
Neu merentangkan tangan kanannya membelakangi Beatrice, entah karena insting untuk melindunginya atau iri terhadap laki-laki yang mengakui sebagai tunangannya itu.
Beatrice masih membeku menatap Earth, tunangannya, telah berada di hadapannya. Ia mundur satu langkah sambil menggeleng, tidak percaya bahwa akhirnya ia bertemu dengan laki-laki yang menjadi jodoh tanpa cinta.
“Ka-kamu ….”
“Kamu berteman dengan orang-orang yang tidak setingkat denganmu. Benar-benar sudah menjadi masalah bagi orang seperti kita berdua,” sindir Earth memandang Sans, Neu, dan Tay, “lihatlah dirimu, kamu orang bangsawan tapi berteman dengan orang yang bukan seperti dirimu.”
Earth menjulurkan lidah pada bibirnya, seakan ingin mencicipi sebuah makanan. Neu menggeram menyaksikannya.
“Ka-kamu ini—”
“Sudah menjadi tradisi keluarga bangsawan bahwa perjodohan menjadi hal wajib, suka atau tidak. Aku tahu pada awalnya beberapa anak tidak menginginkan sebuah perjodohan tanpa cinta terjadi apalagi jika berujung pada pernikahan. Lama kelamaan, jika sudah saling mengenal, terjadilah sebuah percintaan seperti sebuah dongeng. Tapi ternyata hal itu tidak terjadi juga pada Beatrice.
“Tepat sebelum aku kembali ke sini musim panas lalu, kudengar Beatrice telah melarikan diri dari rumah. Tak kusangka, gadis yang melarikan diri itu telah berada di Akademi Lorelei, mendaftar sebagai murid, lalu lolos dua aptitude test dan menjadi song mage, persis seperti di hadapanku.”
Beatrice membuka suara, meski ada keraguan pada nada bicaranya, “A-aku … tidak sudi menikah denganmu dari awal. A-aku sudah bebas dari—”
Earth memotong, “Tidak heran laki-laki seperti mereka mencemari pola pikirmu.”
“Kamu!” Neu menggeram kembali dan mengambil satu langkah.
“Jadi kamu Earth yang seperti dia ceritakan itu ya?” Suara Sierra turut membuat semuanya tercengang.
Sierra telah berdiri di belakang Sans dan Tay, berani melewati Beatrice dan Neu untuk menghadapi Earth. Baru saja ia tiba di hadapan pintu gedung asrama, sambutan berupa konflik telah memancingnya.
“Murid tahun kedua Akademi Lorelei, bukan? Yang menjadi jodoh untuk Beatrice. Menikah dengan Beatrice adalah tujuannya, demi melestarikan tradisi bangsawan. Jujur saja, kamu ingin membuatnya tergila-gila denganmu hanya demi perjodohan, itu namanya pemaksaan.”
“Itulah yang terjadi, awalnya kamu tidak mau, tapi pada akhirnya kamu akan tergila-gila.” Earth berbalik pamit. “Sepertinya stage kedua akan menjadi hal menarik bagi kita semua. Aku akan menantikannya.”
“Omong-omong, Earth, aku sudah sedikit tahu tentang dirimu. Kamu sering sekali menguntit Beatrice, bukan?”
Mendengar omongan Sierra sudah membuat Beatrice sangat shock, tubuhnya sangat gemetar. Sans dan Tay juga menggeretakkan gigi menyadari bahwa Earth merupakan orang brengsek dari kalangan bangsawan.
Neu bahkan lebih geram, membuang napas kasar.
“Wah, ketahuan juga, ya?” Earth berbalik sambil membelai rambutnya. “Padahal sudah sempurna aku sembunyi-sembunyi menatapmu berlatih, mengawasi gadis lugu bertopi yang akan menjadi istriku benar-benar menyenangkan, sangat menyenangkan. Sebaiknya kita beristirahat sebelum stage kedua dimulai.”
