
Geledak petir satu per satu muncul dan melesat dari orb biru di bagian atas tongkat sihir Neu. Petir pun beberapa kali meluncur menyambar menuju tubuh Sierra di hadapannya, tanpa memedulikan di sekitar “perpustakaan” tersebut.
Gemuruh petir dari sihir lightning Neu memicu getaran sampai satu per satu buku di rak mulai jatuh berhamburan. Hantaman petir sihirnya yang mencapai tubuh Sierra memicu asap berhamburan, seperti mengalami kebakaran.
“Kena?”
Neu membuka mulutnya, tercengang ketika kumpulan asap dihadapannya memudar, mengungkapkan Sierra masih utuh. Tidak ada satupun luka atau goresan noda mencemari tubuh mata-mata Royal Table itu.
“Pergunakan otakmu sedikit. Kamu pikir kamu sudah tahu bagaimana kemampuanku,” sindir Sierra.
Sebuah perisai tidak terlihat telah tampak mengilat, mengingatkan Neu saat Beatrice mulai mengeluarkan efek saat mulai bernyanyi. Kilatan di hadapan Sierra itu seperti berbentuk sisik kubah.
“Ba-barrier? I-itu bukan sihir priest, kan? Itu sihir mage tipe defender dan support!” bentak Neu.
Sierra mengangkat tongkatnya. “Tidak kusangka, mempelajari sihir dari kedua job ini benar-benar berguna. Wajar jika aku disuruh mempelajarinya juga. Saatnya kamu juga tahu serangan apa saja yang kupelajari.”
Sierra mendengus, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, bersiap untuk melontarkan mantranya. Kaki kanan ia letakkan pada depan, tongkatnya juga ia arahkan pada Neu.
“Sparkel eht siqlo fur eht akuma.”
Keluarlah sebuah cahaya berbentuk bundar dari orb tongkat sihir Sierra. Lama-kelamaan cahaya itu meluncur berubah bentuk menjadi beam sebelum mengenai tepat pada dada Neu.
“AAAAAAAAARRRGH!!” sekujup tubuh Neu terhantam oleh serangan sihir cahaya yang mulai menyebar ke seluruh tubuh. Kilatan cahaya di sekitarnya juga sampai memanaskan kulit bagian dalam seperti akan terpanggang.
Kepalanya sampai sedikit condong kebelakang, dadanya ia busungkan sebagai reaksi nyeri hebat dari sihir holy hebat Sierra. Matanya ia fokuskan pada langit-langit, menolak nyeri hebat itu.
“Sayang sekali, kamu bahkan belum belajar sihir dari mage tipe defender. Tidak heran mudah sekali menyerangmu dengan ini,” ucap Sierra, “ini hanya sihir penyerangan dari seorang priest. Priest sering sekali identik dengan stereotipe bullshit. Kebanyakan orang menganggap priest hanya bisa menyembuhkan. Ini adalah sihir yang seharusnya dikuasai oleh seorang priest untuk menyerang, melawan setan seperti masyarakat kerajaan Anagarde.”
Neu ambruk, sihir Holy Spark masih menggerogoti dari otot hingga tulang.
“Padahal kamu bisa saja bergabung dengan kami. Kamu sama bangsatnya seperti kebanyakan murid Akademi Lorelei yang menentang sebuah kebenaran. Bodoh.”
“Ke-kenapa—” Neu mencengkeramkan jari-jemarinya pada lantai. “—kenapa kamu harus melakukannya. Pa-padahal kita bisa … kita bisa … bicarakan semuanya. Ke-kenapa kamu terob—”
“Buang-buang waktu saja.” Sierra kembali melancarkan lontaran mantra yang sama.
Cahaya berbentuk bundar dari orb Sierra kembali melesat dan menghantam seluruh tubuh Neu. Neu pun tersiksa kembali sampai jeritannya lebih kencang dari sebelumnya.
Kedua lengan Neu ambruk ke lantai, napasnya lebih ngos-ngosan. Tongkat sihirnya juga ikut terjatuh.
