
Menundukkan wajah, salah satu cara untuk beristirahat dari kepenatan, tampaknya sering dilakukan oleh setiap murid setelah mendapat materi pembelajaran dan kritikan kurang memuaskan dari profesor. Stres pun cukup terlampiaskan dengan menundukkan wajah, apalagi sampai menyandarkannya pada meja.
Menundukkan wajah, itu yang dilakukan oleh Sans, Beatrice, dan Neu saat makan siang Beatrice juga menyandarkan kepala pada meja di depan baki makanan sambil menghela napas. Pelampiasan rasa penat benar-benar tidak terhindarkan bagi mereka bertiga.
Yudai menghela napas. “Ayolah. Dari kemarin kalian begini terus. Aku tahu kita semua lelah, apalagi setelah menghadapi setiap profesor. Kalian kenapa jadi begini?”
Neu mengangkat kepala. “Mudah untuk bilang sabar dan semua akan berlalu. Sudah seminggu aku terus bersama Tay, baik di kamar asrama dan seluruh kamar mandi. Dia bahkan menyuruhku membereskan semuanya di kamar asrama, lalu, dia secara harfiah tidak membantu membersihkan seluruh kamar mandi di akademi.”
“Tunggu. Secara harfiah?” ulang Yudai.
“Ya. Dia hanya membersihkan sedikit, tanpa ada niat, lalu dia menyerahkannya padaku seorang diri. Dia juga bahkan menolak untuk membersihkan bagiannya di kamar. Membereskan tempat tidur dan pakaian sendiri, dia tidak mau. Makanya, dia tidak mengerti apa itu kerjasama, dia tidak mengerti apa itu pertemanan. Pantas saja dia ditinggal teman setianya setelah aptitude test.”
Beatrice kali ini mulai bercerita sambil merendahkan diri, “Aku sudah berusaha sebaik mungkin dalam menyanyi di kelas. Justru, profesor bilang aku tidak punya sikap baik dan tidak bertenaga dalam bernyanyi. Aku tidak tahu apa yang dia mau dariku, dia bilang belum cukup.”
Sans mendapat giliran untuk berkata, “Melihat kalian dilatih langsung oleh profesor, jujur, aku cukup iri. Kalian mungkin punya masa depan yang cerah di akademi. Sedangkan aku … mungkin tidak akan bertahan lama seperti kebanyakan murid bermantel putih. Aku merasa tidak akan cukup berlatih sendiri tanpa profesor, hanya mengandalkan arahan dari kalian.”
Neu membalas, “Apa yang kamu bicarakan, Sans? Kamu tidak akan dikeluarkan. Kamu sudah berusaha keras untuk berlatih, setidaknya kamu bisa membuktikannya pada para professor di akademi nanti. Jujur, kamu paling berusaha keras dalam berlatih, itu bagus kok. Caramu mengayunkan belati—”
Sans memotong, “Aku tahu, tapi aku merasa tidak cukup. Seandainya aku boleh ikut kalian dalam salah satu kelas khusus job, tapi itu tidak diperbolehkan karena aku gagal dalam aptitude test.”
“Aku selalu melihatmu. Kamu selalu berkembang,” Yudai mencoba untuk menghibur Sans.
“Membicarakan ini semakin menyedihkan,” Neu mengingatkan.
“Benar.” Yudai mengangguk setuju.
Neu bangkit dari tempat duduknya. “Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Besok malam, kita ke Festival Malam Walpurgis di alun-alun. Demi menenangkan diri.”
“Festival Malam Walpurgis?” ulang Beatrice.
“Nanti saat kita ke sana, aku jelaskan. Tapi sebelum itu, kita beli kostum dulu sore ini.”
***
Memasuki sebuah toko kostum, beberapa rak berisi kostum penyihir berbagai ukuran dan warna terpampang berjajar di setiap sudut menunjukkan sebuah tren mode, terlebih menjelang Festival Malam Walpurgis. Beberapa pengunjung berbagai usia, mulai dari anak kecil, murid akademi Lorelei, hingga orang dewasa, berdiri dan memilah mencari kostum yang cocok sambil terpana.
Lantai keramik dan dinding ber-wallpaper cokelat bernotif cat hijau neon menggambarkan keadaan toko tersebut mengikuti tema musiman. Berbagai barisan gantungan kostum penyihir seperti jubah dan topi juga seakan mengikuti harmoni di dalam toko.
Melihat berbagai kostum penyihir bergantungan di barisan terdepan toko kostum tersebut sudah membuat Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu terdistraksi oleh berbagai warna dan ukuran. Terlebih dahulu, mereka mendatangi salah satu barisan gantungan dan menyentuh salah satu kostum penyihir.
