
Tangan kiri sebagai bantalan dagu, halaman berisi deskripsi cukup panjang dari Buku Dasar Alchemist di depan mata, dan tatapan kosong karena sebuah lamunan.
Membayangkan kembali sebuah kilas balik di balik dendam penginapan sang hantu penginapan mewah dari misi sebelumnya, ia masih tidak dapat memahami dendam masyarakat kerajaan Anagarde terhadap alchemist selama bertahun-tahun.
Penjelasan Alexandria tentang alchemist terhadapnya masih menjadi sebuah pertanyaan, atau lebih tepatnya ancaman. Ia masih tidak begitu paham mengapa masyarakat menyalahkan job alchemist sebagai penyebab salah satu insiden terbesar dalam sejarah.
Sebuah risiko, jika ketahuan, semuanya akan berakhir, benar-benar berakhir. Mungkin saja ia akan menjadi bulan-bulanan sesama murid akademi, lebih parah daripada hanya sebagai murid yang gagal dalam aptitude test. Tidak hanya itu, ia juga harus keluar dari akademi dan menghadapi bahaya akan masyarakat.
Ia mengusap wajah ingin menyapu kilas balik itu dari benaknya. Ia meniupkan udara di hadapan halaman buku.
“Sans?” Suara Yudai bersama dengan terbukanya pintu membuyarkan lamunannya.
“Oh, sudah selesai kelasnya?”
“Profesor Baron menggantikan Dolce kali ini. Ah, bentakannya sungguh menyayat hati, aku jadi malas.”
Yudai membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Lengan dan kakinya sudah kehilangan tenaga, ingin sekali beristirahat pada siang bolong akibat sebuah kelas intensif.
“Ah, padahal aku ingin berbicara pada Dolce. Aku ingin tahu lagi tentang pertemananya dengan ayahku. Saat baru terpikir ingin mengorek informasi darinya, malah dia tidak ada. Ah!” Yudai mengayunkan kedua kaki di ujung tempat tidur. “Kalau begini terus, aku tidak bisa menemukan orangtuaku!”
“Yudai.”
“Ah, nanti kamu menemui Profesor Duke, kan?”
“Ya.”
Sans kembali menurunkan kepala, menyaksikan Yudai sebagai seorang murid archer yang selalu bersemangat.
Membandingkan dirinya dengan Yudai, tidak heran ia tertinggal cukup jauh. Meski sudah banyak berlatih dan bersama-sama menjalankan misi saat waktu luang, ia selalu merasa kurang dalam kemampuan dalam pertarungan. Lemah dan tidak berguna, kedua ejekan itu kerap ia dapat ketika berpenampilan sebagai murid bermantel putih.
Ia belum dapat menyamai kemampuan dengan Beatrice, Neu, Tay, dan Sierra, apalagi Riri dan Katherine. Ia … hanya murid bermantel putih yang sembunyi-sembunyi melanggar aturan, bertanya dalam hati apakah menjadi alchemist adalah keputusan yang tepat baginya demi menggapai sebuah tujuan utama.
“Apa kamu memikirkan si hantu di penginapan mewah itu lagi?” Lagi-lagi Yudai membuyarkan lamunannya.
“Ah … anu … ti-tidak.”
“Masa?” Yudai menyeringai kembali dan mulai duduk menghadapnya. “Aku selalu benar dalam menebak hal yang kau pikirkan. Jangan terlalu dipikirkan, kamu lakukan saja hal yang tepat bagimu, untuk menggapai sebuah tujuan, sama sepertiku.”
Sans menarik napas kembali dalam-dalam, bangkit dari duduk dan menutup Buku Dasar Alchemist di meja. “Mendengar dirimu ingin bertemu Dolce untuk berbicara tentang orangtuamu … aku jadi ingin bertemu Profesor Duke sekarang juga. Sudah lama semenjak Festival Melzronta dimulai aku belum menemuinya langsung.”
“Ah.” Yudai kembali menubrukkan punggung pada kasur. “Syukurlah bilang kalau Dolce tidak hadir sangat bermanfaat untukmu.”
Sans meruncingkan bibirnya saat mendekati pintu untuk pamit. “Ya, aku pergi dulu.”
Begitu Sans telah pergi dari kamar, Yudai menempatkan telapak tangan kiri pada keningnya, membuat kembali situasi saat ia berada di ruang pribadi Dolce.
