Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 117



Semakin mereka melangkah lebih dalam, jalan semakin berliku-liku. Penerangan dari kilau ungu kebiruan di balik sobekan dinding juga semakin sedikit. Dinding jalan juga seakan terdorong, membuat jalan bagai menciut.


Sambil melihat semakin sedikit cahaya yang memancar menerangi jalan, sebuah kilas balik memicu pertanyaan di benak Sans. Kristal yang tertempel di gunungan pintu masuk tambang terlintas pada pikiran Sans. Memvisualisasikannya, warna kristal itu hampir sama seperti rumput yang bersinar di dekat pintu masuk itu.


Sambil berjalan, memaksa diri untuk menangkis pegal pada kedua kaki, ia mengajukan pertanyaan itu.


“Um … Profesor, kristal yang berada di pintu masuk gua, apa itu bukan kristal variant?”


“Lebih tepatnya bukan. Ya, secara teknis, kristal-kristal itu merupakan kristal variant, sama seperti yang menyinari jalan di dalam gua tambang ini. Tapi … kamu sudah tahu mengapa kita sampai masuk sampai jauh-jauh ke dalam.”


“Ka-karena … itu bukan kristal variant sepenuhnya?”


Duke mengangguk. “Tepat. Kristal-kristal yang kamu lihat di pintu masuk atau di sekitar sini, bukan kristal variant murni, melainkan kristal yang sudah tercampur dengan elemen lain, seperti tanah dan batu. Untuk membuat sebuah gauntlet, dibutuhkan bubuk kristal variant murni, seratus persen murni.”


Gelapnya ruangan membuat Sans hampir menubruk dinding. Terpicu menatap Duke berbelok, ia mengerem mendadak mengembalikan konsentrasi. Lamunan akibat kelelahan dalam berjalan membuatnya hampir kehilangan kendali. Setelah melewati belokan tajam, jalan kembali melebar di hadapan mereka.


Memasuki jalan lebar itu, tiga buah golem akhirnya menghampiri mereka dari hadapan mereka, lurus, kiri, dan kanan. Duke meletakkan kaki kirinya mundur satu langkah, mengatur posisi kuda-kuda.


“Sepertinya mereka benar-benar serius.”


Sans kembali menggenggam erat belatinya, mengambil ancang-ancang untuk melesat. Mendengar penjelasan dari Duke tentang kelemahan golem membuatnya ingin mencoba menyerang.


Ketiga golem itu secara bersamaan mengambil langkah besar dan mengayunkan tangan terlebih dahulu. Begitu satu golem di tengah terlebih dahulu meluncurkan tebasan tangan, Duke dan Sans bersamaan merendahkan kaki kiri mengambil ancang-ancang dan melompat mundur.


Sans lagi-lagi tidak seberuntung Duke, punggungnya sedikit menabrak dinding. Ia menempatkan telapak kaki kanan pada dinding untuk mengunci tenaga bersiap untuk melompat lagi.


Terlebih dahulu, Sans menatap salah satu dari golem menghampirinya. Ia ingin sekali mengalahkan golem itu dengan memanfaatkan sebuah titik kelemahan, sebuah tulisan rune, maka genggaman belatinya semakin erat.


“Ketemu!”


Rune pada dada golem terlihat di depan mata. Tidak seperti sebelumnya, tidak perlu berlama-lama seperti mengalihkan perhatian golem untuk berbalik demi menemukan sebuah titik kelemahan. Ia menyipitkan mata dan mulai membidik.


“HAAAAA!!”


Sans melepas momentum pada tapakan kaki kanan di dinding dan mulai melompat. Ia mendorong genggaman belati dan menghadapka ujungnya menuju rune pada dada golem. Namun, ia terlambat menyadari ketika pukulan golem terlebih dahulu meluncur menghantam dirinya.


Ia terpental ke belakang kanan, punggungnya mendarat pada lantai batu terlebih dahulu. Sedikit bercak darah keluar akibat batuk ringan sampai menghela napas. Belatinya juga terlepas dari genggaman, beruntung, tidak jauh dari tangan kanannya.