Yudai bertanya, “Ini ada potongan harga, tidak?”
“Aku tidak tahu. Wajar banyak orang kemari sebelum Festival Malam Walpurgis untuk membeli kostum penyihir,” jawab Neu.
Beatrice menatap salah satu barisan belakang dekat meja pemilik toko kostum. “Ada juga yang membeli gaun biasa. Tampaknya untuk Festival Malam Walpurgis besok juga.”
Yudai mengambil salah satu kostum penyihir berwarna kuning. “Oke, ini cukup menarik.”
“Kamu suka?” tanya Beatrice.
“Mungkin instingku bilang ini cocok. Kalau ini seharga kurang dari 350 vial, aku mungkin akan membeli ini.” Yudai menunjukkan kostum penyihir berupa topi dan jubah berwarna kuning.
“Yang mana ya?” Beatrice mulai memilah-milah barisan gantungan kostum penyihir.
Sans melihat setiap barisan gantungan kostum, hampir semuanya kostum penyihir. “Aku bahkan tidak tahu. Aku tidak pernah ke toko kostum seperti ini sebelumnya.”
“Kalau begitu sama denganku!” seru Yudai.
“Eh? Ta-tapi kamu langsung memilih kostum. Kukira kamu—”
Yudai memotong sambil mengambilkan kostum penyihir berwarna hijau lemon pada Sans. “Aku pilih ini untukmu. Kamu akan cocok menggunakannya daripada mantel putih seperti itu.”
“E-eh? Kalau begitu, aku ambil yang ini.” Sans menyetujui keputusan Yudai.
***
Keramaian masyarakat mulai memuncak ketika esok malam mulai tiba. Festival Malam Walpurgis tengah berlangsung di alun-alun. Sukacita masyarakat seakan berdering nyaring mengikuti keramaian di alun-alun. Terlebih, kebanyakan dari masyarakat mengenakan kostum penyihir berupa jubah dan topi. Bukan hanya kostum penyihir, ada pula yang memakai kostum merepresentasikan makhluk mitos, seperti gaun kurang lebih mirip berperan sebagai seorang peri, jubah merah atau hitam melapisi kemeja putih seakan berperan sebagai vampire, dan kostum werewolf berupa mantel bulu.
Nyanyian dan alunan dari sebuah grup musik menjadi sambutan pada masyarakat setelah memasuki alun-alun untuk menghadiri Festival Malam Walpurgis. Harmoni dari permainan instrumen turut membuat kaki ingin bergoyang mengikuti irama.
Dua orang penyanyi menonjolkan kekuatan akan kegembiraan dari suara masing-masing. Sedikit koreografi dari gerakan tubuh dan tangan mereka juga ikut melambangkan kebahagiaan untuk berpartisipasi dalam Festival Malam Walpurgis.
Ketukan dari entakan tangan pada djimbe, tiupan napas pada bagpipe, dan gesekan jari pada sitar turut menyatukan harmoni irama nyanyian hingga menjadi sebuah lagu mengagumkan bagi setiap pendengar.
Setiap satu lagu selesai, beberapa pengunjung yang menyaksikan pertunjukan musik itu bertepuk tangan sambil bersorak menandakan kebahagiaan. Ada pula yang memutuskan untuk beralih demi mengekplorasi lebih dalam Festival Malam Walpurgis di alun-alun.
Perayaan Festival Malam Walpurgis tidak akan lengkap jika tidak ada beberapa stand berjajar di alun-alun. Kebanyakan stand tersebut menjual berbagai makanan dan minuman, terutama sosis bakar dan bir. Tidak heran cukup banyak yang menikmati sepotong sosis bakar dan secangkir bir.
Puncak acara sekaligus hal utama Festival Malam Walpurgis mulai terlihat dari kumpulan kayu bakar hingga mencapai tinggi setinggi-tingginya. Demi mencegah kebakaran besar di alun-alun, kayu bakar ditumpuk di dalam sebuah bak lingkaran terbuat dari baja dan berisi tanah. Dengan demikian, api dapat menjalar mencapai langit dan menjadi cukup besar.
Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu yang telah berkostum penyihir menyaksikan masyarakat tengah mengumpulkan kayu bakar di pusat alun-alun itu. Sans, Beatrice, dan Yudai cukup terpana tidak menyangka tumpukan kayu bakar terlihat cukup memanjakan mata.
