
“Lihat dirimu. Begitu menyedihkan.”
Sindiran Neu meluncur menuju telinga Tay yang sama sekali tidak membuka buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei sama sekali ketika mereka tengah belajar demi ujian akhir semester di perpustakaan, dengan Sans, Beatrice, dan Yudai.
Tumpukan buku di meja yang mereka tempati ikut menemani aktivitas belajar, Neu ingin memastikan seluruh sumber yang dia pilih dapat dijadikan pembelajaran tambahan agar dapat mengerjakan seluruh soal ujian tertulis tanpa kecuali.
Perpustakaan kini ramai dengan setiap murid akademi, sibuk untuk mencari referensi tambahan agar mendapat materi yang dapat membantu masing-masing dalam ujian tertulis mendatang. Beberapa dari mereka membawa sehelai kertas, pena bulu, dan tinta untuk mencatat sebagai hapalan.
Neu melanjutkan sindirannya, “Hanya menghitung waktu sedikit lagi menuju ujian, kamu tidak membuka bukumu sama sekali.”
Tay menolak, “Lebih baik aku menjalani misi daripada membaca buku—”
“Kita masih dihukum, ingat? Kamu mau Profesor Alexandria atau profesor lain memergokimu keluar dari halaman akademi dan menuntutmu untuk dikeluarkan dari akademi?”
“Tanya saja aku. Aku siap.”
“Sederhana. Apa kegunaan job priest bagi kelompok petualang? Tentu saja selain sekadar menyembuhkan.”
“Ah.” Tay menundukkan kepala. “Aku lupa.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau kamu lupa jawaban dari setiap soal ujian tertulis? Oh, atau … kamu sama sekali tidak tahu?”
“Tentu saja mengambil jawaban orang lain. Sudah je—”
“Enak saja. Profesor Hunt sudah memberitahu kita semua, sekadar mengingatkan. Setiap profesor pengawas akan memberi kita semua mantra sihir anti-curang. Maka, kamu tidak bisa memaksa dirimu untuk mengintip dan menyalin jawaban orang lain.”
Yudai bereaksi melongo sambil menepuk halaman bukunya. “Ah! Sial! Kenapa jadi harus dipersulit. Kenapa harus ada ujian tertulis kalau akademi mengajari kita untuk bertarung dan bertualang?”
Neu menjawab tanggapan Yudai, “Segala pengetahuan tentang sejarah dan hal-hal dasar akan menjadi penting saat kita lulus dari akademi dan mulai petulangan kita.”
Beatrice memberi usul, “Setelah kita selesai belajar, kita berlatih.”
Yudai mengangguk. “Nah ini yang kutunggu-tunggu!”
“Aku baru saja menguasai lagu baru. Oleh karena itu, Neu, aku ingin kamu jadi sukarelawan dalam laguku ini.”
“A-aku?” Neu menunjuk dirinya. “Tidak pada Sans? Pada Yudai? Pada Tay? Yang seperti biasa kita menjalani setiap misi di quest board.”
“Pasti akan menyenangkan. Oh, sekalian saja kita latihan duel untuk ujian bagian akhir.”
Sama seperti aptitude test pada awal semester bagi murid tahun pertama, setiap ujian akhir semester akan berakhir dengan ujian duel, khusus beberapa semester pertama, lawan mereka adalah instruktur. Mereka belum tahu bagaimana penilaian ujian tersebut apakah hanya menang merupakan satu-satunya jalan untuk lulus.
Neu menambah, “Oh ya, khusus untuk song mage, ujian duelnya harus memilih seorang pasangan. Berarti, orang yang dipilih sebagai pasangan akan dinilai melalui duel pasangan itu.”
“Oleh karena itu, Neu, kamu akan menjadi pasanganku dalam ujian duel khusus song mage! Aku ingin menggunakan lagu yang baru kukuasai!”
“Hah?” Neu menganggapi Beatrice. “Kenapa aku? Kenapa tidak Sans, Yudai, atau Tay saja?”
“Nanti kamu akan tahu apa gunanya nanti. Satu lagi, aku butuh sukarelawan untuk menjadi lawan saat latihan nanti.”
Mendengar perkataan Beatrice, Tay tentu saja ingin mengayunkan tangan kanan, mengetahui Neu akan menjadi lawan bertarungnya. Sayangnya, kesempatan tersebut tercuri oleh Yudai yang mengangkat tangan cukup cepat.
