
Selesai sebuah pelatihan mandiri dan beristirahat sejenak, sesuai janji, saatnya untuk menyelesaikan sebuah misi kelas B secara berkelompok. Menjelang waktu senja merupakan waktu yang dipilih untuk meninggalkan Silvarion.
Dengan bimbingan dari Farrar, Yudai, Tay, Zerowolf, Riri, Lana, dan Ruka cukup membara bahkan sejak mereka menapakkan kaki dari kota. Tidak sabar ingin mendapatkan uang demi menyelesaikan tugas, membeli sebuah barang penting, bukan lagi penting melainkan wajib; bagi masing-masing job yang harganya cukup mahal jika dibandingkan di kota lain. Sungguh, Silvarion memang terkenal dengan peralatan dan senjata khusus job striker, terutama swordsman dan knight yang menjadi pusatnya.
Baru tiga puluh menit berselang berbagai makhluk dan monster sudah menyerbu, dari slime, tikus humanoid, hingga jamur. Riri pun menyerukan strategi dua tim atas usul dari Farrar. Tim pertama, Yudai, Tay, dan Riri. Tim kedua, Lana, Ruka, dan Zerowolf. Tay dan Ruka masing-masing menjadi penyerang depan tim. Riri dan Lana menjadi orang yang diandalkan dalam hal pertahanan, melindungi kedua anggota tim masing-masing. Yudai dan Zerowolf, seperti biasa, menjadi penyerang jarak jauh semenjak mereka ber-job archer.
Cukup banyak monster yang berhasil mereka basmi dalam perjalanan, apalagi malam pun mulai menyingsing. Perjalanan mereka menuju padang rumput berlembah di sebelah barat daya Silvarion berjalan sesuai rencana, sesuai harapan Farrar. Padang rumput itu bisa dibilang juga sebuah jalan menuju pegunungan Santavale, yang menjadi jalan utama menuju kota Beltopia.
Baru saja langit berubah warna menjadi gelap, mereka langsung dapat menikmati angin malam sambil mengalahkan para monster lagi. Entah karena “melanggar jam malam” berkat pendampingan seorang profesor, adrenalin mereka hampir memuncak. Sungguh, kenikmatan perjalanan menyelesaikan misi pada malam hari jarang didapat bahkan saat semester pembelajaran berlangsung.
Sambil memukul seekor tikus humanoid yang mengayunkan tangan seraya ingin mencakar, Riri berseru, “Tidak kusangka malam-malam begini begitu menyenangkan. Ayo, pertahankan semangat kalian!”
Yudai membidik seekor lebah bertangan berduri dan membalas, “Kita bahkan pernah mengalahkan monster pada malam hari saat menuju desa Salazar!”
Ruka, masih saja menonjolkan ekspresi datar, menusukkan pedangnya pada slime hijau, “Meski sedikit menyenangkan, pokoknya pengalaman ini sama saja.”
Lana sampai berputar dan mengendalikan pedangnya dengan anggun, layaknya seorang knight profesional. Satu per satu monster di hadapannya telah tertebas hingga tumbang, meringankan tekanan pada Ruka. “Mendengar Kakak juga pernah menjalankan misi pada malam hari, saat libur pula, aku jadi bersemangat, sa-ngat bersemangat!! HAAAA!!”
Tay pun membantu Riri dalam menyerang, bahkan tanpa berbicara sedikit pun. Ia seharusnya menjadi serangan utama dalam hal penyerangan bagi tim pertama. Ia justru lebih pasif-agresif dalam menghadapi setiap monster yang menghadang satu per satu.
Giliran Zerowolf yang berkomentar, “Kita juga bersaing siapa yang mengalahkan monster paling banyak, dan juga … mengalahkan serigala duluan!”
Riri menggelengkan kepala begitu seluruh monster di hadapan Tay dan dirinya telah satu per satu tumbang di tanah. “Serius, ini bahkan bukan waktunya untuk itu!”
Seluruh monster di hadapan mereka telah berjatuhan di tanah menjadi bangkai segar. Tetapi itu bukan alasan keenam murid ber-*job*striker untuk kembali bersantai. Mereka mempercepat langkah ke depan melanjutkan perjalanan.
Riri pun sangat tegas dalam meminta Tay dan Ruka, dua orang swordsman yang ternyata menjadi cukup pasif, untuk menambah usaha lebih keras dalam berpedang mengalahkan para monster, sambil juga kembali berjalan.
