Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 101



Perebutan herb penghilang sakit perut akibat pedas tingkat tinggi spicy tofu masih berlanjut bahkan setelah Tay dan Neu beserta murid-murid di barisan terdepan mengambilnya dalam jumlah banyak, sangat banyak demi kelancaran dalam melanjutkan kompetisi.


Ketika Sans, Beatrice, dan Riri akhirnya tiba, potongan herb di tanah dekat semak yang kini telah botak sudah sangat menipis. Kegilaan murid lain yang berebut begitu banyak potongan semakin menjadi-jadi, saling mendorong dan menyahut tentu menjadi masalah.


Baru saja mendapat beberapa potong herb, sudah tidak ada lagi yang tersisa. Mereka bertiga sungguh beruntung mampu mendapat herb yang tidak banyak. Murid yang bahkan belum sempat menghampiri semak botak itu dan mendapat salah satu dari herb penghilang sakit perut harus menelan kekecewaan. Kekecewaan itu justru menambah sakit pada perut masing-masing.


Sans dan Beatrice dapat bernapas lega ketika sakit perut mereka telah mereda begitu memakan sedikit herb yang telah mereka dapat. Riri sangat tidak beruntung, sakit perutnya masih cukup menggelegar hingga harus menahannya.


Bagi Riri, setidaknya ia dapat menyeimbangkan kecepatan sambil menahan rasa sakit menggunakan chakra. Ia masih dapat berlari bersama Sans dan Beatrice serta melanjutkan perjalanan.


Murid-murid lainnya yang sama sekali tidak mendapat herb entah mencoba melanjutkan perjalanan atau menyerah begitu saja. Hasilnya, mereka harus menderita sakit perut berkepanjangan akibat spicy tofu.


***


Tidak kenal berhenti, itulah pola pikir Yudai dan Zerowolf ketika menuruni dataran di hutan perbatasan kota dan kastel akademi, apalagi setelah melewati rumput pengikat dan memutuskan untuk tidak mengambil herb penghilang sakit perut. Persaingan menuju nomor satu, satu-satunya target di antara mereka.


Sakit perut yang perlahan menusuk tentu tidak menghentikan langkah lari mereka. Adrenalin justru menekan rasa sakit memicu kepuasan dalam persaingan ketat antara kedua rival itu.


Sebuah danau telah di depan mata selesai menuruni dataran. Cukup luas cukup jauh untuk membuat jalan memutar. Itulah mengapa Dolce menjelaskan tantangan agar tidak memutar tanpa langsung ke tujuan berikutnya, yaitu satu lagi padang rumput di hadapan mereka.


Melihat danau tersebut cukup luas, adrenalin kembali memacu kedua rival bebuyutan itu. Mereka bahkan tidak melihat sekeliling, hanya ke depan.


Tanpa aba-aba lagi, keduanya melompat ke permukaan danau. Persaingan ketat sekali lagi memanas ketika mereka mulai berenang menuju tujuan. Kedua kaki seakan menjadi cambuk naik turun. Kedua belah tangan bergerak secara bergantian mengayuh.


Ketika kedua rival itu telah berada di setengah jalan, sekumpulan murid di barisan dean lainnya, terutama Tay dan Neu telah tiba, tercengang bahwa tidak ada perahu di sekitar danau untuk membantu. Satu-satunya cara untuk menyebrangi danau hanyalah berenang.


Satu per satu murid mulai mencemplungkan diri ke danau dan mulai berenang memulai perjalanan, mengebut untuk mengejar posisi terdepan.


“Jangan coba-coba licik menggunakan sihir!” jerit Tay menyaksikan Neu mulai menggerakkan tangan.


“Memang tidak ada peraturannya! Hanya menyeberang danau, itu saja!”


“Kamu pengecut!”


“Baiklah, kalau itu maumu!”


Tidak ada pilihan lagi bagi Neu ketika mendengar ancaman Tay. Tanpa aba-aba, ia mencuri start, melompat ke dalam danau terlebih dahulu.


“Dasar!” Tay ikut melompat ke dalam danau dan mulai berenang.


Selagi satu per satu murid mulai menyusul dengan berenang menyebrangi danau, murid lainnya juga mulai menyusul, terutama yang tidak sempat mendapat banyak herb penghilang sakit perut. Sans, Beatrice, dan Riri menjadi salah satu dari mereka.


“Uh!” jerit Riri memelankan langkahnya dan mulai berjongkok.