Begitu santainya, Earth berbalik. Berlagak seakan sebagai orang terhormat, ia melewati pintu gedung asrama.
Masih saja emosi mengetahui gelagat Earth, salah satu murid senior sekaligus “tunangan” Beatrice, Neu menapakkan kaki cukup keras pada lantai.
Tay menggeram. “Aku tidak percaya ini! Dia lebih buruk daripada yang kubayangkan!”
Neu sepakat, baru kali ini sepakat dengan Tay. “Dia benar-benar creeper sekali!”
Beatrice menghentikan langkah ketika menghadapi tangga menuju lounge room. Ia termenung kembali mengingat masa lalu kurang bahagianya. Benaknya sangat kacau, seperti kekosongan menyerang.
“A-anu—” Ia berbalik menghadapi keempat teman dekatnya. “—maafkan aku. Maafkan aku ….”
“Beatrice,” gumam Sans dan Neu bersamaan.
Menatap Beatrice menatap pada lantai dan menurunkan wajahnya, Sierra jadi mengingat ceritanya saat berada di kedai roti berdua. Ia menjadi orang pertama yang menghampiri Beatrice.
“Oh ya, kamu pernah bercerita padaku kalau kamu melarikan diri rumah. Kamu tidak ingin terjebak di pernikahan tanpa cinta, kan?”
“Eh?” ucap Beatrice.
“Kamu juga pernah bercerita pada kita semua saat gagal menangkap air mata phoenix tentang masa lalumu. Betapa tertekannya dirimu mendapat ancaman untuk dijemput pulang oleh pelayanmu. Kamu tidak ingin kembali ke bagian hidupmu yang sengsara itu. Kamu sudah cukup menderita. Kami di sini untukmu.
“Dan juga … Neu, telah menjadi teman masa kecil terbaikmu. Kalau kamu tidak bertemu dengannya—”
Neu memotong, “Oh, aku … juga tidak menyangka akan bertemu kembali denganmu. Jujur saja, kamu lebih bahagia berada di sini daripada harus pulang ke rumah. Aku yakin setelah mendengar ceritamu.”
Mendengar pengingat dari Neu dan Sierra telah membuat Beatrice melengkungkan senyuman ke atas. Wajahnya sedikit berseri-seri.
“Teman-teman … terima kasih sudah menjadi temanku di sini.”
Tay justru melongo. “Lagi-lagi topik yang sama, membosankan daripada saat Neu mengurus Familiar-nya.”
“Oh ya.” Sans terheran. “Kamu tidak membawa Cherie saat stage 1 Festival Melzronta, kan?”
“Percuma.” Neu menggeleng. “Dia masih saja ingin tidur setiap kali aku ingin tahu kekuatannya. Kupikir dia tidak akan berguna selama balapan. Aku juga tidak menatap banyak Familiar yang membantu murid lain, bahkan yang ukurannya setara manusia sekalipun.”
“Menyerah saja. Lebih baik buang Familiar itu,” usul Tay secara ironis.
***
Menatap Cherie, sebuah familiar bertipe peri dan bertanduk unicorn, hanya terlelap di atas meja dapat membuat Neu frustrasi, sangat frustrasi. Apalagi ketika ia mencoba membangunkannya, ingin tahu soal kekuatan asli makhluk pendampingnya itu.
Ia teringat dari seorang profesor bahwa kekuatan Cherie berbasis pikiran, namun tidak memberitahu lebih detaill lebih lanjut. Neu sangat frustrasi hanya mengamati familiar-nya tidak melakukan apapun.
Neu membuka mulutnya, menggeram sama sekali tidak ingin menerima keadaan bahwa familiar-nya kini sedang tidak berguna dan tidak punya harapan. Membawanya keluar dari tidur saja sudah susah, apalagi melatihnya untuk mengeluarkan kekuatan.