Farrar pun melebarkan senyuman. Ia memang sudah menduga kemampuan Riri seperti itu, bukan hanya selama di kelas khusus job monk atau kelas umum, tetapi juga dalam praktik seperti saat ini, menjalankan misi.
***
Sebuah pegunungan telah terlihat di langit sebelah kanan, pertanda kurang lebih lima belas sampai dua puluh kilometer mereka akan menghampiri pegunungan Santavale, jalan menuju Beltopia. Melalui hutan rimbun cukup lama, akhirnya sisi kiri dan sisi kanan tak lagi berpagar pepohonan atau semak. Tidak ada apapun kecuali rumput rimbun hampir mencapai lutut yang sedikit menanjak.
Riri menempati posisi terdepan dalam barisan, melirik-lirik memastikan tidak ada ancaman apapun selain serigala yang akan mereka buru. Ruka dan Tay turut membantu menajamkan mata dan mengangkat perlahan pedang masing-masing, untuk berjaga-jaga jika mereka disergap.
“Mengerikan juga,” keluh Lana, “di alam luas seperti ini, mungkin kita bisa dalam bahaya, lebih berbahaya.”
Zerowolf justru menekankan optimismenya, setelah sedikit berdehem. “Tantangan misi kelas B, lebih sulit daripada misi kelas C. Apalagi misi kelas A lebih sulit lagi.”
Riri merentangkan tangan kirinya. “Kalian dengar itu?”
“Apa?” tanya Tay dan Ruka bersamaan secara sinis.
Giliran Yudai yang melirik ke sebelah kiri, spontan merespons dan mengikuti gestur Farrar. Ia mulai mengangkat busur dan menarik talinya, panah sudah siaga bersiap untuk meluncur, hanya tinggal momentum pelepasan tenaganya.
Memastikan tidak ada rerumputan di dekatnya yang bergerak, ia menurunkan busur, seraya membatalkan tembakan.
“Mungkin hanya angin.”
“Tetap waspada, semuanya.” Riri tetap siaga melirik setiap sudut.
“Mungkin kita harus melangkah lagi,” usul Lana.
“Tidak,” Riri menolak, “lebih baik kita jadi umpannya. Kita tarik perhatian serigala sampai menghampiri kita. Lalu kita serang bersama-sama. Karena itu, sebagai defender berpedang, Lana, kamu yang menjadi umpannya.”
Lana tertegun mendengar perintah Riri. Ia harus setidaknya “mengorbankan diri” sebagai umpan untuk melirik dan menemukan setidaknya satu ekor serigala berukuran besar. Jantungnya berdebar menandakan dirinya cukup tegang untuk menghadapi tantangan itu. Pada saat yang sama, ia juga cukup tertarik ingin membuktikan diri sebagai knight, terutama di hadapan Riri dan Farrar.
“Baiklah! Serahkan padaku, aku pancing serigalanya kemari. Hanya ikuti suara di balik rumput, kan?”
“Sebenarnya—”
“Baik! Aku duluan ya!”
Tanpa membiarkan Riri selesai berbicara, Lana langsung berjalan santai meninggalkan mereka. Perlahan, kecepatannya pun ia percepat hingga menjadi jalan cepat.
Ruka melirik Farrar sambil menyindir sinis, “Kalau Profesor jadi pendamping, kenapa dia tidak membantu kita selama ini?”
“Tidak enak kan kalau kita segalanya dibantu Profesor Farrar. iKita juga harus menunjukkan kita mampu menyelesaikan misi—"
Suara lolongan akhirnya muncul, menghentikan jawaban Riri terhadap pertanyaan Ruka. Suara tersebut seperti berhasil memicu angin menggoyangkan rumput.
Yudai menunjuk sumber suara itu, yakni depan kanan mereka, “Dari sana!”
“Dan adiknya Sans juga baru saja kemari,” tunjuk Tay.
Lana menjerit berlari terbirit-birit, di belakangnya seekor serigala tengah menyusulnya. Setidaknya Lana berlari cukup kencang, hampir menandingi kecepatan serigala itu.
“Baik, kita serang bersama-sama!” Riri mengambil kuda-kuda bersiap untuk menyergap.
“Akhirnya, ini yang ditunggu-tunggu,” ucap Tay mengeratkan genggaman pedangnya, mengangkatnya sambil menonjolkan mata pedang nan tajam.
Riri, Tay, dan Ruka melesat menghampiri Lana serta menyergap serigala yang mengejarnya itu. Masing-masing dari mereka mulai melepaskan momentum untuk menyerang.
