Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 186



Ujian akhir semester pun berlanjut begitu murid perempuan yang pingsan telah dibawa ke rumah sakit di dalam kastel. Beberapa profesor justru menganggapnya seakan tidak terjadi dan ingin melanjutkan pengujian.


Semua murid swordsman telah menunjukkan skill masing-masing. Kali ini, giliran Dolce yang memanggil nama, berarti giliran murid-murid ber-job archer. Yudai dan Zerowolf mempersiapkan diri, kaki kanan sudah mereka letakkan ke depan, sama seperti posisi siaga sebelum bertarung. Papan tembakan juga telah mereka letakkan di sudut kanan arena.


Sayang sekali, Dolce justru memanggil nama lain, memicu mereka tersandung ke lantai. Riri menggeleng menyaksikan tingkah keduanya.


“Kalian memang tidak sabar ya,” ucap Beatrice.


“Dasar,” sindir Neu.


Waktu demi waktu pun berlalu dan Yudai serta Zerowolf masih belum terpanggil. Mereka sampai berlutut dan menghela napas frustrasi, hanya bisa menatap satu per satu murid archer satu tingkat dengan mereka menunjukkan skill original. Pada akhirnya, hampir semuanya telah terpanggil, kecuali mereka berdua.


Menyaksikan hanya mereka berdua masih bertahan di antara murid-murid ber-job archer, tatapan tajam saling terlampiaskan, seakan bertanya siapa yang akan maju terlebih dahulu dan paling akhir.


“Zerowolf,” Dolce memanggil.


“Akhirnya! Aku tidak dipanggil terakhir!!” sahut Zerowolf mengangkat kedua tangan sambil melaju.


“AAAAH!!” jerit Yudai berlutut meratapi nasibnya menjadi murid archer terakhir.


“Jangan khawatir,” bujuk Beatrice, “aku yakin Profesor Dolce menyimpanmu paling akhir, karena kamu murid terbaiknya.”


“Ya, tidak cukup untuk membuatku tenang. Tapi terima kasih.”


“Simpan yang terbaik untuk yang terakhir.”


Zerowolf mulai bersemangat saat menapakkan kaki di arena di hadapan seluruh profesor. Papan tembak sudah dipersiapkan bebas dari panah.


“Ini dia!”


Zerowolf mulai membidik pada papan tembakan itu, tepat pada bagian tengah. Ia mengencangkan tarikan tali busur beserta panahnya.


“Ini dia! 100% Aim!!” Ia menyebutkan nama skill originalnya.


Tembakannya ia luncurkan. Panah pun meluncur lebih cepat dari biasanya dan langsung mengenai bagian tengah papan tembakan. Zerowolf sendiri tertegun tembakannya tak hanya 100 persen akurat sesuai target, tetapi juga meluncur cepat.


“Ha-ha-ha-hanya itu!! sahut Riri dan Neu bersamaan kaget.


“Itu hanya tembakan biasa,” Ruka menganggapi sinis.


“Menarik,” ucap Dolce mulai menuliskan komentarnya di lembar kertas, “boleh juga.”


“Um ….” Danson menunjuk pada papan itu. “Lihat itu.”


Seluruh profesor beralih pandangan dari lembar penilaian kembali menuju papan tembak. Semuanya tercengang ketika kepala panah menembus kayu, hanya menyisakan badan panah yang tertancap.


“Te-tembus?” sahut Speed.


“Yang benar saja!!” Neu dan Riri menyahut tidak percaya lagi.


“Wow,” ucap Sans takjub, “hebat.”


“Terima kasih banyak.” Zerowolf pamit sebelum meninggalkan arena dan kembali menghampiri Yudai. “Kamu lihat, kan!”


“Ya, aku melihatnya.” Yudai mengangguk. “Sungguh, 100% Aim, benar-benar hebat bisa akurat, dan juga menembus—”


“Yudai!” Dolce memanggil.


“Akhirnya!” Yudai langsung berlari melewati deretan murid-murid. Sebagai murid archer terakhir, tentu saja harapan Dolce sangat tinggi untuk menyaksikan skill originalnya.


“Berjuanglah!!” sahut Sans.


“Semoga berhasil!” tambah Beatrice.


Yudai berdiri di sudut kiri, jauh dari papan tembak di hadapannya. Ia mengambil bukan hanya satu, tetapi satu per satu panah sekaligus. Ia mengambil setidaknya lima buah panah di genggamannya dan menempelkannya sekaligus pada tali busur.


