Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 172



Situasi kelas khusus yang diampu oleh Clancy menjadi penuh tekanan semenjak Sans tiba kembali di akademi, apalagi saat ia mengikutinya bersama Beatrice dan Yudai sebagai teman satu tim karena berhasil dalam stage keempat Festival Melzronta. Selama empat hari terakhir, Clancy tetap menjelaskan penjelasan lebih mendetail tentang setiap job.


Sans menatap Clancy, profesor pengampu kelas khusus itu, tetap fokus menjelaskan sambil menatap seluruh murid seakan tidak terjadi apapun. Ia merasa saat Clancy menatapnya, profesor perempuan itu sama sekali tidak memberhentikan penjelasannya, terutama mengubah air muka. Karena hari itu adalah hari terakhir, ia menjelaskan song mage dan high mage, job spesial sepanjang sejarah kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei.


Lain halnya dengan seluruh murid yang juga mengikuti kelas itu, kecuali Beatrice dan Yudai. Setiap kali ia menoleh menatap murid-murid lain di belakangnya, mereka justru membuang muka setelah lama fokus menatapnya, menundukkan kepala mengarah pada meja.


Beralih pandangan pada Zerowolf, Sandee, dan Katherine di meja sebelah kiri, sama seperti seluruh murid, mereka yang telah ia anggap sebagai teman juga memalingkan pandangan. Hal yang sama juga terjadi saat ia menoleh pada Riri, Lana, dan Ruka.


Begitu Lana dan Ruka memalingkan wajah mereka dari pandangan Sans, Riri sempat mengangkat kepala dan kembali melihat wajah Sans. Riri lah satu-satunya yang tidak memalingkan pandangan dalam waktu cukup lama.


Yudai menepuk pundaknya. “Biarkan saja. Hanya fokus pada dirimu. Anggap mereka tidak ada.”


Anggap mereka tidak ada. Sans tidak dapat mematuhi nasihat Yudai selagi seluruh mata tertuju pada dirinya, apalagi dari seluruh barisan di belakangnya. Murid bermantel putih seperti dirinya tentu mendapat tekanan menjelang akhir semester, sebuah penentuan apakah ia dapat bertahan di Akademi Lorelei dengan lulus ujian akhir. Apalagi statusnya sebagai seorang alchemist, seorang alchemist yang selamat dari hukuman dan pengeluaran, ia merasa tatapan mata itu seperti kumpulan pedang, halberd, tombak, dan panah menancap serta menusuk dalam punggungnya.


“Sans ….” Beatrice juga menjadi tidak fokus setelah menatap Sans selama empat hari terakhir di ruangan itu.


“Baik.” Clancy menyudahi pertemuan tersebut. “Hanya tinggal sembilan hari kalian akan mengikuti ujian akhir semester. Dalam dua hari, kita akan melakukan praktik dalam menentukan strategi sesuai job masing-masing, dalam kelompok kalian sendiri. Saya beritahu kalian, kalian akan terlebih dahulu melakukan praktik mock battle, pastikan kalian tidak sampai saling membahayakan. Terima kasih banyak. Kalian boleh pergi.”


Seluruh murid satu per satu bangkit dari bangku, tidak sebelum mereka sekali lagi memberi tatapan menohok pada Sans. Saat Sans menoleh ke belakang, lagi-lagi mereka membuang muka dan mulai keluar dari ruangan itu.


Sans mengeluh, “Semuanya membenciku. Setelah malam itu, setelah ada yang berani berkata aku tidak tahu malu, karena diriku menjadi alchemist.”


Beatrice mencoba menenangkan Sans. “Kamu membuat keputusan yang benar, Sans. Aku yakin Profesor Arsius percaya padamu, kamu bisa mencapai tujuanmu itu.”


Yudai bangkit dari duduknya. “Aku akan ke lorong terlarang perpustakaan.” Langsung saja, tanpa pamit, ia berlalu menuju pintu keluar, tepat sebelum Clancy seakan mengikutinya.


Beatrice juga berkata, merasa tidak enak, “A-aku … juga harus bertemu Profesor Danson. Aku harus melatih lagu baru. Aku hampir saja menguasainya. Bagaimana denganmu?”


