Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 93



Berkat suruhan Neu, mengerjakan tugas musim dingin lebih awal daripada murid lain, sebenarnya saat pertengahan waktu rehat menuju klimaks; menjadi sebuah keuntungan bagi Sans, Beatrice, Yudai, dan Tay.


Rutinitas pun berubah, alih-alih hanya berlatih setelah menikmati makan pagi, entah membeli di kedai roti atau kantin, perpustakaan menjadi tujuan utama demi menyelesaikan tugas itu. Bagi Sans, Beatrice, dan Yudai, mereka bangun saat fajar untuk memberi makan bayi phoenix secara sembunyi-sembunyi sebelum menikmati makan pagi.


Buku tebal berisi penjelasan tentang Familiar harus repot-repot mereka baca terlebih dahulu. Memang sulit untuk dipahami, tetapi usaha mereka untuk berusaha keras memahami sedikit demi sedikit setiap kalimatnya masih menjadi sebuah keuntungan kecil.


Selesai membaca dan mencatat hal-hal penting bagi mereka, sesi diskusi pun berjalan. Masing-masing menjelaskan apa yang telah mereka baca dan pahami sejauh itu. Neu, seakan sebagai profesor pengampu sekaligus pengawas, menambah dan mengoreksi penjelasan itu. Jika perlu, ia sebaik mungkin menjawab berbagai pertanyaan.


Tay tidak terlalu memedulikan situasi diskusi itu. Ia bahkan tidak mengajukan pertanyaan meski tidak mengerti, entah karena ingin gengsi atau tidak ingin diatur oleh Neu. Ia merasa lebih baik melakukan tugasnya sendiri.


Hari ketiga dalam mengerjakan tugas, Zerowolf sempat menginterupsi kelimanya demi menantang Yudai dalam mock battle sekali lagi. Sayang sekali, omelan Neu menjadi sebuah kado baginya karena belum mengerjakan tugas itu sama sekali. Terpaksa, ia bergabung untuk ikut mengerjakan tugas dan berdiskusi di perpustakaan.


Perilaku Zerowolf sama sekali tidak berubah, sampai-sampai ia menantang Yudai untuk balapan siapa yang lebih dulu selesai mengerjakan tugas. Untungnya, Neu sekali lagi berkata bahwa hal itu bukan persaingan.


Neu juga mengingatkan bahwa Zerowolf sebenarnya tertinggal dari Yudai sebanyak tiga hari. Tidak mungkin bisa mengejar jika ingin mengebut dan mendapat hasil maksimal dalam tugas itu.


Hari keempat dalam mengerjakan tugas, mereka memutuskan untuk menempati salah satu meja di lantai dua perpustakaan. Hanya Neu yang pernah mengekplorasi lantai atas itu, maka ia berkata bahwa perpustakaan Akademi Lorelei memiliki sebanyak enam lantai, dengan lantai keenam merupakan lorong terlarang bagi murid.


Entah kebetulan atau tidak, Riri dan Katherine juga berada di perpustakaan lantai dua sebelum ikut bergabung semenjak mereka juga sedang berusaha memahami materi tentang Familiar. Riri berpikir memang gagasan bagus untuk saling berbagi pikiran dan pemahaman bersama-sama saat mengerjakan tugas di perpustakaan.


Lantai dua pun tidak jauh berbeda dengan lantai pertama. Koleksi buku di sana 80 persen sama dengan lantai pertama, 20 persennya lagi merupakan koleksi tersendiri dan khusus. Seperti biasa, deretan kursi dan meja menjadi pusat di antara deretan rak buku. Hal itu menjadi keuntungan bahwa buku yang sama persis juga terdapat di sana, terutama buku tentang Familiar.


Halaman demi halaman buku tentang Familiar telah mereka baca dan rangkum. Rangkuman masing-masing masih seperti kumpulan bahan mentah menunggu untuk menjadi barang hasil olahan. Hasil diskusi juga melengkapi rangkuman dari buku tebal itu. Usaha mereka dari pagi hingga malam membuahkan hasil berkat perintah Neu.


Hari keempat juga menjadi momen saat beberapa murid lain mulai berdatangan dari kampung halaman masing-masing. Gedung asrama mulai kembali ramai, sudah mulai banyak yang berkumpul di lounge room malam hari untuk bercengkerama.


Hari ketujuh dalam mengerjakan tugas, hanya tinggal tiga hari sebelum libur musim dingin berakhir. Perpustakaan mulai ramai, sangat ramai dengan murid lain yang ingin mengerjakan tugas liburan.


