Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 122



Memasuki hari keempat dalam proses pembuatan gauntlet alchemist, hal pertama yang dilakukan Sans adalah mengambil beberapa sarung tangan buatan sang pengrajin. Ini dia, percobaan pertama dalam membuat dan menyempurnakan gauntlet alchemist buatannya sendiri. Sangat tidak sabar untuk melakukannya.


Begitu mendapat beberapa sarung tangan itu, ia kembali ke bangunan di mana ia menetap. Hal pertama, ia mendekati meja kerjanya untuk kembali membaca catatan sihir imbuhan. Di bawah kolong meja tersebut, terdapat kantongnya yang berisi belati, Buku Dasar Alchemist, kumpulan kristal, empat botol ramuan penyembuh luka, empat buah jamur bercahaya, dan sebuah gelas tabung.


Jadwal pun ia atur kembali, siang hari, ia kembali membaca catatan sihir imbuhan. Sore hari, ia membuat ramuan penambah mana. Malam hari, ia kembali berburu jamur bercahaya.


Menjelang malam hari, ia menyisihkan catatan itu dari meja terlebih dahulu ke dalam kantongnya. Diambilnya sebotol ramuan penyembuh luka, sepotong kristal, sebuah jamur bercahaya, serta gelas tabung ke atas meja.


Meski mengetahui ia dapat meletakkan seluruh bahan secara terpisah, ia memutuskan untuk menaruh semua bahan di gelas tabung setelah menggambar lingkaran transmutasi. Pertama, ia tuangkan ramuan penyembuh luka. Selanjutnya, ia letakkan kristal dan jamur bercahaya hingga bagian bawahnya tercelup.


Ia menghadapkan tangannya pada gelas tabung berisi bahan-bahan tersebut. Proses transmutasi ia mulai dengan mengempaskan tenaga sambil berkonsentrasi dan membayangkan hasil akhir, ramuan berwarna biru yang berupa ramuan penambah mana.


Begitu cahaya putih keluar dari tangan Sans, seluruh bahan itu mulai terpecah-belah perlahan melalui proses dekonstruksi. Cahaya tersebut turut merekonstruksi bagian-bagian dari seluruh bahan menjadi bentuk cairan biru tetes demi tetes. Kurang lebih dua menit, cairan tersebut telah mengisi setengah dari gelas tabung itu.


Sans cukup terkesan ketika proses transmutasi tersebut selesai. Ia berhasil membuat ramuan penambah mana, satu lagi pencapaian selama ia menjadi seorang alchemist. Ini adalah jenis ramuan kedua yang telah ia buat selama ini, tepat saat ia membuat gauntlet alchemist.


Ia mengambil salah satu sarung tangan buatan sang pengrajin. Sarung tangan tersebut akan menjadi gauntlet alchemist yang asli, sedangkan yang lainnya akan menjadi gauntlet dummy untuk uji coba.


Ketika malam telah merasuki hari itu, Sans akhirnya kembali berburu jamur bercahaya di hutan sekitar desa untuk membuat cadangan ramuan penambah mana, mengakhiri kegiatan hari keempat proses pembuatan gauntlet alchemist.


Hari kelima. Sans mengawali hari dengan kembali membaca catatan di meja. Sedikit demi sedikit, ia sudah mulai memahami cara penerapan sihir imbuhan. Ia tidak sabar ingin mencoba menerapkannya secara nyata.


Hingga malam hari, ia membaca kembali berulang-ulang demi memastikan ia telah memahami setiap bagian, mulai dari bagian pendahuluan, teori, dan cara penerapan.


Ia akhirnya mulai mencoba menerapkan sihir imbuhan tersebut pada esok hari, yakni hari keenam. Dalam percobaan pertamanya, ia menggunakan kristal yang ia dapat dari gerbang tambang kristal Munich.


