Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 113



Memasuki area ballroom di lantai ketiga, sang pelayan berambut hijau, pemilik perempuann berkulit cokelat, serta keempat musisi telah mundur menyaksikan Tinsdale tetap berada di panggung.


Dari kejauhan, kedua mata Tinsdale telah terpenuhi oleh warna hitam, tanpa selaput putih sama sekali. Ia mengcengkeram sang taksirannya musisi lelaki berambut merah tegak.


“Le-lepas—”


“Kejamnya …. Kalian masih saja bersenang-senang berada di tanah ini, kalian bersenang-senang di atas penderitaan yang kualami sendiri!” Suara Tinsdale kini bercampur aduk dengan suara sang hantu, suara femnininnya menjadi seakan lebih bergema.


Sans, Beatrice, Yudai, Riri, dan Katherine tercengang menatap sang hantu telah mengandalkan tubuh Tinsdale sebagai sebuah cangkang.


“Kalian sama sekali tidak tahu apa yang telah kualami selama hidup! Aku telah menderita! Sangat menderita! Apalagi saat kalian tinggal di tanah ini, membangun sesuatu dan bersenang-senang di atas penderitaanku!”


“To-tolong hentikan …,” ucap sang pemilik laki-laki.


Killam bertanya, “Ja-jadi … kamu menyebabkan saudara kembarku hilang begitu saja?”


Sang hantu mengeluarkan air mata, warna hitam turut menghiasi pipi Tinsdale. “Memangnya kalian ini lebih baik dariku? Apa aku sedang dihibur oleh orang jahat seperti kalian?”


Killam sekali lagi berbicara pada sang hantu. “A-aku hanya ingin tahu mengapa kamu melakukan ini? Ka-kami hanya orang yang penasaran mengapa kamu melakukannya, hantu?”


“Sudah kuduga, kalian hanyalah kamuflase, mengaku orang baik tapi aslinya jahat.”


Sang musisi berambut merah tegak akhirnya lepas dari cengkeraman sang hantu hingga terjatuh ke lantai. Ia terbatuk-batuk melepas beban dari tenggorokan agar saluran napasnya dapat terbuka mengambil udara. Menempatkan lengan pada lantai, ia merangkak terbirit-birit menghindari sang hantu.


Sang hantu memaksa Tinsdale untuk menggeretakkan gigi, napas seketika menembus dinding gerigi seakan mengumpulkan energi dari amarahnya. Hanya lima detik, aura ungu kehitaman seakan membakar seluruh tubuh, memicu energi untuk menggunakan sebuah kekuatan.


Menyaksikan situasi sudah semakin gawat, apalagi sang hantu sudah begitu gila dalam mengendalikan Tinsdale, Sans mengambil belatinya, mengambil ancang-ancang sambil menggenggam erat.


Yudai juga mengambil busur dan panah dari quiver-nya. Ia mendekatkan ekor panah pada tali busur dan menggenggam keduanya seraya mulai membidik. Akan tetapi, barisan di hadapannya menghalangi, hanya berdiri ketakutan.


Killam hanya satu-satunya “tamu” yang berani melangkah dan mendekati tubuh Tinsdale, ingin sekali berbicara pada sang hantu. Sama sekali tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya, satu-satunya tujuan adalah mencari tahu sebuah kebenaran.


Hantu itu mulai menjerit, “Kalian tidak tahu apa yang terjadi padaku hingga menderita! Benar-benar menderita! Kalian tidak akan pernah mengerti! Sama sekali!”


“Menderita?” Riri terpicu oleh perkataan sang hantu.


“Tolonglah, tidak perlu melampiaskan kebencian lagi. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi pada tanah ini? Mengapa kamu selalu—”


Hantu itu menyipitkan mata. “Aku tak sudi mendengar omongan pembelaan menyedihkan seperti itu!”


Riri langsung berinisiatif memberi perintah pada seluruh orang di barisan di hadapannya, “Kalian semua! Killam juga! Segera keluar dari penginapan ini! Biar kami berlima yang menghadapinya!”


“A-a-a-aaaah—” sang pemilik laki-laki cukup tertegun. “—ka-kalian tidak akan sampai merusak ballroom mahal ini, bukan?”


Yudai membalas, “Sepertinya tergantung kekuatan dari hantu itu.”


