
Mulai lagi. Bisik-bisik di kalangan murid sebagai reaksi atas kedatangan Neu secara tiba-tiba di aula. Di antara mereka, sudah terpicu untuk menyebarkan gosip atau teori konspirasi terhadap Neu.
Neu telah berminggu-minggu tidak hadir semenjak ia menghilang saat hari terakhir bootcamp. Keberadaannya menjadi salah satu perbincangan hangat di kalangan murid tingkat pertama, selain munculnya Royal Table dan penyelidikan untuk menemukan mata-mata.
Banyak juga yang terkejut begitu mendengar dengan telinga sendiri bahwa Neu mengakui Sierra adalah pelakunya. Meski begitu, tidak semuanya percaya, mengingat Neu sudah “menghilang” cukup lama tanpa alasan jelas.
“Neu!” sahut Beatrice. “Sierra pelakunya?”
“Tentu saja!” Zerowolf menyahut keras. “Kita sudah tahu Sierra adalah mata-matanya!”
Sahutan Zerowolf sangat nyaring hingga ia tidak menyadari situasi. Ia mengungkapkan identitas mata-mata Royal Table di hadapan publik, memicu satu lagi keributan para murid. Satu per satu mereka berdiri dan menyahut mencemooh.
“Apa?”
“Mana buktinya! Sierra pelakunya!”
Riri menepuk jidatnya bereaksi terhadap keputusan Zerowolf. “Ah. Sudah kubilang.”
“Pembohong!!” jerit salah satu murid.
Kebanyakan dari mereka ingat dari saat itu, Yudai dan Beatrice menjadi murid yang benar-benar membela Sans, apalagi setelah sidang memutuskan Sans dibebaskan dari segala hukuman. Satu lagi alasan mengapa mereka percaya dengan desas-desus dan teori konspirasi tentang alchemist dan Royal Table. Kedekatan Neu dan Zerowolf dengan Yudai dan Beatrice menjadi alasan cukup mudah untuk mengecap keduanya sebagai pembohong.
Katherine merasakan peluh mulai keluar dari telapak tangan. Beberapa kata-kata kasar dan menghina terlontar satu demi satu sampai tidak terbendung. Suara nyaring sampai memicu otaknya macet. Ingin sekali ia membela, tetapi ia sudah kalah telak.
Neu juga, mendengar perkataan Zerowolf bahwa ia sudah tahu Sierra adalah mata-mata Royal Table, sama tercengangnya sampai ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Terlebih, hampir semua murid menganggapnya pembohong besar, apalagi setelah Beatrice dan Yudai pertama kali menemuinya saat itu terjadi.
“HARAP TENANG!!” Arsius tegas meredakan segala keributan. “Mohon maaf, saya rasa sudah tidak perlu lagi ada yang diumumkan jika kalian begini. Sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing dengan tenang dan jangan membuat keributan.”
Seluruh murid menggerutu dengan diam akan keputusan Arsius selaku kepala akademi. Tay, Ruka, Sandee, dan Lana tidak ikut berkomentar, mereka lebih memilih diam dan tidak terhasut.
“Kecuali … Neu, kami butuh dirimu di ruang interogasi. Dan bagi nama-nama yang saya panggil, harap juga ikut. Zerowolf, Riri, Beatrice, Katherine, dan Yudai.”
Semuanya sama sekali tidak terkejut dan keberatan. Hampir semua murid menganggap keputusan Arsius tersebut cukup adil. Keenam murid yang terpanggil itu mereka anggap menjadi tersangka.
Masalah lagi muncul bagi Yudai dan teman-temannya, Sans masih menghilang, justru mereka harus menghadapi interogasi. Neu juga menyadari ketidakhadiran Sans di antara seluruh murid tahun pertama.
Tay mendengus menatap wajah berkacamata Neu. Euforia ia tolak mentah-mentah dalam hati dan menggantinya dengan gerutu amarah. Ingin sekali ia mengonfrontasi rival bebuyutannya itu sekali sebagai teman sekamar. Akan tetapi ia harus menundanya untuk sementara waktu.