Beatrice berbalik. “Riri, kamu tidak apa-apa?”


“A-aku—” Riri menempatkan kedua tangan pada perutnya. “—sudah tidak kuat lagi Pergilah tanpaku.”


"Ba-bagaimana denganmu?” Sans kini mulai khawatir.


“Aku takkan kuat kalau harus berenang melewati danau itu. Kalian teruskan saja.”


“Ri-Riri.” Sans terdiam sejenak, membulatkan tekad setelah mempertimbangkan. “Baiklah.”


“Ah! Ti-tidak ada perahu sama sekali!” Beatrice kewalahan menatap danau yang berjarak cukup jauh. “Bagaimana ini! Tidak ada pilihan lagi selain berenang!”


Sans menghela napas menatap permukaan danau yang jernih tanpa memancarkan warna, menganggapnya cukup dalam. Ia menggeleng mengalihkan ketidakamanannya sambil menutup mata.


Tanpa lagi berpikir, ia melompat ke dalam permukaan danau, mengikuti yang lain.


“Sa-Sans!” Tubuh Beatrice kembali gemetar menatap Sans terlebih dahulu masuk ke dalam danau.


“Uh.” Riri menepuk bahu Beatrice. “Kamu bisa melakukannya, sama seperti saat aptitude test.”


Sans akhirnya naik ke permukaan, mulai mengambang dengan menggerakkan kedua kaki. “Beatrice, tidak apa-apa? Danaunya dangkal!”


“Hah? Apa benar?” Beatrice kini mulai tercerahkan.


Tanpa berpikir lagi kecuali kelegaan yang tertanam di dalam benaknya, Beatrice akhirnya melompat ke dalam danau. Semangatnya mampu membuat cipratan lebih besar. Bahkan sunhat-nya saja mengapung di atas permukaan.


Ketika Beatrice naik ke atas pemukaan, ia berbalik menatap sunhat-nya telah diambil oleh Riri dari tepi danau, menyadari bahwa ia tidak dapat berenang menggunakannya.


“Kalian berjuanglah sampai akhir!” seru Riri mengangkat sunhat Beatrice.


“I-i-iya!” seru Beatrice seraya menyetujui untuk menitipkan topinya pada Riri.


Melihat Sans dan Beatrice mengikuti murid lain berenang tanpa mengalami sakit perut, Riri kembali menyentuh perutnya menggunakan tangan kiri, menahan rasa sakit. Ia senasib dengan seluruh murid yang tidak mengambil kesempatan untuk berenang karena tidak sempat mendapat herb cukup.


“En-entah kenapa aku masih bisa menyemangati mereka.”


***


“Uh …. Uh ….”


Meski terlebih dahulu berhasil melintasi danau menuju daratan, efek dari sakit perut pun mulai menusuk tubuh Yudai dan Zerowolf secara bersamaan. Begitu menginjakkan kaki pada daratan rumput di hadapan deretan pepohonan menuju sebuah belokan, sudah cukup sulit untuk melanjutkan perjalanan lari.


Nyeri pada perut memicu pukulan pada kepala. Pukulan itu lebih menggelegar daripada saat mereka tiba di semak herb.


“Uh ….” Yudai meringis. “Seharusnya aku memakan satu herb saja.”


Ia pun menoleh, menyaksikan perlahan satu per satu murid lain sudah mulai menyusul. Kecepatan renang mereka bahkan melebihi dugaannya berdasarkan banyaknya cipratan pada danau.


“Ah, ternyata benar dugaanku.” Ia menepuk dahinya.


“Pertandingan belum berakhir, Yudai!”


Menatap Zerowolf berlari sekali lagi memicu adrenalin Yudai. Ia pun menahan rasa sakitnya sedikit demi sedikit agar bisa mengejar dan memasuki area padang rumput.


“A-ah!” Zerowolf sempat menghentikan langkah menahan sakit perutnya.


“Sama saja, tapi takkan kubiarkan dia mengalahkanku! AAAAAAA!!”


Yudai mengalihkan nyeri perutnya melalui lari dan jeritan secara bersamaan. Setidaknya nyeri itu tertekan.


Menatap Zerowolf dan Yudai telah berbelok dan tidak terlalu jauh, seluruh murid di belakang mereka menjerit bersemangat dan menambah kecepatan. Sangat bersemangat begitu peluang menempati posisi pertama meningkat sambil susul-menyusul. Wajar, sakit perut mereka telah pulih berkat rebutan herb sebanyak-banyaknya.


