Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 111



Sehari setelah berakhirnya Festival Melzronta, hanya tinggal menunggu sehari lagi untuk kembali berkegiatan belajar-mengajar bagi seluruh penghuni di Akademi Lorelei. Berakit-rakit sebelum bersenang-senang, pola itu telah kembali ke awal siklus bagi para murid.


Berhubung sedang mendapat libur hanya sehari, para murid memanfaatkan waktu luang hanya untuk bermalas-malasan. Tidur di kamar masing-masing, bersantai duduk di sofa dan minum secangkir teh menghadap perapian di lounge room, berkeliling sekitar kota, dan menikmati desiran angin di pantai. Sangat melelahkan setelah mereka sekali lagi harus bekerja keras selama enam hari terakhir.


Bagi Yudai, keempat opsi itu belum menjadi pilihan. Ia duduk di hadapan meja, terdiam menggenggam sebuah amplop putih bertutupkan sebuah lingkaran merah seperti mawar. Begitu ia mencopot lingkaran itu, sebuah isi, yaitu selembar surat ia buka lipatannya.


Surat itu sudah ia terima dari seorang royal guard kerajaan pada hari keempat Festival Melzronta, yaitu saat persiapan stage keempat. Akhirnya saat hari libur, ia baru dapat membaca isinya.


Yudai,


Sayang sekali kamu tidak pulang saat libur musim dingin. Kakek dan Nenek mengerti kamu ingin lebih giat berlatih demi mencari orangtuamu.


Kami sangat senang saat mendapat surat darimu, sungguh kaget. Kami baik-baik saja, semoga kamu juga begitu selama di akademi. Belajarlah, berlatihlah dengan giat. Jangan terlalu khawatirkan kami.


Semoga kamu dapat menemukan orangtuamu dan pulang dengan selamat.


^^^Tertanda^^^


^^^Kakek dan Nenekmu^^^


Mendapat surat dari kakek dan neneknya di kampung halaman sudah seperti mendapat harta karun bagi Yudai. Tulisan seakan berbicara langsung kepadanya melalui tinta di atas kertas.


“Terima kasih sudah memberitahu akademi ini, Kakek.”


***


Tidak ingin bermalas-malasan, alun-alun menjadi tujuan Yudai untuk mulai menghabiskan hari libur. Sambil berjalan mengitari bangunan sebelum melewati pintu utara alun-alun, ia bernyanyi untuk menambah semangat di hari yang cerah.


Give us strength...


So we can beat the force of fear


Give us strength...


So we can be better in our fight


Give us strength...


So we don't just stand and run away


Give us strength...


Let's use our bravery in our battle...


Meski bukan song mage seperti Beatrice, ia hapal betul lagu Give Us Strength. Liriknya turut menambah semangat dalam menjalani hari, terutama ketika akan menghadapi misi.


Alun-alun juga tidak seramai seperti saat berlangsungnya Festival Melzronta. Tidak ada lagi tenda dan meja stand, tidak ada lagi rasa sesak karena banyaknya kerumunan pengunjung. Banyaknya ruang turut membantu udara meluncur lancar.


Tatapan Yudai langsung tertuju pada quest board di dekat gerbang timur alun-alun. Ia langsung menambah kecepatan ketika Riri dan Katherine tengah melirik-lirik berbagai tempelan lembaran permintaan.


“Hei!” sahut Yudai.


Katherine langsung membeku saat menoleh ke samping kiri. Sekali lagi wajahnya memerah saking terpicu kembali debaran jantung saat melirik pada Yudai.


Terpicu pula saat malam sebelumnya, yaitu pesta dansa. Ia tidak banyak berbicara pada Yudai selagi berdansa bersama. Belum sempat memanfaatkan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya, ia sudah terpisah ketika pengumuman hasil Festival Melzronta.


Berbeda dengan Katherine, Riri membalas sahutan Yudai, “Oh, hai, kebetulan sekali. Ada misi yang mungkin cocok untuk kalian bertiga.”


