberadaan Phoenix, tidak peduli berapa banyak teks, kalimat, kata, hingga huruf yang mereka pindai, waktu mereka dari pagi hingga siang demi memindai beberapa buku di perpustakaan, tidak peduli beberapa murid lainnya berdatangan dan pergi terheran menatap kedua lelaki tersebut.


Tengah hari, Yudai sempat bercerita tentang omongan Neu terakhir kali, mengungkapkan dia tidak ingin makan siang di kantin, rela kelaparan untuk membantu mencari ilmu pengetahuan lebih lanjut. Masih kesal terhadap perkataan Neu tentang “kenyataan” murid bermantel putih dan alchemist.


Sans mendengar keresahan Yudai terhadap Neu, bahkan sampai mendengar kata “brengsek”. Dia tidak merespon apapun sambil meluapkan emosi, melainkan hanya mengabaikan, mengetahui bahwa Neu bukan orang brengsek seperti Tay.


Yudai menghela napas, mengusap wajahnya merasa frustrasi dengan perkataan Neu kembali terlintas. Ia mencoba mengalihkan pandangan pada buku teks demi mencari tempat tinggal phoenix di benua Aiswalt.


“Lebih baik kita mengajak Beatrice saja,” usul Yudai.


“Tu-tunggu, kamu serius tidak ingin mengajak Neu? Kamu masih marah padanya?” Sans mengingatkan.


“Dia sudah berkata buruk padamu. Sudah kubilang tadi. Profesor Alexandria ada benarnya juga tentang Neu, dia memang pintar, tapi dia suka mencuri perhatian agar kepintarannya lebih menonjol daripada yang lain. Makanya, dia dibilang penyihir sok tahu. Aku ingin berkata begitu setelah dia menganggap kamu tidak punya harapan di akademi ini.


“Sekarang hari baru, Sans. Meski kamu menyembunyikan kamu belajar alchemist yang terlarang—”


“Jangan berbicara tentang itu di sini,” Sans memperingatkan.


Yudai melirik sekitar mereka, sedang duduk di hadapan meja penuh dengan tumpukan buku, tidak ada siapapun sama sekali, hanya berbagai rak buku di sisi kiri dan kanan.


“Tidak apa-apa. Lagipula, suaraku pelan, kan?”


“Sedikit keras sih,” Sans mengingatkan.


Yudai memelankan suaranya hingga dalam bisikan. “Anggap saja ini hari baru untukmu, Sans. Meski kamu harus menyembunyikan kenyataan kalau kamu belajar alchemist dari yang lain, tentu saja hanya kita berdua dan Profesor Duke yang tahu, kamu akan melatih kemampuanmu dalam bertarung juga, itulah mengapa ini adalah awal yang baru bagimu.”


“Awal yang baru? Awal yang penuh kekuatan dan hasrat? Begitu?”


“A—” Yudai awalnya kehabisan kata-kata ketika mendengar ungkapan Sans. “Maksudku awal yang baru untuk mengembangkan dirimu, begitulah.”


Sans mengambil salah satu buku di tumpukan di hadapannya. Terlebih dahulu dia melihat judul buku tersebut, Makhluk-Makhluk Langka dan Lokasi Mereka. Sepertinya Sans tidak percaya akan judul tersebut yang hanya memuat janji tanpa ditepati oleh isi bukunya.


Perlahan, Sans membuka daftar isi buku tersebut. Berbagai nama makhluk langka terpampang dalam daftar, terutama yang membuat pandangan terfokus adalah tulisan “Phoenix”. Dibukanya bab “Phoenix” tanpa ekspektasi berlebih, terutama tentang lokasi keberadaan.


Dipindainya setiap teks dari atas ke bawah halaman, kiri ke kanan, cukup cepat sampai melewati deskripsi detail burung legendaris tersebut, apalagi kekuatannya. Sans tercengang ketika melihat kata “dipercaya dapat ditemukan—” setelah memutarbalikkan beberapa halaman.


“Ketemu! Lokasinya!” ungkap Sans menunjuk kalimat pada halaman buku tersebut.


