
Yudai dan Zerowolf merupakan dua peserta pertama yang berhasil menghabiskan spicy tofu terlebih dahulu. Mereka bahkan tidak memakai jeda pada setiap suap dalam menikmati menu dengan tingkat kepedasan tinggi itu. Bahkan, tidak perlu menunggu lama untuk langsung berlari menuju halaman depan kastel akademi, rasa pedas masih saja membakar mulut.
Mereka melewati taman halaman depan kastel, mengikuti jalan yang sama persis ketika ingin ke kota. Satu-satunya hal yang terpenting hanya untuk saling bersaing menjadi nomor satu.
Melewati gerbang utama halaman akademi dan jembatan menuju hutan kecil, tidak perlu heran lagi terdapat penanda kayu untuk berbelok kiri demi meneruskan balapan alih-alih menuju kota. Sesuai perkataan Dolce, koridor depan jalan persimpangan, persimpangan menuju kota. Memang, profesor dan staf sudah mempersiapkan semuanya demi Festival Melzronta, benar-benar serius.
Ketika kembali berlari, mereka tercengang ketika memasuki bagian dalam hutan pembatas antara akademi dan kota. Mereka mengira hutan tersebut berukuran kecil, melainkan cukup lebat, sama seperti saat aptitude test bagian luar waktu itu. Mereka sama sekali belum mengekplorasi bagian tersebut.
Yudai bergumam, “Hebat, pantas saja kita jarang kemari. Biasanya kita keluar untuk menjalankan misi melalui kota.”
Lebatnya hutan pembatas akademi dan kota silih berganti saat mereka berlanjut berlari menjadi hanya sebuah padang rumput. Langit biru cerah pun lebih tampak tanpa penghalang berupa dedaunan dan tingginya badan pohon sama sekali. Sebuah kesempatan emas untuk mencapai kecepatan maksimal dalam berlari.
“Pasti itu keberadaan herb-nya!” tebak Yudai.
“Lambat!” seru Zerowolf mulai menambah kecepatan ketika memasuki padang rumput. “Lebih baik kamu menambah kecepatan—”
Ucapan Zerowolf terhenti ketika rerumputan di hadapannya mulai bergoyang dan seakan mulai mencambuk serta ingin mengikat. Refleks, Zerowolf mengerem larinya menyaksikan satu per satu helai rumput di sekitar mulai terangkat seakan membentuk dinding.
“Whoa! Whoa!” jerit Yudai ikut mengerem.
Padang rumput secara perlahan seakan membentuk sebuah labirin. Alih-alih hanya menjadi dinding diam, rerumputan itu mulai bergoyang seperti cambuk, mengunci bagian tubuh untuk mengikat.
Yudai dan Zerowolf terbirit-birit berlari dan menambah kewaspadaan terhadap kumpulan rumput pengikat itu. Panik, sungguh panik, apalagi menyaksikan setiap helai rumput berupaya untuk menangkap dan mengikat.
“I-ini rumput macam apa?” jerit Yudai.
“A-aku tidak tahu!” Zerowolf semakin panik selagi susul-menyusul. “Perangkap ini hampir sama saat di Labirin Oslork!”
***
Hampir bersamaan saat Yudai dan Zerowolf tiba di padang rumput pengikat, beberapa murid lain baru saja keluar dari kastel menuju taman halaman depan. Cukup berbondong-bondong hingga saling menyusul. Tentu tidak ada satupun yang ingin ketinggalan.
Tay dan Neu, yang sempat mengacaukan keadaan kantin saat semuanya tengah berusaha keras untuk menghabiskan spicy tofu, berada di salah satu posisi di barisan terdepan. Kehebohan mereka telah berbuah “sukses” sembari saling bersaing, sama seperti Yudai dan Zerowolf.
Tay menubruk bahu Neu dengan sengaja, agar ia dapat berlari terlebih dahulu demi keuntungannya. “Minggir, Mata Empat!”
Neu menubruk balik, masih dapat berdiri secara utuh dengan kekuatan penuh. “Jangan kasar begitu, Tay!”
“Memang tidak ada aturan untuk tidak kasar, Mata Empat!”
Tay dan Neu saling menubruk satu sama lain selagi berlari mengitari taman halaman menuju jembatan, lagi-lagi memicu kehebohan selama kompetisi berlangsung.