“Eh? Misi kelas B?”


“Ini dia!” Riri menunjuk salah satu lembaran di posisi tengah quest board.


Yudai menempelkan jempol dan telunjuk pada dagu. Matanya memindai kalimat pada lembaran tersebut, terlebih kata “Maha Darurat” seperti cukup berlebihan untuk mendeskripsikan misi.


“I-ini misi kelas B? Dari tugasnya kelihatannya lebih cocok ke misi kelas D.”


“Nah, bisa dibilang ini misi kelas B termudah untuk kalian. Kita juga sudah menyelesaikan misi kelas A, mengalahkan basilisk di kota Salazar, bersama-sama. Ya, pada akhirnya kemampuan kita belum cukup.”


“Apalagi uang hadiahnya kamu berikan kembali. Apa ada misi kelas B yang lain?”


“Hanya ini.”


Katherine ingin sekali menyela hanya untuk bergabung ke dalam percakapan, terutama untuk mengesankan Yudai. Sayang sekali, Riri sedang asyik menjelaskan misi tersebut merupakan langkah pertama untuk memulai naik tingkat.


***


Sup jamur dan wortel serta potongan babi panggang guling menjadi menu makan siang di kantin. Benar-benar tidak bernafsu meski melihat kulit babi panggang yang terlihat cokelat keemasan, Beatrice hanya meratapi tindakannya saat pesta dansa waktu itu.


Setiap kali ingin melupakannya, tetap saja kilas balik itu selalu kembali menuju benaknya. Rasa bersalah itu tetap menghantui ketika lintasan pikiran itu menumpang lewat dan tetap tertempel pada lamunan.


Tatapannya beralih pada Neu yang telah bergabung pada antrean di hadapan buffet kantin, mengambil porsi makan siang. Teman masa kecilnya itu hanya terfokus melihat-lihat menu yang tersedia siang itu, tanpa sekalipun menoleh.


Melihat Neu tidak menatap sedikitpun padanya menyayat hati. Sebuah penyesalan menumpuk ketika pikiran itu menjadi fokusnya, yaitu saat melihat Neu berkelahi melawan Earth.


“Beatrice? Beatrice?”


Panggilan itu membuyarkannya hingga menoleh ke kanan.


“S-Sans?”


“Kamu tidak apa-apa?”


Kembali kepada Neu yang baru saja mengambil membawa tray makan siang, dilihatnya sejenak terhadap Beatrice. Seakan seperti angin lalu saat menatap selama lima detik, ia berbalik mencari meja kosong.


Beatrice menghela napas menyaksikan kepergian Neu. “Ne-Neu … tidak ingin berbicara denganku. Saat aku melihatnya di lounge room, dia pergi begitu saja tanpa menyapa. Di-dia pasti marah denganku. A-aku … memang ceroboh telah melibatkannya.”


“Beatrice ….” Sans merasa iba, kedua tangannya telah menimpa bagian permukaan meja.


“Kamu, Tay, dan Sierra juga sudah bertemu dengan Earth. Aku melibatkan Neu terlalu jauh untuk berpura-pura menjadi pasangan dansaku semalam. Aku ingin Earth melupakanku. Aku ingin … Earth tahu kalau aku tidak mencintainya, kalau aku tidak ingin—” Sungguh berat bagi Beatrice untuk mengungkapkan isi pikirannya. “—menikahinya kelak.”


Sans mencoba untuk menghibur Beatrice. “Kamu sudah mencobanya, itu yang penting.”


Selagi mengutarakan pendapatnya, Sans juga berpikir tentang pengalamannya sebagai murid bermantel putih di akademi sejauh ini. Memang benar ia gagal dapat aptitude test dan menjadi calon murid yang akan dikeluarkan dari akademi, tetapi ia tetap mencoba demi tujuan utamanya, menyembuhkan sang ibu.