Yudai langsung merespon permintaan Beatrice karena mengetahui Tay takkan menjadi lawan yang baik bagi Neu dan Beatrice, semenjak cukup sering kedua musuh bebuyutan tersebut bertengkar hingga melibatkan fisik.
“Yu-Yudai?” ucap Sans. “Padahal aku mau juga sekalian berlatih.”
Yudai membela keputusannya, “Aku dan Neu merupakan sesama attacker jarak jauh, cukup masuk akal kalau aku jadi lawan yang tepat saat latihan. Kalau Tay jadi lawan Neu, aku khawatir, kalian akan kembali bertengkar.”
Tay menepuk sampul bukunya pelan. “Terserah. Aku juga lega tidak harus bertarung melawan si mata empat.”
Neu membalas sindiran Tay, “Aku justru lebih lega kamu tidak menjadi lawanku. Betapa menyedihkan, kamu saja tidak becus membaca dan memahami materi untuk ujian tertulis. Bagaimana mau jadi petualang yang benar—”
Beatrice menutup bukunya rapat. “Oke, ayo kita latihan sekarang.”
“Whoa, whoa, whoa.” Neu mengangkat tangan kanannya. “Tunggu dulu, baru saja kita satu jam di sini untuk belajar.”
Yudai menutup mulut menggunakan tangan kanan seraya menahan untuk menguap. “A-aku juga sudah bosan membaca teks-teks dari tumpukan buku rekomendasimu, Neu. Aku ingin berlatih untuk duel.”
“Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana efek lagu yang baru saja kukuasai padamu, Neu. Ayo!” Beatrice bangkit dari tempat duduk dan mengambil buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei-nya. “Cepatlah. Kita berlatih sekarang juga.”
Beatrice mengikat pergelangan tangan Neu, seakan memaksanya untuk berdiri dari meninggalkan tempat duduk. Neu pun dengan cepat mengambil buku miliknya dari meja.
Yudai memberi usul, “Oh ya, karena kalian merupakan attacker jarak dekat, Sans, kamu memakai belati, sedangkan Tay memakai pedang, kenapa tidak begini saja. Kalian berlatih bersama-sama untuk duel.”
“E-eh?” Sans langsung tertegun. “Ta-tapi kan belati dan pedang beda. Ka-kamu yakin.”
“Jujur saja, mantel putih,” ucap Tay, “aku memperhatikan caramu menggunakan belati dalam menyerang di setiap misi, kamu masih payah. Biar kuajari bagaimana caranya bertarung. Lagipula, kurang lebih sama cara memegang belati dan pedang, maka cara mengayunkan dalam menyerang dan bertahan juga demikian.”
“Be-begitu. Ta-tapi kamu kan—”
“Tenang.” Tay memotong perkataan Sans. “Aku tidak akan sekasar saat aku berkelahi dengan si mata empat. Tapi aku tetap akan keras padamu, demi misi kita selanjutnya.”
“Tapi jangan sampai melukai Sans,” lanjut Yudai sambil mengambil bukunya.
***
Halaman dekat gerbang barat akademi menjadi pilihan tempat bagi Sans dan keempat temannya untuk mulai berlatih. Pemandangan tersebut mengingatkan akan kejadian sebelum aptitude test bagian luar dimulai. Lebatnya dedaunan pada pepohonan yang cukup tinggi dan membentang.
Meski gerbang tersebut terbuka lebar, mereka berlima sama sekali tidak berniat melewatinya untuk menuju hutan demi mencari tempat berlatih seleluasa mungkin. Karena mereka masih dalam masa hukuman, tempat tersebut menjadi tempat terjauh yang dapat mereka injaki untuk mulai berlatih.
Tay mulai menunjukkan mengayunkan senjata tajam pada Sans, dari vertikal hingga horizontal, menggunakan pedang. Dia juga menjelaskan strategi dalam penyerangan melawan sang musuh, sederhana tapi nadanya keras.
Ketika Sans mencoba mempraktikkan sesuai dengan penjelasan, Tay hanya menggeleng dan mengingatkan, mencoba untuk mengatur cara bertarungnya, terutama dalam hal mendasar.
Mengesampingkan Sans dan Tay yang masih berlatih bertarung dalam jarak dekat, Beatrice telah berdiri di samping Neu menghadap Yudai. Song sphere telah dia genggam cukup erat begitu menarik napas.
