
Semuanya mulai melambat dalam berjalan, mencari keberadaan Sierra di sekitar hutan, bahkan jika perlu, sampai membunuh berbagai binatang buas. Kerja sama antara Sans, Yudai, dan Neu membantu mereka lolos dari terkaman. Tay sendiri ikut menebas binatang buas muncul seorang diri menggunakan pedang.
Seekor harimau hitam roboh sehabis tertebas kepalanya akibat ayunan pedang Tay menjadi mayat segar. Darah pun menetes pada tanah berumput, mencemari warna hijau dengan warna merah.
Angin lembut semakin sejuk seiring malam semakin larut, sudah dapat dipastikan waktu telah melewati jam malam. Suara auman serigala juga ikut mendampingi kesunyian.
Mereka belum menemukan Sierra sama sekali, bahkan jika mereka ingin menemukan kampung halamannya, butuh menginap selama beberapa lama, jika mengandalkan keberuntungan.
Sebuah keputusan harus dibuat kembali bersama-sama, apakah ingin melanjutkan pencarian dan mencari jalan menuju kota lain atau kembali ke akademi, mengingat semuanya mulai kelelahan.
Belum selesai membuat keputusan, sebuah sentuhan seakan menampar kedua bahu Beatrice dari belakang.
“A-astaga!” jerit Beatrice ketika terpicu ketegangan dari belakang dirinya.
Begitu berbalik, Sierra telah berdiri tepat di belakang. Sans, Yudai, Neu, dan Tay juga ikut berbalik, tidak kalah kaget akan kehadiran Sierra secara tiba-tiba.
“Si-Sierra?” panggil Sans.
“Ka-kalian sedang apa di sini?” Sierra mengutarakan pertanyaan yang tidak perlu.
Neu membalas tanya sambil menekankan nada bicara, “Justru kami yang seharusnya bertanya seperti itu! Kamu sudah menghilang selama lima hari tanpa ada kabar. Kami benar-benar khawatir setengah mati.”
Yudai melongo sambil mengulang, “Se-setengah mati? Maksudmu pingsan, ya?”
Sierra menundukkan kepala. “Ma-maafkan aku. A-aku harus pulang ke rumah. A-aku mendapat kabar kalau ibuku sedang sakit.”
Sierra mengetahui bahwa jawaban terhadap pertanyaan Neu merupakan sebuah kebohongan. Terpicu kembali sebuah kilas balik percakapan dengan seorang rekan sebelum menemui kelima teman dekat.
***
“Black Jack pernah berkata padaku, ada sebuah lorong terlarang di akademi, selain jalan masuk menuju kerajaan,” Sierra menjelaskan pada lelaki berkulit hitam yang merupakan rekannya, “Lorong terlarang itu hanya boleh dimasuki oleh kepala akademi dan para profesor yang sudah dipercaya dapat menjaga sebuah rahasia. Rahasia yang tidak boleh tersebar ke manapun.
“Memang bodoh sekali mereka, kalau mereka masih menyimpan rahasia itu berupa benda fisik, akan sangat mudah untuk melihatnya. Aku akan mencari tahu rahasia itu lebih lanjut dan mengeksposnya kepada semua orang. Semua orang harus tahu sisi di balik topeng Akademi Lorelei.”
Rekannya menganggapi, “Cari tahu rahasia itu, baik itu dalam bentuk benda atau percakapan. Begitu kamu mengetahuinya, laporkanlah kepada kami.”
“Aku takkan mengecewakan Black Jack dan semuanya.”
***
Sierra melanjutkan jawabannya demi menutupi sebuah kebohongan, “A-aku tidak sempat meminta izin. A-aku khawatir sekali pada ibuku. Ibuku benar-benar sakit parah, sangat parah.”
Neu meminta penjelasan lebih lanjut, “Ja-jadi, ibumu sakit apa?”
Tay membuka suara, “Kita sudah menemukan Sierra, bukan? Lebih baik kita kembali ke akademi saja daripada terus bertanya hal tidak jelas dan bertele-tele seperti ini.”
“Be-benar. Cepatlah! Aku lelah sekali!” gerutu Beatrice.
Beban Sierra dapat terangkat, dia tidak perlu lagi menjelaskan begitu Tay meminta semuanya untuk segera kembali ke akademi mengingat jam malam sedang berlangsung.
