
Waktu demi waktu pun berlalu, ketidakhadiran Sierra tentu membuat jenuh, semakin jenuh. Sudah lima hari semenjak murid priest tersebut telah absen dari Akademi Lorelei. Bahkan, saat kelas terakhir khusus job priest pada semester pertama itu ditidak dihadirinya sama sekali.
Mereka telah mencoba untuk mengunjungi kamar Sierra beberapa. Setiap mereka mengetuk pintu, sama sekali tidak ada jawaban, sama sekali tidak ada, pintu tidak terbuka mengungkapkan kehadiran Sierra. Pagi, siang, hingga sore, sama sekali tidak ada jawaban.
Malam saat hari kelima absennya Sierra, berharap agar Sierra membukakan pintu, Neu mengetuk sebanyak tiga kali. Kali ini, Sans, Beatrice, Yudai, dan Tay ada di sisinya.
Mereka sama sekali belum mencoba mengunjungi Sierra pada malam hari, saat seluruh murid tengah berkumpul untuk beristirahat dari rasa penat setelah seharian.
Pintu pun terbuka, mengungkapkan seorang perempuan berambut cokelat bercampur pirang dan hitam panjang, seorang teman sekamar, telah berdiri menarik gagang pintu.
“Ya?”
“A-anu, kami ingin berbicara pada Sierra,” ujar Beatrice, “akhir-akhir ini, dia tidak pernah menemui kita. Dia bahkan tidak masuk.”
“Sudah lima hari,” tambah Neu, “lima hari dia tidak bersama kita.”
“Oh. Maafkan aku. Aku juga tidak tahu ke mana dia. Dia tidak pernah kembali ke kamar selama lima hari,” jawab gadis di hadapan mereka itu.
“Di-dia tidak pernah kembali sama sekali?” ulang Yudai melongo.
Perempuan itu menggeleng. “Sama sekali. Dia sama sekali tidak memberitahu mengapa dia harus keluar dari akademi selama ini. Kukira kalian tahu, aku sering melihat dia bersama kalian akhir-akhir ini, terutama di kantin. Dan wah, bersama Tay juga kupikir?”
Berbicara tentang Tay, murid swordsman itu menjauhi dirinya sendiri dari percakapan tersebut menuju dekat tangga, benar-benar aneh, bagi Sans yang memperhatikan hal tersebut.
“Begitu.” Yudai menempatkan kedua telapak tangan pada punggung kepalanya. “Dia ke mana ya? Sampai tidak mengabari sama sekali.”
“Omong-omong, kita beda kelas umum, kan? Siapa namamu?” Neu bertanya.
“Aku Sandee, murid job royal guard, juga tahun pertama. Nanti akan kukabari kalau Sierra sudah kembali,” gadis di hadapan mereka itu memperkenalkan diri.
“Ro-royal guard!” Yudai sempat hening sejenak sebelum terkejut sampai mengulangi untuk memastikan. “Ka-kamu murid royal guard? Yang akan melayani kerajaan secara langsung begitu lulus dari akademi ini?”
Sans menoleh pada Sandee. “Wow, hebat. Kamu adalah royal guard.”
Sandee mengoreksi sambil memalingkan wajah, “A-aku masih murid royal guard.”
Tay kembali menghampiri. “Jujur saja, aku sudah lelah dengan urusan seperti ini, terutama tentang Sierra. Kalian selalu saja begini. Kenapa kalian masih harus peduli sama dia? Kalau perlu, dia sudah tidak ada di akademi selama lima hari, kita juga tidak tahu kenapa, bahkan para profesor juga. Lebih baik dia dikeluarkan saja dari akademi ini kalau tidak mau kembali juga. Jika perlu, mereka bisa melakukannya saat dia kembali.”
Ucapan Tay memicu keheningan di balik ketegangan, lagi-lagi, mulutnya yang tidak terjaga dari omongan buruk membuat provokasi. Semuanya menoleh.
Neu tidak tahan lagi dengan ucapan kotor Tay. “Serius? Saat seperti ini kamu masih berani berkata seperti itu? Kamu ingin Sierra dikeluarkan dari akademi hanya karena ini? Sierra itu teman kita semua.”
