
“Tuan? Tuan?”
Hal pertama itu seakan menggema di telinga Neu ketika kembali pada kenyataan. Membuka mata dan mengumpulkan kembali kesadaran setelah lama berbaring di hammock (tempat tidur gantung) di ruang dalam sebuah kapal.
Seorang pemuda berikat kepala biru telah berada di depan mata untuk membangunkannya.
“Sebentar lagi kita akan tiba di tujuan. Harap bersiap-siap.”
Neu mematuhi perintah pemuda itu dan mengangkat tubuhnya menuju posisi duduk. Dia mengangkat kedua tangan demi meregangkan tubuh menambah energi.
“Pagi,” sapa Neu ketika pemuda yang membangunkannya itu sudah beranjak dari ruangannya.
Ia beralih pandangan pada kantung di dekatnya, berisi lembaran catatan untuk tugas, botol tinta, pena bulu, dan lembaran kertas lain termasuk scroll sihir, sama persis seperti yang dibawa. Semuanya tetap utuh.
Ruangan yang ia tumpangi tidak seperti kapal sebelumnya, yaitu kapal saat perjalanan tamasya ke Riswein, terlihat lebih kecil. Sebuah hammock yang ia pakai menjadi satu-satunya benda di dalam ruangan itu.
Neu menempatkan kaki bersepatu pada lantai kayu. Dapat ia rasakan sedikit gerakan pada lantai akibat pergerakan air laut. Pintu yang terbuka ia lewati, menuju geladak kapal.
Wajar jika geladak kapal itu tidak penuh dengan kesibukan awak kapal dan penumpang. Sebenarnya, Neu merupakan satu-satunya penumpang, atau lebih tepatnya orang yang menyewa kapal untuk pergi ke suatu tujuan. Kebanyakan kapal jarang mengunjungi tujuan itu.
Uangnya kini hampir habis karena menyewa kapal pribadi menuju tujuan itu, pulang-pergi, lebih mahal daripada kapal berpenumpang lebih banyak. Usahanya untuk mengumpulkan uang hasil dari setiap misi selama semester pertama berlangsung dan juga sekadar bekerja sampingan membantu ibunya di kampung halaman benar-benar setimpal. Sungguh bijak ia telah membuat keputusan tepat sambil mempelajari tugas libur semester.
Ketika mengalihkan pandangan menuju bagian depan geladak kapal, sebuah pulau telah berada di depan mata. Dari kejauhan, warna hijau seakan menyilaukan karena paling menonjol. Hal ini menjadi sebuah ironi, apalagi sedang musim dingin.
“Lho? Ada yang ke pulau itu juga?” Neu mencuri dengar ungkapan seorang awak kapal yang tengah berjalan di dekatnya.
Melirik ke arah kiri, kapal berukuran tidak jauh berbeda juga tampak melintasi lautan, hampir mengimbangi posisi. Neu dalam hati menyimpulkan mungkin ada seseorang juga sedang menuju tempat yang sama, yaitu pulau tidak jauh di hadapan kedua kapal.
Kesempatan untuk lebih dulu mengetahui dan membuktikan ciri-ciri Familiar secara langsung akan ia manfaatkan. Juga, ia mungkin dapat menangkap salah satu dari mereka untuk dijadikan pendamping.
Neu tidak habis pikir, kebanyakan murid tahun pertama pasti sangat sibuk bersantai hingga menunda-nunda tugas itu kecuali pada saat terakhir.
***
Udara menyejukkan hingga menembus kulit menjadi ucapan selamat datang bagi Neu. Rerumputan bercampur pasir di sekitar pantai pulau itu bagai menjadi ciri khas bagi setiap pendatang. Tidak ada suara bising selain embusan angin dan desiran air laut di pantai.
Sang awak kapal mengingatkannya dari belakang, “Begitu kamu sudah selesai, kita akan kembali ke Aiswalt.”
Neu memulai langkah pertamanya di pulau itu. Pasir bersama dengan rumput ia injak selagi melangkah perlahan untuk melihat lebih jauh. Kerap kali kepalanya melriik setiap keindahan dari alam itu.
Pulau Familiar Izaria. Pulau itu merupakan tempatnya. Ia kagum akan keindahan alam yang bagai permata tersembunyi di selatan Benua Grindelr. Semakin ke dalam area hutan itu, kumpulan pohon dan bebatuan berlumut seakan bergerak berbaris menghampiri. Lumut pada batu dan bagian bawah badan pohon memperkuat warna kesegaran pada mata berkat pancaran sang surya dari puncak langit.
