
Beatrice mempercepat mundurnya, mengambil song sphere-nya dan menggenggamnya ke depan. Agar ia tidak terkena serangan apapun, termasuk dari Sans, Yudai, dan Duke, ia berdiri membelakangi pintu keluar itu.
Spinarcia melambaikan rambutnya sekali lagi memperhatikan Beatrice. “Kukira dia juga mau kabur. Ternyata dia ingin menggunakan skill-nya dari jarak jauh.”
Yudai juga ikut mundur hingga mencapai tengah ruangan. Ia mengambil panah dari quiver seraya mengambil ancang-ancang.
Eldia menambah, “Kukira Yudai juga.”
Sierra kini menggenggam tongkat sihirnya yang ia taruh di belakangnya. “Mereka tidak mungkin kabur seperti Tay dan Neu. Bahkan, Neu berani-beraninya memanggil kita berdua *****. Arsehole sekali.”
“Berhenti bicaranya,” tegas Spinarcia lembut seperti merayu, Ia menghunuskan belatinya.
Belati milik Spinarcia itu berbilah meliuk miring, sehingga bilahnya membentuk spiral dari ujung gagang hingga ke ujung tajamnya. Sans tertegun menatap belati itu. Belati yang berbeda daripada saat ia melawan Spinarcia sebelumnya dua kali. Tajam di setiap sisi liukan bilah. Ia dapat menebak bilah belati itu terbuat dari perak murni.
“Kita mulai saja. Tiga lawan empat. Atau lebih tepatnya tiga lawan tiga, karena satu dari kalian adalah song mage.” Spinarcia mengambil ancang-ancang.
“Sans,” bujuk Duke, “lebih baik biar saya yang melawan Spinarcia.”
“Eh?” ucap Yudai.
“Profesor—” ucap Sans.
“Jangan berdebat lagi,” tegas Duke.
Spinarcia menganggukkan kepalanya. “Wah. Seorang diri. Kalau begitu, bersiaplah, motherfucker.”
Sierra dan Eldia tersendat mendapati Spinarcia menggunakan kata umpatan sebagai nama panggilan untuk Duke di hadapannya.
“Apa? Kalian sudah dewasa. Kalian juga sering sekali menggunakan kata itu, bukan?” Spinarcia membela.
Duke mengambil ancang-ancang, menempatkan kaki kanan di depan, mengayunkan belatinya ke belakang seraya mengumpulkan tenaga. “Kamu yang seharusnya bersiap, motherfucker.”
Duke menjerit melesat mengangkat belatinya ke atas, ingin menubrukkan bilah belati tepat pada salah satu bagian tubuh Spinarcia. Begitu ia mendekatinya, sesuai dugaan, Spinarcia menubrukkan bilah spiral pada belatinya untuk menangkis serangan itu.
Beatrice mengungkapkan skill yang akan ia pakai, “Lunar Light!”
Sierra mengangguk pada Eldia. Mereka mengambil ancang-ancang ketika tiga buah gelombang bundar seakan muncul dari lantai, masing-masing menyelimuti Sans dan Yudai dari bagian bawah ke atas.
Eldia menghunuskan pedangnya. Berbeda daripada saat Yudai menyelinap bersamanya saat pertengahan bootcamp, pedang Eldia berbentuk melengkung dan memiliki satu bilah.
“Wow,” ucap Yudai, “Sans—”
“Aku tahu. Biar aku yang menghadapi Eldia.”
“Ta-tapi—”
“Incar Sierra saja!”
Eldia mulai melesat lurus. Ia justru mengincar Yudai alih-alih Sans, mencengangkan keduanya.
Sans melesat mengayunkan belatinya. Begitu ia mencapai ayunan pedang milik Eldia, ia tebaskan serangan tersebut. Berat, sangat berat. Sampai-sampai ia kewalahan mendapati senjatanya hampir terempas.
“Sans! Sial!”
Yudai meluncurkan tembakan panahnya saat Sans terempas sampai mengerem mundur. Sayang sekali, panahnya justru terbelah oleh pedang Eldia.
Yudai mendengus, menatap Sierra masih santai di posisi terbelakang. Ia tahu ia seharusnya mengincar Sierra yang berperan sebagai penyerang jarak jauh. Ia tahu, Sierra sebagai penyerang cukup kuat, buktinya Tay dan Neu dibuat pingsan oleh mantan temannya itu.