Rasa rindu dan penasaran akan keberadaan kedua orangtua turut memenuhi benakya. Sangat tidak sabar ingin tahu segala informasi dari Dolce, lebih jauh, lebih lanjut, lebih dari sekadar kenal. Ia yakin, dengan bertanya segala hal yang ia pendam, semakin dekat dirinya pada tujuannya.
“Ayah … Ibu ….”
***
“Sans, lama tidak berjumpa.”
Duke menyambutnya ketika membuka pintu. Sans cukup canggung sampai kembali memalingkan pandangan ke bawah ketika memasuki ruangan itu.
“Anu … sebenarnya kita tidak bisa bertemu seperti ini karena … Festival Melzronta berlangsung—”
“Sans, saya sudah mempertimbangkannya. Waktu itu, saat libur musim dingin, kamu ingin mendapat kristal Variant, bukan?
“Ah—” Sans mengangkat kepala menghadap wajah Duke, membayang kembali sebuah kilas balik akan permintaan untuk berburu kristal Variant.
“Baik. Besok kita berangkat ke tambang kristal Munich di Riswein.”
Sans membeku saat mendengar rencana dari Duke. Berburu kristal Variant saat tengah-tengah semester kedua, sungguh membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai Riswein.
“EEEEEEEH!! Ja-jadi … Anda bilang saya juga harus bolos kelas filsafat Profesor Alexandria besok? A-Anda meminta saya agar tidak masuk selama satu minggu?”
“Koreksi, kira-kira tiga minggu.
“Ta-tapi kan … aturan jam malam—” Sans terbata-bata dalam merespon, “—la-lalu … murid tidak boleh … keluar tanpa izin berhari-hari.”
Ia teringat ketika Sierra telah absen selama berhari-hari karena alasan “mengunjungi anggota keluarga yang tengah sakit”, tanpa izin pula. Konsekuensinya, hukuman lebih berat menanti.
Teringat pula Alexandria yang pertama memergoki dirinya dan kelima teman dekat saat melanggar jam malam. Bentakan profesor yang paling dibenci itu telah menanti jika ia membolos kelas filsafat.
“Saya rasa ini saat yang tepat untuk meminta surat izin, bukan?” Duke menyarankan.
“Su-surat izin—”
“Dan tidak boleh ditemani oleh orang lain, selain saya, selama field trip ke tambang kristal Munich. Ini untuk membuat gauntlet-mu.”
“La-lalu … aku harus izin karena apa? Ti-tidak mungkin aku menulis alasan keluarga sedang sakit. A-aku—”
“Ah, katakan saja kalau kamu ingin menjenguk ibumu.”
Galau …. Usulan dari Duke justru membuat Sans terhantui akan sebuah kemungkinan. Mengapa baru sekarang? Mengapa tidak pulang saat libur musim dingin? Mengingat tujuannya untuk menyembuhkan sang ibu yang masih berada di air mata kehidupan dekat kampung halaman, tidak mungkin ia kembali tanpa hasil berarti, yaitu membuat obat untuk sebuah penyakit langka.
“Tidak apa-apa,” Duke meyakinkan, “itu adalah alasan terlogis sesuai dengan tujuanmu.”
“A-aku … tidak boleh mengajak yang lain? Bahkan Yudai sekalipun?”
“Kamu hanya akan mendapat barang terakhir untuk membuat gauntlet. Jadi saya rasa tidak perlu mengajaknya. Sekali lagi, kamu akan ke sana bersama saya sendiri, hanya kita berdua. Rahasia alchemist-mu harus tersimpan aman.”
***
Lembar surat izin telah berada di meja di hadapannya. Menatap kolom “alasan” cukup luas bahkan memakan tiga per empatnya berarti sebuah alasan dapat tertulis cukup panjang lebar. Sans menubrukkan ujung pena bertinta pada sudut kiri kolom itu, sungguh kesulitan menulis alasan yang meyakinkan.
“Jadi besok kamu akan pergi hanya dengan Profesor Duke?” Yudai menghampirinya. “Ah, aku juga ingin membolos pelajaran filsafat.”
Yudai mengingat dan menghitung menggunakan jari. “Mari kita lihat … um … daun ars dan … dan … kalau tidak salah jaring laba-laba es. Kamu sudah mendapat keduanya, berarti kristal Variant.”
“Kamu ingat? Tidak seperti dirimu saja.”
“Saat kamu pergi, aku sempat mengintip sedikit isi Buku Dasar Alchemist, ya, ada di otakku.” Yudai sedikit cekikikan.