Tay dan Neu juga tidak ingin kalah ketika menempatkan kaki pada daratan. Tidak perlu beristirahat lagi karena sakit perut terutama sehabis berenang.


Dorong-mendorong lagi-lagi semakin akrab bagi Tay dan Neu. Tidak mau saling menyusul sama sekali. 


“Aku yang akan lebih dulu!” jerit Tay.


“Kasar sekali dirimu!” sindir Neu.


“Kamu juga!”


Sans dan Beatrice menjadi salah satu dari murid-murid berikutnya yang telah naik dari permukaan danau menuju daratan. Mereka menarik napas terlebih dahulu untuk menenangkan diri setelah berenang.


“Ka-kamu tidak apa-apa, Beatrice?”


“Ya. Aku masih bisa berlari!”


Sans melengkungkan bibirnya ke atas. “Nah, begitu. Ayo! Tinggal sedikit lagi.”


“Eh! Tu-tunggu dulu!”


***


Satu lagi tantangan sebelum mencapai garis finis, yakni gerbang halaman belakang kastel akademi. Yudai dan Zerowolf tetap melanjutkan lari mereka begitu memasuki satu lagi padang rumput.


Dua buah kesulitan telah menghambat mereka, lebih buruk lagi, murid-murid lain di belakang mereka juga sudah memperkecil jarak ketika setengah perjalanan.


Langkah lari lama-kelamaan hanya menjadi jalan selangkah saking tidak tahan untuk memaksakan diri. Yudai sampai-sampai mengayunkan tangannya sebagai upaya terakhir untuk mengalihkan rasa sakit.


Tanpa terasa, sebuah gerbang sudah di depan mata, yaitu garis finis.  Menatap ke belakang, setiap murid lain menambah kecepatan saking semangatnya.


“A-AAAH!” jerit Yudai.


“Ke-kenapa mereka cepat sekali!” seru Zerowolf.


“Aku tidak mau kalah!”


“Tidak akan kubiarkan kamu menang melawanku!”


Upaya terakhir demi menahan rasa sakit, semangat untuk saling bersaing dan mencapai nomor satu telah bangkit. Namun, hal itu tidak cukup semenjak hanya kurang lebih empat meter dari rombongan murid lain.


Akhirnya, mereka benar-benar lelah akibat nyeri perut bahkan setelah menyaksikan gerbang halaman belakang tepat di hadapan mereka. Kedua kaki mulai goyah hingga tersandung, menubrukkan tubuh pada padang rumput.


“Uh ….”


Tentu saja ini menjadi kesempatan murid lain untuk merebut posisi pertama. Setidaknya 10 murid telah menyusul dan melewati gerbang, menyelesaikan stage pertama dari Festival Melzronta.


Yudai dan Zerowolf akhirnya merangkak ketika melewati gerbang itu. Sudah sedikit lagi mereka akhirnya gagal mempertahankan posisi terdepan. Dua lagi murid menyusul tepat sebelum tangan kedua rival itu mencapai gerbang.


“Si-sial. Ki-kita kalah,” gumam Yudai.


“Ta-tapi setidaknya aku yang duluan … tiba,” ucap Zerowolf.


“Aku … yang duluan.”


Yudai berbalik berbaring, kini menatap ke arah langit. Posisinya cukup meredakan rasa sakit yang memukul perutnya sambil menarik napas perlahan.


Begitu rasa sakitnya sudah mereda, ia bangkit, mengulurkan tangan pada Zerowolf ketika ada murid yang telah mencapai garis finis.


“Zerowolf.”


“Uh.” Zerowolf langsung menempatkan tangan pada tanah sebagai tumpuan untuk kembali bangkit.


Perlahan ia menekuk kaki kanannya sebelum berdiri secara utuh, meski sakit perutnya masih menyerang.


“Minggir!” jerit Tay akhirnya tiba di garis finis.


“Kamu saja yang minggir!” balas Neu ketika dirinya dan musuh bebuyutannya telah melewati gerbang.


Zerowolf melongo menyaksikan perilaku Tay dan Neu. “Apa mereka sering begitu? Temanmu?”


“Sering sekali.”


***


“Berhasil!” Beatrice merayakan dirinya berhasil melewati gerbang, menyelesaikan stage pertama dari Festival Melzronta.