Begitu serigala itu melompat tengah menerkam Lana, Riri terlebih dahulu melompat menangkis terkaman itu dan memukul tepat pada dagu. Serigala itu pun mendarat ketika mendapat pukul tersebut tanpa tumbang.
Giliran Tay dan Ruka yang menyergap begitu cepat. Dari dua arah, mereka melesat mendorong genggaman pedang. Akan tetapi, serigala itu melompat menghindari serangan tersebut, membuat mereka tersandung.
Yudai terpana dengan ukuran serigala itu, lebih besar dari perkiraannya. Kira-kira tinggi berukuran 1,5 meter, kira-kira mencapai dagu manusia. Bulu tebalnya berwarna abu-abu bercampur biru seakan tajam mengilat.
Cepat, sangat cepat dalam melesat dan melompat. Kini serigala itu tengah memburu Riri dan Lana yang akan bertahan menghadapi terkaman.
Yudai pun mengambil ancang-ancang dan kembali memasang panah pada tali busurnya. Ia mengangguk pada Zerowolf, tanpa kata-kata, memberi aba-aba untuk berlari. Mereka mengambil satu langkah sambil membidik serigala itu,
Akan tetapi, sebelum mereka menyempatkan diri untuk menembak dan berlari, satu lagi seekor serigala, tanpa peringatan sekalipun, melesat dari sebelah kiri dan menghantam Zerowolf. Bahkan Farrar yang mengikuti kedua archer itu dari belakang juga tidak sempat memperingatkan.
“AAAAAAA!!” Zerowolf terbanting ke tanah begitu lengan kirinya terkena cakar. Busurnya juga terpental cukup jauh.
Yudai mengerem menyaksikan serigala itu berada di atas Zerowolf. Meski jari-jemarinya gemetar tidak beraturan dalam menyentuh tali busur dan panah, ia tetap membidik.
Akan tetapi, ketegangan menyaksikan rivalnya menjadi mangsa, ia mulai ketakutan panahnya justru akan meleset, apalagi terpental.
Tubuh Zerowolf terimpit di antara keempat kaki serigala. Ia menggerakkan kepalanya setiap kali serigala itu mencoba untuk menubruknya, terutama mulai melahapnya.
Yudai menoleh pada Farrar yang mulai mengambil kuda-kuda untuk membantu. Ia menggelengkan kepala, merasa tidak enak harus menyaksikan profesor yang mendampingi kelompoknya dalam menyelesaikan misi kelas B sebagai bagian dari tugas terakhir bootcamp.
Tanpa berpikir panjang, ia menurunkan busurnya dan memegang erat panahnya. Ia menjerit berlari mengangkat panah sebagai senjata untuk menusuk bagian tubuh dari serigala itu, terutama bagian leher yang ia jadikan target.
Begitu ia berhasil menusukkan panah pada bagian atas leher, serigala itu melolong mengangkat tubuhnya. Rasa sakit memicunya untuk mengangkat kedua kaki terdepannya, membuat kesempatan Zerowolf membebaskan diri dengan bergeser ke kanan.
Farrar yang sudah menyiapkan chakra pada tubuhnya membatalkan serangannya setelah melihat aksi Yudai. Ia menilai keenam murid itu mampu mengatasi masalah itu secara mandiri.
Yudai berjalan mundur menatapi serigala itu melangkah pelan mengambil ancang-ancang mengincar dirinya sebagai mangsa. Begitu menatap panah yang tertancap terlepas ke rumput, ia kembali mengambil panah dari quiver dan kembali membidik.
Zerowolf perlahan mengabaikan sedikit nyeri pada lengan kiri akibat cakar serigala. Ia meletakkan kedua tangan di rumput untuk meraih busurnya kembali.
Riri sampai menatap Yudai dan Zerowolf sudah kesulitan sebagai penembak jarak jauh menghadapi seekor serigala, ia juga berkutat dengan satu lagi serigala yang mengincar dirinya dan Lana di depan.
Terus saja menghindar, itu yang dirinya dan Lana lakukan untuk sementara demi memancing serigala itu. Menatap Tay dan Ruka yang juga mengincar serigala itu dari belakang, ia tahu harus segera bertindak.
“Tay, bantu Yudai dan Zerowolf. Cepatlah!”
Tay menggeretakkan gigi mendengar perintah dari Riri. Tidak ada pilihan lagi kala menoleh ke belakang,
Zerowolf akhirnya mengambil busurnya kembali. Ia mendesah mendapati dirinya hampir menjadi korban terkaman serigala. Lagi-lagi, pikirnya, ia kalah bersaing melawan Yudai dalam menghindar.