Ia mencoba berkonsentrasi untuk menerapkan sihir imbuhan terhadap kristal tersebut. Terlebih dahulu ia membaca mantra dengan kristal tersebut berada di genggamannya. Konsentrasinya juga terfokus mengubah tenaga dari tubuh menjadi energi mana.


Begitu unsur air dan api berpercik, kristal tersebut langsung meledak hingga pecah berkeping-keping menuju lantai. Percobaan pertamanya pun gagal ketika unsur kristal tersebut hancur.


Tahap uji coba penerapan sihir imbuhan tersebut berlanjut selama beberapa hari pada waktu siang. Malamnya, ia keluar untuk berburu jamur bercahaya atau kembali ke gerbang tambang kristal Munich agar memetik kristal variant tak murni sebagai bahan uji coba.


Saat hari kesembilan telah tiba, hal pertama yang Sans lakukan adalah mengambil sarung tangan “asli” dari celupan ramuan penambah mana. Ia telah menunggu selama kurang lebih lima hari agar cairan tersebut meresap.


Ia mengamati sarung tangan tersebut telah mendapat unsur mana. Masih sangat basah, ia meletakkan sarung tangan yang akan menjadi gauntlet aslinya tidak jauh dari halaman bangunan, yang jelas, agar mendapat sinar matahari.


Sambil menunggu agar sarung tangan itu kering, ia kembali menerapkan sihir imbuhan terhadap kristal variant tidak murni. Sudah beberapa kali ia tidak berhasil menerapkannya. Sudah banyak kristal yang hancur berkeping-keping. Upayanya masih belum membuahkan hasil yang berarti.


Tepat saat matahari terbenam, ia telah kehabisan tenaga sudah meminum dua botol penambah mana buatannya. Napasnya cukup berat. Selama tiga hari berturut-turut, ia telah mengerahkan seluruh tenaga demi mempraktikkan sihir imbuhan terhadap kristal demi uji coba. Hal itu ia lakukan agar langkah pembuatan gauntlet berikutnya berjalan lancar.


Lagi-lagi frustrasi menggerogoti dirinya. Ia tidak ingin waktu proses pembutuan terulur cukup lama, hanya karena ia tidak berhasil mempraktikkan dengan menyeimbangkan kristal mana terhadap kekebalan unsur za. Jika bukan kristal yang hancur, unsur za dari sihir imbuhannya yang tidak bekerja lancar.


Ia menggeretakkan gigi selagi berupaya untuk melakukannya sekali lagi, berharap upaya terakhir pada hari itu segera membuahkan hasil. Tenaga yang ia jadikan mana sudah semakin menipis.


Ia menutup mata dan menggenggam kristal itu di hadapannya. Konsentrasinya ia kencangkan sambil membayangkan hasil akhir dari sihir imbuhan tersebut, sama seperti saat ia melakukan transmutasi. Bedanya, ia tidak menggunakan dan menggambar lingkaran transmutasi, melainkan membaca sebuah mantra.


Kurang lebih satu menit, Sans seakan terkilas dan kembali membuka pandangan terhadap genggamannya. Kristal tersebut akhirnya melebur menjadi jaringan. Ia dspat merasakan inti utama dari kristal beserta unsur za sudah menyatu.


Ia berhasil melakukan tahap uji coba penerapan sihir imbuhan. Esok harinya, ia mulai mengambil salah satu sarung tangan dummy untuk melakukan pengaplikasian sihir imbuhan tersebut selama tiga hari.


Sarung tangan dummy terakhir ia jadikan alat percobaan untuk penerapan sihir imbuhan terhadap kristal variant asli dan unsur za. Ia berpikir itulah saatnya menggunakan kristal variant asli untuk menerapkan sihir imbuhan terhadap sarung tangan dummy.


Hanya dalam percobaan pertama, ia berhasil membuat kristal variant itu melebur menjadi bubuk dan meresap ke dalam sarung tangan dummy. Optimisme seakan meledak ketika berpikir bahwa ia siap untuk menggunakan sihir imbuhan pada gauntlet asli.


