Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 145



Kedatangan organisasi Royal Table menjadi topik utama pembicaraan seluruh murid ber-job tipe striker saat keberangkatan dari Silvarion kembali menuju ibu kota kerajaan. Tidak sedikit pula yang masih terkejut akan kehadiran sosok misterius bernama Spade beserta pasukannya. Terlebih, kemarahan kelima profesor dan seluruh royal guard yang bertugas juga memicu berbagai pertanyaan.


Cukup banyak pula yang menyangkal bahwa ucapan Spade hanyalah sebuah hasutan untuk seluruh murid. Mengandalkan buku sejarah yang sudah mereka pelajari semester lalu, mereka menganggap seluruh sejarah tertulis merupakan sebuah kebenaran tanpa cela.


Begitu tiba di kastel kerajaan pada esok hari, kelima profesor pengampu menyuruh seluruh murid tahun pertama ber-job tipe striker untuk kembali ke asrama dan tidak keluar sampai pengumuman lebih lanjut. Seluruh *royal*guard yang ikut tiba juga menyampaikan kabar itu pada seluruh murid tahun kedua hiingga keempat yang terheran.


Kabar tentang Royal Table tersebar cukup cepat. Banyak murid tahun kedua hingga keempat bertanya pada setiap murid tahun pertama ber-*job*striker. Reaksi mereka sama, sama sekali tidak percaya, menyangkal kalau sejarah yang tertulis bukanlah sebuah kebohongan.


Terlebih, saat murid tahun pertama ber-job penyihir telah tiba di kastel akademi dan disuruh langsung masuk asrama, mereka langsung memberitahu kabar itu. Sama saja, tertegun, marah, ragu, dan menolak. Tidak percaya apa yang telah terjadi.


Akan tetapi, sesuatu yang janggal terasa bagi Yudai dan Tay. Dari keempat teman dekat, bisa dibilang begitu bagi Tay, yang mengikuti bootcamp khusus job tipe penyihir di Vaniar, hanya Sierra telah kembali. Maka, mereka berdua menemuinya sedang bersama Katherine di *lounge*room.


Lounge room menjadi cukup sesak, semua orang di sana masih mengkhawatirkan apa yang terjadi selanjutnya. Tidak sedikit yang memutuskan untuk menaiki tangga agar kembali ke kamar masing-masing.


Saat Katherine melihat Yudai menghampirinya, lagi-lagi, wajahnya memerah, memalingkan wajah. Pada saat yang sama, keraguan masih menyelimuti benaknya, keraguan akan kabar angin di kalangan para murid.


Yudai mulai bertanya, “Mana yang lainnya?”


Sierra memalingkan wajah, menghela napas. “Ceritanya panjang.”


“Disingkat saja!” paksa Tay tegas.


“A-a-aku tidak tahu harus memulai dari mana menceritakannya. Uh …. Tiba-tiba saja terjadi. Awalnya, saat hari ketiga pelatihan kelompok, Sans tiba-tiba menghilang.”


Yudai langsung tidak percaya.


“S-S-Sans menghilang katamu! Ke-kenapa!”


Sierra menjawab cukup ragu, “A-aku sendiri tidak tahu. Tapi anehnya, bootcamp berjalan seperti biasa, seperti tidak ada yang terjadi. Tidak ada pengumuman sama sekali. Anehnya, hari terakhir, N-N-Neu juga … menghilang.”


Mendengar kabar itu, Tay langsung tersenyum. Sama sekali tidak ada empati baginya untuk peduli terhadap teman sekamar sekaligus rival bebuyutannya itu.


“Kalau begitu bagus. Aku tidak perlu repot-repot meladeni dia nanti malam. Aku bisa beristirahat dengan tenang mulai sekarang.”


“Tay!” Sierra menegur, “Tidak sepatutnya kamu bicara begitu pada teman kita!”


“Kenapa? Kerjaannya hanya merepotkan kita, merepotkanku.”


“L-lalu bagaimana dengan Beatrice? Apa yang terjadi dengannya?” Yudai sigap kembali bertanya.


“Itu … dia juga pergi sehari sebelum kami meninggalkan Vaniar.”


Pergi alih-alih menghilang, Yudai langsung memahami menghilangnya Beatrice sungguh berbeda daripada Sans dan Neu.


Sierra melanjutkan, cukup berat dalam mengatakannya, “I-ini benar-benar aneh. Kalian pasti tidak percaya. D-dia memutuskan untuk pulang ke Beltopia.”