“Ini tampaknya akan mudah untuk membunuhmu. Kamu tahu terlalu banyak.”
Tangan Neu meraih kembali tongkat sihirnya, tepat di kirinya. Ia perlahan mengangkatnya sambil mengucapkan mantra.
"S-s-storv, lividi.”
Sebuah suara mendengung muncul bersumber dari orb milik Neu. Kencang sekali sampai mencapai gendang telinga Sierra.
“Ke-kenapa? Pa-padahal a-aku menggunakan barrier!” Sierra menutup telinga kirinya. Gelombang suara itu bertubi-tubi menembus lubang telinga dan seperti menghantam seluruh pendengarannya.
Mendadak, seluruh suara yang masuk seperti sebuah butir-butir air di dasar laut. Suara di sekitarnya meredam ketika masuk ke telinga.
“Ke-kenapa ini?” Suara teredam sampai memicu sakit kepala pada Sierra. Ia menyentuh kedua sisi kepalanya sambil meringis. “Apa yang kamu lakukan!”
“Ma-maaf, Sierra.” Neu perlahan bangkit dengan menjadikan tongkat sihirnya sebagai tumpuan. Ia melancarkan sisa mana dari tubuhnya agar memancar pada orb tongkatnya.
Sebuah ledakan asap hitam bermunculan dari orb tongkatnya, membutakan kedua mata Sierra. Neu pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menggunakan sisa tenaganya agar berlari dan keluar dari ruangan tersebut.
“Si-sial … a-aku tidak bisa melihat!” desis Sierra. “Di mana kamu!”
Neu berlari terbirit-birit melewati pintu keluar ruangan tersebut.
***
“Begitu saya lolos, pasukan Royal Table menyerang saya bertubi-tubi menggunakan sihir. Sungguh tidak saya sangka. Tapi … saya menyerang mereka kembali. Saya berkeliling markas tersebut, sampai harus dikejar-kejar. Saya sudah kehabisan tenaga. Saya pikir, saya akan mati.
“Akhirnya saya bisa berhasil lolos dari markas Royal Table.” Neu menarik napas dalam-dalam, menutup mata saat mengingat detik demi detik situasi tersebut.
“Lalu … apa yang terjadi setelah itu?” Danson lagi-lagi melontarkan pertanyaan.
Neu menyentuh keningnya,
“S-sa-saya tidak ingat. Ini kedengarannya tidak masuk akal bagi Anda berdua, begitu juga dengan saya. Um … setelah saya pikir berhasil lolos dari markas Royal Table … entah kenapa … saya bangun di sebuah kamar. Tapi kamarnya berbeda dari markas Royal Table.”
***
“Oh? Sudah bangun?”
Seorang gadis berambut ikal diikat membentuk poni di belakang dan berkacamata tipis menyambut. Dia adalah orang yang pertama kali Neu lihat saat membuka mata dan mengembuskan napas perlahan.
Tidak hanya itu. Dinding terbuat dari kayu bertumpuk secara vertikal beserta jendela yang menampakkan pasir putih beserta langit biru cerah berkat sinar mentari di hadapannya juga menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Ia sudah berada di sebuah penginapan!
Neu menghela napas, kepalanya seperti tertimpa dua dinding yang bergerak saling bertemu. Terakhir kali ia dalam keadaan sadar saat ia terdesak dalam kejaran oleh pasukan Royal Table. Ia bahkan tidak sempat melihat saat mencapai pintu keluar. Sungguh, hal ini tidak masuk akal.
“Tenanglah.” Perempuan itu menepuk bahu Neu. “Kamu tadi pingsan di pantai. Para nelayan dan nahkoda menemukanmu semalam. Kamu terlihat kelelahan. Makanya, kami membawamu kemari.”
“Kamu masih belum baikan sepertinya. Tadi ada seorang priest yang mencoba menyembuhkanmu. Kelihatannya proses penyembuhannya belum sempurna.”