Selama enam hari berturut-turut, ia telah melakukan eksperimen terhadap sarung tangan dummy-nya, termasuk saat tiga hari terakhir, melakukan uji coba selama dua hari hingga melakukan tes langsung dalam penggunaan selama sehari penuh.


Hingga pada akhirnya hari yang dinanti-nantikan, hari ke-16 proses pembuatan gauntlet alchemist. Memasuki tahap menengah, Sans menempatkan sarung tangan yang telah ia keringkan dan biarkan cukup lama di meja sebagai gauntlet asli.


Kristal variant juga ia tempatkan tepat di atas sarung tangan tersebut. Juga, daun ars ia letakkan di dekatnya. Tanpa perlu lingkaran transmutasi, ia meletakkan tangannya di atas ketiga bahan tersebut. Sambil membayangkan hasil akhir, ia membacakan mantra sihir imbuhan itu sekali lagi, mengubah tenaga dan konsentrasinya menjadi mana.


Lama-kelamaan, daun ars dan kristal variant akhirnya terdekonstruksi dan melebur menjadi bubuk. Kedua unsur tersebut seakan tercelup ke dalam sarung tangan tersebut.


Bagian dari daun ars seakan melapisi warna bagian pergelangan jari gauntlet tersebut. Bubuk dan serpihan kristal variant juga mengisi warna ungu di bagian pergelangan tangan. Tak hanya itu, warna biru metalik dari sarung tangan tersebut semakin mencolok.


Dengan begitu, proses pembuatan gauntlet alchemist telah berakhir! Akan tetapi, proses belum sepenuhnya berakhir.


Meski ia sempat terhadang oleh berbagai monster, alih-alih mencoba menggunakan gauntlet alchemist sebagai senjata, ia tetap menggunakan belati untuk melawan. Tenaganya cukup terkuras sebelum tiba di tujuan.


Di sekitar daerah yang cukup jauh dari permukiman penduduk, yaitu desa yang tengah direkonstruksi dan tempat pengungsian, ia memilih hutan tandus di dekat rawa sebagai lokasi praktik penggunaan gauntlet barunya.


Ia memasang gauntlet tersebut pada tangan kanannya. Melihat tangannya yang telah terbungkus itu, ia sempat berdecak kagum, tidak menyangka dirinya sudah mulai menggunakan gauntlet-nya sendiri.


Hal pertama adalah imajinasi. Ia terlebih dahulu membayangkan hasil akhir saat ia melakukan serangan hanya menggunakan gauntlet. Tanpa perlu lingkaran transmutasi, baik dalam bentuk fisik atau bayangan, tanpa perlu mantra pula, ia hanya perlu menjentikkan jari untuk memicu sebuah serangan.


Begitu ia menjentikkan jarinya, sebuah kombusi pengeluaran zat hara, baik berupa ledakan setiap jenis elemen, yakni air, api, udara, tanah, dan petir, muncul di hadapannya sesuai dengan imajinasi. Kecepatan kombusi dari jentikan jari terhadap target acak sudah cukup cepat menurutnya.


Ia memutuskan untuk mengakhiri praktik ketika dirinya mulai kelelahan malam itu.


Malam selanjutnya, praktik menyerang monster menggunakan kekuatan alchemist dan gauntlet. Ia menjentikkan jari begitu membidik setiap monster yang menyerang. Setiap serangannya mampu menumbangkan setiap monster, baik dari jarak dekat atau jarak jauh. Akurasi dan kecepatan serangannya sudah cukup memuaskan bagi Sans.


Dengan ini, proses pembuatan gauntlet alchemist sudah benar-benar selesai!


***


Lebih dari perkiraan. Duke sempat berkata tiga minggu merupakan waktu Sans membolos pelajaran hanya untuk membuat gauntlet alchemist.