Lagi-lagi, tiga rantai beruntun mematahkan benak Yudai.


“Ke-kenapa? Bukannya dia tidak ingin kembali ke kampung halamannya!”


Yudai tahu betul Beatrice ingin tetap berada di akademi.


“I-ini juga tiba-tiba. Tapi … Profesor Hunt hanya bilang ayahnya sudah sadar. Tampaknya ayahnya sudah sembuh dari penyakit parah itu. Katanya ibunya menjemput, kebetulan.”


Banyak sekali kebetulan, Yudai langsung menekan jidatnya sendiri. Tiga orang yang menjadi teman sejak awal masuk akademi telah menghilang saat bootcamp berlangsung di Vaniar, ia tidak ingin memikirkannya lagi, apalagi membahasnya.


“Tiga teman kita menghilang. Si mantel putih, penyihir menyanyi, dan mata empat. Lebih bagus malah. Si mantel putih mungkin saja melarikan diri, penyihir menyanyi pulang kampung, dan mata empat tidak tahu entah kemana. Tidak perlu repot-repot—”


“Ah! Sudah cukup! Oke!” Yudai langsung berbalik, naik darah.


Ia berjalan cepat menghampiri tangga menuju deretan kamar, tidak sabar ingin memasuki kamarnya.


“Yu-Yudai ….” Katherine baru saja bersuara, terbata-bata ingin menyapanya, apalagi menenangkan.


“Biarkan saja dia. Masih belum bisa menerima mungkin.” Tay sama sekali tidak memedulikan sikap Yudai.


***


Situasi tidak biasa memicu setiap profesor tidak bersuara saat duduk mengelilingi meja bundar. Tidak seperti biasanya, ruang rapat sangat hening. Tidak ada sepatah katapun terlontar secara lantang.


Menunggu cukup lama, satu per satu profesor mulai berdiskusi tentang peristiwa yang telah terjadi selama hari ke-13 bootcamp di Silvarion. Tidak heran, cukup banyak profesor yang menyangkal pernyataan dari Spade, selaku sosok misterius dari Royal Table. Mereka menyetujui keadaan murid di akademi menjadi dalam bahaya.


Masih saja mencurigai kalau salah satu dari mereka, kalangan profesor, adalah seorang mata-mata dari Royal Table, terlebih terdapat empat kursi kosong di depan meja rapat. Atau bisa saja salah satu dari murid. Pernyataan dari Spade bahwa dari dalam juga memperkuat dugaan itu.


Percakapan terhenti ketika Arsius akhirnya memasuki ruang rapat dan mulai menempati posisinya, menatap setiap profesor.


“Maaf,” sambut Arsius, “saya ada urusan di kerajaan. Saya sudah mendengar semuanya.”


Tidak ada satu pun yang terkejut, setiap profesor sudah menduga salah satu royal guard telah mengabari raja atas peristiwa tersebut. Terlebih, Arsius sebelumnya tengah berdiskusi dengan raja dan ratu tentang masa depan lulusan akademi.


“Sebelum kita mendiskusikannya, seperti yang kalian lihat, empat orang profesor, Dolce, Duke, Rivera, dan Remi sedang berhalangan hadir karena urusan di luar kota. Jika mereka tiba, harap beritahu hasil rapat kita, seperti saat kita mengumumkannya pada seluruh murid nanti.”


Baron membuka pernyataan, “Akhirnya terjadi juga.”


“Apa maksudmu?” sanggah Berry.


“Selagi kita semua lengah, mata-mata itu pasti berhasil mengorek sebuah informasi yang bahkan kita sendiri tidak tahu. Saya, Alexandria, Clancy, Farrar, dan Speed melihat dan mendengar sendiri, kami benar-benar terkejut mendengar sejarah kerajaan mungkin saja mengandung sebuah kebohongan.”


Danson menambah, “Saya bisa mengerti. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran yang ada, pasti kita akan menyangkal, marah dan terkejut.”


“Apa Anda mau bilang kita pasrah saja? Membiarkan organisasi separatis ini menghancurkan akademi ini! Apalagi kerajaan nantinya!” bentak Alexandria.


“Alexandria,” Danson membalas, “saya tidak berkata demikian.”