Tanpa perlu berdebat lagi, mereka melewati jalan yang telah mereka lewati sebelumnya untuk kembali menuju kota. Beruntung, binatang buas sama sekali tidak ada yang menghampiri, selain suara auman serigala.
Melewati perbatasan antara hutan dan kota, lentera bercahayakan api turut menyambut di balik kesunyian dalam kegelapan. Cahaya dari setiap lentera di berbagai sudut kota memerah merana mendominasi kegelapan dalam kota. Kota seakan sedang menahan napas, seluruh bangunan, terutama toko-toko, tertutup rapat pintunya.
Tidak ada waktu bagi Sans dan teman-teman menikmati lebih dalam kesunyian kota pada malam hari. Mereka beralih menuju jembatan perbatasan antara kota dan akademi. Mereka mempercepat langkah begitu memasuki taman halaman depan akademi.
Jendela di setiap sudut dinding bagian depan kastil akademi juga tidak memancarkan cahaya, berarti peluang untuk kembali dengan selamat masih ada. Perlahan, Sans membuka pintu depan kastil akademi. Dia dan kelima temannya masuk tanpa menimbulkan suara dan mengendap-endap di balik gelapnya ruangan depan.
Mereka tahu tangga menuju lantai atas dari ruang depan telah berada di depan, meski tanpa penerangan sedikit pun. Semua orang pasti sedang terlelap karena malam semakin larut, ingin cepat-cepat beristirahat dari rasa penat aktivitas di dalam dan luar akademi.
Perlahan, mereka menaiki tangga sedikit demi sedikit, tanpa menimbulkan suara kencang sama sekali.
Yudai berbisik, “Sebaiknya kita percepat langkah selagi tidak ada yang melihat.”
“Pelankan suaramu, Yudai!” bujuk Neu.
Ketika mencapai puncak dari anak tangga, yaitu lantai kedua, sebuah cahaya jingga memicu pandangan menuju sebelah kanan. Mereka menoleh sumber cahaya tersebut berasal dari lentera yang tengah digenggam oleh seorang profesor.
Sans dan teman-temannya tercengang menatap langsung pada wajah profesor itu. Dia adalah profesor yang paling tidak diharapkan jika bertemu setelah datang terlambat pada jam malam, yaitu Alexandria.
“Oh, sayang sekali. Sepertinya kalian semua dalam masalah besar.”
***
Benar-benar mencengangkan! Sans dan teman-temannya terpaksa harus mengunjungi kantor dan kamar pribadi Alexandria. Tidak ada hal yang spesial di dalam ruangan tersebut, hanya ada tempat tidur, meja, rak buku, dan lemari pakaian, semuanya berwarna cokelat sama persis, sangat monoton.
“Kalian ini brengsek sekali. Kalian berani melanggar jam malam!” Alexandria menampar meja cukup nyaring, tidak memedulikan rasa sakit pada tangan kanan. Beatrice dan Yudai langsung berpaling pandangan, membayangkan pasti akan terasa sakit jika momentum ayunan tamparan pada meja cukup tinggi. “Kalian masih tidak tahu malu juga ya? Kalian mau main-main dengan aturan Akademi Lorelei yang satu ini?
“Sierra, kamu telah menghilang dari akademi ini selama lima hari berturut-turut, lima hari berturut-turut!”
Sierra membela diri, “Profesor Alexandria, sebenarnya saya tidak sempat meminta izin. Saya harus pulang karena ibu saya sedang sakit.”
“Siapa suruh kamu berbicara!” bentak Alexandria. “Perbuatanmu benar-benar tidak bisa dimaafkan, menghilang selama lima hari tanpa pemberitahuan, saya bisa saja menghukum berat dirimu, Sierra! Kalau saya menjadi kepala akademi, saya tidak akan segan mengeluarkan kamu.”
Neu membela Sierra, “Ta-tapi, Profesor, Sierra bersungguh-sungguh. Dia bahkan tidak punya waktu untuk—”
“Diam!” Alexandria mulai berbelok berpaling dari meja dan melangkah mendekati keenam murid di hadapan dirinya. “Sebenarnya saya sudah punya alasan mengapa kalian harus dihukum seberat-beratnya. Tidak hormat sekali dengan peraturan seperti ini! Sekali lagi, kalian tidak pantas untuk tinggal di akademi ini!”
Sans dan kelima temannya berbalik, menatap Dolce dan Arsius telah berdiri di hadapan pintu kantor pribadi Alexandria.
“Do-Dolce?” panggil Yudai. “Pro-Profesor Arsius?”