Sans menghela napas, kembali mengayunkan belati secara perlahan ke depan, mengambil ancang-ancang.
Yudai memberi usul, “Kita incar Eldia saja dulu?”
“Pada akhirnya Sierra akan meluncurkan serangannya, pasti lebih kuat daripada kita duga.”
***
Sesuai dugaan, Tay dan Neu mendapati mereka telah terhadang oleh sekelompok pasukan Royal Table di hadapan mereka. Masih berada di jalan berdinding berwarna porselen mendekati perak berkilauan, tepat setelah berbelok dari pintu keluar ruangan, mereka langsung mengenggam erat senjata masing-masing.
“Ah … ****,” umpat Tay.
Seluruh pasukan Royal Table di hadapan mereka mulai melesat mengangkat pedang, halberd, atau tombaknya, berlari sambil menjerit.
“Cherie!” sahut Neu.
“Kamu pasti bercanda!” Tidak ingin menunggu lama lagi, Tay nekad berlari dan mengayunkan pedangnya, menyerang setiap pasukan royal guard barisan depan. Pedangnya ia tubrukan dengan berbagai bilah senjata yang menghampiri.
Neu geram mendapati Cherie lagi-lagi larut dalam tidurnya di bahu kiri. Frustrasi menatapnya kembali tertidur, ia menggeretakkan gigi dan amarahnya sedikit naik.
“Kenapa saat seperti ini kamu tidur terus?” ucap Neu.
Ia beralih pandangan pada Tay. Rival bebuyutannya itu sudah menumbangkan setidaknya dua orang pasukan berzirah baja merah tersebut.
Akan tetapi, Tay menghela napas mendapati semakin banyak tebasan pedang dari sesama pasukan Royal Table tiu. Sampai-sampai responnya dalam menangkis tebasan pedang melambat. Saking cepatnya serangan bertubi-tubi dari pasukan Royal Table di sampingnya, perut bagian kiri sampai terkena salah satu bilah tombak, memicu sobekan di mantel biru dan kemeja putihnya, sampai darah mulai menetes.
Tay menggeretakkan gigi merespon rasa sakit itu. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, serangannya mulai meleset. Ia tercengang menatapi salah satu tebasan pedang tengah merujuk pada dadanya.
Neu mengangkat tongkatnya mengarahkannya 45 derajat dari langit-langit, mulai merapalkan mantra, “Falshen siqlo, rinreah le ca apelle!”
Kilatan petir besar seakan memenuhi barisan belakang pasukan Royal Guard. Mereka menjerit bertubi-tubi mendapati tubuh mereka terasa panas dan pandangan sangat silau, sampai memicu detak jantung sangat cepat. Mereka pun akhirnya tumbang, memudahkan Neu untuk ikut menyerang.
“Dari tadi!” sahut Tay seperti mendadak tenaganya kembali terkumpul. Ia menggoreskan mata pedangnya pada bagian leher zirah baja setiap pasukan Royal Guard itu. Baginya, itu menjadi tahap awal untuk menumbangkan lawan-lawannya.
Neu kembali merapalkan mantra dan memutar tongkat sihirnya, “Senm em storv omen, froze lof!”
Bongkahan es besar bermunculan dari tongkatnya dan berterbangan mengarah pada papan tembak, seperti badai es berukuran besar. Sisa dari beberapa pasukan Royal Guard yang masih berdiri langsung panik mendapati bongkahan es menghantam tepat pada kepala.
“AAAAAARRGH!!” jerit semua pasukan Royal Table hingga tumbang satu per satu.
Tay juga mendapati bongkahan es juga tengah menghantam dirinya tepat pada kepala. Beruntung, responnya cepat sampai ia membantingkan pedangnya sampai es itu terbagi menjadi dua dan jatuh ke lantai menjadi cairan.
“Apa-apaan itu! Kamu hampir saja membunuhku, Mata Empat!” jerit Tay naik darah.
“Berterimakasihlah sedikit.” Neu menganggukkan kepala, menunjuk seluruh pasukan Royal Table di hadapan mereka sudah tumbang, hampir memenuhi lantai dan saling menumpuk seperti tumpukan mayat. “Kamu juga tidak perlu lagi menggunakan pedangmu. Ayo.”