“Hebat, ini benar-benar menakjubkan!” seru Beatrice yang mengenakan topi dan jubah penyihir aquamarine.
“Oke, tumpukan kayu bakar itu akan jadi ciri khas festival ini, bukan?” tebak Yudai.
“Tepat,” Neu mulai menjelaskan, “sebenarnya kata Walpurgis itu sendiri berasal dari sebuah legenda. Legenda mengatakan bahwa penyihir dari seluruh dunia akan berkumpul untuk mengadakan pesta untuk merayakan perubahan musim. Konon, mereka bersenang-senang bersama iblis dengan menari dan menyalakan api unggun.”
“I-iblis?” Beatrice menepuk pipinya. “Me-menyeramkan sekali!”
“Setidaknya di Kerajaan Anagarde, Festival Malam Walpurgis bertujuan untuk mengusir hawa jahat, termasuk iblis. Konon, perayaan api unggun dilakukan juga untuk mengusir hewan liar dari kota dan membuat berisik sekeras-kerasnya,” tambah Neu, “oh ya, aku juga membaca sejarah mengapa festival ini diadakan. Berdasarkan sejarahnya, terjadi pemburuan penyihir besar-besaran oleh masyarakat, telah dipercaya kalau penggunaan sihir terkait dengan pemujaan setan. Dulu di Aiswalt, gereja mendominasi masyarakat dengan doktrin mereka. Setelah penyihir bermunculan, dilakukanlah eksekusi mati bagi yang ketahuan sebagai penyihir. Tak lama setelah itu, dominasi gereja runtuh karena semakin banyak penyihir yang melawan. Festival Malam Walpurgis bisa dibilang sebagai perayaan para penyihir, khususnya mage.”
“Oke, pantas banyak sekali pengunjung festival ini berkostum penyihir.” Yudai merapikan topi penyihir kuningnya. “Omong-omong, aku ingin sosis yang besar, besar, besar sekali. Beruntung aku membawa cukup banyak uang vial untuk berjaga-jaga.”
“Dasar.” Neu menepuk punggung kepala Yudai. “Pantas kamu rela melewatkan makan siang di kantin tadi.”
“Habisnya banyak orang di kelas memanah berbicara tentang sosis, sosis, sosis, dan sosis.”
Neu sampai melongo mendengar Yudai berucap sosis setidaknya empat kali dalam kalimat yang sama.
Sans memotong, “Omong-omong, bukannya Professor Arsius juga akan di sini nanti?”
Neu menjawab, “Beliau sudah berpidato untuk membuka festival ini. Sebenarnya kita melewatkannya. Mungkin saat pembakaran api unggun kita akan melihat beliau.”
Yudai tidak sabar ingin memelesat menuju salah satu stand makanan. “Sosis! Aku lapar.” Tanpa aba-aba lagi, ia mulai berjalan kencang.
“Dasar,” ucap Neu sebelum dirinya, Sans, dan Beatrice juga mengikuti menuju salah satu stand makanan.
Kebanyakan stand makanan tersebut terdiri dari meja di bagian depan dengan papan menu dan harga, serta bahan segar dan alat masak seperti pemanggang batu bara telah siap dengan api mengarah ke atas.
Tanpa memandang papan menu dan harga, Yudai langsung meminta pada penjaga stand, “Empat sosis, ukuran besar.”
“Yudai, kamu bahkan tidak melihat harganya dulu,” Neu memperingatkan sambil mengeluarkan kantong berisi uang vial dari saku celana.
“Kelihatannya enak!” Beatrice mengungkapkan kegembiraan ketika melihat penjaga stand tersebut mulai meletakkan empat sosis berwarna merah segar pada pemanggangan batu bara penuh api.
“Sosis! Sosis! Sosis!” gumam Yudai tidak sabar menunggu empat sosis pesanannya benar-benar matang dan siap untuk dimakan.
Beralih dari pemanggangan sosis, Beatrice menoleh pada salah satu stand aksesories pakaian di dekat quest board. Seorang perempuan berambut bergelombang tengah didekati oleh tiga orang laki-laki.
Melihat lebih teliti, Beatrice langsung teringat. Perempuan itu pernah terlambat saat kelas pertama di Akademi Lorelei, yaitu kelas yang diampu oleh Hunt. Teringat pula perempuan itu memakai merah seperti mawar bermekaran dari bagian dada hingga paha untuk memamerkan keeleganan dan kecantikannya alih-alih seragam.
Kali ini, perempuan berambut bergelombang itu mengenakan gaun ungu dengan bagian rok putih, dua hiasan bunga di lipatan tangan, dan dua gelang emas di pergelangan tangan. Tidak heran pakaian tersebut membuat menawan para laki-laki.