Alih-alih menggunakan panah asli, terkumpul panah berujung tumpul di quiver Yudai, agar tidak menyakiti siapapun, apalagi sang lawan saat berlatih.
Neu menggenggam tongkatnya cukup erat, mengarahkannya pada Yudai. Sekumpulan mantra yang telah dia pelajari telah terkumpul di dalam benak berupa kalimat.
“Oke!” seru Yudai mengenggam salah satu panah dari quiver-nya.
“Mulai, Beatrice!” seru Neu.
“Mi-Miracle Refrain!” Beatrice mengungkapkan judul lagu.
Sebuah gelombang berbentuk bundar bermunculan sejenak melingkari dirinya dan Neu sebelum menghilang seketika. Ketika terkena gelombang tersebut, gelombang lain turut memindai tubuh masing-masing.
Neu dapat merasakan aura tambahan dari gelombang bundar yang telah memindai tubuhnya. Kekuatannya bertambah dan terkumpul dari pikirannya.
Song sphere milik Beatrice mulai memancarkan alunan musik secara otomatis, suara instrumen musik seperti bermain dengan sendirinya.
It's not coincidence, it's no longer be
It's a miracle that makes us stronger
The magic, the hope, the wish
Wish we got some miracle to be strong
Give it to the power inside us
I wish we get stronger, yeah, get stronger
Give us the miracle we deserve, yeah, we deserve
Hope we can face it together, yeah, together
By hoping for a miracle, miracle
Miracle, Miracle, miracle
“Ini dia!” seru Yudai mulai menempatkan ekor panah pada tali busur, memanfaatkan Neu yang tengah berkonsentrasi pada nyanyian Beatrice.
Ditariknya tali busur dan ekor panah secara bersamaan. Begitu momentum telah terkumpul berkat tarikan tersebut, dia melepas meluncurkan tembakan panah tumpul tersebut pada Neu.
“Soa, falsh eht siqlo morf eht dolc!” seru Neu mengucapkan mantra.
Energi sihir pun terlepas membentuk kilatan petir dari tongkat Neu. Petir tersebut meluncur seperti berbentuk pisau atau kristal mengarah lurus pada Yudai.
“Ah!” jerit Yudai merobohkan diri ke arah kiri menghindari sihir petir Neu.
Sihir petir Neu mengenai pada tanah dan menghilang seketika.
Belum sempat bangkit, Yudai kembali meluncurkan tembakan panah tumpulnya. Begitu meluncur, panah tumpul tersebut memelesat ke atas, tepat menuju Neu.
Neu mengucapkan mantra yang sama sekali lagi, “Soa, falsh eht siqlo morf eht dolc!”
Sebuah kilatan petir kembali meluncur, kembali mengenai tembakan Yudai. Sihir tersebut meledakkan panah itu hingga hancur berkeping-keping pada tanah.
Yudai kembali bangkit dan mengambil tiga panah sekaligus dari quiver-nya, kali pertama dia melakukannya saat latihan, apalagi dalam pertarungan.
Nyanyian Beatrice semakin kuat dalam menambah kekuatan sihir Neu.
I wish we get stronger, yeah, get stronger
Give us the miracle we deserve, yeah, we deserve
Hope we can face it together, yeah, together
By hoping for a miracle, yeah, miracle
“Terima ini!” jerit Yudai melepaskan tiga tembakan sekaligus.
Neu tercengang ketika menyaksikan tiga tembakan Yudai meluncur sekaligus, mengarah lurus tanpa melenceng jatuh ke tanah sama sekali, tetap di udara.
Neu langsung sigap mengucapkan sebuah mantra sekali lagi. “Kore waze imelihthe pamamagit eht soa!”
Sekali lagi, energi dari dalam tenaga Neu terpencar menuju tongkatnya, membentuknya menjadi kumpulan angin bercampur kepingan es berbentuk kristal cukup lancip. Kekuatan sihirnya tersebut bertambah berkat nyanyian Beatrice.
Sihir badai es bukan hanya menghancurkan tiga tembakan panah tersebut, tetapi juga mencapai tubuh Yudai. Yudai sampai menahan diri menggunakan tangan yang masih menggenggam busurnya sebagai pertahanan.
Miracle, miracle
I wish we get stronger, get stronger, miracle
Give us the miracle we deserve
“Soa, falsh eht siqlo morf eht dolc!” jerit Neu menggunakan sihir petir sekali lagi.
Sihir petir Neu kembali mengenai Yudai hingga roboh ke tanah.