Ia memukul udara menggunakan kedua tangan sambil melompat, kegirangan telah menjadi salah satu peserta yang berhasil menyelesaikan balap lari, apalagi dengan Sans di sampingnya.


“Kita benar-benar berhasil.” Sans mengacungkan jempolnya. “Aku juga tidak menyangka akan menyelesaikan balap larinya.”


“Iya.” Beatrice mengangguk.


Mereka melirik pada papan tulis di belakang pohon di sudut timur laut akademi. Papan itu bertuliskan pengumuman posisi masing-masing murid yang telah menyelesaikan jalur stage 1 Festival Melzronta. Tidak heran cukup banyak murid baik yang berhasil atau gugur berkumpul, penasaran siapa di posisi pertama.


Dua orang profesor tengah berada di samping papan tersebut. Salah satunya menulis setiap nama murid dari tahun ajaran dan posisinya menggunakan kapur di papan, sementara satunya lagi mengawasi sekitar gerbang memastikan tidak satupun ada yang tertinggal secara waktu.


Melihat Tay dan Neu membaca tulisan pada papan itu, Sans dan Beatrice juga ikut menghampiri deretan murid lain, penasaran akan posisi masing-masing.


Terlebih dahulu mereka mencari nama masing-masing. Kolom pertama terdapat nama sepuluh murid pertama yang telah tiba dan seterusnya. Tentu tidak mungkin mereka berada di sepuluh besar.


“A-aku di posisi ke-36.”


“41,” ucap Beatrice sambil bernapas lega. “Setidaknya cukup membanggakan kita dapat tiba di garis finis.”


Terdengar sorakan Neu begitu mereka mendekatinya dan Tay. “Aku menang! Aku berada di posisi ke-19!”


“Po-posisi ke-20!” Tay mengepalkan tangan kanannya. “Sial! Sial! Sial!”


Sans melirik pada kolom pertama. “Aku penasaran siapa yang berada di posisi pertama.”


...Peringkat Stage 1 Festival Melzronta: Balap Lari...


...1. Earth (Tahun Kedua)...


...2. Ryu (Tahun Ketiga)...


...3. Ennui (Tahun Kedua)...


...4. Juu (Tahun Keempat)...


...5. Yanagi (Tahun Kedua)...


...6. Aaron (Tahun Ketiga)...


...7. Petra (Tahun Ketiga)...


...8. Ringo (Tahun Pertama)...


...9. Rumia (Tahun Kedua)...


...10. Nicole (Tahun Keempat)...


“Earth, ya?” ucap Sans.


Beatrice tersenyum bahkan tidak sempat melihat kolom pertama. “Aku jadi bersemangat dengan besok!”


***


“Betapa bodohnya! Yudai dan Zerowolf tidak memakan herb sama sekali meski berada di posisi pertama!”


Neu terlebih dulu memimpin Sans, Beatrice, dan Neu ketika melangkah mengitari selasar. Sangat frustrasi begitu mengetahui rumor yang beredar.


“Pantas saja mereka berada di UKS, beristirahat, lalu diberi obat pencahar. Setidaknya besok mereka bisa bertanding di stage kedua.”


Beatrice menghentikan langkah ketika pintu gedung asrama telah berada di hadapan mereka. Sesosok laki-laki berambut hitam kecokelatan panjang disisir ke sebelah kiri, alis miring, dan tinggi telah menunggu.


Laki-laki itu berdehem melepas posisi kaki kiri di dinding dan menurunkan kedua tangan dari dada. Tatapan terfokus pada Beatrice.


“Aku tidak menyangka akan bertemu dirimu di sini.”


“Eh?” Sans, Tay, dan Neu memiringkan kepala.


“Oh ya, pasti heran kan, tiga murid tahun pertama. Gadis yang berada di samping kalian adalah song mage. Dapat lulus dua aptitude test, benar-benar hebat.”


Tubuh Beatrice bergetar, hanya melihat wajah laki-laki itu dapat memicu ingatannya. Ingatan saat berada di rumah, seorang laki-laki yang ingin menjadi jodohnya. Benar-benar sesuai ingatannya, laki-laki itu masuk ke Akademi Lorelei setahun lebih awal daripada dirinya.


“Ka-kamu ….”


Earth memperkenalkan diri, “Sudah lama tidak bertemu. Aku rindu padamu, ingin sekali bertemu denganmu, Beatrice, tunanganku.”