
“Te-terima kasih telah menemaniku untuk kembali ke akademi.”
Tatapan Neu mulai membaur pada mata Beatrice. Hanya berdua dengan Beatrice ketika melewati hutan perbatasan antara kota dan akademi. Udara pada sore hari di akademi menambah kesunyian di antara keduanya ketika menutup mulut rapat.
Pipi merah, cukup canggung, apalagi ketika ingatan tentang usul Yudai agar keduanya menjadi pasangan pesta dansa kembali melintas di benak. Sebagai teman masa kecil, keduanya menganggap hal itu tidak akan pernah terjadi.
Beatrice memproses situasi yang tengah terjadi. Terasa berbeda jika berdua dengan teman masa kecilnya itu daripada saat bersama keempat teman dekat lainnya. Membandingkan masa lalu, terutama saat latihan dan mengambil misi berdua, tentu terasa lebih rumit jika kembali kepada kenyataan saat ini.
“Um—” Neu mencoba untuk memulai percakapan kembali. “—memang menyebalkan Tay menyuruh Sans dan Yudai untuk lebih dulu ke akademi. Aku … terlalu lama kan? Dalam memilih pakaian dansa. Aku … kebingungan yang maan yang akan cocok menarik perhatian—”
“Halo, Beatrice sayang.”
Tidak disangka. Earth telah berdiri di sebelah kanan ketika mereka telah melewati gerbang halaman depan akademi. Saking tercengangnya, Beatrice menghentikan langkah.
Benaknya kini penuh segala kerumitan. Kedatangan tunangannya telah semakin memperkeruh keadaan.
Neu merentangkan tangan kanan. Wajahnya geram sekali lagi menatap wajah Earth, lelaki berambut hitam kecokelatan panjang disisir ke sebelah kiri, alis miring, dan lebih tinggi lima sentimeter.
Jijik sekali, menatap Earth menjilat bibirnya seperti sedang kelaparan. Beatrice melangkah mundur, tubuhnya sekali lagi gemetar, tidak ingin terpicu akan ignatan masa lalunya.
“Ah. Melihat ekspresi seperti itu benar-benar indah, Beatrice sayang. Apalagi saat kamu nanti akan tersenyum saat bersamaku dan menjadi pasangan bangsawan yang bahagia.”
Neu membalas perkataan Earth, “Kamu, masih saja ingin berdekatan dengan Beatrice. Padahal sudah dia bilang dia tidak sudi berjodoh denganmu?”
Earth berkacak pinggang menganggapi, “Jangan kasar begitu. Memangnya kapan Beatrice tersayangku berkata begitu?”
“Kamu tidak ingat ya, Earth? Mentang-mentang kamu adalah senior kami jadi bisa melupakannya begitu saja.”
“Ah, jangan dingin begitu.” Earth menurunkan tangan Neu.
Tenaga Earth dalam mendorong tangan Neu dapat menandingi hingga memaksanya untuk menyingkirkan halangan untuk bertemu Beatrice.
“Aku dan Beatrice berasal dari keluarga bangsawan. Sudah menjadi tradisi bahwa bangsawan pantas dipertemukan dengan sesama kelasnya, terutama dalam berteman dan menikah kelak. Demi mempertahankan martabat masing-masing anak keluarga bangsawan, orangtua rela untuk membatasi agar melindungi mereka dari ancaman dunia luar. Mereka tidak ingin dunia luar mencemari pola pikir, apalagi setelah berteman dengan orang sepertimu.”
“Kamu juga sudah tahu,” ucap Neu, “kalau Beatrice kabur dari rumah karena ingin melihat dunia luar. Dia lelah terkekang oleh batasan sebagai layaknya perempuan bangsawan, bagaimana seharusnya orang memiliki pola pikir stereotipikal seperti itu. Tidak semua orang akan sepakat dengan gagasan seperti itu, semuanya berhak untuk memilih jalan hidup masing-masing.”
“Tapi itu hanya ucapanmu, bukan?” lawan Earth. “Tapi tetap saja, kenyataan bahwa kamu dan teman-temanmu yang lain sudah mencuci otak Beatrice tidak dapat terbantahkan. Sebagai perempuan bangsawan seperti dia, kamu adalah salah satu yang tidak pantas untuk berhubungan dengan kelas bangsawan.”
“Jadi pada intinya, kamu hanya berteman dengan murid dari kelas bangsawan? Begitu?”
Earth sama sekali tidak menjawab, ia justru mendekati Beatrice. Neu bahkan terdiam tidak menghentikannya, menatapi bahwa pasti lebih kuat.