Beatrice meninggalkan Sans, Yudai, dan Neu yang masih menunggu sosis pesanan mereka. Ia melangkah ketika menyaksikan salah satu laki-laki penggoda berkostum penyihir tengah menyentuh wajah sang perempua bergaun ungu itu.
Ketika mendekat, salah satu laki-laki penggoda itu menyampaikan rayuannya, “Ayolah, mari kita minum segelas bir bersama-sama sambil menikmati festival ini. Perempuan sepertimu pasti haus sekali kan?”
Perempuan itu memalingkan wajah, mencoba untuk menjauhkan dagu dari sentuhan sang laki-laki penggoda. Namun, sang laki-laki penggoda itu langsung menggerakkan kembali perempuan gadis itu kembali menatapnya.
“Tidak akan lengkap festival ini kalau tidak minum-minum, apalagi bersama perempuan cantik dan elegan sepertimu.”
Perempuan itu menampar tangan laki-laki penggoda yang menyentuh dagunya itu. Ia tengah menarik napas ingin menjert.
Beatrice mencuri perkataan perempuan itu, “Tinggalkan dia sendiri.”
Ketiga laki-laki penggoda itu menoleh pada Beatrice yang baru saja mendekati mereka. Salah satu dari mereka justru menyindir, “Wah. Memangnya kamu ini sok bijak? Sok memberi nasihat saja dirimu.”
Salah satu dari laki-laki penggoda itu menatap jubah penyihir aquamarine Beatrice. “Sifatnya juga kekanak-kanakan, sama seperti pakaiannya.” Gelak tawa pun terlontar keras dari ketiga laki-laki itu.
Perempuan itu menyindir, “Kalian yang murahan. Kalian mengincar gadis-gadis hanya untuk diajak meminum bir, lalu dibuat mabuk, dan tahu apa yang terjadi selanjutnya, kan? Aku sering mendapat kabar seperti itu, apalagi saat tengah malam ketika seorang gadis sering minum bir sendirian di bar, seorang laki-laki seperti kalian dapat dengan mudahnya merayu, lalu membawa pulang gadis mabuk itu, apa itu benar niat kalian?”
Beatrice melongo ketika mendengar anggapan Sierra terhadap ketiga laki-laki penggoda itu. Bisa dikatakan, kabar miring itu seperti sebuah stereotipe, seorang laki-laki berperan sebagai predator untuk mengajak perempuan mabuk bersama pada tengah malam sebelum hal buruk terjadi.
Ketiga laki-laki itu mulai terbata-bata, tidak tahu lagi apa harus membela diri dan membantah hal tersebut. Yang jelas, Beatrice dan Sierra sudah jelas mengetahui niat mereka.
Tanpa basa-basi lagi, ketiga laki-laki penggoda itu berlalu begitu saja menuju tempat lain, menggelengkan kepala.
“Sebenarnya aku bisa membela diri sendiri,” ucap perempuan itu.
“Anu, soalnya kamu juga perempuan yang terlambat di hari pertama, lalu kamu dimarahi Professor Hunt karena memakai gaun cantik itu. Begitu melihat dirimu dirayu, aku juga langsung terpicu. Aku pernah mengalami hal seperti itu, dirayu, tapi kita tidak punya perasaan apapun.”
“Sebenarnya, aku tidak suka cara mereka merayu. Mereka bahkan menyentuh kulitku sambil mengajak minum bir bersama.” Perempuan itu mulai mengusap gaun ungunya. “Kamu juga ada di kelasku, kan? Yang jadi song mage itu?”
“Iya. Namaku Beatrice kalau kamu belum tahu. Kamu pasti Sierra, kan?” tanggap Beatrice.
“Beatrice!” Beatrice dan Sierra menoleh ketika suara Yudai terdengar dari samping kiri.
Yudai telah tiba bersama Sans dan Neu yang masing-masing telah memegang satu tusuk sosis bakar. Beatrice langsung terpana ketika melihat dua tusuk sosis bakar telah berada di tangan Yudai, menyimpulkan salah satu sosis bakar itu miliknya.
Sierra justru tertegun, terpicu ketika menatap wajah Yudai dan Neu. Ia mengenali keduanya ketika aptitude test bagian luar berlangsung. Apalagi, ia juga mengenal Sans sebagai salah satu murid tahun pertama bermantel putih.
Melihat Yudai dan Neu sekali lagi membuatnya tetap terdiam.