“A-aku … harus kembali ke ibu kota …. A-aku harus kembali ke Akademi Lorelei sekarang … juga. Me-mereka harus tahu yang sebenarnya terjadi.”
“Tolonglah. Jangan paksa dirimu. Istirahatlah dulu.” Perempuan itu berbalik meninggalkan Neu. “Tidurlah. Mungkin dalam sehari kamu akan segera pulih.”
***
Neu mengetukkan jari pada lutut beberapa kali, menyaksikan kerutan pada wajah Danson dan Hunt. Sudah ia duga ceritanya benar-benar tidak masuk akal, bertele-tele. Seakan-akan ia secara ajaib berada di sebuah pantai setelah lolos dari markas Royal Table.
Hunt menghela napas, mendapati cerita Neu sungguh tidak dapat dipercaya hanya menggunakan akal sehat. Segala masalah lagi, Royal Table sudah membuat ancaman pada Akademi Lorelei. Kali ini, ia tahu Neu telah berhari-hari tidak hadir karena alasan “diculik”. Tetapi, ia tetap harus berperan netral untuk sementara waktu.
“Ini pertanyaan terakhir dari kami, Neu.” Danson menepuk meja menggunakan dua kepalan tangannya. “Bagaimana kamu bisa tiba kembali ke Akademi Lorelei? Setelah itu?”
Neu kembali menundukkan kepala, berfokus pada meja lapuk. Ia berkali-kali menelan ludah memikirkan kata-kata tepat untuk bercerita. Sama seperti sebelumnya.
“Aku … setelah beberapa hari, aku keluar dari tavern itu. Saat aku meninggalkan tavern itu pada malam hari, aku sadar … ternyata aku berada di pantai di ibu kota. Begitu aku menyadarinya, aku langsung berlari kembali ke akademi. Di mana aku berkata hal yang sebenarnya terjadi. Sierra adalah pelakunya, mata-mata Royal Table, dan pengkhianat. Pengkhianat teman dan seluruh akademi ini.”
Danson dan Hunt kembali saling menatap. Mereka mengangguk seakan mereka sedang menyetujui sesuatu.
***
“Kelihatannya tidak bagus.”
Riri berjalan mondar-mandir di hadapan gerbang akses menuju kerajaan di akademi, mengusap wajahnya sebagai reaksi telah menunggu hasilnya begitu lama.
Yudai mendadak terkilas sebuah masa lalu. Ia membayangkan dirinya pernah mengajak Sans untuk menyusup ke kerajaan pada awal semester pertama. Betapa bersemangatnya untuk mengeksplorasi kerajaan yang terintegrasi dengan akademi, sampai membuat dirinya dan Sans terusir.
Memikirkan hal itu, Yudai membuang napas dan mengangkat kepala. Seharian ini, ia belum menemukan keberadaan Sans. Sudah mencari kesana-kemari, di aula juga tidak ada. Terlebih, deretan obor pada dinding telah berkobar sampai menyilaukan ruangan, pertanda memang sudah larut malam.
Masalah demi masalah, ia merenungi kembali. Ia tidak enak telah melibatkan Beatrice, Riri, Zerowolf, dan Katherine terlibat dalam masalah, apalagi saat Neu telah kembali ke akademi setelah sekian lama.
Zerowolf menundukkan kepala. “Mungkin saja … kerajaan dan akademi memutuskan untuk menjebloskan Neu ke penjara. Kelihatannya memang buruk sekali.”
“Tidak.” Beatrice mengangkat kepala, menatap keempat temannya. “Neu pasti bisa menjelaskan semuanya. Aku percaya padanya. Dia pasti bisa menjelaskan Sierra adalah mata-mata Royal Table.”
“Aku setuju,” tambah Yudai, “memang, kita sudah tahu Sierra adalah mata-mata Royal Table. Meski tanpa bukti konkret, Neu bisa meyakinkan.”