“Pada akhirnya, Beatrice pasti akan menginginkanku.”
Tubuh Beatrice semakin berguncang menyaksikan Earth semakin mendekatinya. Ia tidak mampu menggerakkan tangan dan kaki saat tunangannya itu mendekatkan telunjuk pada dagu.
“Beatrice akan menjadi pasanganku di pesta dansa. Kalau dia menolak dan masih tidak mempunyai pasangan, akan kupaksa dia berdansa denganku. Sudah kupikirkan betapa bahagianya saat aku membayangkan pernikahan antara kami berdua.”
Sentuhan Earth kini berpindah pada bibir. Sungguh, tidak tertahankan bagi Beatrice untuk menggerakkan tubuh demi menghentikannya.
Tidak lagi tahan atas perilaku Earth, Neu sigap mengambil satu langkah, telah bersiap.
“A-aku … aku … sudah diajak oleh dia ke pesta dansa.”
Neu pun tercengang atas sebuah pernyataan dari Beatrice, cukup tercengang. Sempat membeku sejenak, ia kembali melangkah dan menepis tangan Earth.
“Maaf, Earth, meski kamu mengganggap dirimu sebagai tunangan Beatrice, meski kamu adalah senior kami, bahkan meski kamu adalah nomor satu di stage pertama Festival Melzronta, Beatrice tidak akan, tidak akan pernah mau menerimamu.”
Tanpa perlu berbicara lagi, Neu menarik tangan Beatrice dan meninggalkan Earth.
Masih tertegun, Beatrice bahkan tidak sempat membuka suara untuk membela dirinya sendiri. Langkah kakinya seakan terpaksa mengikuti kecepatan langkah Neu untuk segera kembali ke kastel akademi.
Easth pun bergumam, “Jangan khawatir, Beatrice, nanti kamu pasti akan berdansa denganku.”
***
Hening, itulah hal bagi Beatrice dan Neu ketika berjalan berdampingan mengikuti barisan mulai dari keluar dari kastel akademi menuju pantai, lokasi pesta dansa. Mendengar percakapan dari pasangan dansa lain di depan dan belakang sungguh memicu keinginan untuk berbicara.
Hal yang menjadi ironi adalah mereka berpasangan sebagai teman, hanya sebagai teman. Setiap kali memikirkan apa yang harus mereka bicarakan, keraguan melanda ketika ingin memulai sebuah topik, mengikuti perilaku murid lain.
Beatrice kembali terpana pada pakaian Neu. Jas biru tua dan dasi cravat abu-abu membuat teman masa kecilnya itu lebih gagah, apalagi tanpa memakai kacamata. Rambut depannya juga penutupi dahi kiri seperti membentuk gelombang.
Sangat terkesan dengan penampilan Neu hingga Beatrice tidak tahu ingin memilih kata untuk memujinya. Ia bahkan secara impulsif melaksanakan rencana dadakan untuk menghindari Earth.
Beruntung, tepat sebelum sore menyingsing, Neu dapat mengerti apa tujuan Beatrice.
Tay melangkah tepat di belakang keduanya, sekadar “mengawasi” gerak-gerik Beatrice dan Neu. Sama sekali tidak memiliki pasangan dansa di sampingnya, ia sama sekali tidak mengkhawatirkan desas-desus dirinya sebagai salah satu murid paling dibenci di akademi.
Memasuki area pantai dari perbatasan kota, pasir merupakan hal pertama yang mereka injak. Langit hitam, desiran ombak laut, dan tenda putih yang melintasi area pantai menjadi hal pertama yang mereka saksikan ketika tiba di lokasi pesta dansa itu.
Seluruh profesor telah berbaris berjajar seakan seperti pelayan, menyambut para murid ketika memasuki area tenda. Alunan harmonis instrumen musik dari panggung di sudut kanan juga membuat mereka tidak sabar untuk bersenang-senang.
Begitu seluruh murid telah memasuki area pesta, seluruh profesor memisahkan diri dan bergabung ke dalam kerumunan murid. Arsius, selaku kepala akademi, menghampiri area para musisi.
Begitu sebuah lagu telah berakhir, seluruh tatapan tertuju pada Arsius di dekat para musisi yang berhenti memainkan instrumen masing-masing sejenak di panggung
“Izinkan saya untuk menyambut kalian semua, murid Akademi Lorelei sekaligus peserta Festival Melzronta. Inilah stage terakhir, pesta dansa. Selamat bersenang-senang.”
