Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 124



Perjalanan dalam menjalankan misi telah mencapai hari kedua. Zerowolf, Lana, Neu, Tay, dan Sierra telah menikmati waktu istirahat selama semalam tanpa perlu berdebat lagi. Seluruh persiapan sudah mereka hadapi, terutama untuk menyewa kapal demi melintasi sungai menuju bukit Sandora.


Mereka tiba di tepi sungai barat daya kota, di mana seluruh perahu yang siap untuk disewakan sudah menanti di dekat jembatan layaknya sebuah dermaga. Tidak perlu menunggu agar sang surya mulai memanas, mereka mengambil dua buah perahu.


Terlebih dahulu, Zerowolf, Lana, dan Tay menaiki perahu pertama semenjak mereka merupakan pengguna senjata fisikal. Neu dan Sierra, yang merupakan pengguna sihir, menaiki kapal kedua tepat di belakang mereka. Zerowolf dan Neu bertugas untuk mengayuh dayung pada masing-masing perahu untuk mengikuti arus sungai.


Butuh kurang lebih tiga jam agar mereka tiba di tepi bawah bukit Sandora. Ketika mendarat, hawa yang cukup dingin menusuk kulit, begitu pula dengan kabut yang sampai menutupi pandangan pada puncak bukit.


Zerowolf terlebih dahulu menapakkan kaki dari perahu, tidak sabar ingin mendaki untuk mengambil telur cockatrice. Begitu menatap keempat rekannya ikut turun dari perahu dan mengikatnya pada tepi jembatan, tanpa aba-aba lagi, ia langsung melangkah.


Neu menggelengkan kepala. “Dasar, dia sembrono sekali.”


Lana justru mulai memelesatkan langkah kaki. “Itu namanya semangat. Semangat sekali sampai tidak sabar untuk menyelesaikan misi!”


Sierra dan Tay bahkan tidak bisa berkomentar, memang lebih baik diam daripada hanya protes seperti Neu. Bersama dengan Neu, mereka tanpa berkata-kata mengikuti langkah Zerowolf dan Lana.


Pendakian bukit Sandora cukup berbelok-belok, hampir mirip saat mendaki sebuah bukit berapi saat ingin mendapat air mata phoenix. Bedanya, di tengah-tengah pendakian, berbagai monster satu per satu berdatangan seakan dari langit ketika kabut mulai menipis.


Zerowolf dan Lana tercengang ketika mereka mendapati empat ekor monster berupa burung berparuh panjang lancip tajam. Keempat burung hijau berparuh kuning itu meluncur mengarah ke bawah bagai sebuah peluru cepat.


“Ah!” jerit Zerowolf dan Lana menghindar menuju dua arah.


Zerowolf hampir terpeleset ketika menyingkir dari serangan burung-burung tersebut. Cukup beruntung, sisi kirinya cukup luas belum mencapai sebuah tepi tanpa pembatas dinding tanah.


“Sudah kuduga,” ucap Neu mengangkat tongkatnya dan mulai membaca mantra. “Soa, falsh eht siqlo morf eht dolc!”


Keluarlah beberapa kilatan petir dari tongkat Neu dan melesat menuju keempat burung tersebut. Dua ekor burung pun tumbang setelah mereka terkena petir dari sihir Neu tepat pada mata. Dua ekor burung lainnya entah meleset atau terkena tepat pada paruh.


Zerowolf menyiapkan panah dari quiver-nya, mulai membidik dengan mengeratkan tali busur dan ekor panah. Salah satu burung berparuh panjang yang masih berterbangan menjadi bidikannya.


Ia melepas genggamannya seraya meluncurkan tembakannya. Panah tersebut terkena tepat pada sayap burung tersebut hingga tumbang menuju tanah.


Lana mengempaskan pedangnya sambil berlari menghadapi burung terakhir. Sambil menggenggam tamengnya menggunakan tangan kiri, ia tanpa ragu lagi, ia mendorongkan pedangnya tepat pada ujung lancip menuju burung yang mendekatinya itu.


Serangan pedang Lana menusuk dada sang burung hingga akhirnya meraung kesakitan memancarkan darah. Burung tersebut pun tumbang seketika di tanah bersama ketiga rekannya.


“Ah! Akhirnya buruan pertamaku untuk hari ini!” jerit Lana girang.


Tay berkomentar sinis, “Banyak gaya sekali dirimu ini.”


“Kita lanjutkan perjalanan!” Zerowolf kembali melangkah tanpa berpikir panjang lagi.


“Tu-tunggu!” jerit Neu. “Dasar keras kepala!”


“Kamu yang keras kepala seperti biasa,” balas Tay, “sama seperti saat kita bersama si mantel putih, song mage, dan si alis melengkung.”


