
Bra ketat berwarna hitam sampai menonjolkan belahan dada dan celana renang ketat yang menonjolkan kulit dan lekukan paha. Itulah kesan pertama bagi Zerowolf saat melihat gadis berambut cokelat muda itu, apalagi saat terlihat menghampiri Yudai.
“Yu-Yudai!!” sahut Zerowolf menunjuk gadis itu. “Ka-kamu … kamu kenal gadis ini?”
Sahut Zerowolf memicu teman-temannya berbalik. Gadis itu langsung menjadi sebuah pusat perhatian. Sangat terbuka dan seksi, itu yang berada di dalam pikiran mayoritas dari mereka.
“Di-dia Eldia,” Yudai memperkenalkan gadis itu, “Kami pertama kali bertemu dengannya saat aku menyeli—bukan menghabiskan waktu jeda seorang diri saat bootcamp di Silvarion.”
Memberitahu yang sebenarnya, fakta bahwa ia menyelinap saat malam hari selama bootcamp untuk mencari tahu keberadaan ayahnya, menjadi ide terbodoh. Ia dapat memikirkan sindiran terlontar dari mulut teman-temannya, terutama Riri dan Neu.
Eldia mengangguk padanya dan mengedipkan mata kiri, memastikan rahasia mereka berdua tetap aman. Ia kembali melengkungkan bibir ke atasnya, menambah alaminya kulit wajah.
“Ah. Kalian pasti teman-temannya Yudai,” Eldia memastikan. “Lho.” Ia menyaksikan Beatrice, Katherine, dan Ruka sama sekali tidak memakai baju renang. “Tidak seru perempuan tidak menonjolkan kulit panas-panas begini.”
Zerowolf kembali seperti tersandung ke belakang, terpicu oleh reaksinya saat melihat belahan dada dan celana ketat Eldia. Darah sudah menetes dari lubang hidung sampai mencapai dagu.
“Ze-Zerowolf!!” jerit Riri tegas.
“I-indah sekali …,” Zerowolf memuji tubuh Eldia, terutama pada bra dan lekuk tubuh.
Katherine ikut memalingkan wajah dari tubuh Eldia. Lagi-lagi ia membayangkan dirinya di hadapan Yudai. Ia membayangkan dirinya mendapat tubuh seperti Eldia dan mampu memicu Yudai terkesima.
Kamu … seksi sekali, Katherine.
Ah. Terima kasih.
Jadilah kekasihku.
Ba-baiklah. A-aku juga ingin jadi kekasihmu.
Pikiran percakapan seperti itu memicu uap bayangan dari otak Katherine. Terlebih ia dapat membayangkan kedua tangannya tergenggam oleh Yudai. Sentuhan hangat dan menggelikan.
Panas, sangat panas, apalagi jika membayangkan dirinya berduaan dengan Yudai di tepi pantai, saling kejar-mengejar, sampai akhirnya mendekatkan kedua wajah hanya untuk menyatukan bibir.
“Dasar.” Riri berlutut dan mendorong punggung bagian atas Zerowolf agar kembali berdiri. “Kamu malah pikir yang tidak-tidak. Bikin malu yang lain—” Begitu Riri menoleh ke belakang, ia mendapati Katherine juga menyandarkan kepala di meja, seperti ikan kepanasan. “Katherine juga!!”
***
“Jadi … apa yang membawamu kemari?” Yudai langsung mengajukan pertanyaan.
Eldia sudah duduk di bangku depan meja bar, tepatnya bersama Sans, Beatrice, dan Yudai. Sementara yang lain duduk di hadapan salah satu meja di dekat pintu keluar. Terlihat pelayan sudah mengantar pesanan mereka berupa makanan dan minuman, beberapa diantaranya adalah tiga cangkir bir.
Eldia menempatkan sikut kanannya pada meja, menatap ketiganya seakan berbaris di hadapannya. Kulit putih mulus menjadi perhatian ketiganya pula, sampai bertanya dalam hati bagaimana bisa mempertahankan warna itu meski masih menjadi petualang.
“Aku kemari untuk sebuah penyelidikan. Sebuah penyelidikan spe-sial.”
Spesial, lontaran kata itu menarik perhatian bagi Sans dan Yudai.
“Penyelidikan? Menyelidiki apa?”