Harus bisa mengalahkan golem di hadapannya itu seorang diri. Jika Duke mampu menggunakan Eraser sebagai cara untuk mengalahkannya, ia yakin, ia dapat mengalahkan raksasa berbadan batu itu.


Tangan kanannya kembali meraih belati dan menggenggamnya. Ia bangkit perlahan dengan menempatkan tangan kiri pada lantai batu terlebih dahulu. Meski tergopoh-gopoh dalam berdiri, tekadnya memacu proses penyaluran tenaga pada tubuh.


Ia kembali mengambil satu langkah, mengambil posisi kuda-kuda untuk kembali membidik. Dilihatnya golem itu kembali mengincar dirinya dengan melangkah dan kembali mengayunkan tangan kanan


Sans sekali lagi memusatkan beban pada injakan kaki kiri pada lantai batu. Begitu memastikan rune di dada golem telah terbidik,  ia mengangkat kaki kanan untuk melepas beban.


Mulai melayang di udara, ia melepas tenaga pada kaki kiri untuk mulai melompat. Sekali lagi, ia mengangkat belati ke atas.


Menyaksikan golem itu sekali lagi melancarkan kepalan tangan kanan sebagai pukulan, ia tidak ingin membuang waktu lagi untuk tercengang. Oleh karena itu, ia mempercepat ayunan vertikal belati, menyayat dada golem itu.


Ia sekali lagi terkena pukulan tepat pada wajah. Tubuhnya kembali terlempar dan terbanting ke lantai batu. Darah pun menetes di hadapannya, menyadari rasa sakit terpicu dari sobeknya pelipis kiri.


Tatapannya sejenak merujuk pada Duke. Profesor yang juga menjadi pembimbingnya itu tengah menghadapi dua golem sekaligus. Ruangan yang mereka tempat seakan menjadi seperti sebuah arena, kali ini bukan seperti arena di ruang pertarungan.


“Exare eht ark!”


Pembacaan mantra Eraser Duke sekali lagi memacu semangat Sans. Ia tidak ingin menyerah, sama sekali tidak ingin menyerah! Ia tidak ingin langsung kalah menghadapi satu golem seorang diri.


Mulai dari Yudai, Riri, Tay, Neu, Zerowolf, Lana, hingga Sandee berani menghadapi musuh dan bekerja keras dalam pertarungan hingga akhir. Beatrice, Sierra, dan Katherine juga mampu menerapkan mantra sekuat tenaga demi memacu teman-temannya, termasu dirinya. Mengingat teman-temannya telah berada di atas dirinya, ia ingin menyamai kemampuan mereka.


Setiap kilas balik menyaksikan seluruh temannya berlatih, bertarung, dan menjalani misi memacu adrenalinnya. Ia tidak ingin dipandang sebagai murid bermantel putih, murid gagal dalam menjalankan aptitude test. Kekalahannya melawan Dolce saat aptitude test bagian akhir dan ujian akhir semester juga menekan penuh tenaga ke luar.


Ia bangkit kembali dan menggenggam belati semakin erat, perlahan menempatkan kaki kiri di depan menghadapi sang golem. Sekali lagi, rune di dada golem menjadi tatapan tajamnya. Butuh akurasi dan ketepatan waktu demi menghindari pukulan dan menghantam rune itu menggunakan belati.


Selagi golem mengambil langkah kaki lagi, Sans melepas tenaga pada injakan kaki kanan. Ia langsung mengangkat kaki kiri begitu mulai melayang di udara. 


“HIYAAAAAA!!”


Ia mengangkat genggaman belati dan mengayunkannya. Menutup mata saat golem mulai mengepalkan tangan dan meluncurkannya, ia sungguh khawatir sekali lagi serangannya terlambat.


Suara tebasan terdengar menuju telinga. Dirinya mendarat di lantai dengan berjongkok. Begitu membuka mata, golem di hadapannya itu menjerit mengangkat kedua tangan.


Rune pada dada golem berhasil tertebas belati Sans!


Tubuh golem itu akhirnya terpecah belah menjadi bongkahan batu dan roboh.


“Wow.”