Seluruh murid dan profesor bertepuk tangan dengan meriah. Perjuangan selama empat stage Festival Melzronta pun akhirnya terbayar dengan acara bersenang-senang.
Begitu Arsius telah menyingkir dari area panggung, para musisi mulai menggangguk sebagai acuan untuk memainkan sebuah lagu dansa pertama.
“Kakak, pegang pinggangku,” pinta Lana ketika ia telah menyiapkan dirinya untuk berdansa.
“Eh?”
“Tidak apa-apa.” Lana tersenyum tidak sabaran.
Tangan kiri Sans mulai mengenggam tangan kanan Lana hingga membentuk kepalan terlebih dahulu. Ketika para musisi mulai memainkan alunan musik mendayu-dayu, ia mulai bergerak menyentuh punggung pasangan dansanya.
Mengikuti gerakan pasangan dansa lainnya, keduanya mulai melangkah membentuk sebuah gerakan dansa. Sans pun mulai merasakan tekanan setiap kali ia melangkahi pasir putih.
Begitu juga dengan Yudai dan Katherine. Pasangan tersebut cukup lamban ketika mengikuti alunan musik dan gerakan pasangan lain. Respon mereka seakan seperti tertunda kurang lebih dua detik.
Pipi Katherine kembali memerah, sungguh memalukan dirinya membuat gerakan dansa canggung alih-alih anggun, apalagi bersama Yudai.
Tidak seperti kedua pasangan canggung itu, penghayatan Neu terhadap alunan musik dan mengikuti gerakan dansa Beatrice adalah bagian dari rencana berpura-pura.
Sungguh, sangat lancar ketika Neu mengangkat tangan kanan sambil tetap menggenggam tangan Beatrice yang berputar bolak-balik mengikuti irama.
Hampir kompak, setiap laki-laki mengangkat pasangannya sejenak saat irama musik memasuki kilmaks.
Ada beberapa yang justru memisahkan diri dari kerumunan pasangan, salah satunya adalah Tay dan Ruka. Sama sekali tidak punya pasangan, mereka hanya berdiri di dekat jalan keluar area pesta dansa menuju kota.
Tay bertanya, “Kukira kamu punya pasangan.”
“Berdansa akan membuatku lebih lelah setelah keempat ronde berikutnya.” Ruka membuang muka.
Danson pun mulai menaiki panggung dan menyambut para murid, “Ladies and gentlemen, saya akan menyanyikan lagu khusus malam spesial ini. Semoga kalian dapat berdansa.”
Satu per satu murid mengalihkan perhatian pada area panggung dan mulai mendatanginya. Sorakan dan tepuk tangan seketika menghebohkan suasana ketika Danson mulai bersiap.
Para musisi mulai mengubah arus dalam memainkan instrumen masing-masing. Alunan dari lambat dan lembutnya lagu pertama menjadi lagu kedua bertempo lebih cepat. Sungguh cepat dan keras hingga para murid mulai bergoyang lebih heboh.
Lompatan murid di barisan depan hadapan panggung lebih heboh dan kompak, melompat-lompat dan mengangkat tangan kanan sambil bersorak ketika Danson mulai bernyanyi. Beberapa profesor pun menggeleng khusyuk, terutama Alexandria.
Dolce bergabung pada kehebohan tersebut dan menjerit kagum pada Danson.
Yudai menggiring Katherine pada pusat perhatian tersebut. Mengikuti kehebohan itu, keduanya mulai menari mengikuti irama dan gerakan pasangan lain.
Tidak seperti mayoritas pasangan lain, Neu dan Beatrice tetap pada gerakan dansa yang sama. Kali ini, mengikuti irama musik, langkah kaki dan gerakan tangan mereka lebih cepat.
Berpura-pura menari, Earth hanya menatap mereka berdua. Sungguh, ia sedang berada di dalam api kecemburuan. Menatap tunangannya tengan bersenang-senang dalam dansa bersama laki-laki lain membuatnya naik darah dan ingin tetap mengawasi.
Beatrice pun tahu Earth telah menatapnya semenjak mulainya pesta dansa. Ia tahu, tetap berpura-pura sambil menghayati akan membuat tunangannya itu berhenti.
Bosan karena hanya berdiam diri dan tidak melakukan apapun, Tay melewati kerumunan pasangan dansa dari jalan keluar, ikut mengawasi Neu dan Earth pada saat yang sama.
Tay bergumam, “Meski tidak memakai kacamata, tetap saja Mata Empat.”