Tay pun mengangguk menatap situasi tersebut, apalagi menyaksikan Farrar tidak melakukan apapun selain mengawasi. Ia tempatkan kaki kiri di depan mengambil ancang-ancang. Akhirnya ia melaju cukup cepat menghampiri serigala tersebut.
“Alis melengkung!!” sahutnya pada Yudai. “Aku benci mengatakannya, tapi biar kubantu.”
“Uh!” jerit Yudai masih menyingkir dari serigala yang tetap mengincarnya sebagai mangsa. “Baiklah.”
“Aku juga!” sahut Zerowolf berlari mendapati Yudai masih berkutat melawan serigala itu. “Aku tidak apa-apa!”
“Baiklah!” seru Yudai.
Sementara Riri dan Lana masih berkutat pada sat lagi serigala yang terus mengincar. Riri mengangguk pada Ruka, memberi sinyal.
Ruka, masih saja datar, melesat menguatkan genggaman gagang pedangnya menggunakan dua tangan, tengah menusuk serigala itu dari belakang. Langkah larinya masih saja cukup nyaring terdengar.
Meski begitu, serigala itu kembali melompat menghampiri Riri dan Lana, membuka mulut bertaring seperti gergaji siap untuk menerkam kulit dan mengangkat kedua kaki depannya menonjolkan cakar.
Riri menekan pukulannya menuju belakang, mengambil ancang-ancang. Saat kembali mendorong kepalan tangannya kembali ke depan, chakranya meledak keluar, memicu sebuah tenaga angin menuju wajah serigala tersebut.
Wajah serigala tersebut terpental ke samping, dua taring tajamnya sampai tercabut menuju udara karena tenaga lebih dalam dari pukulan Riri. Ia juga terlempar ke belakang, memudahkan Ruka untuk menusuk punggungnya dari belakang.
Serigala ia masih dapat merangkak utuh meski darah mulai sedikit merembes dari lubang tusukan di punggungnya. Luka akibat tusukan pedang Ruka tampak tidak sedalam yang dikira.
“Oh tidak, ini dia.”
Serigala itu berbalik pada Ruka yang mulai mundur perlahan. Bertekad untuk membalas serangannya, ia menggesekkan kaki kiri depannya mengambil ancang-ancang, menganggap rasa sakit pada luka kecil tidak seberapa.
Serigala itu berlari dan melompat mengangkat kedua kaki ingin sekali memangsa Ruka. Gadis berekspresi datar itu kembali mengangkat genggaman pedangnya, tengah mengambil ancang-ancang untuk bertahan.
“HAAAAA!!” Giliran Lana yang menebaskan mata pedang tajamnya menuju bagian perut serigala yang tengah berada di udara. Dari bawah, ia mendorongkan pedangnya sampai menyentuh bagian bulu dan kulit hingga memicu cipratan darah.
Serigala itu melolong merespon sakit hebat, luka dari tebasan pedang Lana lebih dalam daripada sebelumnya. Ia bahkan tidak mampu sedikitpun berdiri menempatkan keempat kaki pada rumput.
Beralih pada serigala satunya lagi, Tay melangkah mundur memancingnya sambil mengayunkan pedang, sengaja meleset. Langkah yang ia ambil cukup besar berjaga-jaga jika serigala itu melompat lebih tinggi menghantamnya.
Yudai dan Zerowolf yang menyaksikan Tay dari depan bersiap menembak.
Zerowolf memberi perintah, “Baik, kita lakukan bersama-sama.”
Yudai mengangguk.
Kedua murid archer itu melepas tarikan tali busur dan panah hampir secara bersamaan. Kedua panah itu melambung di udara sebelum mencapai pada bagian belakang punggung serigala itu
Serigala itu menjerit terpicu akibat panah tertancap. Darahnya mulai menetes memicu nyeri. Bukan hanya itu, ia juga berbalik menatap Yudai dan Zerowolf tengah kembali menembak.
Cukup cepat Yudai dan Zerowolf merespon, mereka berlari mundur dan mengambil panah dari quiver masing-masing secepat mungkin. Mereka kembali menembak. Beberapa justru meleset atau terpental, setidaknya pada awalnya.
Beberapa panah tembakan mereka akhirnya mengenai bulu dan kulit serigala itu, terutama di bagian atas tubuhnya. Darahnya semakin banyak merembes menuju rumput hingga pada akhirnya tidak mampu menahan rasa sakit lagi.