“Profesor Duke bilang aku akan menggunakan alasan menjenguk ibuku di kampung halaman. Memang seharusnya alasan itu kupakai saat libur akhir semester untuk pulang dan tanpa pakai surat izin. Apakah ini merupakan hal yang benar? Apakah memalsukan alasan—”
“Sans.” Yudai menepuk bahu kirinya. “Tadi siang sudah kubilang, bukan? Lakukan menurutmu hal yang benar, demi tujuanmu. Meski harus berbohong, setidaknya kamu mulai mengambil satu langkah.”
“Ja-jadi … tidak apa-apa kalau aku berbohong?”
“Semua orang berbohong. Yaaaa—” Yudai mengangkat kedua tangan begitu mulutnya terbuka lebar, menandakan kantuk telah menyerang. “—kalau sudah selesai, sebaiknya kamu cepat tidur. A-aku ingin cepat berbaring.”
“Yudai, terima kasih.”
“Sama-sama.”
Sans menoleh sejenak menyaksikan Yudai menubrukkan diri ke tempat tidur. Ia tersenyum memperhatikan teman dekatnya sangat bersemangat dari hari ke hari dalam menjalani hari di Akademi Lorelei. Andai saja ia dapat mencuri sedikit dari kepribadian cerah Yudai, menikmati setiap hari pasti akan menjadi mudah.
Beralih pandangan pada meja, Sans mulai menulis di kolom alasan pada surat izin. Ia telah memikirkan sebuah alasan palsu untuk menyembunyikan sebuah fakta. Sebenarnya ia ke Riswein untuk mendapat kristal Variant. Berbohong, kalau untuk kebaikan, tidak apa-apa, itu yang ia simpulkan dari perkataan Yudai.
Dengkuran dari Yudai mulai terdengar saat ia mencapai barisan kedua. Kata-kata yang sudah Sans rancang sempat terusir. Ia berhenti sejenak mencoba mengembalikan rangkaian kalimat untuk menjadi dalam bentuk tulisan. Memperhatikan barisan pertama yang ia tulis, perlahan rangkaian kata baru seakan menembak kepalanya dan memicu menggerakkan genggaman pena bulu pada kertas.
Selesai mengungkapkan alasan dalam tulisan sebanyak empat baris, ia bangkit dari tempat duduk dan menaruh pena di sebelah kanan surat izin di meja. Kantuk pun mulai memicu terbukanya mulut, tidak sabar ingin segera beristirahat ketika bangkit dan beralih pada tempat tidurnya.
Tubuhnya perlahan jatuh ke arah gravitasi ranjang, dan berakhir dengan wajah yang menghadap ke bawah. Sensasi empuk dan sejuk dari bagian atasnya kembali membuat lelaki itu menguap. Pandangan pun seketika menghitam membiarkan kelelahan menguasai diri.
Begitu kembali mendapat kesadaran, dengkuran dari Yudai menjadi hal pertama yang ia dengar dari tempat tidur di sebelahnya. Ia menapakkan kaki di lantai dan mengangkat kedua tangan demi mengumpulkan energi.
Ia berbalik menuju jendela yang masih tertutup gorden. Ia pun menarik gorden lalu menggesernya ke kanan. Meski kecil, tapi dari ufuk sana mulai terlihat sinar jingga pembuka tirai hari baru.
“Sudah fajar rupanya,” Sans membisikkan kegirangannya, meniru perkataan Yudai saat ia sedang terpuruk semester lalu.
Ia kemudian berlutut di depan tempat tidurnya, mengambil belati hitam dari kolong kosong dan menaruhnya pada selongsong di pinggang.
“Uh ….”
Mungkin karena sinar mentari dan angin sejuk atau kerasnya gesekan tirai saat tertarik tangan Sans, Yudai akhirnya ikut membuka mata dan mengangkat kedua tangan, mengumpulkan energi ketika bangun tidur.
“Uh … sudah pagi.” Yudai menggosok matanya saat menapakkan kaki pada lantai.
Tidak perlu menghiraukan lebih lanjut tentang Yudai, Sans mengambil kantung di bawah meja. Kantung itu merupakan kantung yang telah ia dapat dari Nacht saat awal petualangan. Kantung itu masih berisi botol labu ramuan hijau yang belum terpakai sama sekali, tidak heran masih terdapat beban alih-alih kosong.
