Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 73



“Ti-tidak …,” ucap Yudai berlutut tidak dapat menahan nyeri dari bahu kirinya yang tertusuk. Seluruh kepala panah menembus kulit hingga darah menodai bagian mantelnya.


“Yudai!” Zerowolf mulai mengepalkan tangan kanan, tidak tahan menyaksikan Yudai berlutut begitu saja di hadapan Remi, meski tersisa waktu cukup banyak. “Apa yang dia lakukan? Dia ingin menyerah begitu saja? Bodoh sekali!”


“Yudai?” gumam Neu mulai khawatir.


Yudai terpikir kembali menuju benaknya, menyaksikan Remi berhenti menembak dan menunggunya untuk menyerah.


Kecepatan tangan Remi dalam mengambil panah dan melancarkan tembakan benar-benar cepat di luar dugaan Yudai. Sama sekali tidak ada celah untuk melancarkan serangan balasan 


Yudai menutup mata, berpikir dengan situasi seperti ini, ketika tembakan Remi berhasil mencapainya dua kali. Kuat, sangat kuat, bahkan lebih kuat.


Dia mungkin dapat menyatakan menyerah karena tidak mampu menandingi Remi di hadapannya. Jika hal itu terjadi, apalagi tanpa melakukan serangan sama sekali, hasil tidak lulus telah menanti.


Kamu boleh jadi salah satu murid terbaik di kelas, job archer, tapi hanya mengandalkan kekuatanmu yang begitu saja tidak cukup.


Perkataan Dolce memicu benaknya, menyadari bahwa kekuatan bukanlah segalanya bagi archer. Ketangkasan dan kecepatan, itulah gagasan yang memicu dirinya agar tidak menyerah.


Yudai kembali bangkit perlahan dan menggenggam panah yang telah menusuk bahu kiri. Semangatnya kembali menguap menguasai dirinya.


“Yu-Yudai?” Neu tercengang menyaksikan Yudai sama sekali tidak ingin menyerah.


Yudai menarik tusukan panah tersebut dari bahu kirinya, kembali mengucurkan darah dan mengotori mantel bagian tersebut. Kepala panah lancip tersebut penuh darahnya.


“Yudai, apa yang akan kamu lakukan sekarang?” gumam Zerowolf.


“Menarik. Kukira aku salah menilaimu. Kukira perkataan Dolce salah menganggapmu sebagai salah satu murid terbaik di kelas.”


Yudai menempatkan tangan kanannya pada quiver, tetap menggenggam panah yang semula menusuk bahunya. Dia mengambil salah satu panah.


“Ah!” jerit Remi tercengang.


“Ja-jangan-jangan—” Zerowolf mengetahui rencana Yudai.


Yudai menarik dua ekor panah sekaligus beserta tali busur dalam genggamannya, benar-benar tidak ada siapapun yang menyangka akan rencana tersebut.


“Menembak dua panah sekaligus?” Remi kembali mengambil panah dari quiver-nya. “Jangan harap tidak akan seperti tadi kalau kamu—”


Belum selesai Remi berbicara, tembakan Yudai langsung melesat begitu terlepas dari genggaman tangan dan tali busur. Secara refleks, dia bergeser menghindarinya ke samping kanan.


Akan tetapi, satu lagi tembakan kembali di depan mata. Saking tercengangnya, dia hampir tidak berkutik, kembali bergeser. Panah tersebut mengenai paha kanannya meski usaha sebaik mungkin.


“Ah!” jerit Remi hampir roboh mendapati paha kanannya tertusuk panah tembakan Yudai.


“Kena!” seru Yudai.


Tusukan panah Yudai dengan cepat copot dan terjatuh ke lantai, memunculkan noda darah pada paha Remi.


“Masih belum!” seru Yudai mengambil dua panah sekaligus sekali lagi dari quiver-nya.


“Dia berhasil melumpuhkan langkah Profesor Remi, tapi itu saja belum cukup,” komentar Neu.


Yudai perlahan melaju dan kembali melancarkan tembakan satu per satu dengan caranya. Mengambil dua panah sekaligus dari quiver, dan menembakkannya satu per satu. Meski begitu, kecepatannya masih tidak secepat Remi.


Beberapa tembakannya sempat sangat meleset karena bahu kirinya masih goyah. Genggaman tangan kiri pada busurnya justru membuat tembakannya tidak sesuai dengan harapan. Mulai dari hanya mengena lantai beberapa langkah dari target, hingga meleset jauh keluar dari ring.


