
Tiga hari setelah peristiwa yang mencengangkan itu, Beatrice akhirnya dapat mengangkat kaki dari rumahnya yang besar dan bergelimangan kemegahan. Ia memutuskan hari itu adalah momen tepat untuk mengawali lembar baru setelah kejadian mengejutkan oleh ibunya. Masa lalu hanyalah masa lalu, tidak dapat terubah lagi, apalagi kenyataan bahwa ibunya sendiri mencoba untuk membunuhnya.
Baginya, bersama teman-temannya di akademi merupakan hal terpenting yang ia inginkan selama ini. Menjadi gadis bangsawan tidak cocok dengan dirinya, Earth sangat tidak cocok menjadi suaminya pula. Ia ingin mewujudkan mimpinya dengan caranya sendiri kelak, itupun setelah ia lulus dari akademi.
Kedua orangtuanya kini telah tiada, otomatis ia menjadi pewaris harta keluarganya. Sayangnya, ia tidak ingin kehidupannya bergelimang harta. Ia tidak ingin tinggal di rumah itu, justru, ia ingin kembali ke Akademi Lorelei demi meneruskan studinya sebagai song mage.
Beatrice tidak ingin terus bersedih seperti selama dua hari terakhir. Ia ingin melanjutkan hidup, ia ingin meresapi nasihat sang ayah semenjak meninggalkan rumah demi menggapai cita-citanya.
“Nona Muda Beatrice,” sapa Teruna menghampirinya, “saya mengerti mengapa kamu ingin kembali ke Akademi Lorelei secepatnya alih-alih tetap tinggal di sini sebagai pewaris keluarga.”
Beatrice menghela napas. “Aku selalu ingat nasihat ayahku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan seluruh usahanya agar aku dapat melarikan diri dari rumah.”
“Semuanya sudah menunggumu di gerbang depan kota.”
Beatrice ingin sekali memeluk Teruna, maka ia mengikat badan pelayan pribadinya itu menggunakan kedua lengan dan tangan. Pelukan yang sudah lama sekali ia rindukan ketika dirinya sedang dilanda masalah. Tidak sama seperti pelukan ayahnya, tapi ia dapat merasakannya.
“Terima kasih banyak, Teruna.”
Teruna menyapa saat Beatrice melepas pelukan, “Hati-hati di jalan, Beatrice.”
Beatrice hanya mengangguk dan berbalik pamit. Ia meninggalkan melewati jalan di kebun berbunga di halaman depan rumahnya menuju gerbang depan. Akhirnya, sekali lagi, ia mampu meninggalkan rumah, rumah yang selama ini ia anggap sebagai penjara.
Rasanya benar-benar canggung tanpa memakai topi putihnya, seperti saat pertama kali kabur dari rumah. Ia dapat kembali menikmati angin segar, melihat secara langsung awan putih, langit biru, dan sinar mentari siang hari. Sama persis saat ia menjadi murid Akademi Lorelei.
Ia juga mengingat saat dirinya sering bermain bersama Neu saat kecil, sering sekali ia melintasi kota dan pergi ke luar hanya untuk “bertualang”. Ia menghela napas merenungi andai saja Neu dapat ikut untuk menyelamatkannya.
Gerbang depan kota Beltopia sudah berada di depan mata, begitu pula dengan teman-temannya dan kelima royal guard yang mendampingi. Ia dapat melihat Yudai, Sierra, dan Katherine melambaikan tangan.
Mulut Beatrice terbuka lebar. Saking gembiranya, otaknya seakan meminta untuk berlari. Seakan embusan angin lembut menyebar masuk menuju tulang dan organ, sebuah euforia kembali memuncaki otak.
“Teman-teman!!” Beatrice menyapa penuh semangat.
“Beatrice!” sahut Sans, Yudai, dan Riri bersamaan.
“Akhirnya!” sahut Yudai. “Kamu kembali juga.”
“Syukurlah.” Giliran Sierra yang menghampirinya bersama Katherine. “Kamu baik-baik saja. Lihatlah dirimu, kamu semakin cantik saja.”
Tatro, salah satu royal guard pendamping, memperingatkan, “Sudah reuninya?”
Mereka sampai lupa ada lima royal guard yang mendampingi selama misi ke Beltopia. Ruka sampai membuang ludah begitu menatap Tatro dan Irons. Ia mengangguk setuju.
“Tidak ada waktu untuk dihambur-hamburkan, bukan?” terkanya. “Ya, kalian bisa kembali ke kastel kerajaan untuk kembali bertugas, sementara kami kembali ke akademi untuk belajar seperti biasa. Bisakah kita semua langsung jalan saja?”