“Hi-hiiiii!! Bagaimana ini! Bagaimana ini! Kita akan rugi kalau bangunan ini hancur!”


Riri membalas kepanikan dari kedua pemilik dan para pekerja penginapan, “Kami usahakan agar dia tidak merusak. Larilah.”


“Cih!” Killam memalingkan wajahnya, tidak ada pilihan lagi selain mengikuti kedua pemilik penginapan, sang pelayan berambut hijau, dan kelima musisi itu menuruni tangga.


Sans menempatkan kaki kiri ke depan, mengambil posisi kuda-kuda untuk mengambil ancang-ancang. Ia juga menoleh Yudai sekadar meniru posisinya sambil mengunci target.


“Kalian mau menyerangku menggunakan senjata fisik? Ha ha ha!!” Sang hantu tertawa terbahak-bahak. “Percuma saja, tubuh ini juga akan terluka!”


Sans, Beatrice, dan Yudai pun tercengang mendengar pernyataan dari sang hantu. Serangan fisik biasa akan melukai tubuh Tinsdale, bisa saja tanpa menyakiti sang hantu.


“Sudah kuduga,” ucap Riri mengangkat tangan kanannya dan mengayunkan jari-jemari, bersiap untuk menyalurkan chakra menuju salah satu kemampuan monk.


“Kalian yang memintanya!”


Hantu itu mengangkat kedua tangan Tinsdale, memicu munculnya sebuah lingkaran hitam penuh kilatan. Lingkaran itu kemudian mengecil dan melesat seperti sebuah panah.


Serangan itu menghantam dada Riri hingga menubruk Yudai dan terpental pada dinding. Panah Yudai turut menusuk lengan kirinya.


‘AAAAAAAH!” jerit Riri dan Yudai sebelum terjatuh ke lantai.


Sans menoleh sambil tercengang. “YUDAI!!”


“Ri-Riri!!” Katherine mendekatkan jari jemari pada mulut, tidak tega menatap Riri dan Yudai mendapat serangan langsung dari sang hantu.


Riri perlahan mencabut panah yang tertusuk paa lengan kiri. Sedikit cipratan darah keluar membentuk sebuah luka, beruntung, luka itu sama sekali tidak dalam apalagi memicu nyeri secara signifikan hingga menusuk.


“Ma-maafkan aku,” ucap Yudai menyentuh lantai seraya mengumpulkan tenaga agar bangkit kembali.


“Jangan minta maaf, salahkan si hantu itu.”


Sans kembali mengeratkan genggaman belatinya. Ia menggeretakkan gigi selagi sang hantu mengendalikan Tinsdale agar melaju ke depan secara perlahan.


“Ba-bagaimana ini ….” Beatrice termenung begitu ia dan teman-temannya tidak memiliki cara untuk menghadapi sang hantu.


Katherine kembali gemetar, menatap tidak ada satupun serangan yang dapat membasmi hantu itu tanpa melukai tubuh Tinsdale. Napasnya kembali terengah-engah, sama seperti saat ia bertemu sang hantu untuk pertama kali.


“Bagaimana? Sakit? Tentu tidak seberapa! Akan kutunjukkan penderitaan yang tidak seberapa!” bongkar sang hantu.


“Uh!” jerit Sans memalingkan wajah.


“Betapa menyedihkan sekali dirimu, sampai menghantui setiap penghuni tanah ini,” sindir Riri sambil menyentuh lukanya.


Pandangan sang hantu tertuju pada Katherine. Kali ini ia kembali mengangkat kedua tangan dan memunculkan lingkaran yang sama dan membentuknya menjadi tembakan.


“Mungkin kamu akan menjadi mangsa pertama. Jangan khawatir, ini akan terasa lebih menyakitkan!”


Katherine mematung menyaksikan tembakan sang hantu berbentuk panah hitam berkilat. Ia sampai menahan napas bersiap untuk terkena serangan menyakitkan itu. Sama sekali tidak memiliki sihir penyerangan untuk membalas, hanya pasrah sambil menutup mata.


Sebuah suara tubrukan terdengar. Ketika membuka mata, ia menyaksikan Sans telah terkena serangan tersebut, menahan nyeri pada dada sambil meringis menggeretakkan gigi.


