
“Omong-omong, aku tidak melihat Sierra dan Tay.” Sandee berkacak pinggang menatapi semua orang yang menyiapkan tenda untuk berkemah. “Apa mereka sedang mencari makanan?”
Semuanya menoleh pada Sandee dan mengangguk mereka sama sekali tidak melihat Tay dan Sierra di sekeliling mereka. Asumsi Sandee mungkin benar, apalagi keduanya telah memisahkan diri dan pergi menyusuri hutan.
Yudai bangkit setelah selesai dengan tugasnya. “Kalau begitu, aku akan bantu mereka. Aku akan berburu.” Ia mulai mengambil busur dari quiver-nya.
Sandee, menoleh pada Katherine di sampingnya, menyikut pinggangnya, memberi perintah untuk bersuara. Murid priest itu tersentak menatap Yudai kembali. Kegugupannya kembali menyelimuti tenggorokannya, ingin sekali berkata, tetapi seakan ada yang menghalangi.
Lana melambaikan tangan saat menatap Katherine. “Yudai! Katherine katanya mau ikut lho!!”
Lagi-lagi, kepala Katherine seakan bagai bom yang sudah meledak. Wajahnya merah merona penuh malu yang tidak dapat tertahankan. Berkat ucapan Lana, kini kepercayaan dirinya berkurang.
“Oh, begitu, Katherine,” balas Yudai, “ayo!”
Katherine sama sekali tidak dapat berkata-kata lagi. Ia ingin mengambil satu langkah, akan tetapi kegugupannya kembali menghentikan dirinya. Sekali lagi, Lana dan Sandee “membantunya”, mendorong punggungnya untuk mulai melangkah.
Katherine sampai hampir tersandung, menggunakan bahu untuk menyeimbangkan diri. Karena ia sudah telanjur mengambil langkah, ia pun mendekati Yudai yang menjulurkan senyuman padanya.
“Oke, ayo kita pergi!” sahut Yudai bersemangat kembali melangkah.
Lana dan Sandee menepukkan kedua tangan mereka. Tindakan mereka telah memicu Katherine berinisiatif untuk mengikuti Yudai.
***
Hening, hanya ada angin lembut beserta suara jangkrik menenangkan, Katherine merasa hanya diam akan membuat situasi semakin canggung. Kata-kata seakan bercampur tidak beraturan untuk membentuk kalimat dalam bentuk suara. Itulah yang menghalangi dari suara hati menuju suara dari tenggorokan.
Katherine hanya menyaksikan Yudai melangkah seakan mengikuti irama dan cukup santai. Murid priest pemalu itu ingin sekali berbicara saat kata-kata sudah mulai mengalir dari otak menuju mulut. Tetapi … tetap saja ia tidak ingin merusak suasana hati sama sekali. Ia takut dengan ia berbicara akan menganggu kegembiraan dan keheningan.
“Hmmmm, apa kita pernah hanya berdua?” Yudai mengingat-ingat lagi. “Oh! Benar, saat pesta dansa Festival Melzronta. Aku ingat kamu cantik sekali saat memakai gaun.”
Sebuah panah seperti menusuk bagian dada Katherine. Ia sampai tersipu dan menoleh ke kanan, membiarkan kata cantik sekali berputar beberapa kali di benaknya. Pipinya kembali memerah.
“Yu-Yudai ….”
“Oh ya. Kamu mau makan apa? Nanti kucarikan. Mau buah? Slime? Atau daging kelinci?”
“E-e-eh?” Katherine lagi-lagi kesulitan menjawab pertanyaan itu, meski ia tahu pertanyaan itu memang sepele.
Katherine tahu ia benar-benar kesulitan dalam mengeluarkan isi pikiran melalui suaranya, apalagi ketika bersama Yudai, baik dalam misi atau sekadar bersantai. Ia bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana agar lancar mendekati Yudai dan berbicara padanya?. Sayang sekali, ia tahu tidak semudah itu.
Meski waktu pesta dansa ia merasa sudah memberikan kesan bagi Yudai, mayoritas waktu yang ia habiskan saat di dekatnya telah terbuang hanya karena ia sulit dan terbata-bata dalam berbicara. Terlalu banyak pikiran bercampur aduk untuk mendekati dan berbicara.
Yudai meretangkan tangan kirinya saat mendengar sebuah suara seperti tubrukan. “Ada sesuatu.”
