
“Me-menikah?” Itulah reaksi Beatrice ketika mendengar pengumuman dadakan tersebut.
Beatrice benar-benar tidak menyangka bahwa kedua orangtuanya telah memilih seorang laki-laki untuk dijadikan jodoh dan pendamping seumur hidup kelak. Satu-satunya kabar buruk adalah dia sama sekali tidak terlibat..
“Iya, Sayang.” Sang ibu membelai rambut brunette panjang Beatrice. “Sebentar lagi kamu berusia 18 tahun. Tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda agar kamu cepat menikah dan mulai berkeluarga. Ini sudah sesuai tradisi kelas kita juga.”
Bagi Beatrice, komentar ibunya telah menjadi pedang bermata dua bagi dirinya. Tidak berhak untuk mengemukakan pendapat apalagi membantah. Hal yang sama juga terjadi ketika dia mulai dilarang untuk bertemu Neu dan teman laki-laki lainnya.
Tanpa memperkenalkan diri secara perlahan dengan lelaki di hadapannya, Earth, Beatrice merasa pernikahan dalam satu tahun mendatang terlalu cepat untuk ditentukan. Terlebih, Beatrice sama sekali tidak mengenal Earth sebelumnya.
“Sayang.” Sang ibu memperhatikan raut wajah muram Beatrice. “Ini demi kebaikanmu sebagai perempuan bangsawan. Selama dia sedang liburan dari akademi, kamu bisa mengenalnya lebih jauh dan mulai berdekatan sebagai sepasang kekasih.”
Earth mengusap rambut depannya. “Aku akan senang jika menikahimu, Beatrice. Aku menyukaimu. Kamu bagai seorang dewi pembawa keberuntungan bagiku.”
Beatrice hanya terdiam, tidak ingin membalas rayuan Earth, apalagi di hadapan kedua orangtuanya. Hal yang dia pikirkan hanyalah impian yang telah lama terpecah belah akibat larangan sang ibu.
Ayah Beatrice menginterupsi, “Sepertinya Beatrice masih terkejut dengan kabar ini.”
“Sayang!” Ibu Beatrice merespons dingin.
“Beatrice masih butuh waktu. Kita akan tahu kalau dia siap untuk menerima Earth sebagai calon suaminya. Untuk sekarang, sebaiknya kita biarkan Beatrice mempertimbangkannya.”
“Kalau mempertimbangkan, nanti pernikahan ini bisa jadi batal! Apalagi ini sudah sesuai tradisi! Perjodohan antara dua orang kelas bangsawan seperti kita. Nanti kalau Beatrice menikah dengan orang yang tidak seperti kita, mau apa?”
Ayah Earth memotong, “Baik, saya rasa kami sebaiknya pergi dulu. Mungkin lain kali, kita akan bertemu kembali agar keduanya dapat saling mengenal.”
Ibu Beatrice merespons, “Oh. Baik kalau begitu. Terima kasih sudah mengizinkan anak Anda untuk menjadi calon suami anak saya.”
Earth bangkit dari tempat duduk bersama dengan kedua orangtuanya. “Terima kasih banyak telah mengizinkan untuk mempertemukan calon istri saya. Kami permisi dulu.”
“Permisi,” kedua orangtua Earth juga turut pamit sebelum berbalik menuju pintu keluar rumah Beatrice.
Begitu Earth dan kedua orangtuanya telah meninggalkan rumah, sang ibu menoleh pada Beatrice. Raut wajahnya mulai mengerut, tidak sabar terhadap perlakuan Beatrice terhadap Earth.
Sang ibu menyahut bernada tidak sabar, “Kamu ini kan, anak perempuan bangsawan. Sebentar lagi kamu berumur 18 tahun, mau tidak mau kamu harus berlagak seperti perempuan sesuai dengan apa yang diharapkan dari kelas bangsawan.”
“Bu.” Sang ayah mencoba melerai.
Beatrice bangkit dari tempat duduk dan berbalik menghadap kedua orangtuanya. “Memang kalau aku berumur 18 tahun, aku masih harus diatur seperti anak-anak? Seperti dulu? Katanya kalau sudah 18 tahun berarti anak itu sudah dewasa.”
“Maksud Ibu, kamu baru akan menjadi dewasa setelah menjadi seorang istri. Ibu tahu kamu belum dapat menerima ini, Ibu mengerti. Ibu dulu sama sepertimu, belum bisa menerima keadaan seperti ini. Namun, mau bagaimana lagi? Kita adalah kelas bangsawan, Nak, ada standar yang telah ditentukan untuk bersikap, terutama perempuan sepertimu.