Jalanan tanah berumput juga semakin landai. Semakin pula lebat rumput pada tanah itu.
Neu terus melirik bukan hanya keindahan, tetapi juga untuk memastikan penampakan wujud Familiar.
Melihat tanah yang ia langkahi sudah mulai datar, Neu menghentikan langkah sejenak. Sudah kurang lebih tiga puluh menit ia berjalan menyusuri bagian awal dari Pulau Familiar Izaria.
Ia menyimpulkan, jika terus melangkah lebih jauh, sebuah keajaiban lain akan nampak beserta peluang munculnya familiar. Mungkin familiar akan muncul berkat sebuah keajaiban.
“Ternyata kamu, mata empat!”
Neu berbalik menatap sumber suara yang tidak asing itu. Saking familiernya, bisa tertebak olehnya orang yang berada di belakang itu.
“Tay?!”
Tay menunjuk tepat pada Neu. “Ternyata firasatku benar! Kamu berada di kapal itu saat aku mau tiba di sini! Tidak salah lagi itu kamu! Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Apa yang aku lakukan di sini?” Neu membalas bentakan Tay, “Apa yang kamu lakukan di sini? Hah?”
“Kamu sengaja ya? Sengaja membuntutiku setelah waktu itu!” Tay mulai menuduh. Waktu kamu menceramahiku untuk mengerjakan tugas itu, kan? Hah?”
“Memangnya siapa juga yang mau ikut denganmu!” Neu menolak tuduhan itu. “Sudah dari awal aku ingin pergi ke pulau ini. Justru kamu yang mengikutiku dalam diam!”
“Bohong! Dasar mata empat! Kenapa harus repot-repot mengerjakan tugas kalau tidak bisa langsung ke lokasinya!”
“Jadi selama ini kamu mencari cara untuk ke sini?”
“Iya! Memang! Kamu juga ingin menangkap Familiar juga, kan? Baik. Kita bertanding. Siapa yang menangkap Familiar terlebih dahulu, dia tidak usah meminta maaf, hanya melakukan sesukanya!”
“Baik! Aku terima! Kalau aku menang, aku paksa kamu untuk berlutut.”
“Begitu juga denganku! Mari kita bertanding, Mata Empat!”
Tay kembali melanjutkan langkah, tepat setelah mendorong Neu menggunakan pundaknya. Keadaan naik darah membuatnya bergerutu ringan lagi.
“Cih,” gumam Neu, “makanya dia orang yang menyebalkan untuk dijadikan teman.”
Alih-alih mengikuti Tay, Neu justru berbelok. Embusan angin sejuk pula tidak dapat meredakan keringat sehabis meledakkan emosi dari dalam hatinya.
Pasti Tay akan protes jika ia membuntuti dalam diam. Pencarian dan penangkapan Familiar bagi mereka berdua kini bukan sebagai rekreasi atau sekadar mencari, melainkan sebuah persaingan, persaingan berbentuk dendam.
Terpaksa Neu berinisiatif untuk mencari dari awal, ibaratnya dari garis start, yakni pantai; alih-alih melanjutkan jalan lurus sehabis berbelok. Dengan begitu, setiap sudut dapat ia lihat untuk memastikan keberadaan Familiar.
***
Sudah kurang lebih tiga jam Neu berada di Pulau Familiar Izaria demi melakukan pencarian sebuah Familiar. Sama sekali belum membuahkan hasil. Tidak ada satu pun penampakan di balik keindahan alam itu.
Setiap kurang lebih lima belas menit, ia meluangkan waktu untuk beristirahat selama dua hingga lima menit. Jika berjalan cukup lama, langkah kakinya akan melambat akibat banyaknya lilitan pegal di sekujur tubuh, terutama paha hingga betis.
Duduk, berdiam diri, dan menikmati keindahan alam sejenak. Pencarian Familiar juga tidak luput dari ketiga hal itu. Ia tetap serius melirik agar memastikan keberadaan mereka.
Meski sang surya mulai menggelincir dari puncak langit, sinarnya tidak dapat mengalahkan udara sejuk dari alam pulau Familiar Izaria. Begitu menyadari bahwa waktu sudah memasuki tengah hari, Neu kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan untuk mencari Familiar.