Tanpa aba-aba sedikitpun, ia memperlambat langkahnya. Diambilnya satu panah dan dipasangkannya pada tali busur untuk mulai membidik. Ia bergeser mengikuti arah sumber suara, ingin sekali menyergap buruan secara tiba-tiba.
Katherine pun mengikuti tindakan Yudai, melangkah pelan, tapi ditambah melihat sekeliling. Sangat was-was saat mengetahui ada ancaman menanti, terutama dari binatang buas. Semakin merinding saat suara embusan angin terhadap daun lebat di atas pohon.
Masih merinding, Yudai sama sekali tidak ingin tembakannya mengenai sasaran yang salah. Ia takut jika ada seseorang yang tak terlihat dari kejauhan, apalagi kegelapan. Ia sedikit mempercepat langkah sampai injakannya pada rumput memicu bunyi. Begitu ia melewati deretan pohon, sebuah sosok tergeletak di tanah memicu matanya melotot.
Katherine sampai meringis menyaksikan sosok itu dan meledakkan jeritannya.
“Ja-jangan-jangan—” Yudai mengenali sosok itu, dari pakaian mantel biru, kemeja putih, dan rambut agak jabrik.
Ia buru-buru melesat saat memastikan sosok itu dari kejauhan. Tidak salah lagi, Tay telah tergeletak memejamkan mata di hadapannya. Ia berlutut dan mengguncangkan tubuh temannya itu.
“Tay? Tay!” Yudai panik mendapati Tay tidak sadarkan diri.
“Ke-kenapa?” ucap Katherine mendekati mereka.
Yudai menempelkan kedua jari pada leher Tay, tepatnya pada pembuluh nadi. Ia terbelalak memastikan denyut nadi Tay masih berdetak.
“Katherine, coba pakai Remedy!”
“Ba-baik!” Katherine berlutut dan menempelkan kedua tangan pada dada Tay. “Lata eht pyju kando, remedia le ca apelle.”
Cahaya putih mulai keluar dari kedua tangan Katherine dan merembes menembus tubuh Tay. Sihir *Remedy*I¬-nya perlahan mulai merasuki tubuh dan menyebar di kulit.
“Yudai!” sahut Riri yang berlari menghampiri dari belakangnya.
Bukan hanya Riri, tetapi juga Sans, Beatrice, Zerowolf, Sandee, Lana, Ruka, dan Tatro yang juga berhamburan menghampiri melewati semak. Mereka telah kemari karena mendengar jeritan Katherine. Beatrice dan Sandee sampai terkesiap dan menutup mulut mendapati Tay telah tidak sadarkan diri.
“Astaga!” sahut Zerowolf. “Apa yang terjadi di sini!”
Tay terbelalak dan langsung mengempaskan napasnya begitu mengangkat dadanya. Ia menarik napas cepat begitu sebuah mantra telah terangkat darinya berkat Remedy I dari Katherine.
“Tay!” sahut Riri ikut berlutut mendekatinya.
Tay menempelkan jari pada keningnya, mengumpulkan tenaga dan pikirannya kembali sambil menarik napas. Sebuah ingatan terpicu menembus dirinya, ia ingat apa yang telah terjadi sebelum ia jatuh pingsan.
“Si-Si-Sierra. Di-di-dia ….”
“Sierra?” ulang Sans.
“Di-dia … mata-mata Royal Table.” Tay memalingkan wajahnya saat mengungkapkan hal itu.
Semuanya terbelalak dengan ucapan Tay. Penyangkalan, reaksi pertama saat mendengar kata itu. Seorang teman yang sudah lama dekat ternyata meruipakan seorang pengkhianat, bukan hanya pengkhianat sebagai teman, tetapi juga pengkhianat akademi.
“Si-Sierra? Sierra?” Beatrice sampai berlutut. “Tidak mungkin. Pa-padahal dia … dia … baik sekali menemaniku selama … aku sedang kesulitan. Tidak! Tidak mungkin!”
Sandee sampai melepaskan genggaman halberd-nya. Begitu senjatanya mencapai rumput, ia menundukkan kepala dan menguatkan kepalan tangannya. “Bohong. Bohong. Katakan kalau itu semuanya bohong. Tidak mungkin teman sekamarku merupakan mata-mata Royal Table.”