“Aku hanya berkata jujur, memang seharusnya aturan tidak untuk dilanggar. Dia bahkan tidak kembali saat jam malam—” Tay membela opininya.
“Kata-katamu sangat tidak manusiawi sekali. Makanya tidak ada yang mau berteman denganmu! Kamu ingat saat teman dekatmu dulu meninggalkanmu?”
Beatrice mencoba melerai dan menengahi Tay dan Neu. “A-anu, sudah hentikan.”
“Sudah kubilang dari dulu Tay memang seharusnya tidak bersama kita, kalian tahu dia suka berbicara buruk!” Neu berbicara pada Beatrice.
“Aku hanya berkata jujur!” bentak Tay.
Sans dan Sandee ikut terdiam, tidak dapat berkata apapun untuk membuat situasi lebih tenang.
“Tenanglah, tenanglah,” Yudai mengangkat kedua tangan pada Tay dan Neu, tetap berdiri di samping Sans.
“Kalian mau kejujuran dariku lagi? Kalian mau!” bentak Tay menunjuk setiap orang di sampingnya.
“Hentikan.” Beatrice menepuk kedua pundak Tay di hadapannya.
Secara refleks, Tay menampar tubuh Beatrice, mendorongnya ke samping kirinya, tepat di dekat Sans, Yudai, dan Sandee, Beruntung, dia sama sekali tidak menabrak dinding setelah tertahan oleh Sans dan Yudai secara bersamaan.
“Ada apa denganmu, Tay!” jerit Neu mendorong bahu Tay.
“Urusanmu apa? Apa!” bentak Tay.
“Sebaiknya kalian berhenti,” ucap Sandee.
“Jujur saja, kamu pengecut!”
Tay mendorong kepalan tangan tepat pada pipi Tay, kembali memicu perkelahian.
“Hei!” jerit Sans tercengang.
“He-hentikan!” Yudai segera menengahi keduanya sebelum terjadi pertengkaran sengit kembali.
Sama sekali tidak percaya apa yang baru saja dilihat. Suara keras pertengkaran tersebut sampai mengundang beberapa murid membuka pintu kamar masing-masing dan menyaksikannya berujung menjadi perkelahian.
Neu terjatuh ke lantai begitu terkena pukulan Tay. Sikut kanannya mendarat terlebih dahulu, benturan pun berbunyi menyebabkan rasa sakit mulai menyebar.
Sans menatap sekeliling, tercengang sebuah pertengkaran mulai menjadi tontonan beberapa murid. Situasi semakin gawat ketika Tay mulai memelesat ingin mengepalkan pukulan sekali lagi.
“Tenanglah! Tenanglah!” Yudai menahan Tay.
“Baik! Kalian yang memintanya! Jujur saja! Kalian semua yang salah! Kalian sudah memaksaku untuk ikut kalian!” bentak Tay lagi, kali ini menunjuk Sans, Beatrice, Yudai, dan Neu.
“Memangnya aku juga ikut yang meminta? Sebagai teman sekamar!” Neu membalas bentakan Tay, masih tetap berada di lantai.
“Aku lega kamu jujur juga! Aku lega semua orang tahu yang sebenarnya!” Tay berbalik menuju tangga. “Aku tidak mau lagi bersama kalian! Kalian semua! Aku muak!”
Melihat Tay menuruni tangga, melepaskan amarah dan kejujuran dari dalam benak, semuanya, terutama Sans, Beatrice, dan Yudai hanya terdiam tidak merespon, atau memanggilnya kembali.
***
“Aku tidak mengerti sama sekali, Yudai! Sans!”
Alih-alih kembali ke kamarnya hanya untuk kembali mencari masalah dengan Tay, Neu memutuskan untuk menetap di kamar Sans dan Yudai untuk sementara waktu. Situasi akan semakin memburuk jika hal ini tidak dijadikan sebuah solusi.
“Kalian mengajak Tay saat pergi ke gunung berapi untuk mengambil air mata phoenix. Sekarang kalian lihat, dia masih saja orang yang buruk, benar-benar buruk!”
“Kamu hanya butuh waktu, dia juga butuh—”
“Percuma saja, Yudai! Tay takkan pernah berubah menjadi orang yang lebih baik, sama sekali!”
