Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 187



Pengumuman nilai total menjelang musim panas dilakukan secara bertahap begitu semuanya sudah selesai. Dimulai dari murid tahun keempat, yakni murid yang sedang menjalankan tahun terakhir di akademi menuju kelulusan. Sebuah penentuan apakah mereka dapat meninggalkan akademi dan lulus setelah empat tahun belajar atau tidak.


Hari berikutnya adalah pengumuman untuk murid tahun ketiga, begitu pula pengumuman untuk murid tahun kedua pada hari berikutnya. Sama seperti murid tahun pertama, bagi yang mendapat total nilai di bawah standar kelulusan akan dikeluarkan, meski bagi murid tahun ketiga, peluang mereka dikeluarkan sangat kecil, maka sangat jarang bagi mereka untuk dikeluarkan.


Murid tahun pertama mendapat jatah hari terakhir pengumuman. Seluruh murid tahun pertama berbondong-bondong meninggalkan gedung asrama. Mulai dari menaiki tangga menuju pintu keluar gedung asrama, mengiringi selasar, hingga akhirnya menuju lantai dasar kastel, lebih tepatnya ruang depan. Sama seperti saat mereka melihat pengumuman nilai total semester pertama, pengumuman tersebut terpampang di sebuah papan di samping pintu aula.


Semuanya berbondong-bondong mencari nama masing-masing. Daftar nama murid dengan nilai totalnya diurutkan secara peringkat. Tentu saja, banyak murid yang memulai mencari dari peringkat teratas. Takut, sangat takut, mereka tentu tidak ingin melihat dari peringkat terbawah. Dari peringkat terbawah saja, mereka tahu beberapa murid yang mendapat nilai total rendah tidak akan selamat.


Banyak murid yang telah menemukan namanya di daftar murid-murid lulus dari skala nilai total langsung berseru merayakan. Euforia seperti pelangi melambung turut mencerahkan senyuman dan gelak tawa.


Lain halnya bagi yang mendapati namanya di bawah garis merah, garis tersebut merupakan pembatas antara murid yang lulus dan tidak lulus. Bagi mereka yang mendapat nilai total rendah dan di bawah standar kelulusan, terutama murid bermantel putih, penyesalan, air mata, dan wajah kecut mewarnai mereka. Tidak bisa menahan tangisan lagi, mereka merasa telah gagal untuk berjuang, meski telah mengerahkan usaha terbaik.


Banyak dari murid yang telah lulus justru mengabaikan murid-murid malang itu. Mereka berbahagia bahwa murid-murid itu merupakan murid terlemah dan memang tidak pantas berada di akademi. Tidak sedikit pula yang menghampiri dan mendampingi, terutama teman-teman mereka.


Mimpi murid-murid di peringkat terbawah dan memiliki nilai rendah itu sudah berakhir, seperti ditelan bumi. Sans menatap pemandangan itu. Tangannya gemetar saking memikirkan nasibnya di akademi. Meski ia telah berusaha sebaik mungkin, selama bootcamp dan ujian akhir semester, ia masih belum tahu nasibnya. Bersama dengan seluruh teman-teman di sekitarnya setelah mendapat giliran begitu beberapa murid mulai meninggalkan papan, ia memulai mencari namanya dari atas.


“Neu! Aku melihat namamu!” tunjuk Beatrice.


Neu melihat namanya berada di peringkat kesembilan. Penurunan cukup tajam dari posisi ketiga pada semester lalu. Ia memahami karena fakta bahwa ia tidak berada di akademi dalam jangka waktu cukup lama.


Selanjutnya, Beatrice menatap namanya berada di posisi ke-18, turun dari peringkat ke-10. Ia hanya bisa menjulurkan senyuman menatapi nilainya turun dari semester pertama.


“Cih!! Aku kalah lagi!!” sahut Zerowolf meratapi peringkatnya berada di posisi ke-34. “Lalu turun pula!”