Tay tidak menjawab, wajahnya hanya masam saat menatap Sandee. “Apakah aku harus menceritakan semuanya sebelum aku pingsan setelah dihajar olehnya?”
Yudai mengangkat tangan. “Aku ingin mendengarnya. Meski, aku tahu … aku masih tidak percaya.”
Sandee meronta, “Janngan bercanda, Yudai! Memangnya kamu mau percaya dengan murid yang paling dibenci di akademi ini!”
Sans membela, “Sandee, kamu sering lihat, aku, Beatrice, Yudai, dan Neu, kami tetap mempertahankan Tay sebagai teman kami. Meski dia menjadi murid yang paling dibenci, kami tetap mengajaknya ikut dalam berlatih dan mengikuti misi. Meski kami sering melihat dia bertengkar dengan Neu, dia … tidak pernah sekalipun berkhianat, meninggalkan kami begitu saja.”
Zerowolf sampai merentangkan kedua tangan ke bawah. “Ya, wajar kalau dia adalah teman kalian. Dari yang kulihat, dia juga sama sekali tidak pernah mencampakkan kita. Contohnya, saat misi mengalahkan cockatrice waktu itu.”
Tay memalingkan wajahnya lagi sebelum mengangkat kepalanya, menatap seluruh temannya. “Silakan kalau mau percaya atau tidak. Tapi ini benar-benar terjadi sebelum aku pingsan.”
***
“Ja-jangan-jangan … ka-ka-kamu … mata-mata Royal Table?”
Sierra tertegun mendapati Tay menuduhnya sebagai mata-mata Royal Table di hadapan dirinya. Ia memundurkan langkah terbata-bata ingin menjelaskan segalanya, ingin sekali berbohong untuk menyangkal. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat saat Tay menunjuk dirinya.
“Kamu tahu kan apa yang terjadi pada Neu! Kamu tahu mengapa Neu tiba-tiba menghilang! Bu-bukan hanya itu. Kalau tidak salah, sebelum akhir semester, kamu absen berhari-hari karena sakit. Kamu—”
Sierra mencoba untuk mengelak. “T-Tay, kenapa kamu sampai menyimpulkan hal seperti itu? Itu hanya hal sepele.”
“Ternyata benar!” sahut Tay mendorongkan telunjuknya pada bahu Sierra. “Kamu sengaja menghilang berhari-hari karena kamu adalah mata-mata Royal Table dari awal! Kamu sebenarnya hanya memanfaatkan kebaikan teman-temanmu untuk mencapai tujuanmu!”
“Kamu di luar karaktermu seperti biasa, Tay. Kupikir kamu dingin, membenci situasi saat kita bersama yang lain, dan tidak acuh. Tapi ternyata, aku salah.”
Tanpa perlu menunggu lagi, Sierra membisikkan sebuah mantra dan melemparkan telapak tnagan kanannya pada Tay. Sebuah energi sihir dari Sierra masuk ke dalam tubuh Tay dan seperti meledak.
Ledakan di dalam tubuh Tay membekukan seluruh otot dan tulang di sekujur tubuh seperti mematung. Lama-kelamaan, kesadarannya memudar dan tubuhnya roboh ke rumput.
“Tu-tu-tunggu.” Tay dapat melihat Sierra pergi begitu saja di hadapannya, meninggalkannya.
“Ada sesuatu.” Suara Yudai menjadi hal terakhir yang ia dengar sebelum pandangannya menghitam.
***
Mendengar cerita itu, Riri langsung bangkit dan mendekati salah satu pohon di kirinya. Tangannya yang ber-knuckles itu langsung menghantam badan pohon yang tetap berdiri. Sangat frustrasi dirinya telah gagal menyadari bahwa salah satu dari anggotanya adalah seorang mata-mata. Ia merasa telah gagal menjadi pemimpin.
Beatrice sampai berlutut dan menarik napas kencang, sangat kencang sampai ia tidak bisa berhenti. Air matanya mulai menetes, kepalanya mulai beradu pikiran antara kenangan dan kenyataan yang sudah terjadi, terutama terungkapnya Sierra sebagai mata-mata.
“Ti-tidak ….”
Sungguh malang bagi Beatrice, teman dekatnya, Sierra, telah menjadi seorang pengkhianat.
“Sierra … dia bukan orang jahat … dia bukan orang jahat ….” Beatrice terisak-isak masih menyangkal.
