Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 179



Seluruh murid tahun pertama kembali berkumpul. Tidak seperti biasanya, jika sebelumnya sering sekali mereka berkumpul di aula demi sebuah pengumuman, kali ini lokasinya di ruang latihan bertarung, lokasi ujian akhir semester pertama mereka.


Berminggu-minggu seluruh murid lelah menghadapi masalah di akademi, apalagi masalah Royal Table yang belum kunjung usai, kini saatnya menghadapi sebuah penentuan nasib mereka di akademi.


Hunt, sebagai perwakilan pihak profesor untuk murid tahun pertama, telah berdiri di hadapan mereka. Ia mengamati setiap murid yang telah mengantisipasi pengumumannya sampai-sampai terdapat keributan cukup kecil di antara mereka.


Hunt mematahkan setiap keributan itu. “Sebelumnya, saya ucapkan selamat pada kalian semua. Kalian sudah sampai sejauh ini. Tidak terasa, sudah hampir satu tahun kalian menapakkan kaki di akademi ini sebagai calon petualang.”


Semuanya menjadi hening saat Hunt membuka suara. Pengumuman ujian yang menentukan nasib mereka membuat merinding. Apalagi tidak ada satupun dari kalangan murid tingkat atas yang memberitahu seperti apa formatnya, sama seperti sebelum aptitude test. Memang, setiap ujian harus dirahasiakan, sudah menjadi aturan tidak tertulis. Mereka juga wajib merahasiakan dari murid tingkat bawah pada masa depan, itupun jika mereka dapat lulus.


“Seperti yang kalian tahu. Kita sudah dilanda masalah besar. Penyelidikan terhadap organisasi Royal Table memang belum selesai. Apalagi kerajaan juga masih dalam ancaman besar mereka. Benar-benar melelahkan, saya tahu.


“Tapi … kalian tetap akan menjalankan ujian akhir semester, sebelum kalian berhak naik tingkat,” Hunt mengumumkan ujian akhir tersebut, “tugas kalian sangat sederhana. Setelah kalian lama berlatih dalam bootcamp di Vaniar atau di Silvarion, berlomba-lomba selama Festival Melzronta, dan berjuang selama semester sebelumnya, seharusnya kalian bisa melakukan tugas sederhana ini.


“Benar. Kalian harus membuat skill original kalian sendiri.”


Mendengar kalimat terakhir dari Hunt, semuanya langsung terngiang-ngiang dalam memikirkan skill original. Banyak dari mereka yang langsung tidak terpikir bagaimana caranya membuat skill original sendiri, sudah pusing duluan saat memikirkannya.


“Skill—” ucap Zerowolf ikut kaget.


“—original?” lanjut Yudai.


Hunt menjelaskan kriteria dari ujian tersebut, “Kalian harus membuat skill original kalian sendiri yang mewakili ciri khas masing-masing dari kalian, juga harus unik dan berguna. Itu yang kami cari sebagai penguji. Waktu kalian hanya tiga hari dari sekarang, dari memikirkan, membuat, hingga mempraktikkan. Lalu … kalian akan menampilkan skill original kalian sendiri di hadapan kami, para profesor. Maka, kalian harus buat skill original yang menakjubkan dan pantas. “


Riri mengulang penjelasan Hunt, “Begitu rupanya. Kita harus menggunakan pengalaman masing-masing untuk membuat skill kita sendiri, skill original, yang hanya kita dapat menggunakannya.”


“Dan juga dapat mewariskannya pada murid-murid kalau ada,” lanjut Neu.


Tay mendengus angkuh. “Itu sih sederhana. Seorang swordsman hanya tinggal menggerakkan pedang, lalu menamakannya skill. Mudah.”


“Dasar, saat begini, kamu malah meremehkannya,” tanggap Neu sinis.


Hunt melanjutkan, “Patut diingat—” pengumuman yang tidak ingin semua orang dengar, terutama murid bermantel putih seperti Sans, dan juga murid-murid dengan nilai rendah semenjak semester sebelumnya, “—presentase nilai ujian akhir semester ini sangat besar dalam perhitungan nilai total semester kedua, begitu juga dengan nilai bootcamp. Jadi yang merasa nilai selama bootcamp-nya tidak maksimal, harap berusaha dengan giat untuk membuat skill original.


“Karena … pada akhir semester ini, seperti yang kalian tahu, siapapun yang mendapat nilai total semester pertama dan kedua di bawah standar, mereka akan langsung dikeluarkan dari akademi ini, tanpa kecuali. Jadi saya harap kalian bekerja keras mulai dari sekarang. Kalian bisa mencari inspirasi di perpustakaan, bertanya pada senior kalian, dan mulai berlatih di luar akademi. Dalam tiga hari mendatang, kalian akan kembali ke sini dan menunjukkan skill original kalian. Sekian. Bubar.”