Yudai berada di posisi ke-30. Sama seperti Zerowolf, peringkatnya juga turun. Ia sama sekali tidak bisa tersenyum menatap Sans masih memindai peringkat.


Ia pun kemudian memindai nama-nama yang mendapai nilai rendah dan dikeluarkan dari akademi. Menghitung nama dari garis merah, terdapat 23 murid yang harus meratapi berakhirnya mimpi untuk meneruskan belajar di akademi. Cukup banyak.


“Standar akademi ini menakutkan juga,” ucap Zerowolf mendadak mengubah ekspresinya, “tapi … selanjutnya, aku takkan kalah darimu, Yudai!!”


Sans terlebih dulu menatap dari peringkat terbawah. Ia sudah siap menghadapi sebuah situasi terburuk, menatap namanya di antara peringkat terbawah dan di bawah garis merah. Ia mendekatkan jari pada nama-nama tersebut, mencari namanya.


Tidak ada. Tidak ada namanya di antara murid-murid yang dikeluarkan. Sans meniupkan udara. Ia berhasil. Ia berhasil menghadapi kejamnya semester kedua, dari bootcamp hingga ujian akhir semester. Apalagi ia harus menghadapi sidang setelah tertangkap sebagai seorang alchemist.


Beberapa murid di belakangnya sampai menggeretakkan gigi dan menyipitkan mata. Stereotipe bahwa murid bermantel putih dan tanpa job biasanya tidak akan lulus semester dua akhirnya terpatahkan. Mereka geram menatap Sans masih berada di akademi, mengingat ia adalah seorang alchemist dan lolos dari hukuman berat begitu saja. Mereka mendesah dan mempertanyakan mengapa ia masih selamat. Tidak banyak yang berbisik-bisik menyatakan ia memang tidak pantas melanjutkan ke semester ketiga atau tahun kedua.


Tentu saja, Sans mencuri dengar percakapan tersebut. Akan tetapi, ia ingat perkataan Dolce beberapa hari sebelum ujian akhir semester.


Kalau kamu ingin benar-benar maju, benar-benar terus menatap ke depan, benar-benar berkembang, benar-benar fokus pada tujuan, tidak perlu memusingkan omongan yang lain. Kalau saya terus pedulikan omongan orang, mana mungkin saya bisa sampai sekarang.


Kamu tidak akan maju kalau begini terus


Sans mengangkat kepalanya, kembali menatap papan itu. Ia hanya harus memikirkan masa depan dan tujuannya. Satu langkah telah ia berhasil raih. Tujuannya semakin dekat, menyembuhkan ibunya. Akan tetapi, ia sama sekali belum sempat mengumpulkan ketiga bahan untuk obat itu.


***


Saat malam tiba, seluruh murid tahun pertama hingga ketiga yang telah lulus kembali berkumpul di aula, menempati tempat duduk masing-masing. Meja dan bangku untuk murid tahun keempat justru masih kosong.


Seluruh profesor masih duduk di belakang podium untuk kepala akademi di panggung, masih saja mengobrol sambil menunggu Arsius untuk mendekati podium.


Juga, Sans meratapi tempat duduk yang telah kosong setelah beberapa murid diminta untuk meninggalkan akademi secepatnya begitu mendapat nilai total di bawah standar kelulusan.


Ia teringat sore sebelum mereka harus ke aula, beberapa murid yang dinyatakan tidak lulus harus kembali ke kamar masing-masing, mengemas barang, dan meninggalkan akademi secepatnya. Ia melihat beberapa dari mereka menangis harus meninggalkan teman-teman seperjuangan dan menghadapi kenyataan impian untuk belajar di akademi telah berakhir.


Ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia menjadi salah satu murid tersebut. Pasti berat, sungguh menyayat hati. Meninggalkan akademi dan juga teman-teman seperjuangan dari awal pasti akan membuatnya menguras air mata. Seorang diri harus keluar melihat teman-temannya sudah lulus.


Arsius naik ke podium dan mulai berpidato mematahkan lamunannya hingga memicu semuanya melirik pada kepala akademi tersebut.