Tay menggerutu pedas, mengikuti langkah Neu untuk menyeberangi tumpukan pasukan Royal Guard di lantai. Jika perlu, ia sampai menginjak badan mereka seperti tumpukan sampah, mengingat mereka terbungkus oleh zirah baja merah.
“Dasar, hormati mereka sedikit.” Neu setidaknya memanfaatkan celah di lantai sebagai tumpuan melangkah.
Mereka pun melanjutkan langkah dengan berlari setelah melewati seluruh pasukan Royal Table.
***
Duke sama sekali tidak dapat berkonsentrasi merapalkan mantra sambil menangkis setiap tebasan pedang Spinarcia. Kecepatan serangan musuhnya itu jauh melampaui ekspektasinya, lebih cepat daripada sebelumnya.
Meski mendapat kekuatan fisik tambahan dari lagu Beatrice, kecepatannya tetap tidak mampu menandingi Spinarcia. Ia menggeretakkan gigi saat belatinya mulai terdorong erat.
“Lelah? Kamu lelah? Baru saja tujuh menit, kamu sudah terlihat lelah. Profesor macam apa yang bertarung seperti itu?” Spinarcia menyindir.
“Tutup mulutmu! Tampaknya sudah cukup bullshit bagimu.”
Duke kembali menubrukkan belatinya. Kali ini, ia bergeser dan melompat demi memanfaatkan celah.
Di sisi lain, Sans menggeretakkan gigi mendapati kecepatan dalam mengayunkan belatinya menurun melawan Eldia. Sama seperti Duke, ia melangkah mundur begitu kakinya mulai tergelincir ke belakang sebagai reaksi tangguhnya bilah pedang Eldia.
Yudai kebingungan apakah ia harus mengincar Sierra yang jauh di belakang Eldia. Pada saat yang sama, ia juga tidak ingin tembakannya justru mengena Duke atau Sans. Peluangnya untuk menembak sangat kecil mengingat gerakan Spinarcia dan Eldia cukup cekatan.
“Aku tidak bisa menggunakan Arrow Rain!” sahut Yudai.
Yudai kembali mengambil satu panahnya dari quiver, mundur ke belakang sembari menarikannya bersama dengan tali busur. Ia menempatkan kaki kiri ke depan, kembali memfokuskan pandangan.
Beatrice sekuat tenaga bertubi-tubi mengulang lirik lagu demi memperkuat Sans, Yudai, dan Duke di hadapannya. Keraguan mulai menghadang otaknya melawan optimismenya, akan tetapi ia menggelengkan kepala dan memperkuat tekadnya untuk membantu.
“AAAAH!!” sahut Sans mendapati belatinya terpental ke lantai, hampir mengenai dinding di sebelah kanan.
“Sans!!” jerit Yudai.
“Mati kau!” Eldia mengangkat ayunan pedangnya sebelum Sans sempat berkutik entah menghindar atau berlari mengambil belatinya.
Memanfaatkan celah, Yudai meluncurkan tembakannya. Panahnya meluncur di udara cukup cepat sampai mencapai lengan bawah kanan Eldia.
“AAA!” Eldia menjerit saat bagian bawah lengannya tertusuk panah Yudai, menghentikan ayunan pedangnya, membiarkan Sans meloloskan diri dan berlutut mengambil belatinya kembali.
“Arrow Rain!!” jerit Yudai memasangkan sepuluh panah sekaligus pada tali busurnya.
Ia meluncurkan tembakan sepuluh panah itu secara bersamaan, semuanya tepat menuju Eldia.
“Begitu rupanya. Hujan panah.”
Bahkan sebelum panah itu mencapai tubuhnya, Eldia melambung melompati seluruh tembakan itu dan mengiris setengah dari kumpulan panah tersebut menjadi dua bagian. Ia menggerakkan kaki di udara meluncurkan dirinya mengarah pada Yudai. Bahkan ia berputar terlebih dahulu.
Yudai sampai menghela napas, tercengang menyaksikan dirinya tidak berkutik.
Darah. Darah merembes keluar dari bahu kirinya. Terpicu oleh nyeri akibat serangan Eldia menembus bagian epidermis, ia berlutut dan menjatuhkan busurnya. Tangan kanannya mencapai bahu kiri seraya menahan nyeri dan perdarahan.