***
Proses interogasi keenam murid yang telah dipanggil Arsius di aula dilakukan secara terpisah. Masing-masing murid menempati ruangan yang berbeda dan dilontarkan sejumlah pertanyaan oleh dua orang profesor beserta dua orang royal guard penjaga.
Meja dan kursi yang telah lapuk, dinding abu-abu jika hanya ditambah penerangan berupa obor. Masing-masing ruangan interogasi sangat sempit hanya berukuran 2x2 meter dan minimnya warna selain abu, hitam, dan putih pada dinding nampak bagai tak terurus.
Secara terpisah, keenam murid mulai membela diri dan menjelaskan apa yang telah terjadi dan mengapa Sierra menjadi mata-mata Royal Table.
Yudai menjelaskan pada kedua profesor penginterogasi, “Saya bersumpah! Saya dan Katherine pertama kali melihat Tay tergeletak pingsan. Setelah Katherine membangunkannya menggunakan mantra, Tay bilang dia telah diserang Sierra.”
Sementara Katherine terbata-bata dalam menjelaskan. Ia berulang kali menelan ludah dan mengelap keringat di dahi. Memperhatikan sorot mata dua profesor dan dua royal guard penjaga yang mengiris memicu ketegangannya. “D-dia, Si-Sierra … sebenarnya baik sekali padaku saat kelas khusus priest. Dia membantuku mempelajari berbagai mantra penyembuh. Tapi … ternyata … saya sadar … itu adalah sandiwara. Sierra telah menyerang Tay.”
Riri menghela napas sebelum kembali berbicara. “Saya kaget, sama kagetnya dengan yang lain. Sierra selama ini telah menjadi mata-mata. Tay adalah orang pertama yang mengetahuinya. Dia dibuat pingsan. Saat Yudai dan Katherine menemukan Tay, Sierra menghilang. Ya. Kami tidak punya bukti selain kata-kata, itulah yang saya dan Sans katakan saat tahu Sierra adalah pelakunya.”
“Memang mudah sekali Anda menanyakan mana buktinya, bukan?” Zerowolf menyindir kebijakan dalam penyelidikan. “Kalau Sierra selama berhari-hari, berminggu-minggu telah absen, tidak ada di Akademi Lorelei, setelah ketahuan menjadi mata-mata oleh kami, tentunya patut dicurigai. Kami bahkan tidak tahu di mana keberadaannya. Kami baru saja tiba kembali dari Beltopia untuk menjemput Beatrice.”
Bagi Beatrice, berkata jujur adalah hal terpenting yang pernah diajarkan ayahnya. Setiap kali ia jujur, masalah yang ia hadapi pasti akan selesai dengan cepat dan tidak menjadi bercabang. Pada saat yang sama, semua orang berbohong demi menyelamatkan diri sendiri dari masalah, sama seperti yang dilakukan kebanyakan murid.
Ia bersaksi pada dua orang profesor dan dua orang royal guard penjaga, “Sierra adalah orang pertama yang menemuiku. Dia yang pertama tahu saya sedang sedih setelah field trip ke Silvarion. Saya menceritakan masalah dengan keluargaku dan alasan mengapa saya berada di Akademi Lorelei padanya. Sierra memang pendengar yang baik.
“Memang, tidak ada yang aneh dari Sierra. Dia pernah absen selama tiga hari kalau tidak salah. Um … dia bilang dia ingin menjenguk orangtuanya yang sedang sakit. Tapi … ternyata masuk akal. Sierra … adalah mata-matanya. Tay bilang itu pada kami. Kami sungguh tidak percaya, sangat tidak percaya. Saya menangis mengingat selama ini Sierra telah berpura-pura. Dia adalah mata-matanya.
“Dia sama sekali tidak kembali bersama kami. Kami mematuhi perintah Riri dan Sans, sebaiknya tidak gegabah untuk berkata Sierra pelakunya. Tapi sekarang … Zerowolf keceplosan saat Neu kembali ke sini. Neu ... Tay menyimpulkan Sierra orang yang menculik Neu menjelang berakhirnya bootcamp.”