“Sebelum saya memulai upacara kelulusan murid tahun keempat, saya ucapkan selamat pada kalian semua.”


Semuanya bertepuk tangan merayakan kelulusan masing-masing. Euforia bertebaran setelah Arsius turut berbahagia bagi seluruh murid.


“Tahun depan akan menjadi tantangan baru yang akan lebih menantang dan lebih menuntut kalian untuk berkembang. Terutama, ancaman dari Royal Table masih ada. Kami telah melakukan sebaik mungkin untuk menyelidiki semuanya. Kami bersama kerajaan akan segera mengakhiri teror dari organisasi separatis ini. Tapi butuh waktu yang cukup lama, kami masih mencari pusat mereka.”


Benar, Royal Table masih dalam bayang-bayang seluruh penghuni kastel, terutama murid-murid di akademi. Terungkapnya Sierra sebagai mata-mata dari Royal Table hanya baru menjadi awal ancaman. Sans dan teman-temannya merenungi semua yang telah terjadi dengan Sierra. Mereka juga mengingat Sierra berada di peringkat terbawah semenjak ia tidak ikut ujian akhir semester.


“Tapi kita kesampingkan dulu ancaman itu. Kita akan menyaksikan perayaan murid-murid yang telah belajar selama empat tahun terakhir.”


Pintu aula pun terbuka lebar, mengungkapkan dua barisan murid tahun keempat mulai masuk menghampiri meja dan bangku untuk mereka. Royal guard turut mengiringi barisan tersebut Jubah toga keemasan telah mereka pakai sebagai pakaian upacara kelulusan tersebut. Seluruh murid tahun pertama hingga ketiga bertepuk tangan hingga semuanya menempati bangku masing-masing.


“Wow.” Yudai berdecak kagum. “Suatu saat kita akan mengenakan jubah itu!”


Arsius memperkenalkan murid-murid tahun keempat, “Semuanya, inilah murid-murid yang telah menyelesaikan studi di Akademi Lorelei!”


Arsius kemudian memanggil nama satu per satu, beserta job dan total nilai selama studi empat tahun. Nama tersebut harus berdiri dari bangku mendapat sambutan sebelum kembali duduk. Tentu saja, dipanggil secara alfabetis.


“Royal Table,” ucap Neu saat Arsius masih memanggil nama satu per satu.


“Eh? Kenapa?” sahut Beatrice.


“Jujur saja, aku ingin kembali ke sana.”


Neu kembali menatap seluruh profesor yang bertepuk tangan begitu setiap nama terpanggil dari murid-murid tahun keempat. Ia teringat ketika dirinya menuduh Sierra sebagai mata-mata Royal Table, setiap profesor justru seakan ingin menutup mulutnya.


“Aku lelah dengan semua ini. Penyelidikan di akademi sama sekali tidak ada perkembangan. Kalau begini terus, kerajaan Anagarde bisa terancam. Lagipula, kita masih belum tahu kenapa mereka terobsesi dengan alchemist.”


Beatrice menepuk meja. “Benar. Aku … ingin bertemu dengan Sierra lagi. Aku … ingin tahu kenapa dia melakukannya.”


Katherine menghela napas, menyetujui perkataan Beatrice, “Aku juga.”


“Masalahnya, tinggal menemukan markasnya. Kita harus tahu letak markasnya dulu,” Riri mengambil kesimpulan, “masalahnya, hanya Neu yang pernah ke sana, lalu dia tidak ingat letaknya. Kita tidak punya petunjuk.”


“Selama libur musim panas ini—” Sans membuka suara. “—aku tidak keberatan kalau ingin mencari informasi tentang Royal Table sendiri.”


“Wow.” Yudai kembali berdecak menatap Sans berbicara. Dapat ia lihat dari matanya, bara serius terpancar dari kornea. Ia mengangguk, kembali rela tidak pulang ke kampung halamannya.