“Maaf ya, Yudai,” ucap Eldia, “aku ingat kamu sedang mencari ayahmu sampai kamu rela menyelinap keluar dari Silvarion. Kebohongan yang buruk waktu itu, Yudai.”
Sans semakin terkesiap, menyadari bukan hanya dirinya yang berbohong, tetapi Yudai juga.
“Ya, pada akhirnya sia-sia saja. Paling tidak, dengan kekuatan seperti itu, kamu tidak akan pernah menemukan ayahmu.”
Yudai menggeretakkan giginya, ingin sekali meluapkan amarah melalui tembahan. Jari-jemarinya telah mencapai kepala busur. Terlebih rasa nyeri dari luka bahu kirinya juga sedikit demi sedikit mereda berkat skill original Beatrice.
Belum sempat menggenggam busurnya kembali, ia terkesiap. Sans berlari mengayunkan belatinya kembali. Ia dapat melihat bara api pada kornea mata Sans saat sedang menyerang.
Eldia dengan mudah menangkis tebasan belati Sans, sangat tenang, seperti memudarkan bara api dari tenaga Sans.
“Jangan … berkata seperti itu pada Yudai!!” Terprovokasi, Sans mengeratkan genggaman belatinya selagi menyerang.
Berkali-kali Sans menebaskan belatinya dari segala arah, bahkan jika ia harus bergeser dan berbalik, sama sekali tidak terkena bagian tubuh Eldia.
Sans terengah-engah menurunkan belatinya sejenak. Lelah, mulai lelah akibat mengempaskan tenaga sebagai bentuk amarah.
“Menarik sekali. Marahlah. Marahlah sampai kamu tidak bisa bertarung kembali,” sindir Eldia.
***
“Hei!”
Neu menyahut saat sebuah pertigaan berbentuk huruf Y terbalik telah di hadapannya dan Tay. Mereka sedikit mempercepat langkah berjalan lurus menghadap ruangan itu.
“Tidak salah lagi, pasti ini kurungannya!” Neu menatap berbagai pintu terpampang di kiri dan kanan dinding. “Ingatanku tidak salah!”
Saat mereka menapakkan kaki di tengah-tengah pertigaan itu, sebuah sosok misterius muncul secara tiba-tiba. Seperti sebuah siluet yang memunculkan tubuh fisiknya secara cepat, menggunakan sihir.
“Holy ****, penghalang lagi? Sejak kapan dia di situ!” ucap Neu.
Topeng biru kaca seakan terbuat dari berlian, zirah putih baja seakan seperti kaca pula, dan rambut hitam panjang. Itulah ciri khas yang mencolok bagi sosok itu. Terlebih, ia menghunuskan sebuah pedang panjang berpelindung melengkung.
“Diamond?” Neu menebak nama dari sosok misterius itu, hanya berdasarkan ciri khas.
Tay kembali menghunuskan pedangnya. “Mata Empat, giliranku.”
“Dia bisa saja kuat, bagaimana kalau—”
“Lebih baik kamu diam saja dan cari cara untuk menembus si Diamond ini!”
Sosok misterius yang mereka panggil Diamond itu menganggukkan kepala, seakan memprovokasinya.
Terpicu oleh gesturnya itu, Tay mengambil ancang-ancang sambil menjerit, “Jangan remehkan aku, motherfucker!”
Ia langsung menebaskan pedangnya. Sesuai dugaan, Diamond menangkis serangannya itu. Akan tetapi dorongan pedang dari Diamond melebihi ekspektasinya, sangat kuat sampai Tay ingin melepas genggaman pedangnya sendiri.
Berkali-kali Diamond menangkis serangan itu. Tay seakan sedang menubrukkan bilah pedangnya. Ia sampai berputar menuju jalan lain, tetapi tanpa membiarkan Tay dan Neu melewati pintu menuju kurungan.
“AAAH!” jerit Tay terdorong ke belakang mengarah pada jalan lain.
Ia memundurkan kaki kiri sebagai rem agar tubuhnya tetap seimbang. Pada saat yang sama, ia juga mengambil ancang-ancang untuk melepas tumpuan kaki pada lantai. Ia melesat mengayunkan pedangnya secara horizontal.
“BLADE REVENGER!!” jerit Tay
“Diamond Shield!” Diamond secara tenang menggunakan skill¬-nya.
“I-itu mana?” Neu tercengang mendapati Diamond menggunakan sebuah sihir.