Daun ars dan benang laba-laba es juga berada di samping kiri tumpukan botol itu. Ia ingat bahwa kedua barang yang telah ia dapatkan itu merupakan dua dari tiga bahan untuk membuat gauntlet.
“Ramuan ini,” gumam Sans. “Mungkin kelak aku akan bisa membuatnya. Sebaiknya tidak kubawa dulu.”
Sans mengeluarkan botol ramuan hijau itu satu per satu dan meletakkannya pada kolong meja. Barang itu merupakan sebuah rahasia yang hanya ia, Yudai, dan Duke mengetahuinya. Lagipula, jarang sekali teman-teman yang lain mengunjungi kamar, apalagi memasukinya.
Pandangannya beralih kembali pada isi kantung itu. Satu hal lagi yang tertaruh di dalamnya, sebuah scroll yang berdiri di sebelah kanan dalam kantung. Begitu penasaran sejak kapan ia menaruh scroll itu di kantungnya.
“Yudai.”
“Eh?”
“A-anu—” Sans berubah pikiran.
Baginya, tidak mungkin Yudai memiliki sebuah scroll dan menaruhnya di kantung Sans. Menurutnya, mungkin Neu yang menyuruh Yudai untuk menitipkan scroll selagi ia tidak ada.
Sans bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ini sebuah kejutan dari Neu? Atau Yudai lupa memberitahuku?
“Oh, jaga baik-baik rahasianya,” Yudai menebak apa yang ingin Sans bicarakan, “jangan khawatir. Semuanya akan aman. Lagipula, ini demi masa depanmu, demi tujuanmu juga.”
Sans menghela napas mendengar Yudai salah menebak, mungkin pertama kalinya. Ia ingin sekali berbicara tentang scroll di dalam kantungnya. Pada akhirnya, ia mengurungkan niat itu.
Betapa repetitif topik yang ia ingin bicarakan bagi Sans. Tentu akan membosankan jika Yudai yang terus-menerus mendengar keluh-kesahnya. Masa depan sebagai murid bermantel putih dan alchemist, sebuah jalan yang ia ambil.
“Aku juga akan mengambil misi dari quest board sendirian selama kamu pergi, jadi bukan hanya kamu yang berkembang, tetapi aku juga.”
Sans sedikit menyeringai sambil mengambil surat izin dari atas meja. Sudah tertulis nama, asal kota, umur, tahun ajaran, dan alasan absen di kolom yang bersangkutan.
“Tapi jangan ambil misi kelas B, apalagi misi kelas A. Kita baru saja mengambilnya bersama Beatrice, Riri, dan Katherine.”
“Siap, Tuan Sans. Aku akan mengambil misi kelas C, demi keuangan kita.” Yudai melakukan hormat.
“Ah! Sebaiknya, aku pergi sekarang. Aku sudah bilang pada Profesor Duke kalau aku akan menunggunya di pantai sebelum berangkat.”
“Eh? Pa-pagi-pagi begini!”
“I-iya.” Sans bergegas membuka pintu. “A-aku akan segera kembali.”
“Hati-hati!”
Begitu menutup pintu kamar, Sans menutup mata sejenak, menghayati embusan oksigen tanpa suara keramaian sama sekali. Awal fajar masih berlangsung, pasti seluruh murid masih tertidur atau baru saja bangun di kamar masing-masing, maka tidak heran ketika menuruni tangga menuju lounge room, tidak ada siapapun.
Langkah selanjutnya, menaiki tangga untuk keluar dari gedung asrama, melangkah melewati selasar, dan menuju dermaga.
***
Yudai telah berdiri di hadapan sebuah pintu di selasar ruang pribadi profesor. Melihat Sans pergi untuk meraih langkah berikutnya untuk mencapai sebuah tujuan utama memicu untuk melakukan hal serupa. Ia merasa tidak enak hanya berdiam di kamar saat pagi hari, menunggu seluruh murid keluar untuk melakukan aktivitas masing-masing.
Hanya perlu sepuluh detik untuk menunggu pintu itu terbuka lebar. Dolce, seorang profesor yang ingin ia temui, tertegun menatapnya.
“Yu-Yudai? Ada apa pagi-pagi begini?”
“Maaf menganggu, Dolce.” Yudai menundukkan kepala. “Sebenarnya sudah lama aku ingin membicarakannya … setelah Anda menjelaskan phoenix bukan familiar. Jika Anda tidak keberatan, maukah Anda bercerita tentang ayahku lebih lanjut?”