“Itu lho. Yang sering menjadi pembahasan kerajaan akhir-akhir ini. Ya, sebenarnya aku dapat langsung dari beberapa penduduk dan orang dalam dari kerajaan.” Jawaban Eldia membuat Sans dan Beatrice mendekatkan wajah, ingin memastikan apa yang mereka dengar tidak salah. “Benar, aku menyelidiki Royal Table juga.”
Bahkan sebelum Eldia mengungkapkan hal yang ia selidiki, Sans sudah menduganya. Royal Table seakan sudah menjadi rahasia umum bagi kerajaan dan Akademi Lorelei, sampai-sampai beberapa rakyat jelata pun tahu. Setidaknya tidak menjadi masalah besar bagi kerajaan Anagarde.
Eldia bersuara lagi, “Kalian … juga sering mendengar nama itu di akademi kan? Aku ingin tahu apa saja yang dibicarakan.”
Sans, tanpa ragu lagi, mengungkapkan, “Um, katanya kerajaan masih menyelidikinya. Tapi … kami juga tidak boleh tahu terlalu banyak tentang Royal Table.”
Beatrice menghela napas. “Sebenarnya, ada teman kami yang juga berada di sana. Dulu … dia belajar di Akademi Lorelei bersama kami.”
“Mohon maaf menunggu lama.” Seorang bartender berkepala plontos kembali menghampiri membawa tiga minuman pesanan. “Segelas susu hangat untuk si gadis berkemeja putih. Dan dua gelas teh hangat untuk dua laki-laki di hadapan saya.”
Bartender itu kembali menghampiri salah satu meja sambil membawa sebuah pesanan. Sambil memperhatikan pria itu berlalu, Sans menyaksikan Zerowolf, Tay, dan Ruka meminum secangkir bir dan ale dalam satu tegukan.
“Tuan! Secangkir bir lagi!” sahut Zerowolf pada bartender itu.
“Aku juga,” pinta Ruka juga mengangkat cangkirnya.
Eldia mengomentari tingkah mereka berdua, “Sepertinya teman-temanmu sudah lama tidak melepas penatnya.”
Riri menyahut agar tidak perlu dilayani bir lagi pada bartender. Sayang sekali, ucapannya tidak tergubris sama sekali. Sampai-sampai menggelengkan kepala menyaksikan Zerowolf dan Ruka sudah seperti berada di dunia mereka sendiri.
“Oh ya.” Beatrice melanjutkan setelah meneguk susu hangatnya. “Teman kami … dulu sering menyelesaikan misi bersama-sama. Sekarang dia … menghilang begitu kami tahu dia adalah mata-mata Royal Table.”
Sans melanjutkan, “Dia juga menculik Neu saat bootcamp di Vaniar, menjelang hari terakhir. Lalu Neu berhasil lolos setelah berhadapan dengannya. Saat Neu kembali ke akademi, dia memberitahu semuanya, semuanya, identitas teman kami yang berkhianat.”
Sans menganggukan kepala mengarah pada Neu yang bersandar di kursinya di dekat Tay. Ia menurunkan secangkir bir genggaman Tay. Riri dan Katherine juga terlihat kewalahan menghadapi ketiga teman yang lain sampai mabuk alkohol.
“Sepertinya mereka tidak perlu bermain di pantai lagi habis ini,” komentar Yudai.
“Maaf.” Eldia mengangguk. “Siapa nama teman kalian? Yang berkhianat menjadi mata-mata Royal Table?”
Sans meneguk teh hangatnya, sampai sedikit tersedak mendengar pertanyaan itu. Beatrice dan Yudai juga ikut terdiam, sulit untuk menentukan apakah mengungkapkan identitas teman mereka akan menjadi berbahaya.
“Lupakan saja,” Eldia menarik pertanyaannya, “kurasa kalian masih tertekan dengan situasi itu. Lalu … apa kalian sudah punya hasil penyelidikan sendiri? Tentang Royal Table?”
Yudai ingin membuka mulutnya, sudah ia persiapkan sebuah jawaban di dalam benaknya. Tetapi Sans menepuk bahunya, menggeleng. Ia mengangguk lagi.
“Oh ya, aku main ke pantai lagi deh. Sebaiknya kutinggalkan kalian. Sampai nanti.”
“Eldia, tu—”
Belum sempat Yudai memanggil kembali, Eldia langsung melewati pintu. Langkahnya yang cepat menghentikan inisiatifnya untuk kembali bertanya.