Serigala itu akhirnya tumbang seketika. Keempat kakinya roboh dan napasnya tidak lagi berembus.
Secara bersamaan, serigala di hadapan Ruka juga ikut mati seketika, akibat kehilangan banyak darah.
“Akhirnya. Selesai juga.” Ruka berucap sambil menundukkan kepala.
Zerowolf sampai nyaring membalas, “Jangan murung begitu. Yang penting kita berhasil menyelesaikan misi pertama kita di bootcamp!”
“Misi belum selesai kalau kita tidak mengantar bangkainya kembali ke kota,” Riri mengingatkan.
“Ah, apa kita harus mengantarnya besok pagi? Semua orang masih saja tid—”
Lana pun menoleh ke kirinya,
“A-AAAAA! Ada lagi!!”
Gerombolan serigala telah hadir berbaris. Keenam murid itu seperti tersambar petir menyaksikan lagi-lagi sebuah ancaman menanti, lebih besar daripada sebelumnya.
“Ka-kawanan serigala!!” ucap Yudai dan Zerowolf bersamaan.
“Me-mereka pasti kawanan kedua serigala ini!” Riri menyimpulkan.
Farrar pun akhirnya melaju menghampiri deretan serigala itu. Cukup santai dalam berjalan, ia menyiapkan chakra di dalam tubuhnya dan mengumpulkannya pada kepalan tangan kanannya.
“Kalian datang juga dalam kelompok. Sebelum kalian membalas dendam pada murid-muridku, hadapi aku dulu.”
Kelompok serigala barisan terdepan satu per satu melompat menuju udara begitu membidiknya sebagai target utama sebagai mangsa.
“Profesor Farrar!!” sahut Yudai panik.
Farrar ikut melompat tepat setelah gerombolan serigala itu melambung di udara dan menonjolkan taring dan cakar. Ia melepas pukulannya berputar membentuk setengah lingkaran. Chakranya membetuk momentum hingga memicu benturan pada kelompok serigala itu.
Yudai, Lana, dan Zerowolf tertegun menyaksikan gerombolan serigala barisan terdepan terpental dari udara menuju rerumputan, mendarat tepat pada punggung.
Belum selesai dengan serangannya, Farrar memukul tanah di hadapannya. Pukulan tersebut memicu getaran di hadapannya, beserta gemuruh. Getaran pada tanah tersebut seperti sebuah gelombang ombak, sisa dari gerombolan serigala di barisan belakang satu per satu terlempar berhamburan seperti pin catur terpental jari.
Gerombolan serigala itu bangkit dan melolong, berbalik melarikan diri.
“Wow.” Zerowolf berdecak kagum.
“Hebat,” lanjut Yudai.
***
Saat fajar mulai menyingsing, tepat setelah beristirahat, mereka akhirnya mengantar hasil buruan dalam misi kelas B pertama dalam bootcamp. Tidak seperti murid-murid lain, mereka rela bangun lebih awal setelah langsung tidur begitu tiba kembali di Silvarion.
Upah misi pertama mereka selama di Silvarion berhasil mereka dapatkan. Cukup banyak jumlahnya, tetapi jika dibagi menjadi enam bagian, masih belum cukup untuk membeli masing-masing satu barang penting demi menyelesaikan tugas akhir bootcamp.
Farrar mengucapkan selamat selagi mereka kembali ke pusat kota, “Kalian telah berhasil menyelesaikan misi pertama kalian. Kerja bagus.”
“Profesor Farrar, apa bisa Anda menemani kami sekali lagi?”
Semuanya melongo mendengar pertanyaan Yudai, mengingat tidak akan adil jika satu profesor menjadi pendamping eksklusif sebuah kelompok.
“Apa kamu bercanda?” tanggap Riri. “Kasihan kelompok-kelompok yang lain, apalagi yang ingin menyelesaikan misi kelas B.”
Farrar menggelak, menyembunyikan tawa di balik dehemannya. “Kamu menarik juga, Yudai. Baiklah, akan saya temani kalian dalam menyelesaikan misi berikutnya!”
Riri dan Lana sampai bergeming sejenak, keputusan Farrar cukup berani.
“Jadi Anda ingin menemani kami lagi?” Zerowolf ingin memastikan.
“Mengapa tidak? Memang tidak ada aturan.” Farrar mengangkat bahunya. “Sekarang kalian cari misi lagi dan kita jalankan bersama.” Ia menganggukkan kepala saat menghadapi quest board.
“Baiklah!” seru Riri. “Kita harus terus berjuang sampai besok!”