Selesai mendengar pengumuman tersebut, tidak sedikit yang langsung tertekan ketika mengulang-ulang kembali pengumuman tersebut di otaknya. Banyak dari mereka langsung pusing, tidak terpikir skill apakah yang akan mereka buat dan tunjukkan pada pihak profesor untuk dinilai. Tugas untuk membuat skill original sendiri memang tidak main-main, menunjukkan Akademi Lorelei memiliki standar tinggi bagi murid-muridnya.


Apalagi murid-murid tersebut merupakan nilai-nilainya selama semester dua terbilang biasa saja, termasuk bootcamp. Mereka mendesah tidak tahu ingin melakukan apa.


Sama halnya yang bahkan sudah memiliki nilai tinggi selama bootcamp, terutama Sans dan teman-temannya.


Seperti biasa, hampir seluruh murid memandang murid-murid bermantel putih dan tanpa job sama sekali. Kebanyakan dari mereka menganggap ujian akhir semester tersebut merupakan serangan terakhir bagi murid-murid bermantel putih. Lantas, sering sekali murid tanpa job gagal lalu dikeluarkan.


Tapi … mereka justru lebih memperhatikan Sans. Dirinya telah menjadi buah bibir karena telah menjadi alchemist dan tidak dikeluarkan. Seperti menajamkan mata pedang dan ingin menusuknya dari belakang, tatapan mereka menyipit mengintimidasi. Sudah bermantel putih, melanggar aturan karena menjadi alchemist, justru selamat dari hukuman. Mereka ingin Sans keluar dari akademi untuk selamanya, berharap agar dia tidak dapat menciptakan skill original atau mendapat pengurangan nilai karena memamerkan kemampuannya sebagai alchemist.


Yudai dan Beatrice merasakan hawa tajam dari beberapa murid yang menatap tajam Sans. Ingin sekali memperingatkan Sans untuk berhati-hati atau mengabaikan, apalagi setelah mulai melangkah menuju pintu keluar ruangan.


***


Saat jam makan siang berlangsung, Sans dan teman-temannya memutuskan untuk singgah di kantin. Ayam dan kentang bakar beserta sayuran berlumuran madu menjadi menu makan siang tersebut.


Sambil bersantap dan menikmati gurihnya ayam dan kentang bakar beserta manis dan lembutnya sayuran, mereka juga tetap merenungkan pengumuman Hunt tentang tugas ujian akhir semester, skill original.


“Apa ya? Skill original. Aku tidak terpikir sama sekali skill baru yang ingin kubuat.” Zerowolf menjadi orang pertama yang berbicara.


“A-a-aku juga,” Katherine menyetujui, meski ragu dalam berkata, “habisnya … banyak sekali mantra untuk priest yang sudah menyembuhkan, termasuk menawarkan racun dan lain-lain. A-aku ragu ingin membuat mantra seperti apa.”


Sans akhirnya berbicara. “Sebenarnya, aku juga bingung apa yang akan kulakukan saat ujian akhir semester.” Ia menaruh garpu dan pisaunya pada piring yang masih bersisa potongan ayam dan kentang. “Pada saat yang sama, semuanya … semuanya … masih mengharapkan aku dikeluarkan setelah ini. Entahlah, mungkin menunjukkan skill original sebagai seorang alchemist bukan ide yang bagus.”


“Whoa, Sans. Neu belum—” Yudai langsung panik saat mengatakan kata alchemist.


“Tidak apa-apa. Aku sudah tahu,” ucap Neu.


“Sejak kapan?” giliran Zerowolf bertanya.


Informasi. Semuanya melongo kebingungan apa maksudnya.


“Informasi? Kamu tidak pernah menceritakannya,” jawab Beatrice.


Neu bangkit dari tempat duduknya dan menepuk meja menggunakan kedua tangan, sampai piringnya sedikit bergetar. Ia melirik semua temannya yang sedang duduk bersamanya.


“Royal Table … mereka terobsesi dengan alchemist.”


Semuanya terdiam, seperti petir menyambar. Ibaratnya petir itu mereka anggap sebagai sebuah informasi mengejutkan tentang Royal Table dan kaitannya dengan alchemist. Padahal sebelumnya, pihak akademi mengakui alchemist dan Royal Table tidak ada kaitannya.


Apalagi Sans, mendengar Arsius, kepala akademi yang menyelamatkannya dari hukuman, juga mengatakan belum ada bukti apapun yang mempererat kedua topik itu. Asumsi Alexandria selama ini benar? Itu pikirnya.


Neu kembali duduk. “Sebelum Sierra menemuiku, aku menemukan setidaknya empat buah batu akik. Salah satunya … bagaimana cara menceritakannya.”


Tay lagi-lagi mendengus. Rasa gurih dan manis dari makanannya sama sekali tidak terasa saat mendengar cerita Neu. Belum lagi ia harus membuat skill original sendiri.


“Batu akik itu menunjukkan masa lalu. Aku seakan-akan ditarik ke dalam peristiwa itu sebagai saksi. Seorang alchemist … dibakar hidup-hidup.”