“Ini benar-benar menyenangkan!” seru Lana pada Sans ketika berhenti berdansa menyaksikan Beatrice dan Neu tidak begitu jauh. “Ah … seandainya saja kita sebagus mereka.”
Sans menganggapi chemistry Beatrice dan Neu, “Benar. Aku bahkan tidak menyangka mereka akan jadi pasangan dansa yang bagus.”
Beatrice berbisik pada Neu, “A-anu—”
“Kenapa?” Neu menggiring Beatrice membuat gerakan berputar, seakan berganti posisi.
“Di-dia … masih menatapku.”
“Kalau begitu … ini mungkin memalukan sekali bagimu.”
“Eh?”
Pipi Neu memerah ketika semakin memikirkan tindakan selanjutnya. Sudah benar-benar gawat, rencana paling darurat saat sudah putus asa.
“Cium aku.”
“Ci-ci-cium?” Tubuh Beatrice mulai gemetar.
“Ini mungkin cara agar Earth bisa merelakan kamu tidak jatuh cinta padanya.”
“Ba-ba-baik.”
Neu perlahan mulai memegang pipi Beatrice. Rasa malu tetap mendominasi benaknya, tidak menyangka bahwa ia akan mencium teman masa kecilnya sendiri.
Aku ingin kamu selalu bersamaku, ucapannya waktu kecil terpicu menuju pikirannya.
Ia mendekatkan wajahnya menuju Beatrice. Target tepat pada bibir pun sudah terkunci.
Earth mulai menggerutu dalam hati. Sangat tidak bisa menerima apa yang ia akan lihat. Tunangannya akan berselingkuh darinya. Maka, ia mempercepat langkah melewati kerumunan pasangan hingga harus menubruk.
Sama sekali tidak memedulikan tanggapan lain yang menjadi korban tubrukan paksa, Earth menarik bahu Neu, menghentikan upaya adegan cium bibir. Keduanya tercengang ketika ia telah mendekat.
“Kamu! Menjauhlah dari tunanganku!”
Jeritan Earth memicu perhatian di barisan tengah area dansa. Ketiganya turut menjadi perhatian.
Tidak ingin berlama-lama diam, Tay juga ikut melewati kerumunan, ingin sekali mencegah Earth. Menatap kedua lelaki itu, Sans dan Lana juga tercengang.
“Earth?” gumam Sans.
“Dia tidak cinta denganmu. Kamu saja yang tidak ingin menerimanya,” balas Neu.
Earth melayangkan kepalan tangan kanan tepat pada wajah Neu, mengagetkan seluruh orang di sekitarnya, terutama Beatrice.
“Hei!” jerit Tay menarik kerah Earth begitu mendekatinya. “Hanya aku yang boleh memukul mata empat!”
Tanpa ragu lagi, Tay juga mendapat pukulan tepat di wajah hingga terdorong ke belakang, menubruk salah satu pasangan.
“Kamu—” Neu bangkit. “—hanya itu? Kamu hanya tidak ingin menerima sebuah kenyataan."
Kali ini Earth menginjak perut Neu hingga memuntahkan bercak darah. Kerumunan pun begitu panik.
Bangkit dari rasa sakit, Tay membalas Earth dengan menubruknya ke atas pasir. Keduanya melancarkan pukulan begitu keras, terutama pada wajah.
“Ka-kalian ….” Mata Beatrice mulai berbinar.
Neu berbaring dan menarik napas sebelum bersiap untuk kembali bangkit. Tay dan Earth berkelahi di pesta dansa. Rencana Beatrice untuk menjauhkan dirinya dari Earth benar-benar berakhir menjadi bencana.
Beatrice sama sekali tidak menyangka. Earth sangat memaksakan keadaan dan kenyataan. Padahal, ia tidak ingin mencintai orang sebrengsek murid knight tahun kedua itu.
Tidak lagi dapat menahan dan merasa malu, Beatrice berbalik dan mulai melarikan diri. Bagian bawah gaun ia tarik ke atas saat kerumunan semakin heboh dengan jeritan dan sahutan agar perkelahian itu berhenti.
“Astaga!” Lana pun menyadari betapa kuatnya Earth, sama seperti saat menghadapinya di stage kedua.
“Beatrice, tunggu!” Sans berlari mengikuti Beatrice menuju jalan masuk kota.
Situasi pun sungguh cocok, lagu kedua yang dibawakan Danson merupakan lagu ballad. Nyanyian melankolisnya sungguh membuat sahdu hingga pasangan di barisan terdepan menghadap panggung kembali berdansa lambat.