Ia bergumam, “Kenapa kamu tidur saja kerjaannya? Ayolah, aku butuh dirimu untuk bertarung. Aku ingin tahu apa kekuatanmu.”
Ia menempati kursi di hadapan meja, kembali termenung meratapi nasib dirinya setelah mendapat familiar seperti Cherie. Malam itu pun ia habiskan sejenak merenung.
Menatap ke belakang, ia menyaksikan Tay sudah terlelap di tempat tidurnya. Sudah biasa hanya saling berdiam diri di kamar, biasanya ia sudah terlelap terlebih dahulu memendam frustrasi terhadap musuh bebuyutannya itu.
Kali ini, ia kerepotan menghadapi dua masalah secara bersamaan, yaitu Cherie dan Tay.
***
Seluruh murid Akademi Lorelei telah berkumpul di gerbang halaman barat, yakni tepat di garis start saat aptitude test bagian luar diadakan. Semuanya berbaris berbondong-bondong penuh ketegangan akan tantangan berikutnya, terutama murid tahun pertama dan kedua yang paling ingin tahu.
Hunt menyambut seluruh murid, “Kemarin kalian telah mengikuti stage pertama dalam Festival Melzronta. Sekarang, tantangan untuk stage kedua benar-benar berbeda. Stage kedua adalah sebuah permainan kejar tangkap.”
“Kejar tangkap,” ulang Riri.
Hunt mengacungkan jempol menunjuk gerbang yang telah terbuka lebar. “Permainan kejar tangkap akan dilaksanakan di hutan ini. Bagi murid tahun pertama dan kedua, ini adalah hutan yang sama saat aptitude test bagian dalam.
“Kalian akan terlebih dahulu mencari tempat persembunyian. Lalu begitu asap telah muncul di langit, kalian boleh menangkap saingan sebanyak-banyaknya kemari.”
Mendengar kata sebanyak-banyaknya sudah membuat mayoritas dari murid tahun pertama dan kedua tercengang, sangat tercengang. Lebih banyak tekanan terpasang pada benak masing-masing.
Bagi Zerowolf, hal itu benar-benar menyenangkan karena ia sudah memanfaatkan situasi untuk kembali bersaing dengan Yudai.
Earth pun melirik pada Beatrice tepat di hadapannya, sebagai seorang penguntit, tentu sudah menjadi tujuannya untuk menangkap sang calon istri ke dalam pelukannya kelak.
“Kalian boleh bekerja sama untuk bersembunyi, tetapi hasil tangkapan tetap terhitung sebagai poin individu. Murid yang berhasil selamat dari tangkapan hingga akhir juga akan mendapat poin bonus tidak peduli berhasil menangkap atau tidak.
“Saran saya, lihatlah dengan saksama saat mencari murid lain, mereka mungkin berada di belakang kalian, mereka juga mungkin menatap jelas pada kalian, mereka juga mungkin tidak berniat bersembunyi. Kalian juga harus lebih berhati-hati, karena tidak seperti sebelumnya, hewan buas masih berkeliaran di sana.”
Selama ini seluruh murid mengira situasi sama seperti hari sebelumnya. Rasa aman pun berkurang begitu mengetahui binatang buas ikut menjadi ancaman.
Beatrice menelan ludah ketika melirik pada Earth yang berdiri tepat di belakangnya. Ia melirik pada Sans dan Neu yang berada di antara dirinya, begitu juga dengan Tay dan Yudai.
Neu menghela napas. “Earth, menatapnya saja sudah membuatku ingin muntah.”
“Batas waktu kalian sebanyak empat jam. Tiga puluh menit pertama, kalian akan mencari tempat persembunyian, lalu permainan
“Tunggu dulu, kamu tidak membawa familiar-mu lagi?” ujar Sans.
Neu menggeleng. “Percuma saja dia jika kubawa. Paling tidak dalam situasi darurat, dia hanya tidur.”