“Rumah ini telah dibangun dengan susah payah. Uang juga kita telah cari dengan susah payah. Untuk mencapai kelas bangsawan juga butuh perjuangan keras, apalagi mengingat perjuangan generasi-generasi sebelumnya, terutama buyutmu. Apalagi kamu satu-satunya anak keluarga ini, satu-satunya harapan untuk meneruskan masa depan kita agar tetap mempertahankan keadaan ini sebagai kelas bangsawan.
“Ibu tidak ingin kamu berubah dalam sekejap dari kelas bangsawan menjadi kelas di bawahnya, apalagi kelas orang miskin. Kamu mau sia-siakan perjuangan buyutmu demi menjadi seperti mereka? Kami hanya punya kamu sebagai generasi penerus keluarga ini.”
Bukan pertama kali bagi Beatrice mendengar deretan kalimat tersebut dari sang ibu. Semenjak dia dilarang keluar dari rumah kecuali menggunakan pengawasan pelayan, sudah bosan untuk mendengar nasihat seperti itu.
Sang Ibu berdiri dari duduknya. “Kami yang membesarkanmu dari kecil hingga sekarang, Beatrice. Kami juga bersusah payah bekerja demi kamu. Hanya kami, orangtuamu, yang tahu yang terbaik buat kamu. Ayah tahu yang mana yang terbaik buat kamu. Ibu juga tahu yang terbaik buat kamu.”
“Ibu.”
Sang Ibu tidak membiarkan Beatrice membalas, “Kamu tidak perlu membantah, Nak. Mau tidak mau, kamu harus mengikuti tradisi. Begitu Earth kembali belajar di Akademi Lorelei, kami akan mengajarimu tata cara berperilaku layaknya perempuan bangsawan. Ini semua demi kebaikanmu, demi kebaikan keluarga kita.”
Tanpa perlu membantah lagi, Beatrice beranjak dari ruang tamu menuju kamarnya. Kedua orangtuanya hanya terdiam, tanpa harus memanggil Beatrice untuk mendengar nasihat lagi.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” sang ayah berpendapat.
“Sayang,” sang ibu membantah, “masa depan keluarga kita ada di tangan Beatrice. Sekali salah langkah, rusak sudah keluarga kita. Kamu tahu Beatrice sudah sering bersama teman laki-laki yang berbeda kelas daripada kita sejak kecil. Kalau begitu terus, mau jadi apa Beatrice? Mau jadi kelas seperti mereka? Tidak, aku tidak ingin keluarga kita rusak hanya karena itu.”
“Tapi kan—”
“Apa? Sekarang kamu lebih membela keputusan anakmu? Anakmu yang hampir tercemar oleh teman sebayanya waktu kecil? Saya harapkan yang lebih baik darimu, Sayang. Seharusnya kamu tahu apa yang terbaik buat Beatrice, yaitu ini, berperilaku seperti perempuan bangsawan. Dia akan segera menjadi dewasa. Dia harus menikah. Dia harus dijodohkan. Earth merupakan pendamping hidup yang tepat baginya, sesama kelas bangsawan.”
Sang ayah tidak dapat berkata-kata lagi setelah mendengar “nasihat” sang ibu yang panjang dan bertele-tele, entah tidak memahami inti pembicaraan atau lelah dengan pengambilalihan kuasa oleh seorang perempuan. Memang benar, orangtua berhak berkuasa terhadap sang anak, demi masa depan keluarga.
Seorang istri mengambil alih kuasa terlalu banyak, itu sudah menjadi masalah, apalagi ketika sudah disuruh tutup mulut. Seorang suami tidak menyangka bahwa sang istri terlalu banyak mengambil alih kuasa akan keluarga hanya karena kekhawatiran terhadap sang anak.
***
Masalah bagi keluarga Beatrice dalam perjodohan dengan Earth cukup banyak. Salah satunya, Beatrice tidak ingin mencintai Earth setulus hatinya. Bagi Beatrice, perjodohan tersebut terasa dipaksakan tanpa persetujuan kedua belah pihak terlebih dahulu.
Perilaku Earth yang telah menunjukkan rasa suka terhadap Beatrice juga lebih dari menjengkelkan. Laki-laki berambut hitam kecokelatan panjang itu dengan berani merayu menggunakan kata-kata indah berpadu pada kalimat dan puisi, mau itu di dalam rumah, atau di depan umum seperti di pusat kota dan taman.