Sans meniupkan napas dan bangkit. “Aku … mungkin akan kembali ke asrama. Mungkin … aku akan membaca kembali Buku Dasar Alchemist.”


Tidak seperti rekan satu kelompoknya, Riri masih terdiam menyaksikan Sans dan Beatrice mulai mengangkat kaki dari ruangan itu. Ia bernapas lega memperhatikan keduanya sama sekali tidak memperhatikan dirinya setelah kelas berakhir.


Riri ikut bangkit dari duduknya, menjadi murid terakhir yang keluar dari kelas itu. Saat ia melewati pintu, sebuah kilas balik terlintas di pikirannya, seakan memutar kembali berulang-ulang.


Semuanya terjadi saat ia berada di penginapan mewah berhantu tepat setelah Festival Melzronta berakhir, bersama Sans, Yudai, Beatrice, dan Katherine. Ia mengingat sebuah peristiwa yang tidak terduga terjadi pada masa lalu, yakni sebuah pemicu mengapa bangunan penginapan itu berhantu sejak lama.


Gentayangan hantu itu adalah arwah seorang alchemist, sosok yang menyimpan sebuah dendam sampai harus membunuh setiap penghuni bangunan itu selama bertahun-tahun. Penyebabnya adalah masyarakat ibu kota membakar bangunan itu agar sang alchemist terpanggang hidup-hidup.


Itu pun ia telah lihat setelah menatap memory shard pada sebuah cincin batu akik. Kilasan itu terasa nyata baginya.


“Riri?” Katherine memergokinya hanya berdiri di depan pintu.


“Oh!” Riri menoleh kaget. “Katherine?”


“A-a-anu … apa … kamu tidak ikut ke kantin?” Katherine tahu ia masih terbata-bata dalam mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang buruk, ia berpikir seperti itu.


“Katherine. Kamu ingat saat kita menjalankan misi penginapan mewah berhantu bersama Sans, Beatrice, dan Yudai?”


“E-eh?” Mendengar nama Yudai, di pikiran Katherine, ia langsung terpicu ingatan tentang wajah. Pipinya memerah saking membayangkan Yudai di hadapannya alih-alih Riri.


“Katherine. Maksudku, kamu ingat saat melihat kilas balik di memory shard itu? Saat hantu itu jadi korban pembakaran masyarakat ibu kota.”


Riri sangat berharap Katherine dapat mengingat kilas balik itu, terlebih, ia juga mengingat ada seorang “hantu” palsu yang mencuri cincin ber-memory shard itu. Ia sebenarnya sudah memiliki pemikiran sendiri.


“Kenapa?” tanggap Katherine sudah teralihkan pikirannya.


“Kurasa aku tahu kenapa alchemist dibenci oleh masyarakat kerajaan Anagarde, begitu pula dengan Akademi Lorelei.”


“Kalau itu sih, karena insiden yang dipicu oleh alchemist itu sendiri, kan?”


Riri dan Katherine menoleh ke kiri, Zerowolf baru saja tiba dan mencuri dengar percakapan mereka. Sungguh tertegun mendapati Zerowolf cukup tertarik dengan topik itu.


Zerowolf juga sempat setuju dengan Tay, bersitegang dengan rival bebuyutannya, Yudai, setelah Sans tertangkap karena menjadi alchemist.


“Itu sih kita juga sudah tahu dari Profesor Alexandria,” Zerowolf membela jawabannya, “Alchemist yang memicu insiden itu, jadinya kerajaan Anagarde mengecap mereka sebagai job terlarang dan berbahaya.”


“Memang benar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi—” Riri menempatkan kedua lengan pada dadanya. “—aku tidak melihat perspektif dari alchemist itu sendiri. Terlebih, Royal Table memang mengincar sebuah rahasia dari kerajaan dan akademi ini.”


“Kenapa mengaitkannya dengan Royal Table segala? Kita tahu Royal Table tidak terkait dengan alchemist.”


Zerowolf menggerutu pelan. Ia merasa alchemist telah berkontribusi sudah hampir menghancurkan kerajaan karena insiden itu. Ia benci mengakuinya sebenarnya, alchemist seperti Sans memang masih berkeliaran di kerajaan Anagarde. Pada saat yang sama, temannya sendiri, Sans, telah memilih menjadi alchemist setelah lulus dari Akademi Lorelei.