“Sial. Aku dan Zerowolf juga tidak menemukan apapun di lorong terlarang di perpustakaan.” Yudai kembali meneguk teh hangatnya. “Bisa dibilang kita masih belum mendapat apapun tentang Royal Table. Kita juga tidak mungkin bertanya pada Duke lagi.”
Neu bangkit dari duduknya begitu dua cangkir bir tiba di genggaman Zerowolf dan Ruka lagi. Ia sudah cukup jengkel, sampai ingin menahan muntah dengan melihat keduanya kembali meneguk secangkir penuh hanya demi kepuasan semata. Ia menghampiri meja bar sambil menghela napas.
“Kami tahu, Neu,” jawab Beatrice. “Tentu saja kami masih ingin bermain-main lagi di pantai.”
Neu berkacak pinggang kembali menatap sekeliling tavern itu. Ia tidak menyangka, sama sekali tidak menyangka. Tavern yang terletak di tempat terpencil di pantai dengan tidak ada bangunan apapun di sekitarnya dapat mengundang perhatian banyak orang, apalagi tidak terletak di dalam kota. Ia berpikir, semenjak ini hari pertama musim panas, tentu saja tavern itu akan ramai.
Melihat segala detail pada ruangan itu memicu kilatan listrik dan berputarnya roda gigi di benak Neu. Kilasan samar-samar, tidak pasti dalam menggambarkannya. Ia menutup mata dan menarik napas sejenak.
Neu bertanya pada bartender, “Apa biasanya tavern ini ramai saat musim panas?”
“Tidak hanya musim panas. Semenjak kami buka pada akhir musim panas lalu, tempat ini sangat ramai. Mulai dari nelayan sampai penduduk sekalipun, sampai anak muda seperti kalian, semuanya berkunjung ke sini untuk bersantai dan minum-minum.”
“Hampir satu tahun ya?” Yudai berseru. “Hebat juga. Lain kali kita mengunjungi lagi, itu pun jika kita tidak sibuk dengan misi.”
“Hei, Yudai.” Neu sungkan dan tidak setuju.
“Tidak apa-apa. Pokoknya, kalau kalian ingin datang lagi—” Bartender itu sampai mengedipkan mata kiri. “—paling tidak saya akan dengan senang hati menyambut kalian kapan saja.”
“Terima kasih banyak,” ucap Sans.
“Oke, begitu minum kita sudah habis. Kita kembali ke pantai dan bermain-main lagi!” Yudai mengangkat gelasnya.
Neu berbalik dan kembali melangkah, membuat Beatrice tercengang karena ia pergi tanpa perlu menjelaskan atau setidaknya bilang.
“Neu?”
“Mau ke kamar mandi sebentar.”
***
Meski pintu kamar mandi berada menghadap sebuah tangga tanpa pagar pembatas, Neu justru berhenti sejenak menatapnya. Ia berpaling pada tangga menuju lantai atas.
Ia menoleh ke belakang, melirik pada teman-temannya yang lain di dekat meja bar, cukup jauh, menjadi sebuah keuntungan. Sebuah kilasan kembali mengambang di pikirannya. Seperti samar-samar dan terhalang awan dan kabut, pikiran itu seperti datang dan pergi.
Tanpa ragu, Neu pun berinisiatif mengambil langkah menuju tangga itu. Menaikinya hingga sampai pada lantai terbuat dari kayu itu, mencapai lantai kedua.
Begitu berbelok kanan, terlihat setidaknya tiga buah pintu pada masing-masing sisi kiri dan kanan ruangan, dengan berjarak pada masing-masing pintu di setiap sisi kurang lebih dua meter. Neu menyimpulkan pintu-pintu itu adalah pintu menuju kamar di tavern itu. Ia memahami tavern di tepi pantai yang terpencil dari kota itu bukan hanya sebuah tempat makan, tetapi juga sebuah penginapan.
Kilasan itu semakin kuat memenuhi benaknya. Lama kelamaan, awan dan kabut yang menghalangi memudar seakan mengungkapkan isinya. Sebuah kilasan itu seperti sebuah panah menembak tepat pada keningnya.
Neu langsung menoleh ke belakang, terutama pada tangga itu. Ia menghela napas.
“I-ini … tavern ini … tidak salah lagi.”
“Hei, anak muda.”