Jalan untuk mencapai tujuan itu tetap harus menjadi rahasia bagi Sans. Sungguh berat untuk menyembunyikan salah satu cara yang ia tempuh, yaitu menjadi alchemist dengan bantuan Duke.


Terlintas kembali penjelasan Alexandria bahwa alchemist sebenarnya merupakan job terlarang bagi Akademi Lorelei, bahkan Kerajaan Anagarde sekalipun. Dalam sejarah, alchemist menjadi pemicu sebuah insiden besar yang menyebabkannya.


“Sans! Beatrice! Riri menemukan misi kelas B yang cocok! Misi kelas B!” Sahutan Yudai membuyarkan lamunan keduanya.


“Eh?” ucap Sans dan Beatrice.


“Ini, misinya!” Yudai menunjukkan lembar misi tersebut.


Sans melongo begitu membaca kalimat deskripsi misi tersebut. “Kelihatannya ini lebih cocok ke misi kelas D.”


“Aku tahu, Sans,” bela Yudai, “tapi kata Riri ini bisa jadi misi kelas B pertama kita. Langkah pertama sebelum mengambil misi kelas A! Riri dan Katherine juga akan membantu kita sebagai balas budi untuk waktu misi melawan basilisk.”


“Kalau itu menurut Riri, dan sudah lama kamu ingin mengambil misi kelas B, mau bagaimana lagi ….”


“Aku ikut.” Beatrice ikut bangkit dari duduknya. Ia tertegun ketika secara refleks mengubah pikirannya menjadi suara dan mulai tergerak, mengalihkan kesedihannya. “E-eh? Misi kelas B? Se-sekarang juga? Ya-yakin?”


Yudai menyeringai dan menggesekkan telunjuk pada hidung. Tidak dapat ia menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan betapa bahagia akhirnya dapat menjalankan misi kelas B, apalagi bersama Sans dan Beatrice.


***


Bangunan berbentuk trapsesium tidak beraturan, pilar kayu ddi setiap sudut, platfon batu-bata, dinding putih bermotif kayu belah ketupat, dan dua buah tangga menuju pintu masuk. Ukuran bangunan itu kira-kira setara dengan tiga bangunan biasa di ibu kota kerajaan.


Menatap bangunan bertingkat tiga itu membuat kelimanya sampai membeku sejenak. Melihat betapa besarnya lokasi tersebut, kekaguman mereka cukup tinggi. Bangunan lain cukup berbeda selama mereka berada di ibu kota kerajaan.


“Oke, tempat yang lebih megah, tapi anehnya aku belum pernah melihat bangunan ini di sekitar sini,” komentar Riri.


“Aku juga baru melihatnya,” tambah Beatrice, “ternyata di daerah barat kota sudah cukup berubah, sudah lama kita tidak lewat sini.”


Giliran Yudai untuk bercerita, “Begitu rupanya. Pantas saja saat aku dan Zerowolf ke daerah ini saat stage keempat Festival Melzronta—”


“AAAAAAAAH!!”


Jeritan seorang laki-laki seakan meledak nyaring menuju telinga, menghentikan sebuah nostalgia di antara kelima murid akademi.


Riri terlebih dahulu menyeberangi tangga, mulai menyerobos masuk ke dalam bangunan itu. Keempat rekannya dalam misi itu juga mempercepat langkah.


“A-aku sudah tidak tahan lagi! Aku berhenti!”


Seorang pria berkulit cokelat, berambut pendek tanpa menutupi kening, berjanggut hitam bercampur hitam, dan bertubuh gempal mempercepat langkah, melewati Sans dan keempat rekannya begitu saja.


Giliran sepasang laki-laki dan perempuan berkulit cokelat menghampiri mereka tepat setelah kehilangan seorang pegawai. 


“A-apa kalian yang mengambil misi kami di qu-quest board?”


