
Pada putaran kelima, Yudai mendapati Baron kembali menjadi lawan khusus murid archer pada putaran tersebut dan juga ketiga, bergantian dengan seorang profesor ber-job archer.
Yudai menggosok bagian belakang kepalanya. “Ah! Kenapa Dolce belum bertarung juga?”
“Begitu, tiga instruktur dengan job yang sama akan bertarung bergantian. Sejauh ini, Dolce sama sekali belum bertarung. Hunt masih di rumah sakit—" ucap Neu
“Ah, Hunt baru saja kembali,” Yudai menunjuk.
Satu per satu, para instruktur memanggil setiap nama yang akan menjadi lawan masing-masing pada duel putaran kelima. Pasti ketegangan melanda ketika menunggu apakah nama murid yang bersangkutan akan terpanggil.
“Tay.”
Tay seperti membeku ketika namanya terpanggil oleh profesor pengampu kelasnya, kelas swordsman khusus murid tahun pertama. Akhirnya, dia akan berduel, itu yang dia tunggu-tunggu.
“Aku akan melawan Profesorku sendiri. Profesor Rivera.”
“Kamu tidak perlu mengatakannya, kami juga sudah tahu,” sindir Neu.
“Akhirnya! Kamu juga terpilih dalam duel kali ini, Tay!” Sebuah suara tidak asing bagi Tay muncul menuju telinganya.
Tay, beserta Sans, Yudai, dan Neu menoleh ke arah kiri. Ingatan akan pertemuan saat hari pertama menjelang upacara penerimaan murid kembali terpicu ketika melihat tepat pada wajah. Empat orang yang sebelumnya selalu bersama dengan Tay, lebih tepatnya mantan teman.
Sesuai dengan ingatan, memang benar. Sosok keempat laki-laki itu sama sekali tidak berubah ketika pertama kali menghina Sans dan Yudai. Senyum sinis menghiasi wajah sambil menyeringai.
“Betapa menarik. Kamu berteman dengan tiga orang dekil itu, salah satunya adalah murid bermantel putih yang tidak kapok juga, hanya tinggal menunggu waktu untuk gagal di ujian ini dan dikeluarkan.”
Sans menghela napas dan menundukkan kepala, tersinggung akan perkataan tersebut.
Neu, mendapati Sans kembali tersinggung, membalas, “Ka-kamu! Beraninya—”
“Itu bukan urusan kalian,” Tay membalas perkataan salah satu dari mantan temannya itu, “mereka yang mengajakku untuk berteman, meski aku tidak sudi. Tapi aku merasa mereka lebih baik daripada kalian yang hanya asal bicara tanpa mampu menunjukkan kemampuan. Saat aptitude test, kalian hanya beban.”
“Apa kamu bilang, Tay!”
“Itulah mengapa aku meninggalkan kalian saat aptitude test bagian dalam, setelah itu kita bertengkar besar-besaran dan kalian menendangku keluar dari lingkaran pertemanan kalian sendiri. Dari awal, aku di sini untuk bukan mencari teman. Tapi si mantel putih dan alis melengkung ini membuatku menyadari betapa payahnya kalian sebagai seorang petualang.”
“Tay!”
“Daripada hanya berbicara, kenapa tidak kamu temui dan ikuti profesormu, Tay?” Neu menegur.
Tay membuang ludah. “Tidak perlu beritahu, aku juga sudah mau bertarung, dasar mata empat.”
“Satu lagi, Tay. Jangan harap hanya mendapat nilai pas-pasan saat ujian tertulis kamu bisa bertahan melawan Profesor Rivera selama sepuluh menit. Kami ingin melihatmu musnah.”
“Silakan. Lakukan sesuka kalian. Kalian boleh menyaksikannya.” Tay menemui Rivera. “Profesor, saya siap.”
Profesor berambut pirang panjang itu mengangguk. “Baik. Ikut saya.”
Keempat mantan teman Tay itu menggeretakkan gigi, tidak suka akan sikap Tay. Mereka mengikuti langkah Tay dan Rivera menuju salah satu ring di barisan tengah.
Sans, Yudai, dan Sans juga ikut berdiri di hadapan ring tersebut, menyaksikan Tay dan Rivera mengeluarkan pedang dari selongsong masing-masing.
“Kenapa, Sans?” Yudai mendapati raut Sans mulai sedikit menurun.
“A-anu, dia yang telah mengajariku untuk bertarung menggunakan belati dengan benar. Aku takut kalau dia akan kalah setelah mendengar ejekan keempat bekas temannya itu.”
Yudai meyakinkan, “Jangan khawatir, aku yakin Tay bukan orang yang seperti itu. Dia pasti akan berhasil.”
“Dia benar.” Zerowolf menyetujui begitu mendekati Neu.
Neu pun tercengang ketika mendapati Zerowolf telah berada di samping kanannya. “Ze-Zerowolf! Se-sejak kapan kamu di sini?”