“Anu,” ucap Beatrice, “kenapa kita tidak ke dermaga saja? Lebih baik naik kapal daripada harus jalan mengitari hutan menuju Silvarion.”
“Soal itu—” Tatro ingin menjawab.
“Kalian masih ingin protes lagi, ya?” sindir Irons tanpa ekspresi.
Semuanya menelan ludah, kecuali Tay dan Ruka. Sampai-sampai bulu kuduk mereka berdiri, saking tegang menatap Irons secara langsung.
Zerowolf akhirnya mematahkan ketegangannya. “Ah! Tidak masuk akal sekali! Kenapa tidak begini saja? Kita ke dermaga dekat kota ini, dan kita bisa santai selama empat hari! Empat hari! Lagipula kita akan meninggalkan benua Riswein melewati laut! Sama-sama melewati laut. Kenapa harus jalan segala? Kenapa harus sambil melawan monster?”
“Zerowolf!” tegas Riri panik.
“Kalian tahu—” Irons menjawab, “—kalian masih harus lebih banyak berlatih melawan monster, apalagi untuk mempersiapkan mengambil misi berkelas lebih tinggi.”
Lagi-lagi Zerowolf dan Tatro menahan napas, peluh mereka bercucuran lebih banyak dari biasanya ketika tegang.
“Kudengar kamu tidak sabar ingin mengambil misi kelas A, Zerowolf. Jadi kalian, murid-murid Akademi Lorelei, sebaiknya berlatih. Melawan banyak monster akan mempersiapkan kalian lebih banyak, sambil dalam perjalanan pulang.
“Tatro, dan teman-teman royal guard, kita juga harus membuktikan diri agar menjadi royal guard yang lebih hebat, lebih layak untuk melayani raja. Misi berbahaya seperti apapun pasti kita akan jalani nantinya.”
Lana mengomentari gaya berbicara Irons, “Kaku sekali.”
“Aku bahkan tidak akan sudi jika harus diketuai oleh dia,” tambah Sandee.
Beatrice bahkan menyambut gembira keputusan Irons, ia memulai menggenggam song sphere-nya. “Jangan mengeluh begitu. Ini akan benar-benar menyenangkan. Juga, sudah lama aku tidak membantu kalian dengan menyanyikan lagu untuk menambah kekuatan.”
Yudai ikut menyeringai. “Ah, begitu tidak ada Beatrice, rasanya ada yang kurang. Seperti saat menjalankan misi dan berlatih bersama. Kalau ada Neu—” Ia menundukkan kepala. “—Neu, pasti semuanya akan lengkap. Aku, Sans, Beatrice, Tay, Sierra, dan Neu. Kami selalu berlatih bersama, maksudku terkadang kita berlatih sendiri-sendiri, dan juga menjalankan misi jika kita semua ada waktu luang.”
Riri memukul punggung bagian atas Yudai. “Kalian merindukannya. Jangan khawatir, ada aku, Katherine, Zerowolf, Sandee, Lana, dan Ruka, dan juga lima royal guard yang hebat ini. Kita pasti akan tahu di mana Neu. Mungkin setelah kita pulang, Neu sudah kembali.”
Tatro menambah, “Kami tidak akan bersama kalian setelah ini. Kalian … telah membantu kami belajar banyak sebagai royal guard. Sebenarnya aku benci mengakuinya.”
Irons melangkah terlebih dahulu, memberi perintah sebagai pemimpin, “Apa yang kalian tunggu? Kita harus berangkat.”
Sambil masih mengobrol dengan satu sama lain, semuanya mulai menapakkan kaki dari perbatasan antara kota Beltopia dan hutan. Perjalanan pulang menuju ibu kota telah mereka mulai.
Melawan monster di dalam hutan selama perjalanan menjadi menu utama dalam latihan. Beatrice pun tidak lupa mulai menyanyikan lagu untuk menambah kekuatan dan pertahanan seluruh rekannya. Katherine dan Sierra begitu sigap membantu memulihkan jika ada yang terluka cukup parah akibat serangan monster.
Monster yang mereka hampiri memang seperti biasa, akan tetapi, monster ganas seperti serigala, beruang, dan pohon humanoid berukuran setara manusia juga menanti. Mengabaikan perbedaan status sebagai royal guard dan murid Akademi Lorelei, dengan perintah Irons dan Riri selaku ketua masing-masing, mereka dapat leluasa mematuhinya dan mengalahkan setiap monster. Sepanjang siang menyingsing jika perlu, sambil berjalan.
Tanpa terasa, berjalan sambil bertarung membuat mereka tanpa memandang waktu. Langit pun mulai gelap, pertanda matahari telah terbenam. Semua orang juga mulai terengah-engah dengan regime latihan. Begitu menemukan padang rumput membentang di depan mata, dengan kumpulan gunung sudah terlihat jauh di depan, mereka menghentikan langkah.