“Apa mungkin obat untuk penyakit ibunya itu … hanya bisa dibuat oleh alchemist?” Riri menyimpulkan.


Zerowolf dan Katherine terbelalak mendengar kesimpulan dari Riri. Mereka tidak berpikir sampai sejauh itu sama sekali.


“Dari yang kulihat, Sans sering sekali dipanggil oleh Profesor Duke. Profesor Duke juga mengajarinya tentang alchemist, kan? Mungkin dari beliau, dia jadi berkembang seperti sekarang, tidak seperti murid tanpa job lainnya. Ibaratnya, sama seperti kita yang mengambil job lain.”


Katherine membayangkan saat hari kelima bootcamp di Vaniar, ia waktu itu harus bergabung dengan kelompok C. Pikirnya, pantas saja Sans tiba-tiba menghilang untuk mengikuti bootcamp khusus bersama Duke.


“Omong-omong, Zerowolf.” Riri menoleh. “Kamu punya akses ke lorong terlarang perpustakaan, kan?”


“Ya.” Zerowolf cukup santai menganggapi, sampai menaruh tangan di belakang kepala, menatapi berbagai murid yang juga melewati bagian selasar. “Memang kenapa? Aku sih sudah malas kalau harus ke perpustakaan, apalagi—”


“Kamu tidak perlu malas,” bujuk Riri, “kamu coba cari apa rahasia yang diincar Royal Table. Lalu … kamu coba cari informasi tentang alchemist.”


Mendengar perintah dari Riri seperti mendapati ombak dahsyat membanjiri otaknya. Ia tahu ia sudah mengungkapkan kalau dia malas membaca, lebih baik berlatih memanah dan menjalankan misi.


“Di antara kita, hanya kamu yang bisa, hanya kamu yang punya akses ke sana,” Riri memohon sambil menepuk kedua pundak Zerowolf. “kumohon. Kamu harus mencarinya. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita tahu selama ini tentang alchemist. Jika bisa, kalau bertemu Yudai—”


Benar. Zerowolf hampir lupa. Rival bebuyutannya itu juga punya akses masuk ke lorong terlarang. Memikirkannya saja saat ini, ia tidak ingin berpapasan dengannya karena perseteruan itu. Terlebih, mereka berdua memang pemenang skor tertinggi di stage pertama dan kedua selama Festival Melzronta.


Zerowolf memalingkan wajah, terdengar enggan dalam menjawab, “Ya … aku memang punya akses ke sana. Tapi … aku tidak bisa menjamin bisa menemukannya atau tidak. Kalian sendiri tahu aku seperti bagaimana.”


Riri sekali lagi membujuknya, kali ini dibalut dengan ekspresi tegas di dalam permohonan halusnya, “Ya, ada baiknya kalau kamu juga mulai membaca, jadi agar tidak malas-malasan selagi tidak ada kelas.”


Zerowolf mundur satu langkah, tahu betul ekspresi Riri, Wajah polos sambil tersenyum sinis. Jika ia melawan, pasti Riri langsung menaklukkannya dengan amarah.


***


Yudai membiarkan udara halus meresap ke kulit dan pakaiannya, menatapi langit berawan campuran putih dan kelabu. Ia berdiri di tengah-tengah jembatan antara perbatasan hutan kecil menuju ibu kota dan halaman depan kastel akademi. Ia terfokus pada aliran sungai di bawah jembatan menuju bendungan jauh di hadapannya.


Ia mendesah melampiaskan unek-uneknya. Segala masalah besar telah memicu kegalauannya. Hal yang terbesar saat itu ia belum berhasil menemukan petunjuk tentang kebenaran dari alchemist, terutama mengingat kembali pembunuhan seorang alchemist oleh masyarakat ibu kota. Peristiwa itu ia saksikan saat memory shard seakan memancarkan sebuah memori agar terasa nyata.


“Yudai?” Dolce menyapa ketika tiba di jembatan dari ibu kota. “Ada apa?”