“Sans!” jerit Beatrice dan Yudai bersamaan.


“Astaga!” Katherine langsung berlutut menghadapi Sans, mengetahui rasa nyeri itu lebih berat daripada yang diterima Riri.


“Sa-sakit sekali ….” Sans sampai menjatuhkan belatinya.


“Katherine!!” Riri memperingatkan ketika kembali bangkit bahwa sang hantu mengambil ancang-ancang untuk melakukan serangan kembali.


“Beraninya! Sekalian saja terima rasa lebih menyakitkan, kalian ber—"


Katherine menyentuh dada Sans sebagai sumber nyeri dan memalingkan keraguannya sebagai seorang priest “Re-refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo!”


Kedua tangan Katherine mengeluarkan cahaya putih. Jangkauan cahaya putih dari pelafalan mantra Heal II-nya menjangkau lebih luas lagi. Bukan hanya pada dada Sans, cahaya menyilaukan itu memicu kebungkaman sang hantu yang masih berada di dalam tubuh Tinsdale.


“A-aaah … a-apa ini! Ti-tidak!”


Sang hantu menghadapkan telapak tangan kanan untuk menutupi pandangan dari cahaya dari Heal II Katherine. Cahaya itu menggelegar tubuh Tinsdale hingga menjadi tidak terkendali dan memicu nyeri bagi sang hantu..


“Katherine, gunakan mantra itu pada Tinsdale!”


Bukan hanya Katherine yang terkejut mendengar perintah Riri, tetapi juga Sans, Beatrice, dan Yudai. Menggunakan Heal II pada musuh? Itu adalah rencana tergila selagi pertarungan berlangsung.


“Kamu tadi lihat, kan?”


“Aaaah!” Sang hantu menyentuh kepala Tinsdale seakan ingin meledak keluar. “Ka-kamu takkan berani, seperti yang kulihat sendiri. Tetaplah berada di kegelapan!”


Katherine bangkit dan mengambil satu langkah begitu nyeri pada dada Sans berangsur menutup. “Tinsdale, akan kuselamatkan dirimu! Refra eht bruzzar, hela morf eht weib siqlo!”


Katherine mengangkat telapak tangan kanannya dan berkali-kali melafalkan mantra. Cahaya merembes keluar dan menyebar menyelimuti tubuh Tinsdale. Semakin besar dan terangnya cahaya membuat sang hantu merasakan nyeri menggelegar jiwa, seperti tertusuk tiga bilah pedang.


“Sa-sakit! Sakit! SAKIIIT!!”


Berkali-kali melafalkan mantra menguras tenaga Katherine hingga berlutut. Napasnya kembali terengah-engah, wajahnya juga mulai bercucuran peluh.


“A-aaa-aaa ….”


Tubuh Tinsdale yang dikendalikan oleh sang hantu juga ikut tumbang akibat menerima Heal II.


“Ke-kenapa? Ti-tidak mungkin aku … aku … dikalahkan. Ti-tidak.”


Yudai kembali berseru, “Bagus, Katherine!”


“Untunglah,” lanjut Beatrice.


“Ma-masih belum,” ucap sang hantu.


Dari mulut Tinsdale, keluarlah sebuah awan hitam pekat, merepresentasikan kegelapan. Tubuh Tinsdale pun tumbang ke lantai dan berguncang seperti ikan kehilangan napas di darat.


“A-apa yang terjadi!” ucap Yudai tercengang.


“Kurasa ini upayaku yang sudah berputus asa. Tubuh ini … akan kuhancurkan, sama seperti dulu.”


“Ah!”


Ucapan sang hantu memicu sebuah kilas balik, terutama testimoni dari Killam tentang keberadaan saudara kembarnya. Riri mengepalkan tangan kanan ketika mengingat kembali kalimat itu.


“Jadi … itu caramu menghilangkan setiap penghuni tanah ini?”


“Dengan cara apapun, setiap penghuni tanah ini harus merasakan penderitaan, sama seperti yang kualami!”


Riri mulai mengambil langkah, mengagetkan Yudai dan Beatrice. Ia mulai menyalurkan chakra pada tangan kanan menghadapi tubuh Tinsdale.


“Ri-Riri!” sahut Yudai.


“Sial, aku belum pernah menggunakannya langsung, tapi … Exorcism!”