“Hah? Banyak panah sekaligus? Apa dia gila?”


“Aku bahkan pernah mencoba menembakkan dua panah sekaligus, dua-duanya bahkan meleset!”


Komentar dari sesama murid archer tidak meruntuhkan semangat Yudai. Ia justru berkonsentrasi dalam menatap bagian tengah dari papan tembak dan menarik lima panah sekaligus beserta tali busurnya, mengambil ancang-ancang.


“Itu skill originalnya?” komentar Neu.


“Arrow Rain!!” Yudai meneriakkan nama skill originalnya. Ia melepas tarikan tali busur dan menluncurkan lima panah sekaligus seperti hujan.


Hampir bersamaan, kelima panah itu tiba dan tertancap pada bagian tengah papan tembak itu, mengagetkan seluruh profesor, sampai Speed bahkan bangkit dari tempat duduknya.


“Saya rasa ada yang pernah menembakkan panah sebanyak itu sekaligus, dan belum ada yang mampu melakukannya. Ini kali pertama saya melihatnya,” komentar Clancy.


Mendengar kalimat dari Clancy, Yudai berpaling pada seluruh profesor penguji dan menundukkan kepala. “Terima kasih banyak.”


Seluruh murid juga tertegun mendengar pertama kalinya seorang profesor berkomentar tentang skill original selama ini. Yudai akhirnya menjadi buah bibir di kalangan murid, tidak hanya itu, seluruh profesor juga ikut berdiskusi sambil menentukan nilai untuknya.


“Tadi itu hebat sekali!!” sahut Beatrice.


“Sebelumnya dua, sekarang lima!” Giliran Sans untuk memuji. “Lima panah sekaligus. Aku juga tidak menyangka kamu bisa melakukannya!”


Yudai menyeringai polos. “Ya, ini hasil perjuangan keras selama tiga hari terakhir.”


Zerowolf menggeretakkan gigi menatap Yudai berbangga hati mendengar pujian dari sesama murid dan juga sampai Clancy, profesor pengampu job knight, berkomentar lancang.


***


Tiba giliran bagi murid ber-job tipe sihir. Seluruh murid ber-job tipe fisik menelan ludah saat giliran murid ber-job priest dan mage akan menunjukkan sihir yang tidak terduga.


Beatrice memang menjadi pusat perhatian, semenjak ia ber-job song mage. Banyak yang berkomentar tidak sabar ingin menyaksikan nyanyian Beatrice dan kekuatan mantra barunya. Tidak sedikit pula yang berkomentar meremehkan hanya karena ia dekat dengan Sans.


Job bertipe sihir pertama yang melaju adalah priest. Semenjak priest merupakan sihir tipe support atau healer, Danson meminta adanya sukarelawan untuk menerima skill original dari mereka.


Begitu Katherine terpanggil, ia langsung tertegun. Pasalnya ia sama sekali tidak terpikir untuk memanggil sukarelawan. Ia hanya melaju menuju arena di hadapan seluruh profesor dan murid-murid tahun pertama.


Katherine terdiam menyaksikan perbincangan murid. Hanya berdiri tanpa seorang sukarelawan.


Woodyatt mengangkat tangannya. “Di mana sukarelawan yang akan kamu—”


“Sa-sa-saya … skill original saya tidak membutuhkan sukarelawan. Sa-saya … ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda,” Katherine menyanggah komentar Woodyatt, “saya hanya butuh … papan tembak.”


Papan tembak. Dua kata itu lagi-lagi memicu pembicaraan lagi. Priest membuat skill serangan. Tentu saja ucapan stereotipe bahwa priest seharusnya hanya memiliki skill penyembuh bertebaran di mana-mana. Mereka langsung memalingkan mata ketika Katherine menyatakan skill originalnya akan berupa sebuah serangan. Terlebih lagi, skill sihir serangan sudah seharusnya diserahkan pada mage tipe attacker alih-alih oleh seorang priest.


Danson dan Speed bangkit dari tempat duduk mereka dan mengambil salah satu papan bekas tembakan murid ber-job archer dan menaruhnya di sudut kanan, jauh di hadapan Katherine.


“Ayo, Katherine,” ucap Neu.


Katherine menutup mata dan menghela napas. Ia mulai mengarahkan tongkatnya mengarah pada papan tembak.


Ia melapalkan mantra skill originalnya, “sparkel eht siqlo fur eht akuma.”