Sans dan teman-temannya tengah merangkum catatan masing-masing ke dalam hasil akhir berupa lembar ilmiah bersama-sama. Mereka sama sekali tidak terkejut menyaksikan perpustakaan telah penuh dengan berbagai murid yang panik dalam memulai tugas masing-masing, terutama mencari informasi tentang Familiar.


Berbagai murid berbondong-bondong mencari referensi hingga rela berebut atau berbagi saking paniknya. Itulah akibat menunda-nunda saat libur musim dingin.


Berkat usaha keras dalam membaca sambil berdiskusi, Sans dan teman-temannya akhirnya menyelesaikan tugas itu lebih awal daripada mayoritas murid tahun pertama.  


***


Semester kedua pun akhirnya dimulai setelah seluruh murid menikmati libur musim dingin.


Hari pertama, seluruh murid masing-masing berada di ruang kelas sesuai dengan pembagian untuk kelas umum seperti semester lalu. Hal paling pertama adalah mengumpulkan tugas berupa lembar ilmiah tentang Familiar pada profesor yang berada di kelas itu, bisa dikatakan sebagai wali.


Desas-desus pun bertebaran sesuai dengan kenyataan itu. Seluruh tugas itu akan dinilai oleh seluruh profesor di akademi. Tentu saja, Alexandria merupakan salah satunya. Spekulasi bahwa murid akan dipanggil olehnya karena ketahuan menyalin secara penuh pun juga menjadi topik hangat dan mengerikan.


Mengingat semester kedua dimulai pada musim dingin, masing-masing murid menambah beludru sesuai warna jubah masing-masing pada bagian lengan. Fungsinya untuk menambah kenyamanan saat berada di cuaca dingin.


Seperti biasa, Sans dan kelima teman dekatnya, termasuk Sierra, menempati salah satu bangku di barisan terdepan, menunggu Hunt untuk tiba. Masing-masing lembar ilmiah yang telah mereka buat telah berada di genggaman.


“Pagi.” Hunt melewati barisan bangku murid sebelum berbalik menghampiri mereka. “Selamat datang di semester kedua kalian.”


Setiap percakapan dari murid terhenti begitu Hunt mulai menyapa, terutama tentang Alexandria. 


“Saya langsung saja, begitu saya memanggil nama kalian, serahkan lembar ilmiah yang telah kalian kerjakan selama libur musim dingin. Setelah itu, saya akan memberikan jadwal kelas yang harus kalian ikuti sesuai job masing-masing.”


Hunt mengangkat tumpukan lembar kertas berbentuk persegi panjang setara dengan kartu nama menuju tatapannya. Satu per satu, ia memanggil nama murid sesuai dengan urutan.


Satu per satu, seluruh murid menaruh lembar ilmiah masing-masing di meja samping Hunt. Hunt pun menyerahkan lembar jadwal kelas sesuai dengan nama murid.


Sama seperti semester sebelumnya, lembar dari Hunt pada masing-masing murid tertulis jadwal kelas umum dan kelas khusus. Beberapa kelas khusus job tertentu terdapat perubahan jadwal, sementara kelas umum, seperti yang dikatakan Neu, merupakan pelajaran berbeda daripada semester lalu.


Sans hanya mendapat dua kelas itu semenjak dirinya masih sebagai murid bermantel putih, murid tanpa job. Namun, pelajaran khusus bersama Duke tentang alchemist masih menjadi keuntungan tersendiri baginya. Berkat pengajaran Duke dan juga dukungan seluruh teman dekatnya, ia masih dapat bertahan di akademi saat semester dua.


Ia tetap harus berhati-hati dengan kelas “Filsafat”, terutama Alexandria selaku profesor pengampu. Alexandria pernah melarangnya untuk menyingkir dari urusan alchemist semester lalu, saat Duke berhalangan hadir di kelas sejarah. Ia akan aman selama profesor yang paling dibenci itu tidak menjurus pada topik terlarang tersebut.


Yudai berkomentar, “Profesor Alexandria? Filsafat. Ah, bagaimana ini?”


Hunt kembali berbicara ketika seluruh murid telah kembali ke bangku masing-masing, “Baik, semenjak kalian telah mengerjakan tugas ini dengan baik, alangkah baiknya ada seseorang yang menjelaskan apa itu Familiar secara singkat. Silakan acungkan tangan bagi yang ingin menjelaskan.”


Neu mengangkat tangan. Tidak perlu heran lagi bagi seluruh murid di kelas itu menyaksikan ia selalu yang pertama ingin menjawab.


“Neu.”


Neu menjelaskan, “Familiar adalah makhluk langka dan unik dibandingkan makhluk lain seperti hewan buas atau monster di alam liar biasa. Mereka terbagi ke dalam setidaknya dua kategori, peri dan roh. Familiar tipe roh mendekati aura yang membentuk roh keluarga, hewan, atau esensi alam. Sedangkan peri umumnya memiliki makhluk kerdil bersayap seperti burung, bertelinga segitiga seperti elf, dan bertanduk seperti rusa.