“Pegunungan Santavale,” ucap Tatro melihat pegunungan itu, “jalan utama menuju Silvarion.”
“Dari sini, indah sekali,” tambah Yudai.
Riri berbalik menatap semuanya. “Kita singgah di sini dulu. Seperti biasa, dua orang yang mengawasi secara bergantian setiap dua jam.”
Ruka menganggapi sinis, “Biasa? Kita bahkan tidak pernah ke luar kota bersama, apalagi menjalani misi berhari-hari.”
Beatrice justru menjawab, “Jadi ingat saat kita ke desa Salazar bersama Riri, Sans, Yudai, dan Katherine. Saat ada orang yang mengawasi jika ada bahaya.”
“Aku sudah membelinya! Tada!!” Lana mengeluarkan sebuah tenda terlipat berukuran besar, bersama dengan tali dan kayu. “Dengan begini kita bisa berkemah!”
Semuanya melongo Lana telah mempersiapkan segalanya untuk momen ini. Angin lambat nan lembut justru seperti menembus telinga, beserta sedikit suara jangkrik menggema pada malam hari.
Zerowolf lah yang sampai membuka mulut lebar, berpikir bagaimana bisa Lana mendapat barang itu. Ia juga menyimpulkan Lana memang sudah tahu rencana Irons sebelum meninggalkan Beltopia.
“Dugaan kalian benar. Tatro menemuiku untuk membeli ini, meski hampir menghabiskan uangku sebenarnya. Awalnya aku keberatan setelah mendengar dari Tatro, tapi mungkin ini saatnya kita menghabiskan waktu bersama.”
Tanggapan Lana justru tidak meyakinkan. Menghabiskan waktu bersama bisa saja dilakukan saat perjalanan di kapal juga.
Sandee berdehem. “Baiklah. Aku yang berjaga duluan. Semenjak aku juga murid royal guard. Otomatis, aku harus berlatih berjaga jika ingin melayani kerajaan, terutama dalam perjalanan berhari-hari.”
Zerowolf menyindir, “Sungguh? Kukira kamu ingin mengesankan kelima royal guard yang bersama kita semua.”
Sandee justru menekankan intonasinya dalam membantah, “Aku tidak ingin mengesankan mereka! Aku hanya ingin membuktikan aku bisa menjadi royal guard meski aku ini perempuan!”
“Terdengar seperti mengesankan mereka bagiku.”
“Mulutmu ya! Seandainya aku bisa sumpal mulutmu dengan sampah, biar kamu tidak sembarangan berbicara lagi!”
“Coba saja. Paling tidak akan memicuku untuk bicara lebih banyak.”
“UHH!!” jerit Sandee berpaling dari Zerowolf dan yang lain. Amarahnya hampir memuncak, maka ia harus menjaga jarak.
Giliran Riri yang memberi perintah, “Ayo, kita dirikan tendanya! Tentu saja kalian tidak ingin tidur di atas rumput!”
Selagi semuanya mulai bergegas mempersiapkan tenda, mengambil kayu dan tali untuk membentuk fondasinya, Tay membuang muka dan mengasingkan diri dari kelompok, berbalik dan mengangkat kaki dari rerumputan. Begitu menatap pepohonan cukup dekat, ia melewatinya.
Sierra memperhatikan Tay mengasingkan diri begitu kehebohan seluruh teman-temannya meledak saat mulai membangun tenda mulai dari fondasi, memukul kayu hingga masuk ke tanah cukup dalam dan mengikat menggunakan tali serta menghubungkannya ke tenda. Tidak ingin menyaksikannya, ia melirik Sierra terlebih dahulu meninggalkan situasi itu.
***
Tay menghela napas saat menghentikan langkah. Hanya ada rombongan pohon berbaris mengellilingi, angin lembut, dan bintang bersinar membentuk rasi di langit, ketiga hal itu memicu pikirannya lebih kosong.
“Tay,” dari belakangnya, Sierra memanggil.
“Oh. Ternyata kamu.” Tay berbalik.
“Aku sudah mendengarnya. Kamu—”
“Tolong. Lebih baik tidak usah berbicara soal itu.”
“Kamu menyangkalnya, masih menyangkalnya. Kamu melakukan hal yang benar. Kamu sudah melindungi Beatrice dengan membunuh ibunya. Jujur, aku tidak tega mendengar ibunya sendiri mencoba untuk membunuhnya, setelah semua ini.”
“Bukan urusanmu.” Tay kembali membuang muka.