Sebongkah cahaya putih bersinar dari tongkat sihirnya, memicu kilatan cepat meluncur menuju papan tembak. Kepala kilatan itu mencapai bagian tengah papan tembak, sedikit melubanginya.


Katherine menghela napas, skill serangannya berhasil.


Speed berkomentar, “Sudah berapa banyak priest yang mencoba membuat skill serangan?”


“Cukup banyak, tapi tidak ada yang berhasil sejauh ini. Mungkin dia bisa melampaui mereka,” jawab Woodyatt.


“I-itu tadi … Holy Spark, sihir seranganku. Mo-mo-mohon pertimbangannya!” Katherine menundukkan kepala, malu saat membuat permintaan itu.


Seluruh temannya, terutama Yudai, sumringah menatap aksi Katherine dalam melakukan sebuah sihir serangan, di luar fakta bahwa ia adalah priest. Tentu saja, mayoritas dari murid lain menganggapnya semrawut dan yakin pasti setiap profesor tidak akan meluluskannya.


“Priest sama sekali tidak menggunakan sihir serangan!” Itu umpatan salah satu murid mage tipe attacker.


Katherine, ketika kembali menghampiri teman-temannya, membuka mulutnya. Begitu kalimat umpatan itu mulai berdatangan menuju telinganya, ia menundukkan kepalanya kembali.


“Jangan dengarkan mereka!” sahut Neu. “Kamu … suka melakukan apa yang kamu bisa. Kamu sudah berani mencoba mendobrak stereotipe priest.”


Katherine menganggapi, “A-aku … hanya terinspirasi oleh kata-kata Sierra waktu pertama kali bertemu dengannya.”


Sierra. Nama itu memicu kilatan di otak.


Ruka memalingkan wajah. “Bukannya seharusnya kita sepakat tidak membicarakan si pengkhianat itu lagi?”


Zerowolf menggeleng. “Lagipula kita tidak pernah membicarakannya lagi, selain membahas Royal Table.”


Semuanya kembali terfokus pada satu per satu sisa murid ber-job priest yang mempertunjukkan skill original masing-masing. Cukup banyak pujian terlontar begitu skill original mereka sampai bersinar dan mampu menyembuhkan dan memberi kekuatan tambahan.


“Neu.”


Neu tertegun tidak menyangka namanya akan terpanggil terlebih dahulu, tepat setelah seluruh murid ber-job priest selesai dalam ujian akhir semester.


“Semangat, Neu!” seru Beatrice.


Tay sedikit menyindir, “Tidak lucu kalau kamu gagal. Kamu kan salah satu murid terpintar di akademi. Jadi … semoga berhasil.”


“Akhirnya kamu berani juga menyemangatiku,” tanggap Neu sebelum melaju ke arena.


Neu menyentuhkan tongkatnya pada lantai begitu menghadap seluruh profesor. Ia menundukkan kepala. Ia menoleh ke kanan, tepatnya pada papan tembak. Ia mengarahkan tongkatnya pada papan tembak itu.


“Skill-ku adalah Frost Rage, sihir kemarahan es.” Ia menarik napas seraya menghantarkan mana yang terkumpul di tubuhnya menuju tongkat sihir. “Senm em storv omen, froze lof.”


Bongkahan es besar bermunculan dari tongkatnya dan berterbangan mengarah pada papan tembak, seperti badai es berukuran besar. Papan tembak pun hancur seketika saat banyak bongkahan es besar menubruknya.


Tay membuang ludah lagi menatap skill original Neu. Ia tidak ingin mengakuinya sama sekali, lebih hebat daripada skill-nya sendiri. Ia ingin berhadapan dengan Neu sekali lagi menggunakan skill originalnya, Blade Revenger.


Tanpa berkata apapun lagi, Neu keluar dari arena dan kembali menemui teman-temannya. Ia melihat satu per satu murid mage, dari tipe attacker, defender, dan healer menunjukkan skill masing-masing sebagai usaha mereka untuk lulus dari ujian.


Semua murid mage telah selesai menunjukkan skill original masing-masing. Beatrice menelan ludah mendapati dirinya akan menjadi murid berikutnya yang akan mempertunjukkan skill original. Ia sudah was-was saat Danson tengah mengambil ancang-ancang untuk membuka mulut.


Hunt justru mengangkat tangan. “Danson, kalau boleh, kita lihat skill original murid tanpa job terlebih dahulu. Kita simpan Beatrice sebagai murid terakhir.”