Sans, Beatrice, Riri, Lana, dan Sandee pun menyusul, baru saja keluar dari gerbang kastel akademi ketika Tay dan Neu mulai saling menubruk. Mereka berjuang sekeras mungkin dengan berlari sekuat tenaga agar tidak berada di posisi terbelakang. Begitu menyenangkan dan mengundang adrenalin.
Riri akhirnya dapat bernapas lega setelah lolos dari tersedak. Rasa pedas masih meninggalkan pembakaran di kerongkongannya. Sangat panas hingga ingin menghirup napas melalui mulut dengan cara isap.
Sans dan Beatrice dapat bernapas lega melihat kondisi Riri sudah membaik dan dapat berlari bersama. Kali ini tujuan mereka hanya satu, berjuang sampai akhir dan menuju garis finish untuk mendapatkan “kejayaan” pada hari pertama Festival Melzronta.
“Tu-tunggu aku, Kakak!” Lana tidak mampu menyusul Sans, Beatrice, dan Riri. Satu per satu murid lain dari belakangnya menyusul, menutupi pandangannya terhadap mereka bertiga.
“Ka-Kakak?” Sandee yang berada di sampingnya pun heran, memperhatikan Lana menatap Sans.
“Memang kenapa?”
“Memangnya kamu dan si sawo matang mantel putih itu—”
“Ah, aku sudah menganggap Sans sebagai kakakku sendiri. Dia adalah panutan yang luar biasa bagiku. Memang tidak biasa, murid bermantel putih seperti dia tetap berjuang gigih, meski pada akhirnya dia kalah melawan Profesor Dolce. Ya, dia sudah berkembang daripada saat aptitude test.”
“Jadi intinya kamu dan si sawo matang mantel putih itu bukan kakak beradik.”
“Bahkan tidak berhubungan darah, dia tetap kuanggap Kakak!” Mata Lana seperti berbinar bintang.
Sandee sampai menepuk dahinya, sama sekali tidak percaya apa yang baru saja Lana katakan. Hanya karena kagum hingga menganggap seseorang sebagai sang kakak, benar-benar tidak masuk akal.
Rombongan murid barisan terdepan pun akhirnya melalui gerbang pagar utama akademi menuju jembatan perantara hutan. Jembatan itu seakan dilewati oleh aliran lautan manusia yang saling susul menyusul dan penuh keramaian.
Papan penanda di koridor depan jalan persimpangan menuju kota membuat semuanya berbelok kiri menuju lokasi lain, yaitu untuk mengeksplorasi hutan antara akademi dan kota. Bagi murid tahun pertama, hutan itu sangat asing semenjak mereka hampir tidak pernah memasukinya. Mereka hanya pernah memasuki hutan melalui gerbang barat akademi saat aptitude test bagian luar.
Lama-kelamaan deretan pepohonan di setiap sudut hutan silih berganti hanya menjadi sebuah padang rumput seakan tanpa dinding. Langit biru cerah dapat terlihat jelas, sangat jelas.
“Kesempatan!” jerit salah satu murid di barisan terdepan menambah kecepatan.
Tay sama sekali tidak berhenti mendorong Neu menggunakan bahunya. “Minggir!”
“Kamu yang minggir!” jerit Neu.
Ya, tidak dapat mereka sangka, rerumputan di sekitar mereka mulai mengangkat diri dan satu per satu meraih bagian tubuh setiap murid seperti cambuk. Tanpa kewaspadaan, cukup banyak yang akhirnya terbelenggu oleh perangkap itu.
“A-AAAAAAAAAARRRGH!!” jerit beberapa murid yang tertangkap.
“A-apa ini!” jerit murid-murid lain yang menyaksikan.
“Ru-rumput pengikat?” Neu ikut tercengang sambil menghindarinya.
“Sialan!” Tay mengeluarkan pedang dari selongsong, bersiap untuk menebas setiap rumput yang menghalanginya dalam melangkah lebih jauh.
Neu mengangkat kedua tangan, mengunci salah satu kelompok helai rerumputan sebagai target sihirnya. “Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!”
Kumpulan api berbentuk belati pun melayang dari kedua telapak tangannya dan berhasil membakar sekaligus memotong beberapa helai dari rumput pengikat itu.
Bukan hanya Tay dan Neu yang menyerang demi melindungi diri, beberapa dari murid lain juga turut mengambil senjata masing-masing dan bertubi-tubi membasmi setiap helai rumput pengikat yang menghalangi.