“Eh?” Yudai bangkit dari duduknya dan menatap halaman buku tersebut.


Sans membacakan kalimat tersebut, “Phoenix dipercaya dapat ditemukan di sebuah gunung berapi, terletak di bagian barat laut benua Aiswalt.”


“Nah! Professor Duke benar. Benar-benar ada phoenix di benua Aiswalt.”


“Tebing itu,” Sans menyimpulkan, “tebing yang kulihat sebelum memasuki gua kelelawar api. Pasti itu jalan menuju gunung berapi itu! Kalau kita berangkat sekarang, kita akan tiba kembali larut malam, otomatis kita melanggar jam malam. Kita berangkat besok pagi saja.”


“Oke, kita ajak Beatrice untuk ikut bersama kita.”


‘Ta-tapi—”


“Tenanglah, Sans. Kita tidak perlu membongkar rahasia alchemist padanya, hanya bilang air mata Phoenix sebagai bahan obat untuk ibumu saja sudah cukup.”


“Ta-tapi obat itu juga hanya bisa dibuat alchemist, bukan?”


“Ah!” Yudai menggesekkan tangan kanan pada rambutnya. “Kalau begitu kita ajak dia sekarang juga!”


Semangatnya bahkan membuat Yudai menghiraukan tumpukan buku di meja. Dia justru langsung berjalan cukup kencang.


“Yudai, bagaimana aku meletakkan buku-buku ini di tempat asalnya sendirian?”


***


“Ma-maaf, besok aku juga ada urusan.” Itulah jawaban Beatrice setelah Sans dan Yudai bertanya padanya di dekat tangga menuju lantai dasar kastil akademi.


“E-eh?” Yudai melongo.


“Jadi begitu,” respon Sans.


“Oh ya, kalian tidak makan siang di kantin? Apa karena Neu berkata yang tidak-tidak dua hari yang lalu?” Beatrice bertanya. “Yudai, kamu belum berbicara padanya akhir-akhir ini.”


Yudai melipat kedua tangan di dada. “Kami berdua baru saja dari perpustakaan, dan itulah mengapa kami akan pergi untuk mencari sesuatu besok. Kalau soal Neu, aku … jujur saja, lebih baik aku tidak berbicara padanya dulu. Kalau seseorang sedang marah, lebih baik jauhi saja dulu sebelum tekanannya reda.”


“Begitu rupanya. Mungkin Neu ingin meminta maaf padamu, Yudai, terutama setelah dia membicarakan bahwa Sans tidak punya harapan.”


Memang benar, itulah yang Sans pikirkan. Neu sudah tidak peduli padanya, entah dia akan berusaha atau tidak demi bertahan di Akademi Lorelei.


Beatrice langsung melongo dan panik menatap kembali pada Sans. “E-eh? Maafkan aku, Sans, aku tidak sanggup menghentikan perkataannya waktu kamu tidak ada.”


Sans merespon dan mengangkat kepalanya, “Aku juga sudah dengar semuanya dari Yudai. Wajar dia berbicara begitu tentang diriku.”


“A-anu, Yudai, sebaiknya kamu berbicara pada Neu, sekaligus mengajaknya mungkin, dan juga dia ingin meminta maaf pada kalian berdua.”


“Ta-tapi—”


“Ah! Aku ke halaman depan dulu untuk berlatih nyanyianku. Aku permisi ya!”


Beatrice pun menuruni tangga menuju lantai dasar begitu pamit. Sans dan Yudai terdiam menatap perempuan ber-sun hat putih itu berlari mengiringi ruang depan kastil akademi, mencuri perhatian berbagai murid lain di sana.


“Bagaimana ini? Apa kita ajak Neu saja?”


Sans menganggapi, “Aku tidak marah pada Neu. Dia memang berhak berkata seperti itu, karena sikapku selama seminggu terakhir, termenung dan menunggu kegagalan tiba padaku.”