Sans pun kebingungan, sangat kebingungan. Sebenarnya dia tidak ingin kelompok pertemanannya terpecah belah hanya karena masalah sepele, Sierra sudah absen selama lima hari di akademi, Tay dan Neu lagi-lagi berkelahi di gedung asrama karena masalah yang sama.
Hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh sama sekali tidak membantu. Satu lagi solusi agar Tay dan Neu tidak kembali bertengkar harus segera dipikirkan baik-baik. Terlebih, keberadaan Sierra sama sekali tidak diketahui.
Sans membuka suara, “Kurasa Tay sudah cukup membantu saat kita mengambil misi yang sulit.”
“Itu bahkan kita belum mampu menjalani misi itu!” Neu membantah. “Tay gegabah sekali mengambil misi itu begitu saja, seperti masa bodoh.”
“Ya, sebenarnya, kita juga dapat uang yang banyak, lebih banyak daripada misi yang kita biasa ambil berkat Tay,” bela Yudai.
“Tay waktu itu hanya mengalahkan monster itu seorang diri! Dia bahkan menguliti monster itu sebagai tujuan misi itu.”
***
Mendengar auman sebuah monster target pada sebuah misi dari dalam mulut gua batu, Tay sama sekali tidak mengeluh apalagi gemetaran. Tay merupakan biang kerok dalam pengambilan misi lebih susah dari biasanya.
Beatrice menyentuh bahu Sierra dari belakang demi menenangkan diri. “Pa-pasti seram sekali.”
Wajar, rupa monster tersebut secara pandangan masih belum diketahui. Menurut permintaan dalam lembaran misi yang diambil Tay secara gegabah, monster tersebut memiliki bulu berwarna ungu lebat menyelimuti tubuh menyerupai gorilla bercampur simpanse, kekar dan cekatan.
Tay tanpa berbicara lagi, tanpa rasa takut tergambar pada tubuh dan wajah, mengeluarkan pedang dari selongsong begitu masuk ke dalam gua tersebut. Sebuah keputusan terbodoh dan gegabah lagi-lagi dia buat, itu yang Neu pikirkan.
“Di-dia akan baik-baik saja, kan?” Sans sampai deg-degan kita berkata.
Pandangan mereka terpicu sampai kembali menghadap mulut gua, sebuah jeritan dari sang monster berbulu meledak seketika bersama dengan suara pedang berkali-kali. Gua tersebut seperti bergetar ketika kedua suara bertubrukan.
Yudai menggeretakkan gigi, tidak dapat memprediksi siapa yang mendominasi pertarungan di dalam gua. Neu juga melongo tidak menyangka dari suara ayunan pedang dan jeritan monster berbulu, Tay memiliki kemampuan lebih.
Begitu kedua suara tersebut telah seketika lenyap, Tay akhirnya muncul dari mulut gua, membawa sekumpulan helai bulu ungu monster nan tebal, tanpa setetes darah mencemari sama sekali. Dia juga sama sekali tidak tergores sampai terluka dan ternodai darah segar.
“A-apa?” ucap Beatrice melongo.
Sierra juga menghela napas, membuang muka seakan tidak peduli dengan pencapaian Tay.
“A-apa aku tidak salah lihat?” gumam Sans.
***
Yudai membela Tay sekali lagi pada Neu, “Pada akhirnya dia yang membuat misi kita yang itu berhasil.”
Neu hanya menggeleng, tidak tahu ingin berkata apalagi. Dia sudah kehabisan ide untuk mengingatkan Tay benar-benar orang buruk dan tidak manusiawi.
Neu merobohkan diri di tempat tidur milik Yudai, lelah sehabis melampiaskan segalanya secara fisik dan mental.
“Um, Neu, i-itu—” Sans menunjuk selagi Yudai hanya berdiri melongo.
“Besok sore, kita cari Sierra di sekitar kota. Bahkan, jika perlu kita langgar jam malam saja,” usul Neu.
“Neu!”
Yudai mengangguk setuju. “Boleh juga. Yang penting, kita temukan Sierra dan bertanya padanya.”
“Se-serius? Kalian ingin melanggar jam malam?” Sans akhirnya bersikeras. “Baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Sierra. Kita cari dia sampai ketemu.”