Sayang, sayang sekali! Akibat serangan bertubi-tubi dari para murid, helai rumput pengikat satu per satu mulai tumbuh dan bertambah lebih banyak daripada sebelumnya.
Jeritan nyaring dari setiap murid yang tertangkap dan terbelenggu oleh rumput pengikat semakin meledak. Tubuh mereka pun terangkat ke udara. Menatap ke bawah saja dari ketinggian tertentu sudah memicu adrenalin mengalir menuju otak, sampai-sampai kedua kaki bergerak kencang karena panik ingin meloloskan diri.
Tay menyindir Neu lagi selagi melanjutkan larinya dan kembali menaruh pedang pada selongsong, “Bodoh sekali dirimu, kamu memperparah segalanya.”
Melihat berbagai murid panik menghadapi rumput pengikat di hadapan mereka penuh jeritan dan ketakutan, Sans, Beatrice, Yudai, dan Riri ikut tercengang atas revelasi itu.
“A-apa ini!” jerit Beatrice.
“Ru-rumputnya … menangkap setiap orang,” ucap Sans.
Riri mengambil posisi kuda-kuda. “Tidak ada pilihan selain menghindari rumput pengikat itu sambil berlari.”
Lana, yang baru tiba di belakang mereka bersama Sandee, memberi usul, “Kenapa tidak sambil menebas rumput pengikat saja. Akan lebih mudah untuk membuat jalan.”
“Dari kelihatannya juga semakin rumput pengikat itu diserang, semakin banyak tumbuh dan ganas.”
“Se-seram!!” jerit Beatrice.
“Tunggu apa lagi!” Sandee menunjuk satu per satu murid mulai menyusul mereka. “Kita akan ketinggalan, cepatlah!”
Sandee terlebih dulu mengambil langkah, tidak mau ketinggalan dalam menghadapi rumput pengikat. Ia sama sekali tidak mengambil pedangnya, justru berlari seorang diri tidak memedulikan penderitaan murid lain.
“Ayo kita mulai!” Sandee pun menyusul, bersamaan dengan Sans dan Riri.
“Ka-Kakak, tunggu!” Lana pun mengambil langkah, terlambat bereaksi begitu menatap Sans mulai menghadapi rumput pengikat.
Beatrice pun menjadi yang terakhir di antara teman-temannya. Melihat satu per satu murid lain berlarian dan begitu banyak murid yang terjebak oleh rumput pengikat membuatnya semakin panik, sangat panik. Kewalahan dalam bereaksi, ia pun masih berada di dalam keraguan ketika mengambil langkah.
“Tu-tunggu aku!!”
Melihat sudah cukup banyak murid terbelenggu oleh rumput pengikat dan hanya sedikit yang mampu melarikan diri dan lolos, tekanan batin mengingkat selagi mereka sebaik mungkin menghindarinya.
Beatrice sampai menjerit saking tercengang, sangat beruntung menatap rumput pengikat hampir mencapainya. Setiap kali ia menghindar dengan berlari atau melompat, arahnya benar-benar tepat untuk menghindari setiap jeratan rumput pengikat.
Tidak seperti Beatrice, Sandee benar-benar tidak beruntung. Ia tertangkap dalam jeratan pertama dan menjerit meminta tolong. Ia bernasib sama seperti mayoritas dari murid lain.
Sempat tercengang menyaksikan Sandee tertangkap, Sans, Beatrice, Riri, dan Lana mengalihkan fokus kembali menghadapi kumpulan rumput pengikat.
Masih terdistraksi oleh tertangkapnya Sandee, Sans terlambat dalam mengambil langkah untuk mengikuti langkah Riri. Ia pun tercengang ketika dari hadapan kanan sehelai rumput pengikat meluncur mengunci tubuhnya sebagai target.
“Ka-Kakak!” Lana menubruk tubuh Sans, membuat dirinya tertangkap oleh rumput pengikat.
“La-Lana!” jerit Riri.
“Who-WHOAAAAA!!” Tubuh Lana mulai terangkat ke udara ketika dadanya terbungkus erat oleh rumput pengikat, membatasi pergerakannya. “Ka-kalian pe-pergilah tanpa a-aku! Selamatkan diri kalian! Lari, Kakak!”
“Ayo, Sans!” bujuk Riri menghampiri dan menggiringnya melanjutkan perjalanan.
“A-AAAH!” jerit Beatrice sekali lagi menatap semakin banyak murid yang tertangkap rumput pengikat. “Tu-tunggu!!”