“Sans.” Yudai mengangkat kepalanya. “Neu bilang itu kenyataan, tapi sebenarnya kamu akan terus berjuang keras meski kamu sempat terpuruk. Aku ingat saat kamu terpuruk setelah mendapat mantel putih begitu gagal dalam aptitude test, lalu kamu memutuskan untuk mempelajari alchemist, saat itu kita masih belum tahu job itu terlarang di akademi. Dia memang tidak berkaca dari masa lalu. Sikapnya juga sekarang jadi brengsek, tidak heran Tay dan Profesor Alexandria menganggapnya sok tahu.”


“Aku sama sekali tidak tersinggung, aku pantas dibilang begitu. Kalau kamu merasa tidak enak mengajak Neu, kita berangkat berdua besok.”


“Jangan. Kita tetap ajak Neu. Kita ke kamarnya setelah makan di kedai roti.”


“Eh? Lebih baik jangan kalau kamu tidak merasa nyaman—"


“Tidak apa-apa. Aku juga ingin Neu melihat kamu masih punya harapan untuk tinggal di akademi ini, tetap menjadi murid di sini. Kamu punya awal yang baru, tunjukkan kalau kamu yakin agar Neu berubah pikiran.” Yudai mempercepat langkah menuju tangga. “Ayo, kita ke kedai roti dulu!”


“E-eh? Lalu bagaimana caranya?”


***


Salah satu pintu kayu bergagang warna perak, pintu yang sama persis seperti semua kamar di gedung asrama kecuali hanya nomor kamar masing-masing. Sans dan Yudai hapal betul nomor kamar Tay dan Neu, terlebih semenjak insiden perang makanan yang dihentikan oleh Alexandria.


Yudai mengetuk pintu menggunakan kepalan tangan, seakan tidak peduli dengan konflik antara dirinya dan Neu. Tidak sabar ingin menemui Neu untuk berbicara entah agar berbaikan atau sekadar mengajak.


Yudai kembali mendekatkan kepalan tangan pada pintu. Belum sempat mengenai dinding pintu kayu tersebut, seakan terseret masuk ke dalam hingga menurunkan kepalan tangannya.


Tay lah yang membukakan pintu alih-alih Neu. Sans dan Yudai cukup terenyak ketika musuh bebuyutan Neu lah yang telah berdiri di hadapan mereka. Terlebih, mereka berdua mengingat kembali bagaimana sang swordsman tersebut menyebabkan masalah, baik saat aptitude test bagian dalam dan juga sebelum upacara penerimaan murid.


“Kalian mau apa?” Tay menganggukkan kepala, begitu angkuh menghadapi Sans dan Yudai.


“Uh, apa ada Neu di kamar?” Sempat tidak bisa berkata-kata, Yudai ingin memastikan.


“Memangnya siang bolong begini dia ada di kamar? Seperti tidak tahu dia saja. Padahal kalian adalah teman dekatnya.”


“Perpustakaan, itu tempat yang sering dia kunjungi. Tapi kita tidak melihatnya, mungkin dia sedang berlatih sihir.”


“Mana kutahu soal itu. Lagipula, kudengar kamu sedang bermasalah dengan Neu, kan, alis melengkung?”


Yudai mengabaikan panggilan sindiran Tay. “Iya, benar. Lalu kamu tahu darimana?”


“Tidak usah banyak tanya soal itu. Kalian mau apa ingin menemui dia?”


“Lebih baik kita menjawab pertanyaanmu saat kita menemui Neu,” bujuk Sans.


Tay membantah, “Memang kenapa? Kalian ingin menemuinya karena ada tujuan, kan? Lagipula, aku dan Yudai juga pernah sekelompok saat kita semua pergi ke benua Riswein, jadi kalau dia tidak ada, aku tertarik untuk mendengar kenapa kalian ingin menemui Neu.”


Sans terdiam, memang sulit untuk berbicara pada Tay.


Yudai langsung menjawab begitu saja, “Kami sebenarnya ingin mengajaknya untuk ke sebuah gunung berapi, kami ingin mencari Phoenix.”


“Yudai!” Sans memperingatkan.