“Baiklah!” Hunt mulai mengangkat tangan. “Stage kedua Festival Melzronta, kejar tangkap—”
Semuanya mengambil kuda-kuda, lekat dengan senjata masing-masing untuk perlindungan dari penangkapan.
“—dimulai!”
Seluruh murid berbondong-bondong melewati gerbang menuju hutan. Ingin lebih dahulu mencari tempat persembunyian paling aman, mereka menganggap hal ini sama seperti saat stage pertama, yaitu balap lari.
Seperti biasa, Sans berlari bersamaan dengan Beatrice, Yudai, Tay, dan Neu. Menyeimbangkan kecepatan masing-masing mereka rela membiarkan murid lain menyusul.
Begitu Zerowolf terlebih dahulu menyusul, sebuah semangat menjadi bahan bakar menuju benak Yudai.
“Jangan coba-coba untuk berniat bersaing lagi—”
Belum selesai Neu memperingatkan, Yudai sudah telanjur menambah kecepatan larinya untuk menyusul Zerowolf.
“Dasar, apa dia mau ke UKS lagi?”
“Kakak!” Lana pun menghampiri Sans dan mampu menyaingi kecepatannya. “Kita bersembunyi bersama, yuk!”
“Eh? La-Lana?” Sans kaget. “Ke-kenapa?”
Tay mengungkapkan sebuah ironi, “Yang merepotkan sudah pergi, datanglah lagi yang merepotkan.”
Beatrice secara polos memperingatkan, “Sudah, sudah, akan lebih baik kita bekerja sama untuk bersembunyi, maksudku mencari tempat persembunyian.”
Neu menyeringai sambil mengepalkan tanngan kirinya. “Baiklah … akan kulindungi kamu dari Earth, Beatrice! Aku tidak sudi kamu ditangkap pria brengsek seperti dia!”
Earth pun mengikuti mereka dari belakang, ia memperpelan langkahnya demi menjaga jarak agar Beatrice tidak langsung melirik padanya.
“Tunggulah, Beatrice sayang, biar aku yang menangkap dan mengantarmu kembali ke akademi, lalu kita akan berkencan.”
***
Seluruh murid berbondong-bondong mencari tempat persembunyian masing-masing, rela saling berebut untuk bertahan. “Sengketa lahan” menjadi hal yang paling umum bagi kalangan murid selama tiga puluh menit pertama stage kedua Festival Melzronta.
Dari dorong mendorong hingga saling mengancam dan menyerang menggunakan senjata masing-masing serta meminta kekuatan familiar (bagi beberapa murid) menjadi hal paling sering ketika kepanikan terus melanda, hal ini terutama terjadi pada murid yang tidak sabaran atau hanya ingin bersembunyi, melakukan segalanya untuk mencapai kejayaan pada akhir.
Beberapa murid justru memutuskan hanya untuk mencari mangsa, alih-alih mencari tempat persembunyian, meningkatkan risiko untuk tertangkap. Yudai dan Zerowolf merupakan contoh murid yang memutuskan untuk hal berisiko ini, tentu saja untuk saling bersaing agar mendapat mangsa paling banyak.
Bahkan belum berakhir tiga puluh menit pertama, beberapa murid sudah harus berurusan dengan hewan buas selagi mencari tempat persembunyian yang tepat. Bagi murid yang terluka akibat serangan salah satu hewan buas, hal ini menjadi ketidakberuntungannya karena peluang untuk tertangkap semakin tinggi.
Sebuah asap seakan meluncur seperti roket di langit, berarti pertanda waktu kucing-kucingan secara serius telah dimulai! Seluruh murid mulai menambah ketegangan pada masing-masing benak, termasuk yang sudah mendapat tempat persembunyian.