Terpicu! Batu akik yang menunjukkan masa lalu. Seorang alchemist yang dibakar hidup-hidup oleh massa. Dua hal itu mengingatkan kembali Sans, Yudai, Beatrice, Riri, dan Katherine. Terakhir kali mereka melihat batu akik yang bisa memutar sebuah masa lalu saat dicuri oleh “hantu” palsu.


“Jadi itu!” Yudai menyimpulkan. “Itu memory shard yang waktu itu! Waktu misi di penginapan mewah setelah Festival Melzronta!”


Tay, Neu, dan Ruka sama sekali tidak mengerti apa yang Yudai bicarakan. Padahal mereka tidak melakukan misi apapun sama sekali begitu festival Melzronta berakhir. Sedangkan Zerowolf sedikit memahami, semenjak ia pernah diberitahu Riri tentang itu.


“Benar. Jadi hantu itu palsu. Hantu yang muncul setelah kita mengalahkannya.” Riri menepukkan pisaunya pada piring setelah menyelesaikan makan siangnya. “Jadi dia … dia itu dari Royal Table! Memang benar dari saat kamu menceritakan memory shard itu, Neu, dia bukan hantu.”


Ruka mengangkat tangannya yang masih memegang pisau. “Oi, ini bukan waktunya membicarakan hal itu, kan?” Ruka menunjuk Sans menggunakan pisau. “Ini masalah—”


“Whoa, whoa, whoa—” Riri yang duduk di sampingnya menurunkan tangan Ruka.


Selama yang lainnya berbicara tentang Royal Table dan alchemist, Sans kembali termenung menatap makanannya, memainkan setiap elemen hidangan menggunakan pisau dan garpu. Melamun, masalah semakin banyak.


“Ah, jadi itu,” Ruka membalas sinis, “kalau aku jadi kamu, aku akan membalas tatapan mereka, lalu kubunuh saja sekalian.”


“Terima kasih, Ruka. Tapi … aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sebagai murid tanpa job, aku tidak terpikir untuk membuat skill sama sekali. Tapi … aku harus membuat skill sebagai alchemist, risikonya … profesor yang menilai justru tidak akan mau mengakuinya dan tidak meloloskanku.”


“Itu tidak benar!” Beatrice mematahkan pesimisme Sans. “Mereka pasti ingin melihat bagaimana kemajuanmu! Meski kamu ini alchemist, ya, di balik perkembanganmu, pasti mereka ingin melihat bagaimana kamu berjuang susah payah!”


Yudai sepakat. “Benar. Aku saja masih belum tahu ingin membuat skill apa nanti.”


Neu lagi-lagi mengangkat tangan, berbicara kembali. “Omong-omong, kalau mage seperti aku dan juga priest seperti Katherine, aku pernah baca, untuk membuat mantra, mereka harus memahami dulu bahasa Conlang. Bahasa khusus penyihir pada zaman dulu. Penyihir pada zaman dulu, jauh sebelum kerajaan-kerajaan berdiri—”


“Mulai lagi,” Tay melantur bosan dan membuang muka.


“—mereka selalu berbicara bahasa Conlang. Kalau mereka ingin membuat mantra, mereka harus menggunakan bahasa Conlang. Tapi juga mereka harus mengeluarkan mana dan membayangkan seperti apa bentuk sihirnya.”


Yudai menebak, “Oh! Kalau Beatrice, karena dia song mage, dia bernyanyi pakai bahasa kita. Berarti song mage itu jauh setelah ketiga kerajaan itu didirikan adanya? Benar?”


Neu mengangguk. Yudai pun girang sampai mengangkat tangan ke atas, jawabannya tepat. Zerowolf justru merasa terganggu dengan perilaku Yudai seperti itu, bangga hanya karena menebak dan berasumsi.


“Berarti aku harus menulis lagu,” ucap Beatrice, “tapi lagunya bukan sekadar lagu, mantra juga. Harus kupikirkan lagunya untuk apa demi membantu kalian, seperti Katherine membacakan mantra dan menggunakan sihirnya.”


“Dan … untuk yang lainnya—” Neu menepuk tangannya sekali. “—terutama yang ber-job tingkat fisik. Kalian harus mencari tahu bagaimana membuat skill original kalian, karena aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Jadi … kita harus bisa lulus bersama-sama!”


“Baik!” sahut semuanya mengangkat kepalan tangan masing-masing.


Zerowolf menoleh ke kirinya, ia menyeringai begitu memandang ada dua orang telah “mengawasi” dalam diam. Hanya berdiri seperti patung dan masih memegang masing-masing satu tray makan siang.


Ia langsung mengenali dua orang tersebut. “Oi! Kalian merindukanku?” Secara sarkas, Zerowolf menggoda. “Terutama Sandee.”


Sandee langsung tersinggung dan menjerit, “Siapa juga yang rindu dirimu!” Ia membuang muka. “Ayo, Lana. Kita cari tempat lain saja.”