***
Ia sudah menghilang selama berhari-hari semenjak bootcamp berakhir. Tidak heran ia harus menjalani interogasi. Di hadapannya sudah ada Hunt dan Danson selaku profesor yang berperan menjadi interogator, beserta dua orang royal guard penjaga.
Ia hanya ingin kembali ke asrama murid setelah berlama-lama di luar penuh ketegangan. Pada saat yang sama, ia juga ingin berkata jujur, namun keraguan menggerogotinya menyadari tidak semudah itu meyakinkan semua orang, terutama para profesor dan royal guard. Terlebih, dari kelihatannya di aula tadi, seluruh murid memojokkan Beatrice, Yudai, Zerowolf, Riri, dan Katherine sebagai pembohong.
Neu menggesekkan jempol pada telunjuk dan jari tengah berkali-kali, menunggu salah satu dari profesor di hadapannya itu membuka suara.
Danson menarik napas sebelum meletakkan kepalan kedua tangan di meja di hadapan Neu. “Tadi kamu bilang pelakunya Sierra? Pelaku mata-mata dari Royal Table, yang ingin menghancurkan reputasi Akademi Lorelei?”
Neu mengangguk. “Saya melihatnya dengan kepala dan mata saya sendiri, Profesor Danson, Profesor Hunt.”
Giliran Hunt yang mengajukan pertanyaan. “Darimana kamu tahu kalau Sierra itu seorang mata-mata? Dan kapan?”
Neu menelan ludah. Tatapan kedua profesor itu lebih garang dari pupil mereka, seakan seperti lensa yang berfokus pada setiap gerak-gerik Neu, terutama pada bibir dan leher.
“Waktu itu saat hari ketiga pelatihan khusus job masing-masing, saat bootcamp di Vaniar.”
Meski Cherie yang masih berbaring di bahu sedikit memicu kenyamanan, berkali-kali Neu menahan napas saat ingin menjelaskan. Keadaan ruangan yang dekil ditambah royal guard penjaga mengawasi di samping pintu memicu sebuah ketegangan. Ia memang pintar, tetapi ia juga tidak mau dibilang pintar memanipulasi sebuah peristiwa.
“Saya melihat Sierra sedang bersama seorang laki-laki di gerbang timur. Tidak salah lagi, itu Sierra. Dia sedang bersama seorang laki-laki. Berkulit hitam pekat dan berambut kribo. Saya mencuri dengar percakapan dari balik pagar gerbang. Mereka … sedang berbicara tentang sebuah rencana, rencana dari saat seluruh murid sedang sibuk berdansa pada hari terakhir Festival Melzronta.
“Mereka bilang … sudah mendapat bukti … bagian dari rencana itu. Saya waktu itu tidak tahu pasti apa buktinya. Lalu menjelang hari terakhir bootcamp, saya memergoki Sierra keluar dari penginapan saat seluruh murid, terutama saya dan Beatrice, sedang berdiskusi hasil tes akhir bootcamp, mendapat barang khusus masing-masing job.
“Saya membuntuti Sierra menuju tempat yang sama persis gerbang timur Silvarion. Saya melewati gerbang itu dan memasuki pepohonan. Tiba-tiba … saya … mendadak kehilangan kendali. Sakit sekali, saya tidak bisa menggerakan tubuh sama sekali. Saya tidak sadarkan diri setelah menatap laki-laki berkulit hitam itu.”
“Baiklah.” Danson mengangguk dan mencatat menggunakan kertas beserta pena bulu bertinta, seakan seperti seorang dokter yang tengah mendengarkan keluhan pasien.
“Apa yang terjadi setelah itu?” Hunt kembali mengajukan pertanyaan.
Neu menutup mata, membayangkan kembali sebuah peristiwa yang terjadi. Ia menarik napas berkali-kali, cucuran keringatnya mulai menetes pada leher, betapa sesak berada di ruang interogasi ditambah ketegangan untuk berbicara sejujurnya.