Tay menghela napas. “Tidak apa-apa, mantel putih. Lagipula temanmu, si alis melengkung, sedang punya masalah dengan si penyihir sok tahu itu. Aku yakin dia pasti akan berpikir dua kali hingga ragu.”


Yudai merenungkan perkataan Tay, kembali menundukkan kepala. Dapat terbayang jika dia menemui Neu, kemarahan pasti akan kembali mendidih saking teringat akan sebuah ungkapan terhadap Sans. Tentu dia akan berpikir dua kali sampai memutuskan untuk tidak jadi mengajak.


Yudai pun dengan cepat mengubah pikirannya. “Kalau begitu, Tay, besok kamu ada waktu luang, kan?”


“EEEEH!!” jerit Sans. “Ka-kamu akan mengajak dia? Setelah apa yang dia perbuat pada kita selama ini?”


Tay membela diri, “Memang kenapa? Aku tidak ada kelas atau urusan lain besok. Aku juga tidak punya teman dekat sama sekali, seluruh teman satu perjuangan mencampakkanku begitu saja. Aku juga sebenarnya tidak sudi, tapi semenjak kalian bermasalah dengan si penyihir sok tahu itu, aku ikut.”


“Aku yang menyuruh Neu menyelamatkanmu saat kita terjebak oleh ranting hidup di Labirin Oslork. Anggap saja ini balas budi. Kita berangkat besok pagi,” tambah Yudai.


“Yu-Yudai!” Sans kembali melongo.


“Tidak ada pilihan lain. Kita juga bahkan belum tahu bagaimana sifat asli Tay. Soalnya, seluruh murid lain hanya melihat dari luarnya. Semakin lama kamu kenal seseorang, semakin tahu bagaimana sifat terdalam masing-masing teman kita. Ya, sayangnya itu terbukti pada Neu,” tutur Yudai.


Tay membantah, “Sifatku memang seperti ini. Dari awal, aku di sini bukan untuk mencari teman, apalagi sahabat, aku di sini untuk menjadi lebih kuat sebagai petualang, meski akhirnya aku gagal mendapat job royal guard. Ini akademi berstandar tinggi, serius, jadi ada yang harus dikorbankan, kalau itu teman, tidak masalah.”


“Cukup adil.” Yudai menganggapi singkat. “Baik, besok, kita berangkat dari sini fajar. Kami tunggu di gerbang depan akademi.”


“Iya. Setidaknya aku bisa membantu kalian satu kali, setelah itu, sudah. Ini karena kamu sedang marah dengan si penyihir sok tahu itu. Pergilah.”


***


Sans benar-benar tidak percaya, sama sekali tidak percaya. Dirinya dan Yudai ternyata berhasil mengajak murid yang paling dibenci di akademi, alih-alih mengajak Neu. Murid bermantel putih itu hanya duduk terdiam di tempat tidur mencoba memproses apapun yang telah terjadi.


Entah karena masih berseteru dengan Neu, Sans menyimpulkan Yudai merupakan orang yang cukup polos jika ingin dipercaya. Dia sempat ingin menegur menggunakan nada suara tinggi, pada akhirnya, lelaki beralis melengkung itu tetaplah teman dekatnya sejak awal.


“Tay benar,” ungkap Yudai menatap ke arah jendela, “aku tidak akan mampu bertanya pada Neu. Aku juga tidak akan mau Neu ikut kita menemukan phoenix di gunung berapi itu.”


“Lalu kenapa kamu mengajak Tay? Sudah kubilang kita bisa saja pergi berdua.”


Yudai berbalik menatap Sans. “Aku percaya Tay sebenarnya orang baik dari dalam dirinya. Dia masih belum memperlihatkannya di luar dirinya. Dengan begitu, kita akan mengenal Tay lebih jauh. Dia juga belum punya teman dekat sama sekali, kecuali teman yang sebelumnya kita pernah temui tepat sebelum upacara penerimaan murid.”


“Satu-satunya hal bagus adalah kamu tidak mengungkapkan tujuanku sebenarnya ke gunung berapi itu, tujuanku untuk mengambil air mata phoenix.”