Cukup lama menunggu Arsius memanggil semua nama murid tahun keempat. Pada akhirnya, semuanya bertepuk tangan kembali merayakan kelulusan.


Arsius mengangkat tangannya, sinyal untuk menghentikan tepuk tangan. Ia kembali berpidato. “Sekali lagi, mulai besok, kehidupan kalian sebagai petualang akan benar-benar dimulai. Manfaatkan ilmu yang telah kalian pelajari selama empat tahun terakhir, dan saya harapkan yang terbaik bagi kalian.


“Untuk murid-murid royal guard, saya yakin Profesor Alexandria ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua.”


Profesor Arsius berbalik turun dari podium dan mengangguk pada Alexandria, memintanya untuk berdiri dan melakukan pidato.


Alexandria masih angkuh menatap kalangan murid tahun pertama, terutama Sans yang masih selamat dari ujian akhir semester. Ia menempatkan tangan pada podium dan berfokus pada murid-murid tahun keempat.


Tatapan Alexandria sejenak menjadi perbincangan publik. Profesor yang paling dibenci itu biasanya tersenyum menyambut murid-muridnya yang telah menyelesaikan masa studi, kali ini, bibirnya menjulur ke bawah, pipinya sedikit kecut, dan tatapan matanya seakan menggambarkan kekosongan.


Alexandria mulai berpidato, “Saya ucapkan selamat untuk seluruh murid royal guard tahun keempat. Kalian telah berhasil melewati pelatihan yang mendebarkan, menuntut kemampuan kalian, dan setidaknya … setidaknya … bisa kalian terapkan nanti. Mulai besok, kalian semua akan mulai bekerja untuk mengabdi pada kerajaan, sebagai royal guard kerajaan. Sekian.”


Pidato pendek, sangat pendek. Memang tidak biasa. Seluruh murid terdiam menatapi fakta bahwa Alexandria menyudahi pidato itu hanya dalam kurang lebih setengah menit. Murid-murid royal guard juga yang lebih tercengang. Seluruh murid tahu, lolosnya Sans dari hukuman menjadi pemicu.


“Ba-baiklah.” Arsius kembali ke podium. “Dengan begitu …. Saya akhiri upacara pelepasan murid tahun keempat. Sekali lagi, saya ucapkan selamat. Sekian.”


Meski terdapat kecanggungan di antara penutup, seluruh murid tahun keempat mulai melepas topi beret emas dan melemparnya ke langit-langit. Jeritan perayaan dan kesenangan terlontar nyaring. Begitu bahagia mereka telah mengakhiri studi dengan riang.


Sans dan teman-temannya, seperti murid-murid lain, hanya bertepuk tangan, bergabung ke dalam kebahagiaan tersebut.


***


Selagi mengikuti murid-murid lain untuk kembali ke gedung asrama, melewati selasar, Sans dan teman-temannya berbondong-bondong berbaris. Topik pembicaraan bagi seluruh murid saat itu terbagi menjadi dua, kelulusan murid tingkat akhir dan nasib penyelidikan Royal Table.


Topik Royal Table itulah yang memicu Sans menghentikan langkah sebelum berbelok menuju gedung asrama. Terlintas pikiran untuk mencari lebih informasi, sama seperti pihak profesor dan staf akademi. Alih-alih memasuki gedung asrama, ia mulai mempercepat langkah dan mengambil jalan lurus mengiringi selasar.


“Sans?” sahut Beatrice menatapnya.


“Hei, Sans! Mau kemana? Kita harusnya kembali ke asrama!” sahut Yudai mengejar.


“Tu-tunggu!!”


“Kalian berdua!” sahut Neu mulai melangkah.


Zerowolf menghalangi langkah Neu dengan merentangkan tangan, sampai mengenai dada.


“Bukan saatnya untuk itu,” ucap Zerowolf.


“Wah! Sejak kapan kamu jadi bijak seperti ini?” Ruka menyindir datar.


“Diamlah! Aku tidak mau kita sampai kena masalah lagi!”