
Pembicaraan tentang bab yang akan mereka bahas dari Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei menjadi cukup ramai dan menarik sambil menunggu kedatangan Duke. Tidak sedikit pula senyuman dan gelak tawa mengomentari betapa menyenangkan cara mengajar profesor berkulit hitam tersebut. Kelas sejarah memang menarik semenjak Duke mengajak seluruh murid agar lebih aktif berpartisipasi dan membayangkan penjelasan setiap babnya.
Seluruh murid menoleh ke belakang dan mulai duduk di bangku masing-masing, keramaian seketika berubah menjadi ketegangan ketika bukan Duke yang memasuki kelas. Ia adalah profesor yang sama sekali tidak diinginkan oleh hampir seluruh murid sekalipun.
Benar, Alexandria. Perempuan berambut pirang kecokelatan pendek itu menutup pintu rapat, membungkam seluruh percakapan murid. Ia melewati barisan bangku tanpa menyapa sama sekali.
Ketika berbalik menghadapi seluruh murid, satu-satunya kalimat yang dikatakannya hanyalah, “Buka bab ke-13!”
Seluruh murid melongo, tidak sedikit yang mengeluh bahwa mereka sama sekali belum mencapai bab ke-12. Ada pula yang langsung mematuhi dengan membulak-balikkan halaman buku.
“Pro-Profesor Alexandria? Kenapa harus dia?” Itulah salah satu keluhan dari pihak murid.
“Mana Profesor Duke?”
Neu menganggapi perintah Alexandria, “Tapi, Profesor, seharusnya kami membahas bab sembilan, yaitu sejarah berdirinya Akademi Lorelei.”
“Diam!” Alexandria membungkam semua keluhan dari murid, terutama Neu yang ia pandang.
Yudai berkomentar, “Kamu tahu kan Profesor Alexandria itu orangnya seperti apa. Selain itu, ia juga pernah menetapkan hukuman setelah menangkap basah dirimu berkelahi dengan Tay.”
“Jadi sia-sia kita baca dan diskusi bab kesembilan, itu paling penting, sejarah berdirinya Akademi Lorelei,” Neu membela.
Yudai mengangkat tangan kanan pada Alexandria. “Um, Profesor Alexandria, di mana Profesor Duke?”
“Sepertinya itu bukan urusanmu, Yudai,” jawab Alexandria, “sepertinya si archer ceroboh di barisan depan ini mempertanyakan mengapa saya berada di sini, padahal seharusnya Profesor Duke yang mengampu kelas ini, bukan? Kalian juga mempertanyakan—”
“A-archer ceroboh?” Yudai mengulang sindiran Alexandria.
“—mengapa saya menyuruh kalian membuka bab ke-13. Itu karena kalian sangat bodoh untuk mengantisipasi hal yang tidak terduga. Profesor Duke sedang berhalangan hadir karena ada urusan di benua Grindelr. Jadi, buka bab ke-13 sekarang juga!”
Kelas sejarah yang seharusnya menyenangkan bersama Duke menjadi seperti penuh kerumunan awan kelabu berkat kehadiran Alexandria sebagai profesor pengganti. Wajah mereka berawal dari cerah menjadi muram, semuram-muramnya apalagi sindiran Alexandria seakan menusuk hati masing-masing.
Beberapa murid dengan lambat membulak-balikkan halaman dari bab sembilan menuju bab 13, karena malas menghadapi Alexandria. Beatrice juga menjadi salah satu dari mereka yang memutar begitu lambat sambil melamun dan menempatkan punggung jari tangan kiri pada dagu.
“Lambat!” Alexandria menghampiri Beatrice untuk langsung menyeret halaman bukunya agar langsung menuju bab 13.
Beatrice tertegun sampai menjauhkan bantalan jari pada dagu ketika menatap judul bab tersebut. “A-alchemist?”
Sans dan Yudai juga tercengang mendengar Beatrice menyebutkan judul bab 13. Alchemist. Kata itu benar-benar familier di telinga mereka berdua.
Alchemist masuk dalam Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, itu respon mereka dalam hati. Job yang tidak termasuk dalam job system di Akademi Lorelei itu akhirnya dibahas dalam salah satu kelas. Hal yang menjadi pertanyaan adalah penyebab alchemist tidak dimasukkan ke dalam job system tersebut.