Sans menoleh ke belakang, menyaksikan Duke telah berhasil menumbangkan dua golem menggunakan mantra Eraser.


“Kamu baik-baik saja?”


Dapat terlihat Duke sedikit memasamkan wajah ketika menoleh ke belakang. Darah mulai memenuhi pelipis kiri serta tubuh sedikit berguncang, Sans tahu bahwa ia khawatir terhadap dirinya.


“Semoga saja tidak ada golem lagi.”


“Ya. Kamu sudah berjuang sebaik mungkin.”


***


Selesai menyusuri begitu banyak jalan bertikungan dan semakin menurun, empat buah pilar terbuat dari campuran batu dan kristal berkilauan ungu menjadi sambutan di depan mata. Pancaran cahaya dari kristal sungguh penjadi penerangan di bagian terdalam tambang itu.


Sungguh, Sans sama sekali tidak menyangka saat melewati empat pilar itu. Dinding batu bercampurkan butiran kristal, tumpukan kristal bagai bunga pedang lancip juga tertanam di sekelilingnya.


Duke menghentikan langkah Sans dengan menahan tangan kirinya. “Itu bukan kristal Variant murni.”


“Sa-sama seperti yang kita lihat di depan pintu masuk tambang?”


Duke mengangguk. “Inilah sebuah kuil rahasia di dalam tambang kristal Munich. Ayo.”


Melanjutkan perjalanan, Sans memelankan langkahnya saat mengikuti Duke. Bukan hanya terdistraksi oleh keindahan kristal di sekeliling, kakinya gemetar menandakan lelah. Mulutnya juga terbuka mengempaskan napas.


Sungguh, benar-benar lelah. Sans berpikir mungkin di luar sudah memasuki larut malam, saat jam tidurnya dimulai waktu di asrama. Sekali lagi, ia tak percaya mampu melewati rintangan di tambang kristal Munich saat tengah malam.


Kurang lebih dua menit dalam melangkah, kumpulan kristal berbentuk prisma telah berada di depan mata. Warna ungu dengan bercak biru menyala remang-remang mampu menyilaukan pandangan.


“Kristal variant murni,” ucap Duke.


“Rune lagi?” Duke mengangkat tangan kanan pada pasangan rune di tengah. “Exare eht ark!”


Munculah sebuah cahaya berwarna merah kehitaman dari telapak tangan Duke, memicu tembakan seperti laser. Meski terkena bagian tengah pasangan rune tengah, mantra Eraser tidak menimbulkan efek apapun sama sekali.


“Sial.”


Sans sampai tercengang menatap rune tersebut masih utuh. “Padahal tinggal sedikit lagi.”


“Tidak ada pilihan lain. Kita akan mencari tahu kelemahan rune itu. Maaf, Sans, sepertinya kita harus bermalam di sini untuk mengamati kelemahan rune itu.”


“E-eh? Be-benarkah?”


“Saya juga bawa bahan untuk ramuan penyembuh luka. Untuk berjaga-jaga, buatlah beberapa botol ramuan itu selagi kita mengamati ketiga pasang rune itu. Kita akan mendapat kristal variant murni itu bagaimana pun caranya. Kamu siap untuk ini, Sans?”


Sans menelan ludah dua kali meresapi perkataan Duke. Situasi telah di luar kendali, terpaksa ia harus mengikuti sebuah aturan main baru lagi. Demi mendapat bahan terakhir gauntlet, ia menegakkan kepalanya.


“Baik.”


***


Begitu kembali terbangun dari tidur, tidak mengetahui apakah waktu sudah siang karena menginap di dalam tambang kristal Munich, mereka berdua melakukan tugas masing-masing. Pertama, Duke menyusuri kembali kuil tersebut dan mulai memata-matai tiga pasang rune.


Percobaan pertama, ia menerobos paksa rune tersebut untuk memastikan apakah mereka dapat membalas serangan. Sayang sekali, begitu ia menubruk rune tersebut, pandangannya tersilaukan. Cahaya pun memenuhi pandangan hingga ia terempas ke belakang.