“Beatrice, Yudai.” Riri menempatkan kaki kiri pada dinding. “Aku benci mengatakan hal ini, tidak semudah itu. Neu—”
Suara gesekan pintu pada lantai memicu semuanya menoleh. Neu telah keluar dari gerbang akses dari area kerajaan. Ia menghela napas bahwa ia baik-baik saja dan telah selamat dari interogasi.
“Bagaimana?” tanya Zerowolf.
“Apa maksudnya aku bilang apa saja?” Neu menyimpulkan. “Aku hanya jujur, bagaimana aku bisa lolos dari markas Royal Table, lalu kembali ke sini, dan bla bla bla. Ya, aku tidak menyangka selama itu aku menghilang, sudah mau ujian akhir semester.”
“Jadi … bagaimana kamu—” Riri berubah pikiran. “Lupakan.” Ia memimpin dengan berjalan terlebih dahulu meninggalkan gerbang akses menuju selasar.
Saat yang lainnya mengikuti langkah Riri mengarungi selasar kembali menuju gedung asrama, Neu menghela napas. Bisa terbayangkan bahwa ia tidak dapat menebak ekspresi Hunt dan Danson. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bisa saja mereka berdua percaya dengan omongan yang dapat dicap “omong kosong”, “mengada-ada”, dan “bertele-tele”.
Jika bercerita pada teman-teman yang lain, ia dapat berpikir beberapa dapat percaya, beberapa tidak. Baginya, apapun yang terjadi saat ia lolos dari kejaran pasukan Royal Table secara “ajaib”, tidak mudah untuk dideskripsikan.
***
Menuruni tangga menuju lounge room, hampir seluruh penerangan berupa obor dan lentera beserta perapian sudah tidak berapi, memicu minimnya cahaya. Setidaknya mereka dapat menatap tempat duduk dalam gelap beserta dua buah tangga menanti setelah melewati lounge room.
Semuanya membiarkan rasa lemas menyelimuti sekujup tubuh saat melewati lounge room, tidak sabar ingin kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Hari yang sangat buruk. Berbagai masalah lagi-lagi menimpa mereka, terutama untuk Yudai dan Beatrice.
“Kamu pikir bisa mengabaikanku?”
Neu mendengus. suara yang tidak ia ingin dengar begitu kembali dari markas Royal Table, memicu menghentikan langkah. Ia mengeratkan genggaman pada tongkat sihirnya.
“Tay.”
Yang lainnya juga menghentikan langkah, bahkan Beatrice dan Katherine baru saja akan mencapai anak tangga pertama menuju lorong kamar perempuan. Begitu menoleh ke belakang, Tay bangkit dari tempat duduk menghadap perapian dan berbalik pada mereka, terutama Neu.
“Bisa-bisanya kamu kembali setelah berminggu-minggu menghilang. Bukan, kamu baru sekarang dapat lolos. Sungguh ironis, kamu menjadi salah satu murid terpandai.”
Riri ikut mendengus, ingin membuka mulut dan melangkah. Neu merentangkan tangan kirinya.
“Apa yang kamu mau? Mengusirku dari kamarku sendiri? Tidak ingin menjadi teman sekamarku sendiri?”
“Kamu lemah,” Tay melontarkan kata pamungkasnya.
Yudai membuka mulutnya, tercengang menyaksikan Tay lagi-lagi memicu satu lagi masalah. Ia menyipitkan mata sejenak, geram akan keputusan teman sekamar Neu itu. Meskipun ia paling mengingat bahwa Tay adalah orang pertama yang mengetahui identitas asli Sierra setelah menyelamatkan Beatrice di Beltopia.
“Tega sekali.” Neu membuka suara. “Kamu tidak tahu apa-apa! Aku sudah bersusah payah!! Aku menderita selama di markas Royal Table! Lalu kamu dengan mudahnya bilang aku ini lemah!”
“A-anu … sebaiknya kita bicarakan ini besok saja,” Beatrice mencoba untuk menenangkan keduanya.
“Neu, aku tantang kamu dalam mock battle.”