“Benar. Omong-omong, sebenarnya ini lebih cocok menjadi misi kel—”


Riri menutup mulut Yudai. “Ah …. Kami bisa membantu.”


“Kami telah kehilangan hampir semua tamu kami gara-gara hantu itu! Tiba-tiba saja ia muncul saat hari kedua Festival Melzronta! Tolong kami, kami akan bayar kalian.”


“Ha-hantu …,” ucap Beatrice tercengang hingga menepuk kedua pipinya, “hiiii … mengerikan sekali!”


Yudai mendorong tangan Riri ke bawah sebelum berkomentar, “Bukannya kamu sudah baca deskripsi misinya waktu di kantin?”


“Jangan khawatir, kami akan membantu kalian,” ucap Riri.


“Terima kasih!” Lelaki berkulit cokelat, berkepala gundul, berkumis tebal, dan berkacamata itu sampai menggoyangkan tangan kanan Riri “Terima kasih banyak! Kalian adalah peluang emas untuk menyelamatkan bisnis kami!”


Sans mengangkat tangan. “Omong-omong, hantunya seperti apa?”


“A-anu—" wanita itu menjawab, “—seluruh tubuhnya … lebih gelap, bahkan pakaian yang dia kenakan. Rambutnya seperti berwarna seperti emas. Kurang lebih begitu.”


Yudai lagi-lagi memasang pose berpikir yang sama seperti sebelumnya, telunjuk di bawah dagu. “Menarik sekali.”


“To-tolong ya! Kami serahkan pada kalian! Se-sementara ka-kami … menunggu kalian di-di-di me-meja resepsi.”


Sepasang pemilik perlahan mundur. Geretakan gigi dan badan masih terdengar dan tampak. Sangat putus asa, terlihat dari wajah masam mereka, terutama terhadap lirikan Katherine yang masih saja diam.


“Saatnya berunding,” Riri berlagak seperti seorang pemimpin, “jadi ternyata masalah hantu ini sudah terjadi semenjak Festival Melzronta dimulai. Kita butuh beberapa saksi lagi. Jadi Sans, Yudai, dan aku akan melihat-lihat di sekitar sini dan luar. Beatrice dan Katherine, kalian cek lantai atas.”


Katherine kembali termenung, lagi-lagi tidak dapat menghabiskan waktu berdua bersama Yudai. Ia bahkan tidak bisa mengutarakan keberatan, tidak enak jika harus membantah. 


“Ma-maksudmu … bagaimana kalau aku dan Katherine bertemu hantu itu? Ba-bagaimana kalau kita mendadak harus bertarung melawannya? Ba-bagaimana kalau kita—” Beatrice benar-benar kacau dengan pikirannya.


“Oke, oke!” Riri langsung memotong dengan panik. “Be-begini saja …. Katherine, kamu bersama Sans dan Yudai selidiki lantai atas. A-aku dan Beatrice akan selidiki lantai ini.”


Terpicu oleh perintah Riri, senyuman terselubung keemasan muncul di dalam benak Katherine. Akhirnya, ia dapat menyelidiki bersama Yudai sekali lagi.


Terlintas sebuah kilas balik, Yudai pernah melindunginya saat berpencar menghadapi basilisk di kota Salazar. Ia bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih karena telah melindungi saat kesulitan.


Mengingat momen itu membuat pipinya memerah, benar-benar memerah.


“Kenapa, Katherine?” Sans menjadi orang pertama yang memperhatikan Katherine tengah melamun.


“E-e-eh? Ti-tidak … tidak ada apa-apa!” Katherine mengangkat kedua tangan.


“Baiklah! Kita selidiki misteri hantu penginapan untuk menyelesaikan misi kelas B ini!” seru Riri.


“Ya!” seru Sans dan Yudai bersemangat.


“Eh!” seru Yudai menunjuk sesuatu di dekat meja resepsionis. “Ta-tangganya me-memutar.”