“Simpan yang terbaik untuk terakhir. Saya paham.” Danson kemudian mengumumkan, “Murid tanpa job selanjutnya. Ada tiga murid. Saat saya panggil nama kalian, silakan maju ke arena dan tunjukkan skill originalnya.”


Giliran Sans yang menelan ludah. Ia kira sebagai murid tanpa job secara resmi ia mendapat giliran paling akhir, tepat setelah job song mage, Beatrice, selesai menunjukkan skill-nya. Ia menutup mata saat Danson memanggil sebuah nama, tentu saja bukan dirinya.


Ia memperhatikan mayoritas dari murid kembali mencibir murid-murid bermantel putih, berharap mereka tidak lulus dan dikeluarkan dari akademi. Setiap kata terlontar seperti menusuk hatinya, terlebih beberapa murid memperhatikannya sebagai seorang alchemist, berharap ia gagal dalam ujian akhir semester, atau setidaknya mendapat pengurangan nilai.


Ia menatap pada arena, di mana salah satu murid tanpa job sepertinya sangat lama mempertunjukkan skill original. Mendekati stereotipe bahwa tidak ada masa depan bagi murid tanpa job di akademi, ia menelan ludah berkali-kali, hanya memikirkan skill originalnya sendiri.


Satu lagi murid tanpa job terpanggil, hanya berdiri di arena selama dua menit pertama sebelum menunjukkan skill-nya, membaca mantra, tetapi sihir tidak keluar sama sekali dari tongkatnya. Mayoritas murid memanfaatkan momen tersebut sebagai bahan olok-olokan, kegagalan dalam ujian.


“Sans.” Namanya menjadi nama terakhir yang terpanggil oleh Danson, persis sebelum Beatrice.


“Berjuanglah, Sans!” sahut Riri.


“Apapun yang terjadi, lakukan yang terbaik,” ucap Neu.


“Pasti bisa!!” seru Beatrice menyemangati.


Giliran Yudai untuk memberi semangat. “Kamu sudah membuat skill itu dengan susah payah, aku melihatnya. Kamu pasti bisa melakukannya.”


Sans mengangguk dan tanpa berkata apapun lagi, ia meninggalkan barisan murid-murid tahun pertama. Ia menapakkan kaki di arena dan berbalik menghadap seluruh profesor.


Ia dapat menyaksikan seluruh murid menjadikannya sebagai pusat perhatian, banyak pula yang berbisik-bisik, ia sudah tahu bagaimana murid-murid lain memperlakukannya, entah ia diharapkan untuk dikeluarkan semenjak terekspos sebagai alchemist atau gagal secara memalukan selama ujian.


Ia juga memperhatikan air muka Alexandria, kerut wajah semakin menjadi-jadi memicu masam, mata sedikit menyipit, dan mulutnya menjulur ke bawah. Ia tahu ia dapat merasakan hawa dingin menusuk dari Alexandria.


Apapun yang terjadi, ia beralih pada papan tembak, menghela napas untuk mengabaikan segala hal di sekitarnya. Ia ingin berfokus pada dirinya sendiri, terutama menunjukkan skill yang ia kerjakan selama tiga hari terakhir.


Ia mengangkat tangan kanan ber-gauntlet-nya dan membuka telapak secara utuh. Ia menggeretakkan gigi seraya mengempaskan mana menuju tangannya untuk mengeluarkan serangannya. Ia membisikkan sebuah mantra sebagai awal dari skill-nya, sama persis seperti mage dan priest.


Dari tangannya, muncullah sebuah lingkaran hitam seperti menuju ruang kosong. Sebuah Meriam berbentuk garis diagonal bercahaya hitam meluncur dari lubang itu dan mengenai papan tembak tersebut, terbelah menjadi dua.


Semuanya terbelalak menatapi skill original Sans. Seperti dugaan Sans, beberapa murid langsung melabeli skill tersebut sebagai skill alchemist.


Sans sudah tidak peduli lagi, ia meninggalkan arena begitu saja. Ia sudah melakukan yang terbaik.


Alexandria sudah bersiap untuk berdiri, tetapi terhenti karena ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri lagi. Mengeluh soal skill tersebut sebagai skill alchemist secara terang-terangan merupakan hal tidak professional sebagai profesor.


Yudai menjadi orang pertama yang mengomentari Sans, “Setidaknya kamu berhasil.”


“Hebat,” ucap Beatrice, “tapi—” Ia memperhatikan mayoritas murid menatap Sans jengkel, membuang muka.