Neu seperti terdorong badannya saat mendengar sebuah suara halus seorang perempuan. Ia melihat seorang perempuan bergaun hitam tipis menonjolkan belahan dada dan lekuk tubuh.
“Celana renang yang bagus,” sapa perempuan itu.
Neu menelan ludahnya melihat lekuk tubuh wanita itu, terutama bagian paha. Ia berkali-kali menelan ludah seraya menahan diri dari mengeluarkan hasrat terpendamnya.
“Kamu di sini untukku ya?” Perempuan itu menghampirinya dan meletakkan jari pada tulang selangka.
Sensasi menggelitik seperti semut-semut berkeliling di bagian dalam kulit. Itulah yang Neu rasakan ketika telunjuk perempuan itu seakan meluncur ke bawah, dari tulang selangka sampai ke dada.
“Alangkah lebih baik kamu manfaatkan tubuhmu ini untuk bersamaku. Lalu kita akan mendapatkan sebuah kepuasan yang terjamin. Kepuasan yang indah.”
Sentuhan telunjuk perempuan itu beralih menjadi sentuhan telapak tangan. Kali ini dari dada hingga ke perut, sensasi menggelitik kembali merangsang bulu kuduk. Ingin sekali menghentikan sentuhan itu, tetapi terlalu menggoda untuk terhenti. Ia langsung tercengang ketika sentuhan perempuan itu mencapai bagian atas celananya.
Ia langsung menampar pergelangan tangan perempuan itu dan berbalik lari terbirit-birit kembali mencapai tangga. Ia buru-buru menuruni tangga. Malu, sangat malu. Ia tetap tidak percaya seorang perempuan dengan berani menggoda dan mengusik tubuhnya.
Ketika mencapai anak tangga terakhir dan kembali ke lantai pertama tavern, sebuah kilasan seakan terbuka lebar. Ia sudah yakin, semakin yakin dengan kilasan itu.
Ia langsung berbelok kembali menghampiri Riri, Zerowolf, Ruka, Katherine, dan Tay. Zerowolf dan Ruka kembali meneguk segelas bir, pipi mereka sudah memerah muda dan mata sudah seperti di berada di dunia lain.
“Hentikan! Kalian sudah terlalu banyak minum-minum!” sahut Riri.
“Oh. Ternyata kamu,” sapa Tay pada Neu, “kenapa kamu hanya berdiri saja?”
Neu kembali duduk di samping Tay, meski merasa terpicu bara kekesalannya.
Melihat sekeliling tavern itu, semakin jelas kilas baliknya terbayang. Neu kembali menoleh pada seluruh teman-temannya, termasuk Beatrice, Sans, dan Yudai yang tetap duduk di hadapan meja bar. Ingin sekali mengatakan soal kilas baliknya, tetapi keraguan seperti berbentuk kabut dan awan masih menyelimuti.
Ia ingin mengatakannya begitu sudah pasti.
***
“AAAAAARRRGH!!”
Neu mengangkat tangan. Entah mengapa, ia tercengang mendapati dirinya berada di tempat tidur di kamarnya. Lentera sudah tidak memancarkan cahaya api, tirai tertutup, dan terlebih lagi, rival bebuyutannya, Tay, masih terlelap di kasur sebelah kirinya, hanya terbatasi oleh meja dan jendela. Ia melihat dari balik tirai, langit masih berwarna hitam.
Ia mendapati dadanya penuh tetesan keringat membasahi baju tidurnya. Keningnya ia sentuh bereaksi seperti sebuah hantaman di dalam otaknya. Ingin sekali ia melawan nyeri itu.
Kilasan mimpi tiba-tiba kembali datang.
Tangkap dia!!
Dapat ia bayangkan serangan bertubi-tubi berupa tembakan panah dan hantaman pedang dari belakang hampir mengenainya. Ia juga mendapati Cherie terbaring lemah di bahunya.
Ia juga mengingat menggunakan mantra hingga mana-nya habis saat ia berhasil meloloskan diri. Terbayang juga sebuah pintu, begitu terbuka, mengungkapkan sebuah tempat familier. Benar-benar tidak asing. Sebuah dapur penuh lemari minuman dan deretan peralatan. Samar-samar.
Begitu ia mencapai pintu selanjutnya di hadapannya, sebuah meja bar dan … berbagai meja serta bangku. Terpicu! Tidak salah lagi.
“Ternyata benar!” Ia menghela napas, dua kali.