Semakin dalam ia menyusuri pepohonan di pulau itu, sebuah keindahan kembali menanti. Kumpulan cahaya biru berbentuk sphere bergelimang di udara, seperti permata berkilau.
Neu terpana akan kumpulan cahaya itu. Lirikannya semakin fokus akan kecantikan tanpa noda di balik udara sejuk di Pulau Familiar Izaria. Baru kali ini ia menyaksikan sebuah keajaiban seperti ini.
Ia menghentikan langkah ketika sesuatu yang berada di depan mata ketika melirik ke kanan. Sebuah jalan dengan dua pohon seperti pilar perbatasan kota. Dari kejauhan, jalan ketika melewati dua pohon itu seakan gelap, menyembunyikan sebuah misteri yang merupakan sisi lain dari hutan.
Sebuah siluet seekor rusa bertubuh porselen seperti tembus pandang mendekatkan mulut pada rumput seakan tengah memakannya. Ketika berbalik, setiap langkah kakinya seperti melompat-lompat, hampir tidak menyentuh tanah ketika berlari seperti terbang.
“Tidak salah lagi,” gumam Neu.
Ia mempercepat langkah, dari hanya berjalan cepat hingga berlari, demi mengejar jejak siluet rusa itu. Sebuah kesempatan untuk menangkap Familiar berada di depan mata.
Melewati dua pohon itu, ia sampai terenyak menatap keajaiban lain di balik jalan itu. Berbagai warna mendampingi rerumputan di kedua sisi, seakan kumpulan kelopak bunga berembus menghampirinya kencang.
Pohon yang tidak saling berdekatan mengungkapkan cahaya kuning suci. Berkat cahaya itu, berbagai tumbuhan, terutama daun pada pohon, rumput, dan bunga perlahan bergoyang mengikuti alunan angin.
Neu memandang kumpulan tumbuhan seperti melakukan fotosintesis. Berbagai tumbuhan itu seakan melakukan tarian kompak secara bersamaan, aroma dari kumpulan bunga dan rumput menyebar tanpa tersesat mengikuti arah angin.
Ia dapat menghirup berbagai campuran aroma. Aroma itu menyegarkan pikiran dan tubuh ketika mulai menusuk dan menghangatkan hidung. Pikirannya pun sejenak seperti terbelenggu oleh sebuah pelukan.
Neu terbuyarkan begitu kembali membuka mata. Pikirannya mendapat distraksi aroma sampai harus menutup mata dan menghirup napas dalam-dalam, menikmati setiap embusan angin lembut dan menyenangkan.
Berbagai makhluk mulai bertebaran. Beberapa berupa siluet hewan berwarna porselen, beberapa lagi berupa makhluk yang benar-benar asing, sangat asing.
Di antara makhluk asing itu terdapat berbagai makhluk kerdil bersayap seperti burung, bertelinga segitiga seperti elf, dan bertanduk seperti rusa, dapat dikatakan sebagai pixie. Ada pula makhluk berbulu berwarna-warni tebal berbadan lingkaran sempurna, berkaki kecil mungil, dan bercula dua. Sungguh imut bagi Neu hingga mengingat makhluk itu bernama fuzzball.
“Pasti Beatrice akan suka dengan makhluk seimut mereka,” komentar Neu.
Menyerang menggunakan senjata atau sihir bukanlah sebuah pilihan bagi Neu. Cara kekerasan seperti itu justru mengganggu keharmonisan Pulau Familiar Izaria. Tidak ada pilihan selain menangkap salah satu dari makhluk itu dengan cara berlari atau berjalan diam-diam.
Neu melangkah perlahan demi mendekati area kumpulan makhluk itu. Rerumputan ia injak perlahan tanpa suara. Pandangannya berfokus pada beragam makhluk itu.
Ketika Neu menggapai salah satu dari pixie dengan kedua tangan, seluruh makhluk di depan matanya melesat cukup cepat, cepat melebihi kecepatan manusia. Belum sempat ia berkutik, seluruh makhluk itu tidak dapat terkejar hanya dengan beberapa langkah lari. Langkah pertama saja sudah tidak sanggup untuk menyusul.
“A-apa?” tanggap Neu.
Seluruh makhluk itu mulai berpencar ke seluruh penjuru. Kecepatan cepat mereka terpicu oleh kontak fisik manusia yang berusaha untuk menangkap, baik terbang atau berlari.