Sebuah tangga spiral yang seakan menempel di sudut kanan ruangan membuat mata Yudai berbinar bintang. Kali pertama ia melihat tangga jenis tersebut, ia tidak menyangka bentuk tangga tidak hanya lurus dan langsung menuju lantai atas seperti waktu di asrama.


Sangat bersemangat ingin mencobanya, Yudai langsung berlari dan menaiki tangga tersebut. Sambil memegang bagian pagar, ia berbinar-binar ketika mulai perlahan melangkahi setiap anak tangga, apalagi berbelok mengikuti struktur spiralnya.


Sans juga berkomentar ketika mendekati tangga tersebut bersama Katherine, “Ini juga pertama kalinya aku melangkahi tangga seperti ini.”


“A-aku juga ….”


***


“Waaaah ….”


Beatrice berdecak kagum menatap halaman belakang dari penginapan mewah itu. Pagar batu-bata beratap barisan melati ungu mengelilingi sekitar sebagai pembatas berukuran setengah dari tinggi manusia. Dapat terlihat halaman belakang gedung yang lain kosong melompong, hanya lantai berbatu.


Rerumputan hampir sama seperti saat di halaman kastel akademi. Yang menjadi pembeda adalah kumpulan meja dan kursi tersebar seakan seperti di sebuah restoran luar ruangan. Hal ini mengingatkannya pada area luar ruangan kedai roti yang sering mereka kunjungi.


Semak berbunga juga menjadi pembatas setiap meja agar tamu yang berkunjung untuk bersantai mendapat keindahan


“Indahnya ….”


Riri menyimpulkan, “Jadi ingat waktu di penginapan di Silvarion. Makan sudah disediakan jika jadi tamu di penginapan ini. Pasti tampilan setiap menu makanannya menggugah selera. Ya, setidaknya bukan seperti makanan di Silvarion.”


Terpicu seperti tersambar kilat, membayangkan hidangan khas Silvarion membuat Beatrice menutup mulut dan menundukkan kepala. “Ja-jangan ingatkan aku makanan khas Silvarion. Membayangkannya kembali membuatku ingin muntah.”


“Sudah, jangan bayangkan. Alihkan kembali pada kenyataan, indah sekali kan sekarang?”


“Kalian … jjuga menyukai tempat makan ini, bukan?” Sebuah suara pria dari meja sudut kiri di dekat mereka memicu menegangnya bulu kuduk.


Beatrice dan Riri menoleh terhadap sumber suara. Sama sekali tidak menyangka, sama sekali, mendapati seseorang berhelm zirah perunggu yang menutupi wajah telah bertanya. 


“A-Anda … kelihatannya royal guard kerajaan?” tebak Riri.


“Dulu.” Pria itu bangkit dari duduknya. “Seragam itu, yang kalian sedang kenakan itu, mengingatkanku saat berada di Akademi Lorelei.”


“Royal guard?” ulang Beatrice melongo. “Job itu merupakan job paling bergengsi di Akademi Lorelei.”


“Cukup banyak yang datang ke Akademi Lorelei ingin jadi royal guard karena bisa mengabdi langsung pada kerajaan, dan bayarannya cukup tinggi,” lanjut Riri.


Pria itu melanjutkan pembicaraannya, “bagiku, menjadi royal guard dapat menjadi sebuah kedok. Sesuatu telah terjadi di tanah ini, tepat di tanah ini—”


“Permisi,” seorang pelayan pria menginterupsi, “kalian berdua yang berseragam … dari Akademi Lorelei, bukan?”


Rambut hitam cokelat dengan poni disisir ke belakang, badan tegap dan lengan besar. Riri dan Beatrice sampai kaget bahwa pria berseragam kemeja putih serta jas tanpa lengan hitam itu merupakan seorang pelayan sebuah penginapan.


“Tidak enak hanya berdiri seperti itu. Duduklah.”