***
Lolos dari kumpulan rumput pengikat, Yudai dan Zerowolf melanjutkan lari demi merebutkan posisi paling pertama. Sebuah persaingan di antara mereka sangat sengit dan tidak membuat mereka patah semangat.
Kembali mendapati deretan pepohonan, pertanda memasuki kembali area hutan, kecepatan lari mereka mulai melambat. Refleks tangan kanan mulai mendorong area perut hingga membuyarkan konsentrasi.
Pikiran pun teralihkan ketika mereka kembali menambah kecepatan dalam berlari mengitari hutan. Yudai pun mengingat bahwa herb penahan efek rasa pedas merupakan tujuan selanjutnya, dengan begitu, ia dapat menahan sakit perut yang secara progresif berkembang.
Penantiannya akhirnya berakhir ketika menatap dua baris semak-semak di depan mata. Hanya dua baris. Yudai mengasumsikan semak daun itu merupakan herb penyembuh sakit perut akibat pedas tingkat tinggi.
Sayangnya, ukuran semak itu hanya seluas sebuah kursi di alun-alun kota. Berarti jumlah herb belum tentu cukup untuk semua murid yang masih bertahan.
Zerowolf mengangkat tangan kanannya. “Sakit perut ini kecil! Takkan kubiarkan ini mengangguku! Menahan rasa sakit hanyalah untuk pengecut!”
Yudai sedikit tersinggung, menoleh pada Zerowolf. Jika ia pikir-pikir lagi, sakit perutnya tidak terlalu menganggu untuk melanjutkan balap lari, terutama bersaing melawan Zerowolf demi memperebutkan posisi pertama.
Ia bergumam, “Ah, dasar, kalau itu tantanganmu akan kuterima.”
“Apa?” Zerowolf memperhatikan gerak bibir Yudai sambil mendekatinya.
“Kamu bilang mengambil herb adalah tindakan pengecut, kita benar-benar bertanding!”
“Baiklah!” Zerowolf menyeringai.
Mengabaikan rasa nyeri pada perut, keduanya perlahan menambah kecepatan. Mereka melewati deretan semak herb begitu saja tanpa mengambil sehelai sama sekali. Adrenalin pun melonjak ketika selesai melewati semak itu.
Kurang lebih dua setengah menit kemudian, deretan murid barisan terdepan yang lain terutama Tay dan Neu mulai mendatangi semak herb itu. Sayang sekali, ukuran semak itu tidak selebar yang mereka kira. Sungguh kecewa saking sakit perut mereka mulai muncul.
Kecepatan melambat, perut terasa tertekan dan berat akibat seperti tertusuk sesuatu, konsentrasi perlahan buyar, dan sendawa ketika menghentikan langkah untuk beristirahat sejenak.
“Ah! Aku merasa tidak enak badan!” ucap Neu tetap mempertahankan kecepatannya meski perutnya mulai terasa sakit.
Tay membalas, “Itu karena kamu terlalu cepat memakan spicy tofu di kantin! Ah!”
Kecepatan Tay juga mulai melambat meski memaksakan diri untuk berlari menahan sakit perutnya, tidak ingin kalah melawan murid di barisan terdepan yang satu per satu tiba dan mulai memetik herb.
“AAAAAAH!!” jerit Neu ikut menambah kecepatan dan menggerakkan tangan kanannya.
“Sakit! Aku butuh herb!” jerit Tay mengeluarkan pedangnya.
Begitu mereka berdua telah menghampiri semak, Tay di sebelah kiri, Neu di sebelah kanan; seluruh murid melongo menyaksikan sebuah aksi konyol. Tay menggunakan pedang untuk memotong herb sebanyak mungkin. Neu menggunakan sihir Air Blades untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya.
Terpicu atas perilaku konyol mereka, seluruh murid di dekat mereka berbondong-bondong mendekati semak yang sudah botak itu, tidak ingin ketinggalan untuk merebut herb itu sebanyak-banyaknya. Mereka kini seperti ternak yang berebut makanan.
Rakus, sifat buruk manusia sangat tampak pada situasi itu. Tay dan Neu menjadi salah satu murid dengan situasi seperti itu, mengambil dan memakan herb sebanyak-banyaknya demi meredakan sakit perut berbagai tingkat. Jika perlu, seseorang bahkan saling mendorong utuk mendapat apa yang diinginkan.
Tidak perlu heran bahwa mayoritas dari herb di semak-semak itu mulai ludes.