Melihat paragraf awal dari bab tersebut, memang tidak ada yang menunjukkan hal positif atau negatif dari job alchemist, hanya sekilas penyebab job tersebut masuk ke dalam sejarah Kerajaan Anagarde.
Sans dan Yudai saling menatap masih tertegun dengan keputusan Alexandria agar seluruh murid membuka bab 13 untuk mengetahui lebih lanjut tentang alchemist. Mereka menatap satu sama lain seakan berdiskusi menggunakan gestur.
“Sebelum saya membahas lebih lanjut, mengapa alchemist menjadi hal penting dalam sejarah kerajaan Anagarde? Mengapa alchemist menjadi hal yang wajib dibahas? Padahal dari kelihatannya, hal itu tidak penting untuk dibahas.”
Neu mengangkat tangan untuk menjawab, “Alchemist memiliki peran dalam membentuk sejarah Kerajaan Anagarde. Pada dasarnya alchemist adalah salah satu job, tapi tidak termasuk dalam job system Kerajaan Anagarde. Awalnya alchemist merupakan salah satu job terpenting dalam sejarah Kerajaan Anagarde. Akan tetapi, karena sebuah insiden yang melibatkan alchemist dan konsekuensinya, job tersebut dihapus dari job system Akademi Lorelei karena dianggap berisiko merugikan—”
Alexandria menghentikan penjelasan Neu, “Siapa suruh kamu menjawab dan menjelaskan apa itu alchemist? Tampaknya saya menggunakan kalimat tanya agar kamu tertarik untuk menjawab, bukan? Pantas saja, kamu ingin membersihkan citra dirimu pada saya dengan berlagak sebagai penyihir mata empat sok tahu.”
Sindiran Alexandria sekali lagi membuat merinding hampir seluruh murid, bahkan murid terpintar seperti Neu pun menjadi korbannya. Tay menjadi satu-satunya murid yang cekikikan ketika mendengar Neu berhasil tersindir.
Alexandria mengangkat kepalanya. “Tidakkah kamu tahu bahwa menertawakan merupakan hal tidak terhormat, Tay!”
Tay pun terdiam ketika hampir semua murid menoleh padanya. Benar-benar ironis, murid swordsman itu menghentikan tawa pelannya yang bahkan tidak terdengar siapapun.
“Kalian hanyalah murid-murid yang ingin belajar, kalian bisa diibaratkan sebagai anak buah di kelas ini. Saya yang berperan sebagai ketua. Saya yang memegang kendali kelas ini, pertemuan hari ini, saat Profesor Duke berhalangan hadir. Saya ingin mengingatkan bahwa sejarah tentang alchemist benar-benar penting untuk kalian. Kalian tidak berhak untuk protes, kalian tidak berhak menunjukkan betapa bodohnya kalian semua.”
Sekali lagi, hampir semua murid di kelas merasa terhina. Alih-alih semangat untuk memahami materi pelajaran, meninggalkan kelas menjadi satu-satunya pilihan untuk menghindari penyiksaan batin seperti ini. Sayangnya, mereka tidak bisa melarikan diri, karena mereka tahu seperti apa sifat Alexandria di dalam dan di luar kelas.
“Sans.” Alexandria menghampiri. “Salah satu murid yang gagal dalam semua bagian aptitude test.”
Sans hanya menelan ludah ketika profesor perempuan yang terkenal galak itu telah berdiri di hadapan dirinya dan Yudai. Ketegangan mulai menguasai seluruh tubuhnya.
“Kamu memang menonjol sebagai murid bermantel putih yang merepresentasikan bahwa Akademi Lorelei bukanlah main-main. Kamu mungkin tidak akan bertahan jika kamu tidak menggebrak pikiran kami. Kamu harus tetap berjuang keras sesuai dengan aturan yang ada.
“Biar saya beritahu sesuatu, Sans. Setiap murid bermantel putih sepertimu awalnya tidak dapat menerima bahwa dirinya gagal, bukan? Mereka entah keluar dari akademi karena merasa dirinya tidak akan mampu, apalagi setelah mendengar komentar dari murid tingkat atas, atau memutuskan untuk tinggal di akademi. Saya dengar kebanyakan dari murid bermantel putih yang bertahan pada umumnya dikeluarkan karena tidak mampu melewati standar dari akademi. Apalagi mempermalukan diri sendiri dengan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh akademi.
