Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 137



“Seharusnya kamu tidak berkeliaran malam-malam begini, bukan?”


Kalimat yang tidak ingin ia dengar sama sekali, apalagi jika itu dari salah satu profesor atau sang asisten, terutama Alexandria. Yudai berpikir rencananya telah menjadi kacau, padahal gerbang keluar utama sudah berada di depan mata.


“Kamu tidak perlu tegang begitu.”


Sebuah siluet seakan memudar menampilkan sosok perempuan berambut cokelat tua pendek dengan sisi kiri dicukur gundul, berbaju seperti tank top abu-abu, dan memiliki sebuah pedang di selongsong punggungnya.


“Kamu murid Akademi Lorelei, kan? Yang sedang dalam kegiatan bootcamp?”


“Apa aku benar-benar mengenalimu?” Yudai masih membidik perempuan itu.


“Turunkan senjatamu. Aku takkan melukaimu. Aku ingin bertanya, apa yang kamu lakukan malam-malam begini? Menyelinap?”


Yudai menurunkan panahnya. “Bisa dibilang begitu.”


“Kamu tahu kan kalau ketahuan, kamu bisa dihukum.”


“Apa itu benar-benar perlu? Dan apa yang kamu lakukan malam-malam begini?”


Perempuan itu menjawab dengan santai, “Aku hanya bosan, tidak bisa tidur. Ya, aku tidak terlalu awal, ada baiknya aku berjalan-jalan melihat keadaan Silvarion saat larut malam. Memang sepi seperti kebanyakan kota lain. Bagaimana denganmu?”


“Aku—” Yudai merentangkan kedua tangannya ke atas, mengangkat busurnya. “—ingin pergi ke kuil Soka. Aku tahu ini benar-benar konyol, tapi aku mungkin akan mendapat petunjuk tentang keberadaan kedua orangtuaku.”


“Orangtuamu?”


Yudai melirik ke belakang ketika dirinya mulai merinding. Bulu kuduknya sampai berdiri bukan hanya karena embusan angin lembut dan sejuk menembus kulit, tetapi juga kecurigaan terhadap ada seseorang yang berjalan di sekitar pusat kota.


“Kita bicara saja di luar sebelum ada seseorang dari akademi menemukan kita. Ayo.”


Sambil melewati gerbang selatan menuju sebuah hutan, perempuan itu memperkenalkan diri, “Aku Eldia omong-omong.”


“Yudai. Um … apa yang membawamu kemari?”


“Aku hanya singgah di sini, setelah menyelesaikan sebuah misi di sini. Seharusnya aku berangkat ke Beltopia, kamu tahu, kota di mana banyak bangsawan tinggal.”


Beltopia, Yudai mengenali nama kota itu. Ia tahu bahwa kota tersebut merupakan kampung halaman Beatrice dan Neu.


“Kalau dari sini untuk mencapai Beltopia, jalan tercepat menuju ke sana melalui pegunungan Santavale, mengarah ke barat atau barat daya Riswein.” Eldia mengacungkan jari ke kanan seraya menunjukkan jalan. “Tapi kalau ke kuil Soka, kita belok kanan.”


“Tenggara.” Yudai mengangguk sebelum tertegun menatap Eldia. “A-anu, apa tidak apa-apa kamu ikut denganku ke kuil Soka?”


“Tentu saja. Lagipula, aku merasa tidak enak kalau anak muda sepertimu berkeliaran di luar kota sendirian malam-malam begini.” Eldia mendahului Yudai dalam melangkah.


Yudai sampai cekikikan sendiri, entah menahan malu atau berusaha mengalihkan perhatian dari sindiran Eldia.


Ia merenungi sebuah situasi yang sedang ia hadapi. Kali ini, ia menjelajah bersama orang asing untuk pertama kalinya, apalagi sedang berada di benua Riswein. Sungguh berbeda daripada saat ia menjalankan misi bersama teman-temannya atau sendirian.


“Jadi begini ya yang dirasakan Sans saat field trip bersama Profesor Duke.”


***


Sebuah bangunan batu berbentuk piramida berujung sebuah kubus telah terlihat begitu melewati jalan batu diiringi oleh tanah tandus yang menjadi ciri khas bagian tengah dari benua Riswein.