Ini adalah kali pertama bagi Sans dan kelima temannya menyaksikan Arsius telah berdiri secara langsung di hadapan mereka. Alih-alih memakai pakaian tidur, jubah merah masih terpakai pada kepala akademi tersebut.
“Profesor Arsius, keenam murid ini telah tiba di akademi melebihi jam malam. Mereka telah melanggar aturan penting bagi akademi ini—” Alexandria menjelaskan pada Dolce dan Arsius.
Dolce memotong, “Tidak sepatutnya kamu memberi hukuman pada mereka.”
“Diam kamu, Dolce!” bentak Alexandria.
“Memang benar. Seharusnya biar kepala akademi, Profesor Arsius yang memberi hukuman pada keenam murid ini. Beliau berwenang untuk memutuskan.”
Neu terlebih dulu menundukkan muka, termenung akan keputusan Arsius untuk mengikuti keputusan Alexandria. Beatrice juga sedikit mengeluarkan air mata, mengetahui bahwa dia tidak ada tempat untuk ditinggali jika dikeluarkan dari akademi.
“Mengapa wajah kalian begitu?” Arsius memperhatikan wajah masam Sans dan teman-temannya.
“A-Anda akan mengeluarkan kami?” tanya Neu.
Sierra menundukkan kepala seraya hormat. “Ma-maafkan saya tidak meminta izin untuk keluar dari akademi selama beberapa hari. Ibu saya sedang sakit, saya tidak enak meninggalkannya sendirian. Silakan beri hukuman pada saya saja.”
“Si-Sierra?” Beatrice tercengang.
“Sierra. Angkat kepalamu,” Arsius menyuruh, “Saya terkesan kalian menunjukkan betapa serius tentang ini. Tapi saya berhak memberi hukuman pada kalian semua, kalian telah melanggar peraturan, maka harus ada konsekuensinya. Sans, Beatrice, Yudai, Tay, dan Neu, besok, kalian bersihkan seluruh ruangan kelas pada sore hari. Sedangkan untuk Sierra, bersihkan seluruh kamar mandi yang tersedia di akademi ini.
“Ditambah lagi, selama tiga hari, kalian tidak diperbolehkan untuk meninggalkan lingkungan akademi ini. Khusus untuk Sierra, lima hari. Kalian tidak boleh sekadar bercengkerama di kota atau mengambil misi dari quest board di pusat kota.
“Saya harap kalian jadikan ini sebagai pembelajaran, sebagai seorang petualang, kalian harus tetap hidup dengan integritas, apapun yang terjadi.”
Dolce dan Alexandria terdiam atas keputusan Arsius, sama sekali tidak berwenang untuk protes, baik itu meringankan atau memberatkan.
“Sebentar lagi, kalian akan mengikuti ujian akhir semester. Waktu luang kalian akan terpotong oleh hukuman membersihkan. Murid-murid lain punya keunggulan dalam waktu dan tempat untuk belajar dan berlatih keras, sementara kalian, harus memanfaatkan peluang dalam kesempitan. Semoga berhasil.”
“Yudai,” gumam Dolce.
Alexandria kembali protes. “Kamu terlalu baik padanya.”
Masih tidak dapat berkata-kata untuk bereaksi atas perkataan atau penampakan Arsius di hadapan mereka, mereka tetap terdiam. Kepala akademi memang paling diagung-agungkan oleh seluruh profesor dan murid Akademi Lorelei. Cukup jarang beliau secara langsung bertemu dengan murid-muridnya di luar upacara akademi.
Sans menarik napas terlebih dahulu. Mulutnya terbuka lebar. Kepalanya dia tundukkan seraya memberi hormat. “Te-terima kasih banyak, Profesor Arsius.”
“S-Sans?” Neu melongo.
Yudai juga ikut melebarkan bibir, menyimpulkan kesempatan langka untuk memberi hormat secara langsung pada Arsius tidak boleh disia-siakan. Dia juga ikut menundukkan kepala.
“Ka-kalian berdua,” ucap Neu.
Begitu mengangkat kepala kembali, Sans dan Yudai memasang determinasi baru, untuk lulus ujian akhir semester.
***
Begitu aktivitas kelas telah berakhir atau selesai berlatih di sekitar halaman akademi, Sans dan kelima temannya masing-masing berpencar untuk membersihkan kelas, benar, ruangan kelas yang berbeda. Sapu, ember, serat kain pel, dan air, ketiga benda tersebut menjadi alat untuk membersihkan, sama sekali tidak diberi sabun atau cairan pembersih seperti lemak hewan.