Menatap reaksi Beatrice dan Riri, tubuh Katherine berguncang sampai pikirannya seperti membeku. Ia menutup wajah menggunakan kedua tangannya.
“Si-Sierra … di-dia … Ro-Royal Ta-Table. Ke-kenapa?”
Sans menundukkan kepalanya. Satu lagi masalah muncul. Ia sudah jenuh dengan masalah penyelidikan Royal Table yang harus menjadi risiko dirinya sebagai seorang alchemist, ditambah lagi masalah Beatrice tiba-tiba dijemput yang sudah selesai. Satu lagi, Neu tiba-tiba menghilang memang ada kaitannya dengan terungkapnya Sierra sebagai mata-mata Royal Table.
Ia sampai menyentuh kepalanya, pusing, sangat pusing. Ia tidak ingin percaya bahwa Sierra, salah satu teman dekatnya, merupakan seorang pengkhianat besar.
Tay perlahan bangkit, terlebih dahulu meletakkan tangan kiri pada rumput sebagai tumpuan sebelum berdiri tegak. Ia mulai melangkah, mengeraskan tapakan kaki pada rumput.
“Tay!” Yudai mulai bergerak.
“Aku akan cari Sierra! Dia pasti tidak jauh dari sini!”
“Aku ikut! Aku ingin menyelamatkan Neu! Sekarang!”
Mendengar kalimat itu, Sans langsung menoleh pada Yudai dan Neu yang mulai melangkah cepat. “Tidak! Kalian tidak akan kemana-mana!”
Riri sampai menoleh mendengar perintah Sans, menghentikan pukulan pada pohon. Hatinya seakan terpukul saat dirinya menatap Sans berani mengambil alih untuk memberikan larangan.
Yudai menghentikan langkah dan menoleh pada Sans. “Sierra tahu di mana Neu, bukan! Dia tahu dia yang bertanggung jawab! Royal Table yang bertanggung jawab atas masalah ini! Mereka sudah mengacaukan semuanya semenjak mereka menghampiri kita semua saat bootcamp!”
Giliran Riri untuk memberi nasihat. “Aku tahu kalian semua marah, aku juga, aku juga marah karena Sierra mengkhianati kita semua, Akademi Lorelei, dan kerajaan Anagarde. Lebih baik, kita tidak termakan emosi terlalu dalam. Hal yang bisa kita lakukan sekarang, jangan gegabah, kembali ke akademi.”
“Kamu benar.” Tatro menghela napas. “Biar aku, Irons, dan teman-temanku yang melaporkan ini pada raja. Biar kami, royal guard, yang mencari keberadaannya. Mungkin kami bisa menyelamatkan Neu dan menangkap Sierra.”
Ruka menyindir halus sambil membuang muka, “Begitu, kenapa tidak dari tadi saja? Aku sudah lelah menghadapi para pelayan itu. Apalagi jika harus melewati pegunungan Santavale.”
Zerowolf menyeringai, “Sepertinya, kamu kalah dalam mengendalikan emosi, Yudai.”
Sandee menggeretakkan giginya, membiarkan air mata mengalir begitu saja pada wajah. Ia sampai berbalik membelakangi seluruh temannya. Ia telah menahan tangisannya dengan menubrukkan kedua gigi sangat lama.
“Si-Sierra.” Ia akhirnya melepas geretakkan giginya. “Te-teman sekamarku.”
Riri mengangkat wajahnya, menatap seluruh temannya yang sedang di ambang gejolak emosi. “Kalian ini, kalau kalian terus menerus membiarkan amarah menguasai kalian, kalian tidak akan menemukan Sierra, apalagi Neu. Kalian tidak akan maju-maju. Kalian tidak akan menjadi kuat. Kalian justru akan membiarkan Royal Table mengalahkan kita semua dan mencapai tujuannya! Apa itu yang kalian mau?”
Yudai menarik napas panjang, membiarkan udara masuk ke dalam hidungnya menjernihkan pikirannya. “Ti-tidak. Tentu saja tidak.”
Zerowolf membalas, “Tentu saja takkan kubiarkan Royal Table berbuat seenaknya pada Akademi Lorelei!”
“Kita kembali ke akademi dulu untuk sekarang,” Riri sekali lagi berkata. “Sesuai kesepakatan, kita akan melintasi pegunungan Santavale. Kita fokus menyelusurinya untuk sekarang.”