Mana dari tubuh Diamond bersinar memicu bayangan sebuah perisai di antara pedang panjangnya. Tanpa perlu bergerak, apalagi menangkis, serangan Tay seperti tidak memiliki efek apapun.
“BLADE REVENGER!!” Tay menjeritkan skill-nya kembali, menggerakkan tebasan pedangnya ke segala arah, bawah ke atas dan kiri ke kanan.
Meski gerakan ayunan pedang sangat cepat tidak kasat mata, tidak ada efek berarti bagi Diamond terhadap serangan itu. Tay mengeretakkan giginya frustrasi sampai menggunakan skill-nya sekali lagi.
Akan tetapi, sebuah tusukan di bagian dada kanan atas seperti merobek bagian dalam tubuhnya. Tay tercengang luka tersebut sama sekali tidak terlihat secara fisik. Secara teknis, tidak ada darah keluar dari dalam kulitnya, akan tetapi … bagian dalam dada kanan atasnya seperti tersobek, memicu perdarahan dalam.
“Kamu tidak sadar juga rupanya.”
Terpicu oleh nyeri tersebut, Tay terpaksa menjatuhkan pedangnya, menempatkan lutut kanan sebagai tumpuan. Rasanya ingin roboh.
“S-****.”
“T-Tay!!” jerit Neu.
Neu tahu ia harus membantu rival bebuyutannya itu. Terlihat jelas Tay mulai menyentuh lantai ingin sekali roboh.
Ia mulai mengangkat tongkat sihirnya dan mulai menggerakkan mulut seraya merapalkan mantra.
“Jangan ikut campur—” potong Tay.
Tay menempatkan tangan kanan di lantai sebagai tumpuan. Perlahan, ia meletakkan lutut pada lantai seraya kembali bangkit. Ia mengenggam lagi pedangnya dari lantai.
“Ini pertarunganku. Pedang … melawan pedang.”
Diamond mengangguk sampai menyeringai, meski mulutnya terhalang oleh topeng. “Masih bisa berdiri rupanya. Tak kusangka.”
“Aku juga senang masih bisa berdiri,” sindir Tay.
“Majulah.”
Tay sekali lagi melaju mengayunkan pedangnya, mengabaikan nyeri pada dada kanannya yang membatasi pergerakkannya.
Begitu Tay mendekat, Diamond mulai mengayunkan pedang ke kiri, mengincar lengan kanannya. Ia tebaskan ayunan pedang tersebut.
Refleks Tay memicunya untuk melompat mundur menghindari tebasan pedang Diamond. Belum selesai, bahu kirinya hampir menubruk dinding ketika Diamond kembali mengayunkan pedangnya secara horizontal.
Tay pun mengayunkan pedangnya sekali lagi. Seperti dugaannya, serangannya tertangkis. Dua pedang bertubrukan, namun pedang Diamond menubruk lebih cekatan daripada sebelumnya. Ia tahu dengan dada kanannya masih terasa nyeri, ia harus mengalahkan Diamond demi membebaskan seluruh royal guard dan teman-temannya.
Neu menghela napas menyaksikan pertarungan antara Tay dan Diamond sangat sengit. Berkali-kali Tay menghindar dan tidak mampu menembus pertahanan Diamond. Sementara … ia tidak bisa melakukan apapun, semenjak rival bebuyutannya itu melarang membantunya, bahkan ia berniat untuk menggunakan white flame untuk menyembuhkan sekalipun.
“HAAAAAA!!!” jerit Tay kembali menubrukkan pedangnya.
***
Sans menjerit mengayunkan belatinya. Berkali-kali ia menyerang, bilah belatinya selalu bertubrukan. Sering sekali, ia menyingkir menghindari tebasan pedang Eldia.
Ia bergeser seperti menggelincirkan kakinya saat tebasan pedang tengah mencapai tubuhnya. Ia berbelok kembali menyerang Eldia, jika perlu mengelilinginya.
Yudai tertegun menatap perkembangan serangan Sans dan juga cara menghindarnya. Ia dapat melihat setiap kali Eldia melompat menerjang, Sans melompat mundur dan menangkisnya menggunakan belati. Pada saat yang sama, ia dapat melihat belati sering terdorong ke belakang setiap kali bertubrukan dengan pedang Eldia.