Duke dengan cepat bangkit menyaksikan ketiga pasang rune itu bukan hal main-main dalam mengawasi kristal Variant. Ia tahu bahwa rune itu pasti memiliki kelemahan, kelemahan yang dapat membinasakan.


Ia menoleh ke belakang. Dari kejauhan, dapat ia lihat Sans melakukan transmutasi beberapa bahan menjadi ramuan. Ia hanya mengangguk memastikan bahwa Sans mampu melakukan apa yang ia suruh. Tidak salah untuk membawa bahan ramuan dalam perjalanan.


Bungkus berisi bubuk, sebuah herb merah pekat, sebuah jamur putih, dan botol minyak tebal. Keempat barang itu merupakan bahan untuk sebuah ramuan penyembuh. Sans menyimpulkan ramuan itu hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang berbahaya dari rune.


Tanpa perlu memikirkannya lebih jauh, ia menggenggam kapur putih dan menggambar simbol di lantai, simbol transmutasi. Lingkaran besar, bujursangkar di dalamnya, diikuti oleh lingkaran dan belah ketupat. Tiga bentuk terakhir tersebut seakan berada di dalam lingkaran besar pada lantai batu.


Ia meletakkan semua bahan pada garis lingkaran transmutasi. Terakhir, ia meletakkan botol labu pada pusat dari lingkaran tersebut.


Tangannya ia dekatkan menghadap mulut botol, mulai memfokuskan tenaga dari dalam tubuh. Tenaganya ia hantarkan memicu proses transmutasi.


Konsentrasinya terpecah ketika ia memikirkan sebuah pertanyaan. Berapa banyak ramuan penyembuh luka yang dibutuhkan? Karena itu, tenaga dari benaknya terputus dan memicu ledakan dalam proses transmutasi. Ia sampai kembali kepada kenyataan ketika ledakan itu muncul di depan mata.


Botol di tengah lingkaran transmutasi telah pecah, seluruh bahan pun seketika terserap menjadi ledakan. Itulah efek yang diakibatkan oleh gagalnya proses transmutasi.


Sans menarik napas dalam-dalam, masih cukup ragu berapa banyak ramuan penyembuh luka yang ia butuhkan. Dia bergumam dalam hati, dia hanya harus fokus melakukan proses transmutasi.


Dia mengangkat kepalanya, melirik Duke yang masih mengamati tiga pasang rune di hadapan kristal variant murni dari kejauhan. Begitu kagum terhadap “instruktur”-nya yang sangat serius dan berdedikasi terhadap dirinya sebagai seorang alchemist.


Menatap Duke begitu fokus, Sans mulai menguatkan pikirannya. Duke sama sekali tidak bilang berapa banyak ramuan yang harus ia buat. Dia menyimpulkan mungkin sebanyak-banyaknya akan lebih baik, berdasarkan jumlah bahan yang tersedia tentunya.


Dia kembali menaruh masing-masing satu bahan dan satu botol di dalam lingkaran transmutasi di hadapannya. Proses transmutasi pun akhirnya mulai kembali.


Sans memusatkan konsentrasi dan tenaga pada telapak tangan kanan. Menghadapi lingkaran transmutasi, ia mendorong tenaga dari dalam tubuh dan menghantarkannya menghadap botol berbentuk labu kosong itu.


Ia menarik napas dalam demi menstabilkan kekuatan dan konsentrasi pada proses transmutasi. Lama kelamaan, sebuah ledakan terbentuk dan memancarkan cahaya menyilaukan mata, menyambar garis lingkaran berserta setiap bahan. Ledakan bagai kilat tersebut mengangkat dan medenkonstruksi setiap bahan menuju dalam botol labu di pusat lingkaran.


Ketika ledakan bagai kilat itu menghilang, semua bahan telah menjadi dalam bentuk cairan merah di dalam sebuah botol labu. Sebotol ramuan penyembuh luka telah selesai dia buat!


Sans menghela napas begitu ia menatap beberapa botol kosong beserta bahan-bahan untuk ramuan. Sebanyak-banyaknya, selama jumlah botolnya memadai, target Sans dalam melakukan transmutasi, selama tidak berujung kegagalan.