“Ti-tidak boleh, ya? Aku penasaran sampai ingin melihat murid yang sebelumnya dianggap tidak punya teman itu, bisa dibilang dia penyendiri. Ya, melihat keempat mantan temannya juga ingin menonton, aku juga ingin ikut bersama kalian, menyaksikannya.”
“Ze-Zerowolf ….” Keempat mantan teman Tay mulai jengkel akan kehadirannya.
“Di-dia itu ….”
“Oh.” Zerowolf mendapati keempat mantan teman Tay menatap sinis padanya. “Kalian di sini juga?”
“E-eh? Kamu kenal mereka juga?” Yudai melongo.
Zerowolf mulai berkacak pinggang. “Mereka mengajakku begitu Tay mulai menyendiri, tapi aku tolak mentah-mentah, aku sudah tahu visi mereka tidak sesuai apa yang kuincar. Lalu—” Dia menunjuk Yudai. “Kamu sudah menyaksikan diriku melawan Profesor Baron, kan? Aku sudah menunjukkan perkembanganku semenjak mock battle itu!”
“A-apa? Aku tidak menonton dirimu melawan Profesor Baron.”
“Eh!” jerit Zerowolf tercengang.
Tay mulai menggenggam pedangnya cukup erat menggunakan dua tangan, menghadap Rivera.
Rivera berucap, “Semoga berhasil, kamu membutuhkannya. Tunjukkan perkembanganmu.”
Dolce memberi aba-aba sambil menjerit, “Pertarungan putaran kelima … dimulai!”
“HAAAAAA!!” jerit Tay mulai berlari dan mengayunkan pedangnya mengarah pada Rivera.
Ayunan pedang Tay mendarat pada mata pedang Rivera, menimbulkan bunyi runcing.
Sekuat tenaga, Tay beberapa kali mengayunkan pedangnya sambil menjerit, berharap agar serangannya setidaknya mengena profesor pengampu kelas swordsman itu.
Mata tajam Rivera menatap celah pada serangan Tay. Dia mengayunkan pedangnya menuju wajah Tay.
Tay yang tertegun pun secara refleks menangkis ayunan pedang Rivera dan melompat ke belakang. Langkah yang dia tempuh cukup lebar ketika mundur.
Tay pun mengantisipasi dengan menggenggam gagang pedangnya cukup erat agar dapat menangkis serangan tersebut. Begitu ayunan pedang Rivera terlihat tengah bersiap, dia langsung mengempaskan serangan.
Akan tetapi, Rivera memundurkan genggaman pedang dan menghantam dada Tay menggunakan sikut kirinya. Hantaman tersebut membentur tulang rusuk hingga Tay terdorong hingga roboh.
Sama sekali tidak menyangka serangan seperti itu akan menghantam Tay. Sans, Yudai, Neu, dan Zerowolf melongo menyaksikan Rivera telah mengecoh.
Keempat mantan teman Tay mulai menyeringai hingga tertawa diam-diam, mulai puas menyaksikan Tay roboh di ring hadapan mereka.
Sans mempertanyakan serangan Rivera, “Me-memang sebagai swordsman, serangan itu diperbolehkan?”
Neu menjawab, “Sama sekali tidak ada aturan seperti itu. Setidaknya serangan itu diperbolehkan.”
Tidak perlu menunggu Tay untuk bersiap setelah bangkit, Rivera melesat mengayunkan pedangnya ke belakang terlebih dahulu untuk mengambil ancang-ancang. Cukup cepat ketika dia mendekati Tay untuk kembali mengayunkan pedang.
Tay menangkis serangan tersebut. Akan tetapi, tenaganya masih terlampaui karena dia baru saja bangkit. Tangkisan pedang tersebut terdorong.
Mata pedang Rivera mengena pada pipi kiri Tay. Merobek bagian epidermis hingga sedikit meneteskan darah.
Tay berbalik ketika Rivera melewati dirinya. Darah dari luka pada pipi mulai menetes. Rasa sakit tersebut seperti tengah tertusuk jarum kecil hingga dia tidak memedulikannya.
Sehabis mengumpulkan kembali tenaga sambil menggenggam pedangnya, Tay kembali berlari, berlari cukup kencang kembali mendekati Rivera.
Ayunan pedangnya kembali meluncur hingga tertangkis sekali lagi. Tenaganya yang lebih besar dari sebelumnya mendorong tangkisan pedang Rivera.
Rivera tetap mampu menahan serangan Tay sekuat tenaga. Genggaman tangan pada pedangnya semakin menajam meski kedua kakinya mulai terdorong. Dia berbelok memutarkan genggaman tangannya untuk mengakhiri serangan tersebut.
Tay pun hampir tersandung ketika tebasan pedangnya terlepas dari tangkisan Rivera, sekali lagi melewatinya menuju bagian ujung ring.
Keempat mantan teman Tay kembali berkomentar kemampuan Tay sama sekali sesuai harapan, masih belum bisa melampaui Rivera. Bagi mereka, hanya tinggal menunggu waktu agar Tay kalah dan tidak lulus ujian duel. Bahkan, hinaan dan caci maki terlontar.