Ia beralih pandangan menuju Duke dan Spinarcia. Kedua sosok yang lebih senior itu masih bertarung dengan sengit dan intens. Spinarcia bertubi-tubi mendorong pedangnya mengincar tepat pada badan Duke, ingin menusuk.
Duke pun melompat ke belakang. Akan tetapi, ia tidak menduga serangan selanjutnya berupa tebasan cepat beruntun, sampai mengiris kemejanya, memicu sedikit darah keluar dari dada.
Yudai tertegun mendapati Duke mulai kesulitan melawan Spinarcia. Maka, ia mengambil kembali panah dari quiver-nya. Namun, ia melihat Sierra yang masih berdiam diri di posisi terbelakang.
Ia menoleh ke belakang, Beatrice masih sekuat tenaga bernyanyi. Meski dilanda keraguan, song mage itu sampai melotot menguatkan tekadnya untuk membantu Sans, Yudai, dan Duke.
Ia mengembalikan pandangannya pada Eldia. Sans terengah-engah sampai ia kewalahan dalam menghadapi tubrukan pedang mengarah pada belatinya. Sang alchemist malang itu terdorong kakinya berusaha bertahan dari serangan itu, tidak sempat untuk mengumpulkan kembali tenaga demi menyerang.
Sampai-sampai … bilah pedang Eldia mencapai bagian lengan kiri Sans, memuncratkan darah akibat dari tebasan tersebut. Sans meringis menggeretakkan gigi, terpicu oleh nyeri menembus bagian luar kulit.
Tanpa ampun, Eldia kembali meluncurkan dorongan pedangnya, bersiap untuk melakukan serangan pamungkasnya saat Sans mulai menubruk dinding dari belakang.
Secara refleks, Yudai melepas tarikan tali busur dan panahnya, meluncurkan tembakan mengarah pada Eldia. Sekali lagi, tembakannya mengena tepat pada bahu kanan Eldia yang tercengang sampai menurunkan pedangnya secara refleks. Bilah pedangnya hampir mengena bagian tubuh Sans, terutama dada.
Terpicu oleh serangan Eldia yang terhenti, Sans memanfaatkan celah tersebut. Ia mendorong genggaman belatinya.
Eldia tertegun mendapati Sans kembali bangkit, sampai-sampai gilirannya kesulitan dalam menangkis serangan itu, apalagi panah masih tertancap di bahu kanannya. Ia menggeretakkan gigi menyadari ayunan belati Sans semakin meledak sampai ia kesulitan menghindar atau mundur. Ia menatap ke belakang, Spinarcia dan Duke masih bergerak sengit, ia takut entah serangan Spinarcia atau Duke mencapai punggungnya.
“UH!” jerit Eldia tertegun ketika dorongan tebasan belati Sans memicu pedangnya mencapai tepat pada wajah.
“Siqlo, evel eht knove reina,” Sierra merapalkan sebuah mantra sambil mengangkat tongkatnya.
Sebuah cahaya besar bermunculan di langit-langit ruangan. Menatap hal itu terjadi, Eldia langsung bergeser mundur. Sans dan Yudai tertegun ketika mengalihkan pandangan pada langit-langit.
Cahaya tersebut membentuk beberapa bentuk pedang dengan mengarah ke bawah, seperti mengapung di udara terlebih dahulu. Satu per satu bermunculan, bahkan sampai berada tepat di bawah Sans, Yudai, dan Beatrice yang tertegun.
“Shit,” ucap Sans sudah menduga Sierra akan melakukan serangannya.
Beatrice sampai tercengang hingga menghentikan menghentikan nyanyiannya saat tengah-tengah reff yang ia ulangi berkali-kali selama pertempuran. Otomatis, efek penyembuhan dan pertambahan pertahanan terputus.
Kumpulan pedang itu meluncur ke bawah seperti hujan saat Sierra mengayunkan tongkat sebagai aba-aba. Saat mencapai lantai, kumpulan pedang itu satu per satu berjatuhan, ujung pedang mendarat pada lantai terlebih dahulu.
“A-apa ini!!” jerit Beatrice panik menghindari hujan pedang cahaya itu. Akan tetapi, usahanya belum cukup, satu per satu ujung pedang mencapai ujung mantelnya hingga mulai merobek.
Sans dan Yudai juga berlarian panik mundur, melihat sekeliling hujan pedang tampak tidak ada hentinya.