“Tidak apa-apa. Kalau kamu ingin membicarakannya, silakan saja. Aku tahu situasi ini juga menambah ketegangan pada dirimu. Neu tiba-tiba menghilang, lalu kamu terpaksa membunuh ibunya Beatrice. Itu adalah keputusan yang tidak mudah untuk dibuat. Rasa bersalah menggerogotimu, aku tahu bagaimana rasanya.”
Tay memalingkan wajah. “Kamu tahu aku seperti apa orangnya.” Kaki kanannya mulai menggesekkan tanah di bawah. “Aku bahkan lebih tidak tahan saat aku harus bertengkar dengan Neu setiap hari. Mau itu saat misi, saat makan siang, atau saat di kamar sekalipun. Melihat Neu tidak ada memang membuatku lega, tapi—” Tay sadar ia telah berbicara terlalu banyak. “Lupakan saja.”
“Tidak apa-apa. Aku tahu kamu merindukannya.”
“Tidak. Aku tidak merindukannya. Aku bisa lebih tenang saat tidur sendiri di kamar.” Tay menjawab masih memalingkan wajahnya.
“Tapi kamu merasa ada yang kurang, kan? Benar-benar kurang. Ekspresimu tidak bisa berbohong.” Sierra menyaksikan tangan Tay yang terus bergerak ketika berbicara. “Memang, kamu terbiasa untuk beradu mulut dengan teman sekamarmu, Neu. Kamu merindukan setiap momennya untuk bertengkar, sepakat untuk tidak sepakat. Hanya saja, kamu tidak tahu bagaimana cara menghadapinya saat teman sekamarmu tiba-tiba tidak ada.”
Tay menghela napas, mematahkan sifat garangnya untuk pertama kali di depan seseorang. Ia masih saja tidak percaya mampu melakukannya, mematahkan kesinisan dirinya semenjak pertama kali masuk ke Akademi Lorelei.
“Ya. Kau benar.” Tay menundukkan kepalanya. “Aku tidak ingin mengakuinya, sungguh. Aku sendiri juga tidak percaya. Aku … merasa … kehilangan si Mata Empat. Entah kenapa, setiap kali aku tidur sendiri di kamar, ada sesuatu yang kurang. Tidak ada lagi adu mulut, tidak ada lagi kehadirannya, dan tidak ada … si Mata Empat di samping kita saat makan siang bersama seperti biasa, juga si Topi Putih sekarang sudah kembali, mungkin dia akan mengisi salah satu dari kekosongan kita.”
“Jadi sekarang kita tidak tahu di mana Neu sekarang. Tidak seperti saat Hunt bilang pada kita Beatrice kembali ke Beltopia, tapi topinya tertinggal, ada yang salah. Kalau Neu, kita masih tidak tahu.”
“Ya. Mungkin … aku harus sendiri dulu untuk sementara, tidur sendiri di kamar, dan menjalani misi sendirian. Jika perlu, aku akan ikut kalian berlatih seperti biasa. Si Mantel Putih benar-benar berkembang di luar dugaan menurutku, dia hampir bisa menandingi Irons saat perjalanan menuju Beltopia.”
“Kamu seperti Neu saja.”
“Tidak,” Tay membantah, tidak ingin dibandingkan, “tidak seperti itu.”
“Kalau saja Neu tidak diculik, kita pasti bisa kembali seperti biasa saat pulang nanti.”
“Ya, paling tidak aku bisa beradu mulut lagi—”
Tay menghentikan ucapannya. Ia memutar kembali kalimat terakhir Sierra di benaknya. Diculik. Sesuatu yang janggal hingga membuatnya melebarkan mata.
“Bagaimana kamu tahu dia diculik?”
Sierra langsung menghela napas, menyadari bahwa ia keceplosan kata, sebuah kata yang seharusnya ia tidak ucapkan. Ia mundur satu langkah dan tangannya mulai sedikit gemetar.
“Padahal kita masih tidak tahu mengapa si Mata Empat menghilang begitu saja setelah bootcamp berakhir. Lalu … sekarang kamu bilang dia diculik.”
“Ti-tidak, aku hanya … berpikir kalau Neu diculik,” Sierra mengelak.
“Kita memang tahu waktu itu setelah bootcamp berakhir, si Topi Putih disuruh pulang di Beltopia. Tapi … si Mata Empat, tidak ada informasi apapun mengapa dia tiba-tiba menghilang. Kamu tentu tahu sesuatu, Sierra.”
Sierra menggeretakkan giginya, apalagi setelah mendengar kalimat yang sama sekali ia dengar di hadapannya.
Tay melontarkan kalimat itu, “Ja-jangan-jangan … ka-ka-kamu … mata-mata Royal Table?”