“Hati-hati, Sans,” ucap Riri, “aku tidak tahu apakah kamu akan bertahan. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”


Danson kembali memanggil, “Terakhir dan bukan yang terburuk, Beatrice, murid song mage. Dan bawa juga sukarelawan yang akan menerima skill-mu.”


Yudai mengangkat tangan kanannya pada Beatrice. “Biar aku saja.”


“Aku juga,” Sans ikut mengajukan diri.


Beatrice mengangguk dan melangkah menuju arena menghadap seluruh profesor dan murid tahun pertama. Ikutnya Sans dan Yudai ke arena memicu mata terbelalak.


“Beatrice, satu orang sukarelawan saja,” tanggap Danson.


“A-anu, Anda tidak pernah berkata seperti itu sebelum saya maju.”


Danson menoleh pada Hunt yang mengangguk setuju.


“Baik. Silakan tunjukkan skill originalmu.”


“Skill original saya untuk menyembuhkan dan menambah kekuatan penyerangan, baik fisik dan magis,” Beatrice menjelaskan.


Speed bangkit dari bangkunya dan berlari mengambil dua buah papan tembak dari sudut ruangan. Ia meletakkan keduanya di sisi kanan arena, jauh di hadapan Beatrice, Sans, dan Yudai.


“Ayo, Beatrice,” ucap Neu.


Beatrice mengedepankan song sphere-nya dan mengucapkan judul lagu sebagai skill original, “Lunar Light.”


Gelombang bundar seakan muncul dari lantai, menyelimuti Sans dan Yudai dari bagian bawah ke atas.


Danson berpesan, “Yudai, kamu gunakan skill-mu saat Beatrice selesai bernyanyi verse pertama, Sans, gunakan saat menjelang akhir lagu.”


Sans dan Yudai mengangguk patuh dan saling menatap.


Muncul sebuah irama piano dari song sphere Beatrice, itulah pertanda dirinya menyanyikan lagunya. Bersamaan dengan itu, cahaya terang menyelimuti Sans dan Yudai, memicu sedikit silau pada pandangan beberapa profesor dan murid-murid lain.


When you're dragged down and feel can't stand up


When you're thrown under and feel can't get out


You're working hard for yourself yet you get laughed at


Feel your dream is over when you get thrown at


Feel your effort is meaningless yet you keep trying


Then you get hurt till stuck inside the shadows


"Ini dia, Arrow Rain," Yudai menyahut pelan mengambil lima panah dari quiver-nya menuju busur. Ia menembakkan lima panah itu sekaligus menuju papan tembak di sudut kiri hadapannya. Lima panah itu menusuk tepat pada bagian tengah papan tembak secara berdekatan.


Yudai pun melirik pada Sans yang masih menutup mata mempersiapkan mananya. Ia juga mendengar Beatrice mulai mencapai bagian refrain.


Heal me... from these sorrows


Enlighten me... with the beauty beneath


Strengthen me... so I can get out of misery


I feel like I can get my fightback


Spread it... just shed a light


Wreck it... so I can break free


Just like I can see the colors of sorrow


See through... the lunar light


Sans kembali mengucapkan mantra yang sama untuk skill-nya. sebuah lingkaran hitam seperti menuju ruang kosong. Sebuah meriam berbentuk garis diagonal bercahaya hitam meluncur dari lubang itu dan mengenai papan tembak tersebut, terbelah menjadi dua.


Lagu Beatrice pun akhirnya berakhir. Semuanya bertepuk tangan, beberapa temannya, terutama Neu, Riri, dan Zerowolf menyoraki heboh. Zerowolf sampai mengayunkan kepalan tangannya.


“Terima kasih, Beatrice, Sans, dan Yudai.” Danson mempersilakan ketiganya untuk mengangkat kaki dari arena dan berkumpul kembali bersama murid-murid lain.


Hunt kembali bangkit dari duduknya serta berbalik menghadap seluruh murid tahun pertama. Ia dapat melihat semuanya berhenti berbicara dan berbaris rapi membentuk garis secara horizontal.


“Terima kasih banyak telah menunjukkan skill original luar biasa. Pada akhirnya, ini adalah ujian, kalian harus tetap kami nilai. Kalian akan mengetahui hasilnya empat hari dari sekarang. Kami ucapkan semoga berhasil dan silakan tinggalkan ruang ini.”


Ujian akhir semester sudah resmi berakhir.