“Whoa,” ucap Yudai kembali bangkit, “hebat, Beatrice. Hebat, Neu.”
Neu tertegun menatap Beatrice. “Tadi itu, kekuatanku bertambah, kekuatan sihirku. Seperti terkumpul seperti ledakan di dalam tenaga dalam, tidak sabar untuk dikeluarkan.”
“Oke, sudah cukup. Mungkin kalian latihan sendiri saja. Cukup menyakitkan rasanya terkena sihir seperti tadi,” ucap Yudai.
“Maaf, maaf, aku terlalu serius,” bela Neu.
“E-eh? A-apa kamu terluka? Mungkin kita harus bawa dirimu ke Sierra—” Beatrice mulai panik menemui Yudai.
“Tidak apa-apa.” Yudai menyeringai. “Aku bisa berlatih seperti ini. Mau latihan bertarung seperti tadi lagi?”
“Ti-tidak usah. Le-lebih baik, kamu berlatih memanah saja dulu. Aku dan Neu akan berlatih sendiri. A-aku takut kalau kamu terluka parah. Mungkin karena nyanyianku.”
“Eh? Tidak apa-apa? Apa kamu yakin?”
Neu memotong, “Yudai, tidak apa-apa. Yang penting, kita berlatih dan belajar demi ujian. Aku ingin kita semua lulus. Kalau kamu sampai terluka terus saat berlatih bersama kami, nanti kamu yang malah turun performa dalam pertarungannya.”
“Oke. Kalau itu mau Beatrice. Aku sebaiknya berlatih sendiri.”
“Te-terima kasih banyak,” ucap Beatrice pada Yudai.
Yudai menundukkan kepala sambil melebarkan senyuman seraya memberi semangat pada Beatrice dan Neu.
“Ayo, Beatrice, sekali lagi.” Neu mengangkat tongkat sihirnya.
“Ba-baik! Miracle Refrain!” Beatrice mengangkat song sphere-nya sebelum kembali bernyanyi.
Meninggalkan Beatrice dan Neu, Yudai menyaksikan Sans berlatih cukup keras, berkat arahan keras dari Tay, demi lulus ujian bagian duel. Sans mengayunkan belatinya beberapa kali menuju udara, seakan melepas tenaga menuju kekuatan belatinya.
***
Selesai berlatih saat matahari terbenam menuju malam, mereka berlima pun kembali memasuki gedung akademi melalui gerbang utama kastel, benar-benar melelahkan, cukup melelahkan.
Melewati selasar menuju gedung asrama, Neu terhenti ketika mendengar dua orang profesor tengah berbicara di sebuah belokan. Topik pembicaraan cukup membuatnya terpicu untuk menghentikan langkah, menarik.
Beatrice menoleh pada Neu begitu dirinya, Sans, Yudai, dan Tay mengambil jalan lurus antara belokan tersebut. “Ke-kenapa, Neu?”
“Kalian lebih baik duluan saja. Aku akan menyusul,” tanggap Neu.
“Ayo, cepatlah,” bujuk Tay.
Neu menghela napas menyaksikan keempat temannya telah terlebih dahulu menuju asrama tanpa dirinya. Dia bersandar pada dinding, bersembunyi di belokan, mencoba untuk mencuri dengar percakapan kedua profesor tersebut.
“Ini yang dicemaskan oleh Arsius. Dia sering berbicara kalau akademi ini bisa saja terancam, benar-benar terancam oleh keberadaan sebuah kelompok yang lebih baik tidak disebut namanya.”
“Kenapa harus cemas? Sama sekali tidak ada kerusakan secara signifikan. Bahaya juga tidak terlihat—”
“Hei, ingat apa yang dikatakan Arsius. Salah satu dari penghuni akademi ini merupakan mata-mata dari organisasi itu. Bisa jadi seorang murid, profesor, atau staf. Atau bahkan salah satu dari kita.”
“Jika sekali lengah menghadapi organisasi itu, akademi ini bisa saja hancur. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara reputasi.”
“Beruntung Arsius menyuruh kita tidak memberitahu semua murid agar tidak terjadi histeria.”
“Benar, jangan sampai satu pun murid akademi yang tahu soal ancaman ini.”
Neu mengulang, “Organisasi yang lebih baik tidak disebut namanya? Mata-mata? Apa yang mereka bicarakan?”
Sebuah sentuhan pada bahu kiri sontak membuyarkan fokus Neu, tercengang. Neu pun menoleh.