Yudai berbalik dan menoleh pada Dolce. “Dolce.”


“Sepertinya kamu sedang murung begitu. Kamu biasanya penuh energi dan bersemangat. Mungkin setelah Sans ditangkap sebagai seorang alchemist dan diduga sebagai mata-mata Royal Table mempengaruhimu.”


Yudai mengangguk, simpulan Dolce memang benar. Ia menyentuh bagian pagar jembatan, kasar dan berdebu, sama seperti keadaannya saat ini secara harfiah.


“Jujur saja—" Dolce berbalik dan berdiri tepat di samping Yudai. “—saya tidak sepenuhnya percaya alchemist adalah job yang sering dikatakan orang-orang. Buruk, jahat, pembawa bencana, dan ilegal. Akhir-akhir ini saya meragukan catatan sejarah dari alchemist, sangat ragu karena saya menyadari hanya ada satu perspektif.


“Mendengar Profesor Arsius tiba dan menyelamatkan Sans dan Duke, saya tekankan kata menyelamatkan, dari situ saya semakin yakin. Profesor Arsius juga berpikiran sama seperti saya. Saya ingin berdiskusi dengan beliau, tapi kami selalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.”


Yudai mengungkapkan, “Sans menjadi alchemist karena itu hanya satu-satunya cara. Obat untuk penyakit ibunya, katanya sangat langka. Setelah dia tidak lulus aptitude test, dia memutuskan untuk menjadi alchemist. Itu pun kami belum tahu dari Profesor Alexandria.


“Sekarang, semuanya sudah terbongkar. Semua temanku, menjauh dariku, dan juga Sans. Hanya Beatrice yang tidak melakukannya.”


Dolce kembali berjalan menuju pagar jembatan di hadapannya, membelakangi Yudai dan menatap sungai.


“Hidup memang tidak seperti air yang terus mengalir lancar. Pasti ada halangan pada aliran air, seperti bebatuan. Tapi setidaknya ada celah, meski hanya kecil. Teman-temanmu tidak harus setuju dengan pendapatmu, saat kamu berargumen dengan mereka sampai harus menjerit-jerit.”


Dolce kembali menatap ke arah langit, lama-kelamaan awan kelabu mulai mendominasi, memicu gelapnya langit.


“Aku dan ayahmu juga pernah bertengkar hebat di hadapan semua orang. Kami sampai menjerit, memaki, dan baku hantam. Memang butuh waktu untuk kembali damai, meski butuh waktu yang lama atau paling tidak tinggalkan saja. Saat itu, aku tahu aku tidak akan berteman kembali dengan ayahmu. Tapi entah ini keajaiban atau bukan, kami akhirnya saling mengerti.”


Yudai sudah menduganya. Ia memang tidak berharap berteman kembali dengan sebagian besar temannya karena telah membela Sans. Oleh karena itu, ia juga menguatkan tujuan utamanya, mencari kedua orangtuanya. Perkataan Dolce memicunya untuk kembali fokus.


Pada saat yang sama, ia juga ingin mencari kebenaran tentang insiden alchemist dan rahasia besar incaran Royal Table. Cukup penasaran sejak ia rela menghabiskan waktu di lorong terlarang perpustakaan sebagai kedok agar Sans dan Duke dapat tetap menyembunyikan identitas asli mereka.


Masalah Royal Table di mata kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei sudah begitu rumit sampai mengacaukan keduanya. Ia mendengar royal guard kerajaan berbondong-bondong mencari informasi tentang Royal Table, termasuk mencari markas utamanya. Investigasi di Akademi Lorelei juga masih berjalan, meski belum ada kabar semenjak sidang Sans berakhir.


Hal paling penting, keberadaan Neu. Sierra telah menculik Neu dan membawanya ke suatu tempat. Ia belum tahu pasti. Ia memang tidak sepintar dan secemerlang Neu, apalagi dalam membaca buku di perpustakaan. Jika ia menemukan Neu, ia akan meminta bantuan agar semakin rajin.


Ia benar-benar serius mencari kebenaran di balik insiden alchemist, semenjak ia terus mengingat-ingat peristiwa pembunuhan seorang alchemist saat melihat memory shard waktu misi di penginapan mewah.