Riri melesat melompat menubrukkan tangannya pada tulang leher Tinsdale, tidak peduli dengan awan hitam yang menyelimuti. Chakranya merembes melewati aliran darahnya seperti angin, memicu sebuah cahaya yang meledak dari sebuah pukulan.


“Ti-tidak! A-aku tidak sudi kalah!” Sang hantu menguatkan kesadarannya, memekatkan awan hitamnya di sekitar tubuh Tinsdale.


“U-uuuh!!” jerit Riri.


Beatrice mulai menggenggam erat song sphere dan mengambil satu langkah menghadap Riri. “Art for Protection!”  Ia perlahan mulai mengicaukan irama dan lirik lagu, mengikuti harmoni dari song sphere-nya.


Let me make this art


Let me make this art


Art of protection


Let it protect you


Let it spread around you


Let it become the barrier


Let it stand by you


Sebuah gelombang berbentuk bundar bermunculan sejenak melingkari Ririsebelum menghilang seketika. Ketika terkena gelombang tersebut, gelombang lain turut memindai dan menambah daya tahan seperti meresap ke dalam tubuh.


“Apa ini? Apa ini! Kenapa? Kekuatanku mulai …. Tidak! Kamu … akan menderita!” jerit sang hantu.


“Sudah cukup. Jangan lagi membuat sebuah kebencian pada orang lain!”


Riri melampiaskan lebih banyak chakra-nya menuju tangan kanan. Cahaya dari exorcism turut membasmi awan hitam yang menyelimuti dirinya dan tubuh Tinsdale 


“Kalian tidak akan mengerti apa yang kuderita selama ini!” jerit sang hantu. “Tidak akan mengerti! Hanya aku yang dapat mengerti sendirian!”


“Sayang sekali, sebuah penderitaan membuat jiwamu tidak tenang bertahun-tahun. Saatnya aku menenangkan jiwamu!”


“U-aaaaa …. Uh! AAAAAAAARRRGH!” Getaran tubuh Tinsdale di lantai semakin cepat.


Yudai berkomentar, “Ku-kuat sekali. A-apa dia begitu lama menyimpan kesedihannya?”


“Ka-kalian—” Hantu itu sudah tidak kuasa menambah kekuatan menerima Exorcism Riri. “—memaksa … juga. A-aku—”


Suara sang hantu memelan hingga tidak terdengar lagi ketika menggerakkan bibir. Akan tetapi, Riri menatap langsung pada gerakan itu, begitu tercengang atas relevasi darinya.


Let it remind you


We're not alone


Let's face it together


In our great battle


Begitu Beatrice menyelesaikan lagu itu, tubuh Tinsdale berhenti bergerak. Sang hantu pun akhirnya keluar dari dada Tinsdale dan langsung terpecah belah menjadi berkeping-keping. Ia pun terangkat ke langit-langit dalam bentuk kepingan cahaya, menembus atap.


Riri menarik napas dalam-dalam dan menempatkan tangan pada lantai. Tangan dan kakinya mulai melemas akibat mengeluarkan banyak chakra saat menggunakan Exorcism.


“Riri!” sahut Sans dan Yudai bergegas menemuinya.


“Uh.” Riri menyentuh keningnya. “Aku tidak menyangka … pertama kali menggunakan Exorcism. A-aku … benar-benar berhasil.”


“A-anu—” Giliran Katherine yang mendekatinya. “—ka-kamu … tidak apa-apa, kan?”


Pilihan kata yang buruk, ingin sekali memutar waktu untuk mengganti pertanyaan dan memastikannya. Katherine sekali lagi tersesat di dalam keraguan.


“Aku tidak apa-apa,” Riri memastikan.


“Ah!”


Beatrice menoleh Tinsdale kembali membuka mata dan membuka mulut lebar kembali mendapat kesadaran. Ia bergegas mendekati wanita kurus berambut pirang itu dan berlutut.


“A-anu … Anda … tidak apa-apa?”


Tinsdale menyentuh keningnya, menahan sebuah nyeri setelah mendapat kembali jiwanya. “A-apa yang terjadi padaku? A-aku—”


“A-Anda baik-baik saja,” ucap Beatrice menyentuh bahu Tinsdale. “Ceritanya cukup panjang.”