Beatrice tetap cemberut bukan hanya dirinya harus rela mendengar rayuan basi dari Earth, tetapi juga berada dalam pengawasan pelayan keluarganya sendiri, terutama jika itu Oya. Perempuan berambut brunette itu terpaksa berpura-pura memuji perkataannya dan merayu kembali.
Meski rasa suka Earth telah berkembang dari pucuk hingga berbunga-bunga, rasa suka Beatrice masih dapat dikatakan nol, nol besar. Usaha besar Earth untuk mengesankan dirinya tidak meyakinkan untuk dapat mengembangkan rasa suka.
Begitu Earth telah kembali ke Akademi Lorelei untuk kembali belajar, proses pencucian otak, itu yang dapat dianggap oleh Beatrice, sudah dimulai. Pembelajaran agar dapat berperilaku sebagai perempuan bangsawan mulai ditetapkan.
Sudah menjadi tradisi khusus perempuan bangsawan, itu katanya. Sebagai contoh, menenun dapat menjadi hal yang lazim dilakukan oleh perempuan bangsawan. Beatrice tidak sepenuh hati mengikuti pengajaran tentang menenun, kerap sekali kesulitan melakukan hal pertama dan dasar, yaitu memasukkan sehelai benang ke dalam lubang jarum.
Jika berhasil memasukkan sehelai benang ke dalam lubang jarum, Beatrice membuat jahitan asal jadi demi menunjukkan bahwa dia tidak bahagia mengikuti “kelas” khusus perempuan bangsawan.
Contoh lainnya adalah table manner, yaitu pengajaran bagaimana perempuan bersikap di hadapan meja, terutama saat acara makan. Cara makan mulai dari memegang peralatan makan hingga memilih ukurannya sesuai dengan tahapan dan makanan yang disajikan diterapkan. Beatrice dengan setengah hati melakukannya sesuai dengan pengajaran.
Beatrice juga mendengar bahwa perempuan bangsawan seperti dirinya lazim untuk tinggal di rumah daripada pergi keluar seperti laki-laki. Bahkan, jika mereka keluar, mengobrol dengan sesama perempuan bangsawan hanya satu-satunya pilihan, apalagi jika berkunjung ke rumah orang lain.
Sang ibu kerap menemukan Beatrice selalu melakukan kesalahan dalam setiap pembelajaran, entah disengaja atau tidak. Hingga pada suatu saat, toleransinya sudah memuncak hingga mendidih.
Sang ibu tahu. Beatrice harus diberi alarm agar tersadar dari perasaan pribadinya.
***
“Katakan, kenapa kamu tidak becus?”
Konfrontasi antara ibu dan anak perempuan tengah terjadi di ruang tamu. Sang ibu mencoba untuk membangunkan Beatrice dari segala keluh kesah di dalam hatinya, terlihat dari tidak becus selama mengikuti kegiatan khusus perempuan bangsawan. Keduanya hanya berdiri di hadapan pintu menuju selasar.
Beatrice hanya terdiam, tidak ingin menatap sang ibu. Sebenarnya perempuan berambut brunette itu ingin menjawab, tetapi dia tahu apa yang akan dia dapatkan.
Semakin dipikirkan kembali beberapa teman laki-laki sejak kecil, terutama Neu. Dia hanya ingin melakukan segala hal yang dulu sering dilakukan, bukan berperilaku sebagai layaknya perempuan bangsawan.
“Jujur saja, Ibu tidak mengerti. Kamu masih tidak ingin melakukan hal-hal itu? Yang lazim dilakukan oleh perempuan bangsawan? Itu demi kebaikan kamu. Hanya tinggal menghitung beberapa bulan kamu sudah harus menjadi istri yang baik. Ibu sudah susah payah menjodohkan dengan laki-laki baik seperti Earth.”
Beatrice tetap memalingkan wajah dari hadapan ibunya. Dia sudah lelah dengan semua “nasihat” dan “pembelajaran” tersebut. Satu-satunya yang diharapkan adalah mengakhiri konfrontasi tersebut dan segera masuk ke kamar.
“Apa kamu masih terpikir akan masa lalumu? Kamu kesepian?”
Beatrice masih saja bungkam.
“Beatrice sayang. Ibu tahu kamu tidak menginginkan semua ini. Ibu pernah merasakan hal seperti itu.”
Lagi-lagi, kalimat itu terlontar dari sang ibu. Bosan meluncur menuju telinga Beatrice.
“Lama kelamaan, kamu akan menginginkan semua ini. Menjadi perempuan bangsawan, menjadi kebanggaan Ibu, mempertahankan semua ini.”
Beatrice akhirnya terlepas dari kebungkaman. “Lalu kalau aku tidak menginginkan hal ini, bagaimana?”