“Alchemist apa coba? Mereka bukan apa-apa kecuali hanya menyebabkan masalah pada Kerajaan Anagarde, terutama Akademi Lorelei. Jika saya menemukan siapapun yang mempelajari alchemist, saya tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan kalian dari akademi ini. Seluruh profesor di sini juga menyetujui bahwa alchemist harus dikeluarkan dari akademi ini.”
Sindiran Alexandria memicu kabut hitam menyebar di antara para murid, secara harfiah. Sebuah penderitaan lebih parah ketika menghadapi semakin banyak kata-kata tidak mengenakkan terlontar.
Sans yang paling terpengaruh oleh kabut hitam itu. Terpicu oleh penjelasan Alexandria tentang alchemist, ia seperti terhantam oleh dinding tepat pada bagian dada dan punggung, seakan terimpit hingga gepeng. Napasnya mendadak tertarik cukup cepat hingga tidak bisa berhenti.
Mendengar keputusan Alexandria dan seluruh profesor di akademi, Sans kembali terpikir ketika Duke mulai mengajarinya tentang alchemist. Murid bermantel putih itu mempertanyakan motif Duke untuk mengajarinya alchemist meski sudah tahu sebuah konsekuensi.
Sans mulai membaca sedikit inti dari bab ke-13 itu, alchemist, tidak ada satupun hal positif secara citra yang menonjol, melainkan hal negatif berdasarkan sejarah dan insiden-insiden pada masa lalu.
Alexandria kembali memperingatkan, “Sans, saya peringatkan kamu. Kamu ini adalah murid bermantel putih yang gagal mendapat job. Sebaiknya kamu jangan coba-coba pelajari alchemist, baik itu ajakan teman kamu sendiri atau siapapun juga, atau bahkan seseorang yang dekat denganmu. Jika kamu melakukannya, saya tidak punya pilihan selain mengeluarkanmu dari akademi.”
“Sans ….” Yudai juga ikut terdiam, sudah mengetahui dari awal bahwa Sans mempunyai tekad untuk menjadi alchemist setelah kegagalan dalam aptitude test. Ia tahu betapa sahabatnya itu ingin bertahan di akademi.
Alexandria kembali melangkah di antara barisan depan bangku murid. “Baik, secara etimologi, alchemist memiliki sebuah tujuan—”
Sama sekali tidak ada satupun yang menikmati kelas sejarah kali ini, apalagi diampu oleh Alexandria. Semua murid hanya ingin penyiksaan tersebut cepat berakhir, bukan hanya penjelasan profesor perempuan berambut pirang kecokelatan itu, tetapi juga merasa tersindir, terutama Neu, Tay, dan Yudai yang menjadi korbannya.
Sans hanya tersesat dalam perenungannya. Ia tidak menyangka bahwa penyebab alchemist tidak termasuk ke dalam job system adalah keberadaannya yang terlarang, hanya berdasarkan sejarah.
Mengikuti penjelasan dari buku Sejarah Kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei, Alexandria sama sekali tidak menjelaskan keunggulan job alchemist. Hanya citra merendahkan yang menjadi tonjolan penjelasannya pada seluruh murid.
“Baiklah, begitu saja penjelasan dari saya. Saya ingin kalian merangkum pembahasan saya dan pembacaan kalian terhadap bab ke-13 dalam bentuk tulisan di secarik kertas. Kumpulkan besok di meja saya di ruang profesor,” Alexandria mengakhiri pertemuan kelas tersebut.
Seluruh murid mengeluh melontarkan gumaman. Kejam, itu satu-satunya kata yang terlontar di dalam hati masing-masing. Lebih baik mereka mendapat tugas dari Duke daripada Alexandria.
“Saya tidak mau tahu kalau kalian sama sekali tidak mengumpulkannya. Jika begitu, saya minta Duke agar tidak memasukkan nilai sama sekali, atau sekalian saja mengurangi nilai yang telah kalian susah payah dapatkan. Kalian boleh pergi dari sini.”
Seluruh murid di kelas tersebut bangkit dari bangku masing-masing. Begitu mereka keluar dari kelas menuju selasar, sindiran terlontar dari mulut masing-masing. Sangat tidak puas, itu yang mereka komentari tentang cara pengajaran Alexandria di kelas tersebut. Bahkan tidak sedikit murid perempuan yang meledakkan air mata karena tersinggung dengan sindiran.