“Begitu saya sadar, saya sudah berada di sebuah ruangan. Ruangan serba putih. Semuanya, termasuk lentera yang bergelantungan di atap. Saat itu saya sadar saya tidak berada di Akademi Lorelei. Saya menjerit, saya menggunakan setiap mantra yang telah saya pelajari, tetapi pintu dan dinding sama sekali tidak hancur. Begitu dua orang penjaga melihat saya sudah sadar, saya langsung menyerang saat mereka membukakan pintu. Saya diberitahu saya berada di markas Royal Table.
“Begitu saya menyerang mereka sekali lagi. Saya dipergoki oleh pasukan Royal Table yang lain. Saya menyerang mereka menggunakan sihir, tapi itu tidak cukup. Saya melarikan diri. Lalu Familiar saya—” Ia menganggukkan kepala pada Cherie yang masih terlelap di bahu kirinya. “—akhirnya menunjukkan kekuatannya untuk membantu. Kekuatannya membekukan tubuh orang, kecuali bola mata, hidung, dan mulut.”
Hunt dan Danson mengangguk. Mereka telah menyaksikan selama ini familiar Neu “malas” menunjukkan kekuatan selagi dalam Festival Melzronta atau dalam praktik bertarung selama kelas khusus mage.
“Apakah kamu menemukan lebih banyak petunjuk lagi? Petunjuk tentang Royal Table? Apakah kamu hanya lari begitu saja?” tanya Danson.
Neu mengangguk. “Saya menemukan semacam perpustakaan, hampir mirip dengan perpustakaan akademi ini. Hanya saja … saya menemukan empat cincin berbatu akik. Saya mendekatkan batu akik itu pada mata saya, tiba-tiba saya mendapat sebuah kilasan. Saya melihat lewat kilasan itu sekelompok massa membakar hidup-hidup seseorang, mereka bilang itu alchemist.”
Hunt dan Danson tercengang mendengar penjelasan dari Neu. Melongo, tidak sampai terpikir bahwa ada peristiwa seperti itu. Alchemist memang dikutuk sebagai job ilegal, terdapat pula kebencian dari masyarakat kerajaan Anagarde sendiri, pembunuhan alchemist itu benar-benar tidak asing. Tetapi mereka sama sekali belum pernah mendengar terdapat batu akik yang dapat menunjukkan peristiwa masa lalu. Keduanya saling menatap kebingungan.
Danson kembali menatap Neu. “Ceritakan bagaimana kamu lolos dari markas Royal Table.”
“Sierra menemukan saya, saat saya melihat sebuah lembaran peristiwa alchemist. Saya tidak ingat pasti kertas itu menjelaskan apa. Sierra … mengakuinya, dia memang mata-mata Royal Table. Saya mendengar menggunakan telinga saya sendiri. Dia berkata kilasan balik peristiwa yang saya lihat itu … benar-benar terjadi.
“Jujur.” Neu menundukkan kepalanya. “Saya tidak percaya itu benar-benar terjadi. Dia bilang dunia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya terhadap alchemist. Saya tahu dari wajahnya, Sierra berbohong pada saya.”
Ia bercerita apa yang terjadi setelah Sierra memergokinya di sebuah perpustakaan di markas Royal Table. Sekali lagi, Danson dan Hunt mendengar setiap lontaran kata demi kata secara saksama, juga bagaimana gerak-geriknya dan berapa kali ia berhenti hanya untuk menarik napas. Semuanya dibutuhkan untuk menginterogasi.
***
“Cherie!” Neu mengangkap tubuh peri mungil itu menggunakan tangan kirinya
“Familiarmu akhirnya punya kekuatannya juga. Tapi dia masih payah, begitu juga keputusanmu. Giliranmu.”
Neu memang harus melawan temannya sendiri, Sierra. Bisa dikatakan bukan lagi temannya, melainkan musuh. Sungguh sulit untuk menyerang apalagi ia sudah sangat mengenal gadis itu.
Apa boleh buat. Itulah yang Neu pikirkan. Neu mengangkat tongkat sihirnya dan menempatkan kaki kiri di depan, memasang posisi untuk bertarung. Ia tahu sebenarnya ia tidak ingin menyerang Sierra.
“Falshen siqlo, rinreah le ca apelle!”