***


Setiap monster seperti burung berparuh panjang kerap mereka temui selama pendakian menuju puncak bukit Sandora. Tanpa ampun lagi, Tay dan Lana mengayunkan pedang dalam setiap serangan terhadap para monster yang berdatangan. Zerowolf meluncurkan tembakan pada setiap monster yang berdatang untuk membantu.


Neu membaca setiap mantra yang ia hapal agar memunculkan serangan sihir dari tongkatnya. Setiap serangan pun meluncur seraya membantu membasmi para monster.


Sierra pun melancarkan mantra Protection demi melindungi keempat rekannya di garda terdepan dari serangan para monster. Setidaknya, Zerowolf dan Lana, karena kecerobohan mereka, harus rela terkena sebuah serangan hingga menimbulkan luka ketika Protection mereka telah pecah.


Pada akhirnya, begitu mencapai puncak bukit Sandora yang berbentuk seperti lembah, cukup luas, terdapat sarang jerami berwarna cokelat dan berbentuk lingkaran ukuran besar, setara dengan lebar sebuah bangunan di ibukota, Embusan angin pun semakin kencang menusuk kulit, kabut pun sangat tipis hingga tidak terlihat lagi.


“Hei!” seru Lana mendapati setidaknya satu lusin telur bersemayam di sarang tersebut dari kejauhan. Ia melesatkan lari mendekatinya. “Itu dia!”


“Wow, besar juga,” komentar Zerowolf sebelum mengikuti Lana. “Kalau begitu, kita ambil dan—”


Dua buah kaki raksasa mendarat membenturkan tanah pada puncak bukit, menghentikan langkah Zerowolf dan Lana. Suara raungan makhluk yang telah mendarat tersebut sampai membentur gendang telinga cukup kencang hingga berdering seperti berada di dalam air.


Kelimanya menutup kedua telinga saking kerasnya gelombang suara yang meluncur ke dalam telinga. Sungguh keras hingga membuat mereka terdiam sejenak menoleh bagian atas makhluk tersebut.


Kepala persis seperti seekor ayam jantan, badan, tangan, dan kaki menyerupai seekor ular berwarna hijau. Ditambah lagi terdapat sayap naga tepat di belakang tubuh, mempermudahnya untuk terbang.


“I-itu cockatrice?” ucap Neu menyimpulkan makhluk tersebut.


Cockatrice itu mengangkat kaki dari tanah dan kembali mengepakkan sayapnya di udara. Ia menghirup napas melalui mulut sambil mengangkat kepala ke atas. Begitu ia menurunkan kepala, semburan api keluar dari mulut.


Refleks kelima murid akademi yang tengah menjalani misi itu segera menyingkir dari semburan api dari sang cockatrice. Zerowolf, Lana, dan Tay menyingkir ke bagian kiri dengan bergeser hanya berdasarkan pandangan.


“Ra-rasanya ini lebih ke misi kelas A!” sahut Lana.


Akan tetapi, semburan api cockatrice pun seakan terseret mengarah ke kirinya, membahayakan Neu dan Sierra yang tercengang menyaksikan makhluk itu menggerakkan kepala.


Sebuah salib putih muncul dari tongkat Sierra dan menyebar hingga terserap seraya menambah ketahanan fisik dirinya dan Neu.


Neu ikut mengacungkan tongkatnya dan mengucapkan mantra, “Minu, wold namente nad kui off!”


Mengalirlah air dari tongkatnya dalam volume besar, tanpa ada wadah di bawahnya. Water Blast Neu turut mendorong semburan api dari sang cockatrice, sekuat tenaga, ia mendorong mananya untuk menambah tekanan semburan air tersebut.


“HAAAAA!” jerit Neu.


Menatap Neu mulai beraksi menggunakan sihirnya, Tay merintih iri, sangat iri menyaksikan rivalnya sedang seorang diri bersinar dalam pertarungan tersebut.


Ia meminta Zerowolf, “Apa perintahmu?”


“A-apa maksudmu?” ucap Zerowolf.


“Kamu kan ketuanya, dasar bodoh! Sekarang apa kita juga akan ikut menyerang?”


Lana mengurung diri menggunakan tamengnya, berjongkok menyembuyikan wajah dan badan dari pandangan cockatrice. “Mu-mustahil. A-aku bahkan belum pernah membasmi monster sebesar ini sebelumnya. Lagipula, tenagaku juga sudah habis setelah menghadapi monster-monster sebelumnya.”


“Ah!” jerit Zerowolf sambil mengambil panah dari quiver-nya. “Apa boleh buat, aku juga tidak sabar ingin membasmi cockatrice!”


“Sombong sekali dirimu ini,” sindir Tay mempererat genggaman pedangnya.


Zerowolf menguatkan tarikan tali busur dan ekor panah sambil membidik pada sang cockatrice. Kali ini, ia membidik tepat pada mata monster raksasa tersebut.