Menyaksikan salah satu murid perempuan yang menangis, Neu melontarkan komentar terhadap Alexandria pada Sans, Beatrice, dan Yudai sambil melangkah, “Dia bahkan lebih buruk daripada Tay! Apa-apaan dia itu! Apa dia tidak mau aku menjelaskan alchemist lebih rinci daripada dia? Apa aku terlalu pintar dibanding dia?”
Yudai mengulang sindiran Alexandria, “Archer ceroboh? Itu panggilannya padaku.”
“Dia menyindir kita semua! Dia seakan-akan menguasai seluruh kelas! Dia berlagak seperti kepala akademi, padahal seharusnya Profesor Arsius yang berwenang!”
Beatrice mengemukakan kilas balik, “Aku jadi ingat saat kita melihat seorang murid dikeluarkan karena curang saat aptitude test bagian luar. Profesor Alexandria yang berkata bahwa dia dikeluarkan.”
“Itu wajar. Sangat wajar,” Neu mengomentari, “apalagi seluruh profesor telah sepakat bahwa murid yang curang saat aptitude test akan langsung dikeluarkan. Tapi alchemist, yang benar saja? Kita bahkan tidak tahu apakah semua profesor di akademi menyetujui keputusan seperti itu. Kita bahkan tidak tahu apa semua profesor menyetujui keputusan Profesor Alexandria.
“Baiklah, kalau sudah seperti ini keadaannya. Kuharap tidak ada satupun dari kita mempelajari alchemist sama sekali. Apalagi kamu, Sans, kamu ini salah satu murid bermantel putih. Aku tentu tidak mau kamu lebih merugikan diri sendiri di akademi hanya dengan mempelajari alchemist. Aku tidak mau kamu dikeluarkan. Mungkin satu-satunya cara agar kamu bertahan hanyalah tetap berlatih.”
Beatrice mengangguk setuju, “A-aku juga ketakutan kalau kamu dikeluarkan. Aku tidak mau kamu menghadap Profesor Alexandria hanya mengetahui kalau kamu dikeluarkan karena mempelajari alchemist.”
Sans hanya terdiam, lesu, wajahnya menatap ke arah lantai. Jika alchemist bukanlah cara untuk bertahan di akademi demi mencapai tujuan utamanya, tidak ada pilihan lain selain mengharap sebuah keajaiban.
“A-aku sebaiknya masuk kelas. Sampai jumpa nanti siang,” Neu segera pamit.
“A-aku juga.” Beatrice menundukkan kepala seraya ikut pamit pada Sans dan Yudai.
Begitu Beatrice dan Neu telah pergi menuju arah yang berbeda, Yudai menatap Sans. Sama kagetnya, tidak dapat ia sangka bahwa Nacht telah memberi peluang yang membahayakan keadaan Sans di akademi, apalagi sampai dikeluarkan.
Sans tidak bersuara sama sekali, tidak mau menggerakan bibir dan mengubah napas menjadi lontaran pikiran berbentuk suara. Bungkam, itulah reaksi ketika mengetahui sejarah tentang alchemist di kerajaan Anagarde, apalagi di Akademi Lorelei.
“Sans?” Yudai memanggil.
Sans sama sekali tidak ingin berbicara, apalagi melontarkan keluhan. Sudah susah payah ia mendapat tawaran dari Duke agar mempelajari alchemist sebagai job alternatif, apalagi sudah menemukan solusi dari tujuan utamanya ke akademi.
“Sans. Kamu …. Bicaralah padaku. Aku tahu dari awal kamu mendapat Buku Dasar Alchemist dari Nacht, aku tahu kamu sudah bersusah payah berada di sini—”
Sans meninggalkan Yudai tanpa bersuara sama sekali. Langkahnya cukup cepat dalam skala berjalan. Napasnya meningkat saking tidak dapat menahan perasaan terpendam, kebingungan dan kemarahan. Ia butuh waktu untuk meresapi semua keadaan.
“Sans!” panggil Yudai terhadap murid bermantel putih itu.
Yudai juga kebingungan sampai menggesekkan telapak tangan pada belakang kepala. Sama sekali tidak paham mengapa sejarah hanya mencatat citra negatif alchemist, bahkan sampai dianggap ilegal oleh Akademi Lorelei.
Yudai telah kehabisan ide untuk membantu Sans agar tetap bertahan di akademi tanpa mengacu pada job alchemist.