“Kuil Soka,” Eldia memperkenalkan kuil itu.


Yudai menghentikan langkah seraya memfokuskan pandangan terhadap kuil berbentuk piramida berujung kubus tersebut, tidak lancip seperti kebanyakan piramida. Dari kejauhan saja ia dapat menyimpulkan cukup banyak anak tangga untuk mencapai puncak.


Sampai terdistraksi akan keindahan kuil tersebut, ia terbuyarkan begitu menatap  mendahuluinya dalam melanjutkan langkah. Ia mempercepat langkah agar dapat menyusul perempuan itu mendekati kuil Soka.


Eldia menunjuk sebuah gerbang pada puncak piramida itu, “Kamu yakin takkan capek menaiki tangga sebanyak itu? Pada malam hari pula?”


“Kalau ayahku bisa naik, aku juga pasti bisa. Ya, sebenarnya ini pertama kali sih aku akan menaiki tangga sebanyak itu.”


Tanpa ragu lagi, Yudai mulai mengambil langkah pertama pada tangga tersebut. Tanpa memandang ke bawah, ia cukup santai mendaki setiap anak tangga meski tahu puncaknya masih cukup jauh.


Eldia pun mengikutinya, cukup heran dengan sikap antusias Yudai.


Tanpa memandang rasa lelah, Yudai masih sigap dalam mendaki tangga, bahkan ia telah mencapai bagian tengah tangga itu. Demi menghemat tenaga, ia mengurangi kecepatannya, menjadi agak santai.


Begitu menatap ke belakangnya, ia sampai tertegun. Betapa banyaknya anak tangga yang telah ia lewati hingga tanah berada sangat jauh dari pandangan.


“Wow, tinggi sekali,” ucapnya masih antusias.


Eldia melongo menatap ekspresi polos Yudai. “Biasanya kalau pertama kali ke sini, lalu melihat ke belakang saat di tengah-tengah tangga, harusnya takut. Tapi kamu benar-benar berbeda.”


“Ya, aku sangat terbuka dengan hal-hal baru, terutama dalam bertualang.”


“Kamu juga tidak terlihat capek sama sekali.”


“Kamu juga,” tanggap Yudai sambil melanjutkan langkahnya, “apa kamu sering ke sini?”


“Sebenarnya tidak terlalu. Ini sudah kelima kalinya aku ke sini. Pertama, saat teman-temanku mengadakan uji nyali. Banyak dari mereka yang berhenti di tengah jalan karena kelelahan. Saking shock-nya saat melihat ke belakang, mereka sampai ketakutan akan ketinggian termasuk diriku.


“Dan bahkan yang mencapai anak tangga tertinggi saja langsung ketakutan. Saking takutnya, butuh sekitar enam jam untuk menunggunya turun. Cukup lama sampai kami terpaksa menginap di Silvarion. Sebenarnya, kalau dari sini, cukup dekat dengan kota Santander, jaraknya setara dengan menuju Silvarion. Pada akhirnya, kami memilih Silvarion karena lebih kondusif untuk memulihkan mental kami.


“Selanjutnya, saat kali kedua hingga kelima adalah untuk menyelesaikan misi. Saat pertama kali mencapai puncak piramid kuil ini, benar-benar melelahkan, dan pada saat yang sama, aku berpikir akhirnya mencapai berhasil puncak. Kudapatkan kepuasan tersendiri saat berhasil melakukan sebuah keinginan, mencapai puncak kuil Soka. Tapi menuruni tangga setelah menyelesaikan tugas untuk misi itu juga butuh perjuangan berat.


“Dari kali ketiga hingga kelima, aku jadi sudah terbiasa menaiki tangga seperti ini.”


Eldia melanjutkan, “Tapi kamu tampaknya berani sekali, kamu tidak takut saat menatap ke belakang. Kamu terlihat alami sebagai seorang murid Akademi Lorelei. Katanya banyak lulusan dari sana yang menjadi petualang hebat.”