“Familiar terdapat di Pulau Familiar Izaria yang terletak di selatan Benua Grindelr, tetapi mereka juga memiliki peluang sebanyak satu banding seribu untuk muncul di tempat lain selama musim dingin. Familiar juga dapat menjadi makhluk pendamping bagi manusia, namun terdapat cara khusus untuk menangkapnya.”


“Bagus, Neu,” tanggap Hunt, “seperti biasa kamu bagus dalam menjelaskan.”


   


Hunt kemudian melengkapi penjelasan Neu, Ia memaparkan contoh spesies Faniliar yang sering terlihat, mulai dari roh berbentuk hewan hingga makhluk berbulu berbentuk lingkaran bernama fuzzball.


Kurang lebih lima belas menit menjelaskan panjang lebar, Hunt kemudian mengumumkan, “Semuanya, seperti yang kami katakan pada akhir semester lalu, kita akan kembali mengadakan field trip, tempatnya Pulau Familiar Izaria. Kalian akan melihat Familiar secara langsung di sana sambil menikmati keindahan alamnya.


“Tugas kalian selama field trip adalah menangkap Familiar untuk menjadi makhluk pendamping. Kalian pasti pernah melihat beberapa murid kelas atas saat melewati selasar akademi, makan siang di kantin, mengunjungi perpustakaan, atau mengelilingi sekitar kota. Beberapa dari mereka memiliki makhluk pendamping seperti itu. Maka sudah menjadi impian kalian untuk memilikinya, bukan?”


Kebanyakan dari murid menyahut sambil mengangguk. Bahkan beberapa murid perempuan menganggap Familiar merupakan makhluk pendamping yang imut, tidak heran mereka ingin mendapatkannya saat di Pulau Familiar Izaria.


“Satu hal lagi, kalian tidak bisa menangkap Familiar begitu saja, hanya dengan genggaman tangan. Seperti yang sebagian dari kalian ketahui saat mengerjakan tugas, ada cara tertentu untuk mendapat Familiar, setiap tipe dan spesies pun bervariasi.


“Baik, mungkin saya terlalu banyak menjelaskan sejauh ini. Kita semua akan berangkat tiga hari ke depan. Pastikan kalian baca kembali materi tentang Familiar di perpustakaan dan siapkan bekal untuk ke sana, barang yang penting. Kalian tidak perlu membawa senjata.”


Begitu Hunt telah mengakhiri pertemuan itu, seluruh murid di kelas itu satu per satu bangkit dari bangku dan berbalik menuju pintu keluar.


Beatrice kembali melebarkan senyuman pada Neu. “Terima kasih banyak telah mengingatkan kami. Kami jadi lupa saat fokus berlatih di sekitar kastel.”


Sans menambah, “Ya, berkat kamu, Neu, kami jadi tertolong.”


“Aku hanya ingin mengingatkan kalian,” balas Neu.


“Hei, hei, hei.” Tay mulai menunjuk Sierra. “Kalau kita harus bersusah payah membaca dan merangkum tanpa menyalin punya Neu seutuhnya, kenapa dia harus enak-enaknya mengerjakan saat terakhir!”


Sierra menjawab sambil memasang wajah tidak bersalah, “Sebenarnya, aku sudah mengerjakannya saat di kampung halaman—”


Tay kembali geram. “Dasar priest berpakaian hitam, kamu bahkan tiba di akademi lagi saat hari terakhir libur musim dingin! Kukira kamu asal-asalan dalam mengerjakan tugas itu!”


“Sudah, sudah, itu tidak penting,” ungkap Beatrice, “lebih baik kita persiapkan semuanya untuk field trip tiga hari lagi.”


“Ah! Sambil menunggu, lebih baik kita mengambil misi lagi! Berhubung uang kita hanya tinggal 10 vial. 10 vial …. Kalau kita tidak mengambil misi—”


“Ini semua karena Mata Empat!” Tay menarik kerah Neu. “Kalau kamu tidak menyuruh kita mengerjakan tugas terus-terusan, kita mungkin akan menghasilkan uang bersama-sama!”


Neu membela diri, “Jangan salahkan aku. Uang kita berdua setidaknya sudah cukup hingga hari ini, jadi tidak ada salahnya untuk bersantai sambil berlatih saat hari-hari terakhir libur musim dingin!”


“Terserah!” Tay mendorong Neu sebelum berpaling pada pintu. “Setidaknya kita bisa dengan santai mengambil misi demi uang, terutama pembekalan untuk ke Pulau Familiar Izaria nanti.”