Ia akhirnya mengulangi proses transmutasi. Konsentrasi dan tenaga ia tekankan dan stabilkan. Butuh waktu lebih lama untuk mengulanginya setelah upaya pertama yang berhasil, lebih banyak tenaga pula yang harus ia keluarkan, membentuk interval waktu.


Setelah proses transmutasi ramuan kelima, Sans merasa berat ketika mengendalikan kedua tangannya. Begitu menyadari, kedua matanya mengedip lebih sering. Lama-kelamaan, kesadarannya seakan terbang hingga pandangan menghitam. Dirinya ambruk ke samping kiri.


Ketika ia kembali membuka mata, Duke telah berada di sampingnya kembali, dapat bernapas lega.


“Sans, syukurlah.”


“Uh ….”


Sans mengangkat kepalanya terlebih dahulu menuju posisi duduk. Ia menekan kening seraya mengalihkan nyeri setelah tidak sadarkan diri.


“A-aku … tadi … apa aku—”


“Ini sering terjadi saat pertama kali melakukan transmutasi secara terus-menerus. Seperti yang kamu perhatikan, tenagamu masih belum stabil dalam melakukan beberapa transmutasi berturut-turut.”


“Ja-jadi … apa lama-kelamaan tenagaku akan stabil saat sering melakukan transmutasi nanti?”


“Ya … bisa dikatakan begitu.”


Sans melirik pada tiga pasang rune yang masih berdiri tegak melidungi kristal variant murni dari kejauhan. Sama sekali belum hancur, itu yang ia dapat simpulkan, terutama saat tahu bahwa Duke hanya menyelidiki tanpa berupaya menghancurkan terlebih dahulu.


“Sebenarnya saya sudah mencoba berkali-kali menggunakan Eraser. Tampaknya, kita akan menghadapi rune itu dengan cara yang lama.”


“Cara … yang lama? Maksudnya … cara cepatnya belum Anda temukan, Profesor?”


“Pasti ada sesuatu, sesuatu yang dapat melemahkan rune itu. Saya yakin.”


“Saya juga yakin ada sesuatu yang menjadi kelemahan rune itu.”


Duke bangkit dari duduknya. “Kalau kamu sudah baikan, coba buat ramuan lagi. Jangan paksakan dirimu untuk langsung melakukannya lagi setelah selesai. Istirahatlah dulu sejenak.”


Menatap Duke berlalu menuju tiga pasang rune untuk melanjutkan tugasnya, Sans hanya dapat mengangguk.


Jika Duke serius dalam mencari kelemahan rune, pasti Sans juga bisa serius membuat ramuan sebanyak-banyaknya melalui proses transmutasi. Itu yang ia pikir.


Selama tiga hari ke depan, keduanya melakukan tugas masing-masing sebisa mungkin. 


Duke melakukan segala cara untuk mencari titik lemah tiga pasang rune. Segala serangan ia lancarkan, mulai dari menggunakan belati untuk menebas badan dari rune hingga menggunakan skill seperti mantra Eraser.


Dalam dua hari pertama, Sans melakukan transmutasi untuk membuat ramuan penyembuh luka sebanyak mungkin, hanya untuk berjaga-jaga. Tidak seperti saat pertama kali berturut-turut melakukannya, ia mengambil jeda waktu untuk beristirahat, menyaksikan Duke mengamati ketiga pasang rune. Saking penasarannya hingga ia lupa waktu bahwa harus membuat ramuan lagi.


Lelah, sangat lelah, itulah yang dirasakan Sans ketika memasuki hari ketiga di tambang kristal Munich. 13 botol ramuan penyembuh luka berhasil ia buat.


Ketika terbangun, ia dapat menatap Duke telah duduk menghadap wajahnya, menunggu untuk mendapatkan kembali kesadaran secara penuh.


Sans sampai menggosok kedua mata demi mengusir kantuk sambil menguap. Efek lelah sehabis melakukan transmutasi selama dua hari, apalagi mereka tiba di tambang kristal Munich pada malam hari.


“Saya sudah menemukan cara menyerang rune itu,” ucap Duke.