Lain cerita bagi para murid yang belum mendapat tempat persembunyian, baik dalam perorangan atau kelompok. Meski begitu, hanya seorang murid yang “berhasil” menangkap dan membawa mangsanya langsung ke lokasi dapat diakui serta mendapat poin. Mereka tidak ingin menjadi korbannya sama sekali.
Hal yang sama juga terjadi pada Sans, Beatrice, Tay, Neu, dan Lana.
Mereka tidak berhasil mendapat tempat persembunyian. Berbagai masalah harus mereka derita.
Selagi mereka mencari tempat persembunyian, dalam tiga puluh menit pertama setelah asap terlihat, Lana berbelok seorang diri dan mendapati dua makhluk slime ungu berukuran setengah tinggi manusia. Tidak heran, dia berlari begitu melihat mahkluk slime itu membuka mulut lebar-lebar karena jijik dan ngeri.
Tentu saja Lana memancing kedua ekor makhluk itu pada keempat rekannya selama kucing-kucingan. Sans, Beatrice, Tay, dan Neu juga ikut panik melarikan diri dari kejaran makhluk slime.
Tepat setelah mereka lolos dari kejaran mahkluk slime, kali ini giliran sebuah kelompok beranggotakan enam orang murid tidak dikenal untuk mengincar. Tentu saja, karena kelompok itu merupakan murid tingkat atas, tidak ada pilihan lain selain melarikan diri, meski Tay dan Neu mencoba untuk menyerang balik dan berujung kegagalan karena adu mulut.
Dalam satu jam pertama, Yudai dan Zerowolf masing-masing telah berhasil menangkap mangsa pertama dan membawanya ke gerbang barat. Mereka menggunakan cara memanah kedua kaki mangsa agar tidak bisa berjalan. Dengan hati-hati, mereka menggiring mangsa itu sambil menghindari pemburu lainnya.
Katherine menjadi tidak berkutik ketika tertangkap basah oleh seorang murid tingkat atas. Ia mengangkat tangan seraya menyerah menjadi seorang sandera karena gagap dan tidak tahu apapun tentang sihir penyerangan.
Sedangkan Ruka hanya pasrah dirinya menjadi mangsa tanpa perlawanan sama sekali. Dia hanya malas jika harus sampai bertarung dalam festival yang seharusnya “menyenangkan” itu.
Lambat laun, stage kedua dari Festival Melzronta semakin memanas.
***
“Aku bahkan tidak tahu berapa lama kita harus di sini.”
Sindiran Tay turut memicu petir pada benak Neu. Benar-benar tersinggung, baru sepuluh menit mereka mengintip sambil bersembunyi di sebuah tebing menurun dan berbaring, ia sekali lagi ingin beradu mulut.
Lana tercengang ketika melihat Neu akan kembali melancarkan serangan pada Tay. “Ka-kalian akan membongkar persembunyian kita, tahu!”
Beatrice secara polos menjelaskan, “Jangan kaget kalau sering melihat keduanya bertengkar.”
Lana kembali menerangkan wajahnya. “Ah, tidak apa-apa, setidaknya kalau aku bersama Kakak, semuanya akan menjadi tenang dan senang.”
Sans menghela napas, sekali lagi tidak tenang mendengar perkataan Lana. Tetapi, hal yang paling tidak membuat lebih tenang lagi ketika tercengang mengintip pada jalan datar dari puncak tebing.
Pandangannya tertuju pada empat orang berambut aquamarine panjang hingga melewati bahu tengah melewati sebuah tanah minim pohon beringin. Hal yang mengagetkan dirinya adalah bentuk tubuh keempat orang itu yang tidak mewakilkan wajah penuh dandanan menor.
Tonjolan otot maskulin dan rambut pada kaki pada masing-masing anggota kelompok itu sama sekali tidak dapat tertutupi oleh gaun merah muda. Sudah ketahuan bahwa mereka adalah crossdresser, sebuah fakta yang membuat Sans ingin menahan muntah dan mimisan.