Pertama, masing-masing dari mereka menggerakkan sapu menggunakan tangan agar lantai dapat terbebas dari debu. Debu pun terangkat menuju setiap serat bagian bawah sapu.
Beatrice pernah memperhatikan pelayan keluarganya menyapu di rumah ketika masih berada di rumah. Dia berpikir memegang sapu sambil menggerakkannya menggunakan tangan akan terasa lebih mudah. Akan tetapi, keduanya tidak semudah seperti kelihatannya.
Wajar jika menyapu bukan bagian dari pelajaran agar menjadi perempuan bangsawan, biasanya membersihkan diserahkan pada pelayan. Bahunya mulai merasakan pegal lima menit menyapu.
“Aduh. Kenapa harus jadi begini? Tubuhku,” keluh Beatrice.
Sementara Yudai mengandalkan kecepatan dalam menyapu, yang penting cepat selesai, itu yang dia pikir. Dia menambah kecepatan seakan sedang berlari sambil menggerakkan sapunya, tidak peduli debu berhasil terangkat atau tidak.
Tay hanya pelan menggerakkan sapu, seakan tidak ada niat untuk melakukannya. Dia menggerakkan sapu seperti mayat hidup, hanya sedikit-sedikit dalam mengerahkan usahanya. Malas, itu yang dia pikirkan.
Selesai menyapu, masing-masing dari mereka mulai mencelupkan kain pada seember air untuk memulai. Kain tersebut mereka tempatkan pada lantai dan mulai diseret menggunakan dorongan tenaga pada telapak tangan. Mereka seperti merangkak dan meluncur membersihkan lantai sambil berjalan.
Dinding juga mereka bersihkan menggunakan kain, agar debu terangkat, hampir tidak bersisa. Profesor Arsius ingin kelas yang harus mereka bersihkan tidak ada debu atau jaring laba-laba sebaik mungkin.
Sans mulai membersihkan dengan pelan dan berhati-hati, perlahan melangkah sambil menyeret kain penuh air pada lantai. Dia harus memastikan setiap ubin lantai harus basah agar bebas dari debu.
Sama seperti Sans, Beatrice juga melangkah pelan dan berhati-hati dalam mengepel, dia tidak ingin terpeleset oleh lantai basah sama sekali. Bahunya pun juga masih belum terbiasa menahan pegal sehabis menyapu.
Yudai di ruangan lain justru seperti biasa mengandalkan kecepatan dalam mengepel. Seperti berlari, pel dia dorong menggunakan tangan sambil menggerakkan kedua kaki cukup cepat, lagi-lagi tidak memedulikan apakah sudah bersih seluruh lantai dan dinding.
Tay lagi-lagi menyeret pel dengan kecepatan pelan, pelan sekali. Sama seperti ketika dia menyapu, sama sekali tidak ada niat atau usaha.untuk menjalankan hukuman dari Profesor Arsius. Lebih baik dia berlatih bertarung daripada disuruh-suruh seperti pelayan untuk membersihkan kelas.
Neu mengambil pendekatan mendetail, memastikan seluruh ruangan bersih, jika perlu mengkilat. Begitu memastikan tidak ada lagi debu tersisa di lantai, dia beralih untuk mencelupkan kain pada seember air sebelum mengepel lantai secara perlahan dan hati-hati.
Sierra justru mendapat hukuman seluruh kamar mandi yang tersedia di akademi, terutama garderobe, tempat buang hajat. Sierra harus mampu menahan keluhan akan kotornya tempat tersebut untuk membersihkan menggunakan kain, seember air, dan sikat.
Tidak seperti kelima temannya, Sierra membutuhkan waktu lebih lama untuk membersihkan satu kamar mandi. Beruntung, hukumannya tidak termasuk membersihkan kamar mandi di asrama, di mana setiap kamar memiliki hanya satu jenis ruangan tersebut.
Sierra pun akhirnya menghadapi konsekuensi yang telah diterimanya karena tidak meminta izin untuk keluar selama beberapa hari. Yang terpenting, tidak ada satupun, profesor, staf, murid, atau teman dekatnya, yang mengetahui maksud terselubung di dalam benaknya. Selama tidak ketahuan, dia akan baik-baik saja dalam menjalankan misinya.