Baron mengangkat tangan. ‘Anda lagi-lagi membahas alchemist, Alex—”


Alexandria memukul meja begitu keras, bunyinya sampai mengagetkan hampir semua profesor. “SAYA BELUM SELESAI!”


Clancy dan Snowdon sampai membeku menatap Alexandria melawan seorang profesor laki-laki begitu saja. Bagi mereka, beserta seluruh profesor wanita, dia benar-benar berani.


“Anda tidak punya alasan untuk membungkam saya, Baron,” Alexandria bangkit dari tempat duduknya, geram. “Memangnya saya tidak punya alasan untuk membahas alchemist?”


“Alexandria, tenanglah, kita sedang tidak membahas alchemist,” tegur Hunt.


“Jangan suruh aku tenang! Kita semua sudah tahu, insiden alchemist sudah berkaitan dengan ini. Saya bisa simpulkan sendiri kalau sejarah yang tidak tercatat pasti berkaitan dengan alchemist!”


“Alexandria, sudah cukup. Kita bisa membahas alchemist lain waktu. Duduklah,” bujuk Arsius, “Royal Table sekarang menjadi masalah paling penting saat ini.”


“Menilai tindakan Royal Table, tampaknya mereka ingin kerajaan dan akademi ini hancur dari dalam, mengingat seorang mata-mata dari organisasi itu juga berperan sebagai salah satu dari kita, atau bisa saja murid kita sendiri,” Hunt menyampaikan teorinya.


“Tampaknya saya juga setuju. Mata-mata itu punya akses tentang informasi terpenting dan paling rahasia, bahkan termasuk yang kita tidak ketahui sedikit pun. Seperti dugaan Alexandria dari rapat-rapat sebelumnya, saya mengerti mengapa alchemist dilarang di kerajaan Anagarde, apalagi di Akademi Lorelei. Mungkin itu bisa menjadi salah satu dari motif di balik berdirinya Royal Table.”


“Lalu apa teori satu lagi?” Clancy baru bersuara.


Snowdon juga mengemukakan, “Tampaknya bukan hanya insiden alchemist, tetapi juga segudang informasi yang dapat memanfaatkan mereka untuk mengekspos kita, seluruh kerajaan ini.”


“Tampaknya kita tidak punya pilihan lain. Murid-murid sekarang sudah telanjur menyebarkan informasi ini, pasti mata-mata itu akan lebih berhati-hati dalam bersembunyi. Saat kita lagi-lagi lengah, mau tidak mau, informasi itu akan diberikan pada Royal Table,” Berry menyimpulkan.


“Saya rasa banyak yang harus dipertimbangkan.” Arsius menepuk meja di hadapannya sambil berdiri. “Saya ingin mendengar pendapat kalian, lalu kita akan memutuskan bersama, demi masa depan kerajaan dan akademi ini.”


***


Seluruh murid akhirnya diperbolehkan keluar dari asrama hanya untuk berbaris menuju aula saat malam mulai menyingsing. Berbondong-bondong dari gedung asrama, selasar, hingga menuju tangga lantai dasar, mereka masih saja membahas Royal Table sebagai organisasi misterius. Tidak hanya itu, panik tergambar pada wajah beberapa murid tingkat atas, terutama nasib mereka setelah lulus dari akademi.


Begitu satu per satu murid mulai memasuki aula, mereka menoleh pada gerbang utama di hadapan tangga yang terbuka oleh dua orang royal guard kerajaan. Tiga orang sosok tidak asing telah melewati gerbang tersebut, tertegun atas perubahan yang terjadi.


Penjagaan kastel ketat oleh pihak royal guard dan deretan murid yang berbaris menuju aula. Ketiganya langsung melongo apa yang telah terjadi.


Yudai, Tay, Sierra, Riri, Zerowolf, Katherine, Lana, Ruka dan Sandee menjadi salah satu murid yang baru saja berbelok dari menapakkan kaki di lantai dasar. Sungguh terperanjat, ketiga sosok yang membelakangi gerbang keluar utama itu baru saja hadir.


“Ada apa ini sebenarnya?” Dolce menegur para murid.


“Kenapa ada royal guard berjaga di sekitar halaman akademi?” Giliran Duke yang bertanya.


“Astaga, Sans!” sahut Yudai.


“Sans! Kamu baik-baik saja!” seru Riri ketika Sans menghampiri.


“Yudai, semuanya, apa yang terjadi?”