“Ya, ayahku jadi salah satu dari petualang hebat lulusan Akademi Lorelei. Ayahku menjadi salah satu murid terbaik di sana, mampu menandingi murid terhebat sepanjang masa yang telah menjadi profesor di sana. Dan … aku bersyukur telah menjadi muridnya, tidak hanya sebagai murid yang mendapat pembelajarannya, tetapi beliau juga yang telah membantuku untuk mencapai tujuanku sendiri. Kurasa aku cukup beruntung saat bertemu dengan kenalan ayahku di Silvarion, saat bootcamp berlangsung.


“Oh, maksudku yang mencapai tujuanku sendiri, aku sedang melakukannya, dan beliau membantuku.” Yudai sampai berbelit-belit dalam berkata-kata.


Eldia berdehem kecil, membentuk sebuah tawa. “Aku suka dengan gaya bicaramu. Gaya bicara seorang petualang dari desa?”


“Oh, kamu tahu juga aku dari sebuah desa.”


Untuk mengurangi ketegangan dan rasa penat, Yudai dan Eldia mengalihkannya dengan sebuah percakapan cukup panjang. Tanpa terasa, mereka sudah menginjak anak tangga terakhir dan dinding batu berbentuk kubus dengan pintu masuk dalam kuil sudah tepat pada pandangan.


“Kalau nanti turun lewat tangga ini, sebaiknya berhati-hati. Seperti yang kubilang, cukup mencekam.”


“Yang penting kita masuk dulu!” Yudai bersemangat melewati pintu tersebut.


Memasuki area di dalamnya, sebuah jalan cukup landau menurun menjadi hal pertama yang harus ia lewati. Melihat hal tersebut mengingatkannya ketika ia berada di sebuah kapal saat berangkat dari Grindelr untuk pertama kalinya bersama Sans. Bedanya, ia dapat leluasa berjalan atau berlari tanpa perlu khawatir kehilangan keseimbangan di tengah-tengah jalan.


“Tunggu.” Eldia mengambil sebuah kayu dari kantongnya. Ia menempelkannya pada api salah satu obor di dekat pintu keluar demi membuat penerangan.


Ia mempercepat langkah agar menyusul Yudai. Genggaman pada obornya tetap kuat seperti ular yang mengikat mangsanya.


“Wow, darimana kamu dapat obor itu? Lalu peganganmu kuat sekali,” canda Yudai.


***


Warna kuning bercampur hijau menjadi hal dominan di setiap dinding semakin dalam mereka menyelusuri kuil Soka. Jalan berliku-liku kerap mereka lewati hingga sebuah ruangan dengan tiga jalan yang berbeda telah menanti.


“Oke, kira-kira ke arah mana?” tanya Yudai. “Kamu kan sering kemari untuk menjalankan misi.”


“Memangnya orang yang memberimu petunjuk tidak memberitahu hal lebih?”


“Orang yang memberitahuku, hanya bilang orangtuaku terakhir kali terlihat di kuil ini. Itu saja.”


“Berarti kita harus mencari tahunya sendiri,” balas Eldia, “sepertinya mereka kemari untuk menjalankan semacam misi. Sebaiknya kita pilih jalan kiri.”


Yudai menyeringai. “He he, aku juga mau pilih jalan kiri. Berarti selera kita beda dengan mayoritas.”


Eldia melebarkan bibirnya dan sedikit menghela napas. “Aku memang tidak ingin mengikuti pilihan kebanyakan orang, bahkan mengikuti jalan menurut peta untuk menemukan jalan pintas.”


Yudai dan Eldia melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan kiri, sebuah jalan selebar setara dengan jalan di Labirin Oslork, itu yang dipikirkan Yudai ketika teringat; telah menanti.


“Aku tidak mengerti, biasanya orang-orang akan berhenti mencari ketika sudah menemui jalan buntu, apalagi petunjuknya hanya sedikit. Tapi kamu kenapa tidak mundur?” Eldia benar-benar dibuat pusing, sampai kepalanya seperti berkeliling mencari ingatan yang hilang.


“Kalau temanku berusaha keras untuk mencapai tujuannya, aku juga harus bekerja keras, meski harapannya nihil. Ya, temanku sempat kehilangan harapan, dia mendapat mantel putih setelah aptitude test, mantel putih berarti dia tidak lulus ketiga tes. Ya, kebanyakan orang bermantel putih entah keluar atau dikeluarkan. Tapi dia benar-benar gigih.