Neu kembali berlari mengarah lurus mengejar kumpulan makhluk itu. Tidak peduli sedikit pegal kedua kakinya, ia tetap memaksakan diri untuk menangkap salah satu dari mereka.
Ia menghentikan langkah mendapati aliran sungai kecil. Jernih memancarkan bagian dalamnya, bebatuan tanpa ada warna yang mengotori. Aliran sungai itu mengarah ke kiri dan berujung pada sebuah danau jernih berwarna biru pancaran langit dari kejauhan.
“Haaa!” Neu menoleh ke kanan, mendapati Tay menjerit mengejar berbagai Familiar yang juga menjadi incarannya.
“K-kamu lagi?” gumam Neu.
Tidak mau kalah dari Tay, ia mempercepat larinya untuk menangkap salah satu dari Familiar yang “mengerubungi” area itu. Segala upaya untuk menangkap dengan menggunakan satu atau dua tangan, hingga bahkan pelukan, tidak membuahkan hasil.
“H-hah!” Tay mendapati kedatangan Neu yang membuat seluruh Familiar melarian diri. “Tu-tunggu! Kenapa kamu malah kemari, dasar Mata Empat!”
“Kamu sendiri sedang apa di situ!” tunjuk Neu.
Sama sekali tidak saling membantu, pertengkaran dan saling menuduh telah membuntuti dari belakang mendominasi topik percakapan antara dua musuh bebuyutan itu. Saling serang menggunakan ucapan akhirnya terhenti ketika nampak satu fuzzball merah dari samping.
Setelah melirik beberapa lama, tanpa aba-aba lagi, keduanya melesat berupaya untuk menangkap fuzzball menggemaskan itu. Mereka melompat secara bersamaan sambil mengayunkan kedua tangan.
Begitu fuzzball itu kembali melarikan diri, keduanya mendarat di rerumputan dengan dagu terlebih dahulu secara perlahan.
Tay pun bangkit dan kembali membentak, “Dengar ya! Persaingan kita belum selesai! Aku yang akan menangkap familiar duluan!”
“Tidak! Familiar itu akan jadi milikku!” Neu ikut bangkit dan menyusul Tay dalam mengejar berbagai Familiar.
Perjuangan mereka dalam menangkap Familiar akhirnya kembali dimulai. Dari siang hingga petang, mereka tidak kenal lelah sama sekali. Tidak peduli berapa kali familiar itu melarikan diri, segala tenaga mereka kerahkan untuk menangkap salah satu darinya.
Segala cara mereka lakukan, kecuali menyerang secara langsung menggunakan senjata atau sihir, semuanya berujung sia-sia. Tidak ada satupun cara yang benar dalam berusaha untuk menangkap.
Ketika malam telah tiba, Tay dan Neu merasakan rasa sakit pada sekujur tubuh masing-masing. Itulah akibat berusaha menangkap Familiar hampir tanpa waktu jeda. Kembali berlari mereka saja kesulitan, rasa sakit hingga menusuk tulang memicu untuk menghentikan aktivitas itu.
“A-aaaa … si-sial,” ucap Tay berbaring di rerumputan, sekali lagi gagal untuk menangkap Familiar. Kedua kakinya sungguh mengalami aus.
Begitu juga dengan Neu. “Ki-kita gagal. Ki-kita bahkan tidak punya cara lagi untuk menangkap familiar.”
“Memalukan sekali … aku imbang dengan si mata empat!”
“Kukira kamu mengaku kalah,” sindir Neu.
“Aku? Mengaku kalah?”
“Aku … ha ha … secara teknis menang. Ha ha, aku sudah banyak baca lebih banyak tentang familiar. Sementara kamu, nol, nol besar!”
“Kamu!” Tay menarik kerah baju Neu. “Enak saja menganggapku bodoh! Kepintaran tidak dapat mengubah kenyataan kalau kamu lemah!”
“Baiklah. Kamu bahkan lebih lemah saat disuruh membaca. Nanti buktikan, begitu kita kembali ke akademi, kita bersaing nilai tugas siapa yang lebih bagus.”
“Cih!” Tay mendorong Neu kembali ke tanah. “Dasar.”
Neu kembali cekikikan puas berhasil menyindir Tay hingga tersinggung. Sebelum kembali ke kapal, ia ingin menikmati rasa puas itu lebih lama, menyaksikan musuh bebuyutannya lebih jengkel dari sebelumnya.