Yudai dapat mengandalkan kaki dan kecepatan dalam menghindari setiap tembakan Remi. Sambil menyiapkan setiap tembakan balasan, dia memanfaatkan sebuah celah, ketidakmampuan Remi untuk mengambil langkah lebih luas dibanding dirinya. Dia kini membidik kaki kiri lawannya itu.


Kali ini, Yudai meluncurkan bukan hanya satu, tetapi dua panah sekaligus, tepat menuju kaki kiri Remi.


“Di-dia—” Dia akhirnya tumbang ke lantai dalam posisi berlutut.


Yudai menurunkan busurnya, menghela napas. Dia telah menumbangkan lawannya yang merupakan Profesor Remi.


“Yudai berhasil!” seru Zerowolf.


“Ta-tapi—” Sans mulai gemetaran ketika darah mulai merembes dari luka pada lutut kiri Remi settelah tusukan panah terlepas.


Remi akhir membuka suara, “Pada akhirnya aku sampai dibuat tidak bisa bertarung lagi, ya? Kamu memang salah satu murid terbaik, Dolce tidak salah menilaimu. Kamu berhasil mengalahkan saya.”


“Pro-Profesor,” ucap Yudai.


“Saya ingin segera mengajarimu, sungguh.” Perkataan Remi membuat Yudai melongo tidak percaya. “Tapi sayang, kita harus menunggu waktu yang cukup lama. Jika kamu ada waktu, kamu bisa temui saya untuk pelatihan privat.” 


Yudai melebarkan senyuman sebelum berucap, “Te-terima kasih, Profesor Remi!” Matanya juga berlinang air mata tidak dapat menampung kebahagiaan itu.


“WAKTU HABIS!” Sahutan Hunt terdengar.


Kali ini, Katherine yang mendatangi ring Yudai dan Remi. Gadis priest tersebut mulai menunjukkan rona merah wajah, tegang ketika menyaksikan Yudai.


“Sembuhkan Profesor Remi dulu,” suruh Yudai pada Katherine, “aku … tidak apa-apa.”


“Ta-tapi, kan—” ucap Katherine.


“Biar aku saja yang menyembuhkan Yudai!” Neu mengajukan diri ketika menaiki lantai ring tersebut dan mendekati Yudai. “Kamu sembuhkan Profesor Remi.”


“I-iya.” Katherine menurunkan wajah begitu menemui Profesor Remi.


Neu menyentuhkan tongkat sihirnya perlahan pada bahu kiri Yudai, memusatkan tenaganya sambil membaca mantra. “Akh ca apelle kah, pyro nhelv, fur eht obm.”


Muncul bara api berwarna putih, menyelimuti bahu kiri Yudai. Luka pada bagian tersebut mulai tertutup dan darah pun berangsur seakan terserap oleh api tersebut.


Yudai menoleh pada Zerowolf. “Setidaknya aku berhasil mengalahkan Profesor Remi.”


“Aku kira kamu akan menyerah!” tanggap Zerowolf.


“Yudai.” Dolce menghampiri Yudai dan yang lain.


“Eh? Dolce.” Yudai menoleh pada Dolce.


“Pro-Profesor Dolce?” seru Zerowolf mendapati Dolce telah berada di sampingnya.


“Dibandingkan saat mock battle kita waktu itu, kamu sudah berkembang.”


“Eh?”


“Tapi kamu masih harus berlatih lebih banyak lagi, Yudai. Begitu juga denganmu, Zerowolf. Saya tidak sabar untuk mengajari kalian lagi pada semester berikutnya. Saya harap kalian dapat berkembang jauh lagi.”


Yudai mengangguk sambil menundukkan kepala. “Saya akan lebih berkembang lagi! Dan juga terima kasih banyak atas mock battle waktu itu!”


“Ya. Kamu harus lebih kerja keras lagi. Lalu—” Dolce menoleh pada Sans. “—saya akan bertarung pada salah satu dari duel putaran ketujuh. Saya ingin kamu menjadi lawan pertama. Kita akan bertarung di ring ini.”


“Ah!” Yudai, Neu, dan Zerowolf tercengang mendengar keinginan Dolce, apalagi mengingat Sans pingsan saat aptitude test akhir melawannya.


Sans sama sekali tidak gemetar apalagi ketakutan, dia menerima tantangan Dolce. “Baik, Profesor Dolce.”