Neu juga geram ketika ikut menyaksikan kelompok itu. “Apa itu?”
Tay memalingkan wajah pada Neu setelah ikut menyaksikan para rupawan esentrik tersebut. “Apa jangan-jangan kamu suka pada mereka?”
“Justru ironinya kamu yang malah mengincar mereka sebagai—”
“Anu.” Lana mengangkat tangan. “Aku tidak tahu harus berkata apa tentang mereka. Aku bahkan tidak pernah melihat sekelompok orang berpakaian seperti itu di akademi.”
“A-aku juga, me-mereka sangat aneh dan me-mencurigakan.” Beatrice kembali memalingkan wajah dan merunduk.
“Kalau begitu, kita tangkap saja mereka.” Lana menjulurkan jari dan menjentikkan mata kirinya.
“Eh? Ta-tangkap!” Sans melongo.
“Dari kelihatannya saja, mereka itu sebenarnya mudah terdistraksi dengan apapun. Ini kesempatan kita untuk menangkap dan membawa mereka ke gerbang. Ya, pada akhirnya salah satu dari kita tidak mendapat poin untuk … eh—”
Menoleh pada Tay dan Neu, wajah Lana membeku menatap mereka sudah membara.
Sans dan Beatrice juga melongo menyaksikan kedua saingan itu telah penuh api tepat pada mata.
Mengunci keempat crossdresser itu sebagai target penangkapan, Tay menarik pedang dari selongsong punggungnya cukup erat, siap untuk melampiaskan semangatnya.
“Sebaiknya kalian melarikan diri saja, terutama kamu Mata Empat, akan kutebas keempat waria itu sekali—”
Neu naik darah hingga menjentikkan jempol dan telunjuk. “Sembarangan saja dirimu ini! Siapa suruh yang mengatur yang menyerang begitu saja! Aku saja—”
“Tidak! Aku!”
“Aku! Dasar swordsman payah!”
“Kamu penyihir bajingan!”
“Murid paling dibenci di akademi!”
Bagi Sans dan Beatrice, sudah menjadi hal biasa melihat Tay dan Neu beradu mulut hanya karena hal sepele. Tampaknya adu mulut itu sudah semakin meledak dan tidak dapat terganggu sama sekali.
Lana masih tidak dapat bereaksi untuk menghentikan Tay dan Neu.
“Kita adu siapa yang dapat mengalahkan mereka paling banyak!” Tay sudah mengambil posisi berlutut dan menggenggam erat pedang.
“Setuju! Siapapun yang kalah, dia tidak mendapat poin, harus menyerahkan pada Sans, Beatrice, dan Lana!” Neu menantang.
Tay dan Neu mulai keluar dari persembunyian dan menempatkan kaki pada tanah datar. Target penyerangan, empat orang crossdresser esentrik, dari belakang, tepat setelah berbelok.
“Se-serangan dari belakang?” Lana memperhatikan Tay mulai mengaunkan pedangnya.
“Ne-Neu?” gumam Beatrice.
Sihir Windy Stream, yakni empasan udara dari tangan dari tangan Neu, melesat seketika menimbulkan bunyi.
“Eh?” ucap Lana tercengang menyaksikan empat crossdresser itu telah bereaksi.
Semakin banyak bunyi terpicu dari pertarungan antara kedua musuh bebuyutan melawan keempat crossdresser esentrik terdengar nyaring menuju telinga. Lana berbalik tidak sanggup melihat lagi sambil menggeleng.
“Me-mereka benar-benar aneh. A-ayo kita kabur, Kakak!”
Lana menggapai tangan kiri Sans, terbirit-birit menuruni dataran menurun.
“Eh? Le-lepaskan!” jerit Sans panik ketika langkah larinya semakin cepat, kewalahan ia akan tersandung.
“Tu-tunggu!!” Beatrice mulai panik ketika menyaksikan Sans dan Lana kabur dari pertempuran.