Menatap setidaknya ada tiga kursi kosong di meja itu, Riri dan Beatrice sungguh sungkan. Mereka hanya ingin tidak berlama-lama berada di ruang makan mewah tersebut.


“Anda bisa tidak sopan sedikit pada mereka, Lazar?” komentar pria berhelm itu.


Sebuah nama, cukup mencengangkan bagi Riri dan Beatrice meratapi fakta pria berhelm zirah itu memanggil sang pelayan dengan nama asli.


“Saya hanya ingin memastikan jika mereka ingin sesuatu. Sudah menjadi insting pelayan bahwa setiap tamu atau pelanggan datang, mereka harus memperlakukannya bagaikan raja. Sama seperti dirimu selama seminggu terakhir,” jelas Lazar.


“Um … sebenarnya—” Beatrice mencoba untuk menjelaskan.


Pria berhelm itu mengangkat tangan. “Lazar, tolong segelas anggur merah lagi. Kalian berdua, biar saya yang traktir.”


“E-eeeh?” jerit Beatrice gemetaran.


Riri berimprovisasi menatap Lazar. “Ka-kami ingin segelas air saja.”


“Baiklah.” Lazar membungkukkan badan dan menempatkan lengan pada perut sebagai tanda hormat. “Kalian berdua yang baru datang, duduklah.”


“E-eeeh … i-iya!” ucap Beatrice.


Lazar pun mulai meninggalkan meja tersebut begitu Beatrice dan Riri menempati posisi duduk menatap pria berhelm itu. Rasa lega akhirnya muncul setelah diperlakukan sebagai “tamu” penginapan mewah itu.


“Anda telah berada di sini satu minggu? Sebenarnya apa tujuan Anda? Lalu … kedok? Sesuatu yang terjadi di tanah ini?” Riri mulai mengajukan pertanyaan.


Pria berhelm itu memperkenalkan diri, “Saya Killam, seorang mantan royal guard. Tujuan saya di sini adalah untuk mencari tahu apa yang terjadi di tanah ini pada sepuluh tahun silam.”


“Sepuluh tahun silam?” ulang Beatrice.


“Dulu, saudara kembar saya tinggal di tanah ini setelah lulus dari Akademi Lorelei. Ia adalah orang yang darmawan, sangat darmawan, sering menolong orang lain. Sebulan kemudian, saya mendapat kabar kalau dia … menghilang. Dan juga … terdapat kabar angin kalau ada penampakan hantu sehari sebelum kabar itu tersebar.”


“A-aku turut berduka,” ucap Riri.


“Hantu? Apa hantu yang sama seperti sekarang di sini?” tanya Beatrice.


Killam mengangguk. “Warga sekitar sini meyakini itu adalah hantu yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.”


“Tu-tunggu dulu.” Riri mengangkat tangan. “Apa saudaramu membeli tanah ini untuk tempat tinggalnya. Apakah penjualnya lupa kalau tempat ini berhantu?”


“Aku tidak tahu hal pastinya, begitu juga dengan pemilik penginapan ini. Mungkin setelah tidak ada lagi penampakan hantu, kudengar pemiliknya juga mengambil tanah ini dan membangun penginapan ini.”


Beatrice menebak, “Jadi Anda berhenti menjadi royal guard untuk mencari tahu tentang misteri temanmu yang hilang itu?”


“Bisa dibilang begitu. Saya sudah tidak tahan lagi dengan mayoritas rekan saya untuk berhenti menyelidiki misteri selama sepuluh tahun terakhir. Mereka hanya bilang misteri sudah terpecahkan, tapi saya sungguh tidak puas. Tepat saat Festival Melzronta dimulai, saya berhenti menjadi royal guard. Sungguh sesuai dugaan, hari kedua Festival Melzronta, hantu itu kembali muncul dan para tamu satu per satu melarikan diri. Aku ingat hantunya berambut emas.”


Riri mengangguk. “Sama seperti cerita pemiliknya.”