“Oleh karena itu, aku juga harus lebih giat mencari petunjuk tentang kedua orangtuaku.”


“Kamu benar-benar bersemangat,” komentar Eldia.


Kala menatapi jalannya yang meluas, Yudai mempercepat langkahnya dalam berjalan. Akan tetapi, karena ia bukan orang yang memegang obor, ia sama sekali tidak tahu apa di depannya.


Eldia langsung tertegun ketika menggerakkan obornya ke bawah dan menarik tangan kiri Yudai seraya menghentikannya. Yudai langsung tercengang ketika kaki kirinya hampir menginjak sebuah celah tanpa pijakan, seperti sebuah jurang.


Menatap ke depan, berkat bantuan kilasan obor dari Eldia, terlihat sebuah jurang menghalangi menuju sebuah jalan. Beberapa pijakan berbentuk heksagonal berlebar dua kaki ikut bergerak dari atas ke bawah, seperti dikendalikan oleh sebuah mesin. Ketika telah mencapai puncak cukup lama, pijakan tersebut akan seakan terdorong ke bawah, pastinya akan mengagetkan setiap orang yang mencoba melewatinya.


“Oke, ini seperti misi kelas A,” komentar Yudai.


“Ikuti aku!”


Eldia mulai melompat menuju salah satu dari tiga pijakan di depannya begitu bergerak ke atas. Lebar pijakan itu memang tepat menyamai kedua kakinya.


“Ayo!” Eldia mulai melompat.kembali menuju pijakan pada posisi kanan depannya.


Yudai sampai memutar matanya, menatap pijakan di hadapannya itu cepat menginjak bumi turun ke bawah. Ia menghela napas kala pijakan itu seakan terangkat ke atas.


Begitu pijakan yang menjadi target lompatnya mencapai puncak, ia menempatkan kaki kanannya di depan, menyiapkan momentum pada kedua kaki seraya bersiap.


Ia melepas momentum tersebut begitu mulai mengangkat kedua kaki dari lantai dan mendorong tubuhnya ke depan. Kedua kakinya pun mendarat pada pijakan targetnya, namun, edua tangannya bergoyang berusaha menyeimbangkan diri dengan tubuhnya.


Belum selesai menyeimbangkan diri, ia memperhatikan Eldia kembali melompat sebelum pijakan tersebut turun ke bawah. Tidak ingin menuju pijakannya meluncur ke bawah, sesegera mungkin ia mendorong tubuh dan mengangkat kedua kaki kembali mengikuti langkah Eldia.


Tetap saja, Yudai tetap goyah ketika mendaratkan kaki setelah melompat. Belum selesai menyeimbangkan tubuhnya, Eldia kembali melompat. Cukup cepat, sampai ia tertekan tidak ingin tertinggal semenjak perempuan itu satu-satunya yang memegang obor.


Begitu mencapai barisan pijakan tengah, saat ia tengah mengambil ancang-ancang untuk melompat, pijakan di hadapannya yang menjadi tujuannya seakan terbanting ke bawah, mencengangkannya.


Ia semakin tercengang ketika pijakan yang ia injak ikut terbanting ke bawah. Ia pun mulai goyah dan kehilangan keseimbangannya. Dengan cepat, ia mengepalkan tangan kanannya ke depan seakan mengambil tali untuk menyeimbangkan diri.


Kembali memandang ke hadapannya, Eldia sudah dua langkah di depannya dan hampir mencapai ujungnya, yakni lantai bagai dataran.


Tidak ada lagi waktu untuk berpikir, ia langsung melompat pijakan. Dengan cepat, ia melompat kembali agar ia dapat kembali satu langkah di belakang Eldia.


Ia kembali mendorong tubuh dengan mengangkat kedua kaki kembali menuju pijakan heksagonal di hadapannya itu. Baru saja mencapai celah tengah dalam melompat, pijakan tersebut menurun ke bawah dengan cepat, mengancam momentum pendaratannya.


“Wh-whoaaaaa!!”