“Ceritanya panjang.” Yudai membiarkan Sans menyeroboti dirinya dalam berbaris. Kemudian ia berbisik, “Kukira kamu menghilang,”


“Nanti kuceritakan setelah ini. Ini tampaknya lebih penting.” Ia mengangguk menuju pintu aula.


“Profesor Duke, Profesor Dolce. Harap masuk duluan,” sambut royal guard pada kedua profesor yang juga baru saja tiba itu, “profesor lain sudah menunggu kalian.”


Duke dan Dolce tanpa berkata-kata mendahului barisan murid untuk menemui profesor yang lain.


Begitu seluruh murid telah memasuki aula, mereka mengambil posisi tempat duduk masing-masing di hadapan meja sesuai dengan tingkatannya.


Profesor Arsius telah berdiri di hadapan podium menghadap seluruh murid, sementara profesor lainnya, seperti biasa, duduk di hadapan meja di belakangnya.


Riri mendapati Alexandria menegur Duke dan Dolce. “Seperti biasa, Profesor Alexandria langsung marah.”


Zerowolf menghela napas. “Kenapa harus memarahi Dolce segala? Mungkin saja beliau ada urusan di luar kota.”


“Mohon perhatiannya.” Arsius memecah keramaian seluruh murid. “Saya sudah yakin kalian sudah mendengar kabar itu, kabar yang menjadi kekhawatiran kita semua, terutama pihak akademi dan kerajaan.


“Akademi sedang dalam bahaya akhir-akhir ini, memang benar. Seluruh murid tahun pertama tipe striker atau fisik sudah menjadi saksi langsung menjelang berakhirnya kegiatan bootcamp di Silvarion. Sebuah organisasi separatis menjadi ancaman untuk kita semua, seluruh kerajaan.


“Terlebih, salah satu dari mereka mungkin saja seorang mata-mata di sini. Mata-mata itu bisa saja salah satu dari kita.”


Seluruh murid sungguh terenyak mendengar pernyataan dari Arsius. Banyak dari mereka, terutama murid tahun keempat, saling melirik dengan curiga, ketakutan akan kemungkinan salah satu mereka bisa menjadi seorang mata-mata, seseorang yang mengkhianati akademi dan kerajaan.


“Untuk itu, saya mengumumkan mulai besok, penyelidikan dari kami dan kerajaan akan dimulai. Itu berlaku bukan hanya kalian, tetapi juga kami sendiri. Anggap saja kita semua adalah tersangka.


“Juga, terdapat beberapa perubahan. Pertama, seluruh murid yang dipanggil untuk penyelidikan diwajibkan patuh untuk mengikuti prosedur, menjawab pertanyaan dengan jujur, dan yang paling utama, bekerja sama dengan kami.


“Kedua, kalian diwajibkan untuk kembali ke akademi pada sore hari setelah kegiatan di luar. Jika kalian tidak mematuhi jam malam, kalian akan diberi sanksi, dan juga, kalian harus diinterogasi demi penyelidikan.


“Kalian masih diperbolehkan untuk membuat surat izin jika ada urusan mendesak di luar kota, selama alasannya dapat dipertanggungjawabkan dan batas waktunya hanya satu minggu. Tanpa kecuali.”


Sungguh menegangkan, mendengar bahwa semuanya harus mematuhi perubahan peraturan, apalagi menghadiri interogasi jika mereka terpanggil, membuat mereka merinding. Perubahan yang sangat ketat mengingat terdapat ancaman bagi kerajaan dan akademi dari organisasi Royal Table.


Royal Table, pasti organisasi itu bukan main. Organisasi separatis itu secara nyata menjadi ancaman hebat.


“Peraturan ini dibuat karena kami ingin secepat mungkin menemukan mata-mata itu. Jika tidak, sayang sekali, lama-kelamaan kerajaan dan akademi ini akan hancur reputasinya, dan kita semua tidak ingin itu terjadi,” ungkap Arsius.


Mendengar pengumuman itu, Sans melirik pada Duke. Teringat pula perjanjiannya setelah melawan Spinarcia, ia akan mulai berlatih alchemy lagi di sebuah tempat rahasia di kastel akademi alih-alih di ruang pribadi profesornya itu.


Apalagi menjadi alchemist merupakan risiko tersendiri. Sudah main kucing-kucingan di ruangan pribadi Duke demi mencapai tujuannya, kini risiko itu bertambah dahsyat karena adanya penyelidikan.