Sans dan sangat tertunduk oleh ucapan mereka, membandingkan situasi tersebut dengan ketika dirinya mendapat olokan setelah upacara penerimaan mantel. Benar-benar khawatir, pikirnya, Tay akan terganggu sehingga mengakibatkan kegagalan pada duel.
Zerowolf menggelengkan kepala. “Kenapa mereka itu? Apa separah itu mereka membenci Tay hingga ingin dia kalah dan gagal?”
“Tay bukan orang yang terlalu peduli dengan omongan.” Yudai memastikan.
Meski ejekan dan hinaan telah meluncur menuju telinga Tay secara jernih, dia tidak menggunakan amarah sebagai sumber tenaga. Pikiran tetap jernih ketika memikirkan strategi lain untuk menyerang Rivera.
Napasnya sedikit terengah-engah, peluhnya juga bercucuran mulai dari dahi hingga leher. Tenang, tenang, itu satu-satunya harapan agar dapat lulus ujian duel melawan Rivera.
Neu membantah, “Ngaco. Paling tidak saat aku berkelahi dengan dia, dia duluan yang memicunya. Pantas saja, amarahnya tidak akan membuat dia lebih kuat daripada diriku. Selama dia mampu mengendalikan emosinya, dia punya peluang.”
Tay menoleh pada keempat mantan temannya. Alih-alih melepas amarah, dia jadikan kata-kata penghancur itu sebagai siasat untuk memperkuat motivasinya, agar memenangkan duel melawan Rivera. Juga, dia berniat untuk menunjukkan kekuatan penuh dan perkembangannya sebagai swordsman pada mereka.
“Tadi itu cukup mengagumkan, Tay,” ucap Rivera.
“Ini masih belum seberapa.”
Sembari membalas perkataan Rivera, Tay kembali menoleh pada keempat mantan temannya, memberi sinyal untuk menyaksikan dan mempelajari dirinya.
Keduanya kembali melaju mengayunkan pedang masing-masing. Saling menebas dan menangkis. Ayunan pedang masing-masing saling bertubrukan menimbulkan bunyi.
Tay pun merundukkan dada ketika ayunan pedang Rivera mengunci bagian dadanya, menghindari cukup cepat.
Dia menyaksikan gerak-gerik Rivera, termasuk dalam mengayunkan pedang, lebih kencang. Berharap agar dapat mengikuti kecepatan tersebut, Tay berharap dia bisa melebihi kemampuannya sendiri dalam duel tersebut.
Melihat celah sekali lagi, Rivera menggapai pipi kanan Tay dengan mata pedangnya, sedikit menusuk hingga meneteskan darah. Akan tetapi, refleks Tay semakin menguat ketika menghadapi pernyerangannya.
Beberapa kali Tay mengayunkan pedang secara vertikal dan horizontal, semakin menguat pula tenaganya.
“Tay,” ucap Sans.
“Nah, sekarang dia menemukan groove-nya!” sahut Zerowolf.
“Maju!!” seru Yudai.
“HAAA!” jerit Tay mendorong genggaman pedangnya pada celah kosong di dekat pipi Rivera.
Rivera sampai menghela napas saat mata pedang Tay menghampiri pipi bagian bawah kirinya. Matanya sampai melotot menyadari gesekan pedang tersebut menimbulkan keluarnya darah. Tidak memedulikan rasa sakit yang tidak sedikit, dia menajamkan pandangan.
Tay kini mengayunkan pedang mengarah diagonal demi memanfaatkan lengahnya Rivera. Namun, sekali lagi serangannya selalu tertangkis tidak peduli berapa kali dia melesat.
Rivera kewalahan mendapat tenaga Tay dalam menyerang semakin bertambah kuat, benar-benar kuat. Dia sampai kehilangan kendali akan tenaganya dalam bertahan hanya menggunakan pedang.
Kesulitan untuk mencari celah di balik kencangnya ayunan pedang Tay, Rivera sampai terdorong ke belakang berusaha menahan diri.
Rivera pun akhirnya terdorong genggaman pedangnya, mengungkapkan celah tanpa pertahanan sama sekali.
“HAAAA!!” Tay memanfaatkan kesempatan tersebut dengan melesat dan mendorong pedangnya, mengincar dada Rivera agar membuatnya menyerah.
Rivera langsung menyaksikan celah pada bagian belakang Tay. Secara refleks, dia bergeser ke kanan dan mengayunkan pedangnya menuju bagian punggung kiri.
Tay pun tersandung mendapati Rivera telah menghindari serangannya. Ditambah lagi, ayunan pedang Rivera telah menusuk punggung kirinya.
Begitu berbalik, Tay tercengang sekali lagi saat Rivera berhasil menembus pertahanan belakangnya hingga tersandung ke lantai dengan punggung mendarat terlebih dahulu.
“Tay!” jerit Yudai mendapati Tay kembali tertinggal dalam pertarungan tersebut.
“Bagus!!” jerit salah satu dari mantan teman Tay.
“YEAAAH!” ketiga dari mantan teman Tay juga ikut bersorak.