Terpicu! Kalimat pertama dari Beatrice selepas dari bungkap langsung menaikkan derajat didihan hati sang ibu. Sang ibu menggeretakkan gigi membiarkan amarah menguasai diri.
“Apa kamu bilang?” Sang ibu ingin memastikan.
“Selama ini, Ibu hanya ingin melampiaskan keinginan padaku. Ibu hanya ingin menguasai diriku, seakan aku ini masih anak-anak. Aku sudah 17 tahun, sebentar lagi aku 18 tahun. Kukira usia 18 tahun itu pertanda bahwa aku sudah menjadi dewasa dan mulai bisa bertanggung jawab pada diriku sendiri, aku bisa melakukan apa yang aku mau.”
“Beatrice sayang.” Panggilan sang ibu mulai bernada tinggi. “Kamu masih anak Ibu. Kamu adalah perempuan bangsawan. Kamu adalah kebanggan keluarga ini, satu-satunya anak Ibu, Nak!”
“Jadi dengan begitu aku tidak berhak berkata apapun? Layaknya perempuan bangsawan?” Nada bicara Beatrice juga ikut meninggi. “Selama ini, aku hanya diam, aku mematuhi semua perintah Ibu! Agar aku dapat menjadi perempuan bangsawan seperti yang Ibu idamkan! Dengan menjauhkanku dari seluruh teman-temanku!
“Ibu sudah menghancurkan impianku! Aku ingin berkeliling ke dunia luar, melihat seperti apa dunia luar itu! Aku ingin keluar bersama teman-temanku! Tidak masalah kalau mereka laki-laki, setidaknya aku akan lebih bahagia—”
“DIAM KAMU!” Sang ibu menghantam pipi kiri Beatrice melampiaskan amarahnya setelah mendengar inti dari perkataan Beatrice.
Beatrice langsung menahan rasa sakit pada pipi menggunakan tangan kiri. Semakin banyak emosi terkumpul begitu sang ibu mulai melakukan serangan fisik.
“Nyonya!” Teruna menghampiri dari belakang Beatrice, berusaha membelanya. “Sudah cukup, Nyonya sudah terlalu jauh.”
“Kamu tidak usah ikut campur, Teruna!” Sang ibu mendorong Teruna menjauh dari Beatrice, merobohkannya ke lantai.
“Teruna!” jerit Beatrice ketika Teruna mendarat ke lantai dengan lengan kiri terlebih dahulu.
“Dengar baik-baik, Beatrice, justru kamu yang menghancurkan kehidupanmu sendiri. Kalau begini terus, kamu juga akan menghancurkan kehidupan dan martabat keluarga kita! Kamu bisa bikin keluarga ini malu! Benar-benar malu! Kamu bisa saja menghancurkan jerih payah keluarga ini untuk menjadi kelas bangsawan!”
“Bu—”
“Ibu bilang diam!” Sang ibu sekali lagi menghantam pipi kiri Beatrice.
Air mata Beatrice mulai keluar ketika rasa sakit membanting pipi kirinya. Ledakan emosi dari tarikan napas cepatnya mulai menonjol.
Sang ibu tidak memedulikan perasaan Beatrice. “Ingat perjuangan buyutmu! Kakek dan nenekmu! Bahkan ayah dan ibumu sendiri! Kami sudah susah untuk mempertahankan martabat keluarga ini sebagai kelas bangsawan! Kamu tega ingin menghancurkan segalanya! Mencemari dirimu, perempuan dari kelas bangsawan, dengan berteman dengan laki-laki kelas rendahan daripada kita! Pikir, Beatrice! Pikir! Demi keluarga kita! Ibu tidak mau tahu lagi kalau kamu tidak menginginkan semua ini. Ini semua sudah ketentuan dari kelas bangsawan! Kamu yang benar jadi perempuan bangsawan!”
Beatrice pun berbalik meninggalkan ruang tamu, tidak perlu lagi ada yang ingin dibicarakan. Air matanya merembes selagi emosi dari lubuk hatinya meledak. Tidak ada pilihan lagi selain memasuki kamar dan meledakkan semuanya.
Beatrice menutup dan mengunci pintu dengan rapat agar tidak ada siapapun yang dapat masuk. Tempat tidur menjadi tempat puncak dari tangisannya.
Beatrice meledakkan seluruh tangisan dalam bentuk air mata dan desisan. Dia tidak menyangka puncak kemarahan sang ibu akan setinggi itu.
Kehidupan di rumah bagi Beatrice sudah bukan lagi seperti di penjara, melainkan di neraka.