Tay melesat melewati celah di antara semburan api cockatrice. Begitu cepat, sampai ia menyeret genggaman pedangnya ketika dirinya mendekati monster tersebut. Cukup anggun dalam menebaskan pedangnya tepat mengarah pada sayap.


Akan tetapi, cockatrice itu mengempaskan sayapnya, menangkis serangan Tay, mendorongnya hingga terjatuh, hampir menuju jurang.


“Whoa! Whoa!” Zerowolf justru cukup panik menatap Tay hampir terempas jatuh menuju jurang, membuyarkan konsentrasi dalam membidik.


Cockatrice itu kembali meraung kesakitan, semburan apinya pun terhenti ketika sihir water bullet Neu mengenai tepat pada wajah. Sihir peluru air tersebut seakan meledak menimbulkan nyeri bagi sang cockatrice hingga menghentikan semburan apinya.


Tay bangkit dengan menempatkan tangan kiri pada lantai bukit sebagai tumpuannya. Ia perlahan bangkit dan mempererat genggaman pedangnya. Ia melompat dan mengayunkan pedang ke atas, mengunci leher cockatrice sebagai target.


Zerowolf kembali membidik mata cockatrice sebagai target. Diambilnya panah dari quiver sebelum mendekatkan ekornya pada tali busur. Ia menarik keduanya mengumpulkan momentum tembakan agar dapat tepat sasaran.


Ia meluncurkan tembakannya cukup kencang. Sayang sekali, tembakannya itu justru mengenai sayap sang cockatrice. Serangannya tidak mempan dengan indah.


Sedangkan Tay menebas bagian leher cockatrice dari atas ke bawah. Meski tebasannya membbuat cockatrice meraung ke atas kesakitan, goresan yang diakibatkan pedang Tay tidak terlalu berpengaruh. Justru, ia mendaratkan kedua kaki tepat menghadap cockatrice yang berpaling memandangnya. 


Begitu menatap keadaan Tay seperti itu, Neu langsung melesat tanpa berpikir panjang. Bahkan Sierra juga tercengang dengan tindakan ceroboh Neu tersebut.


Neu mengangkat tongkatnya dan kembali membaca mantra. Melihat cockatrice kembali mengangkat kepala dan mengepakkan kedua sayap, ia berharap sihirnya dapat sampai mengenai cockatrice.


Sebelum cockatrice itu sempat melancarkan serangannya, entah itu semburan api atau tebasan sayap, sebuah panah meluncur mengenai tepat pada mata. Makhluk itu menjerit kesakitan hingga menyemburkan api ke atas langit.


“Tay, kita satukan kekuatan!” seru Neu. 


“Bagaimana kita satukan kekuatan?” Tay menyindir pemilihan kata-kata Neu.


“Terserah.” Neu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan sedikit memiringkannya ke depan, memanfaatkan kondisi cockatrice yang meraung kesakitan. “Los, last eht neme.”


Tanah bercampur batu pada dataran bukit seakan mengangkat dan membungkus kedua kaki hingga paha sang cockatrice, membuatnya tidak dapat bergerak.


Tay kembali melesat dan mengangkat pedangnya ke atas, mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang. Ia kembali melompat dan menebas dada sang cockatrice hingga tidak berkutik Berkali-kali ia menggerakkan pedangnya untuk membasmi mmakhluk tersebut seorang diri.


Cockatrice pun tidak berdaya hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir sebelum tumbang di tanah. Tay pun mundur menatapi makhluk itu telah menjadi mayat segar.


Lana bangkit sambil tetap mengenggam perisainya. “A-apa sudah selesai.”


Zerowolf menyimpulkan, “Kurasa begitu.”


Sierra berkomentar, “Sulit juga. Tapi ternyata tidak jauh berbeda daripada misi kelas C.”


Neu menganggapi, “Setidaknya ini cukup mudah untuk standar misi kelas B. Beruntung sekali kita tidak terbakar hidup-hidup oleh semburan cockatrice.”


“Kalau begitu!” Zerowolf mendatangi salah satu telur cockatrice setara dengan tinggi dirinya. “Kita berhasil! Kita bisa membawa pulang telur ini! Kita akan dapat uang lebih banyak! MHA HA HA HA!!”


Lana dan Neu melongo dengan perilaku sombong Zerowolf, sampai-sampai mereka menggeleng khusyuk. Sierra hanya menghela napas meratapi rival Yudai tersebut, tidak jauh berbeda baginya.


“Satu hal lagi.” Tay protes secara sinis. “Bagaimana cara kita membawa telurnya kalau besar begini melalui perahu?”


Ucapan Tay memicu keheningan semua orang. Zerowolf pun seakan menjadi patung retak, sama sekali tidak terpikirkan solusi untuk mengantar telur cockatrice pada sang klien.