Duke begitu kagum mendapati Sans telah berhasil membuat gauntlet alchemist. Ia dapat melihat perkembangan Sans dari murid bermantel putih tanpa job yang tak berdaya menghadapi kejamnya sistem di Akademi Lorelei menjadi seorang alchemist “resmi”.


“Akhirnya kamu berhasil juga,” puji Sans.


“Te-terima kasih banyak.” Sans membungkukkan bahu seraya hormat. “Saya juga tidak percaya telah sampai tahap ini.”


“Baik.” Duke kemudian membuka pintu keluar bangunan yang ia singgahi. “Kita kembali ke akademi sekarang.”


“E-eh? Sekarang juga?”


“Sudah kurang lebih 18 hari kita berada di desa Salazar. Jika menghitung dari saat kita berada di tambang kristal Munich, 21 hari, jumlah hari yang seharusnya kita tempuh selama berada di sini, termasuk saat perjalanan pulang-pergi. Sayangnya, jika menghitung saat kita pergi dari dermaga ibu kota, jadi 24 hari. Totalnya, 27 hari.


“Makanya, lebih baik kita segera pulang begitu proses pembuatan gauntlet-mu selesai. Kamu juga banyak ketinggalan pelajaran, bukan?”


“Be-benar.” Sans menghela napas. “Saya ingin bertemu dengan teman-temanku lagi, menjalankan misi bersama lagi. Tapi … saya tidak bisa menggunakan gauntlet saat menjalankan misi, apalagi berlatih. Berarti saya harus berlatih sendiri, begitu?”


“Benar sekali. Tidak ada satupun yang boleh tahu rahasiamu sebagai alchemist. Setidaknya, hanya Yudai yang tahu. Kabar baiknya, masa depanmu di Akademi Lorelei masih panjang jika kamu mempertahankannya.


“Ayo, sebaiknya ktia bergegas.”


Sans dan Duke akhirnya mengucapkan selamat tinggal pada desa Salazar yang telah mereka singgahi selama proses pembuatan gauntlet alchemist berlangsung. Kepala desa dan beberapa penduduk turut mengucapkan selamat jalan ketika mereka berdua telah melewati sebuah perbatasan.


Menatap ke belakang setelah meninggalkan desa tersebut, Sans membayangkan desa Salazar akan kembali seperti sedia kala beberapa bulan berikutnya. Tidak akan ada lagi tempat pengungsian berupa kumpulan tenda, tidak ada lagi penderitaan dari basilisk, hanya satu hal yang sama, desa tersebut tetap berada di tanah cukup tandus.


Melewati jalan yang sebelumnya mereka lewati dari tambang kristal Munich pada malam lalu, keduanya ingat betul tanpa perlu tersesat, meski beberapa monster menghadang. Duke cukup terkesan ketika menyaksikan Sans dapat melakukan serangan kombusi menggunakan jentikan jari pada gauntlet alchemist.


Melewati gerbang masuk tambang kristal Munich menuju jalan menurun, jalan menuju pantai selatan Riswein. Saat melewati jembatan kayu yang melintasi rawa beracun berwarna hijau bercampur ungu, Duke kembali menjelaskan.


“Kamu tahu, mengapa saya tidak menemuimu selama proses pembuatan gauntlet alchemist?”


“Oh, saya sama sekali tidak terpikir untuk mengunjungi Anda untuk bantuan. Sebenarnya, saya berharap Anda mengunjungi saya, tapi saat Anda tidak melakukannya, saya pikir harus melakukannya sendiri. Saya akhirnya bisa melakukannya.”


“Cukup bijak,” Duke mengungkapkan, “sebenarnya, tidak boleh ada yang melihat kamu sedang menjalankan proses pembuatan gauntlet itu. Semua proses telah kamu lakukan seorang diri. Sekali lagi, kamu jauh berkembang, apalagi dengan gauntlet itu, saya dapat melihat kamu dapat lebih berkembang dalam pertarungan dan juga mencapai tujuanmu.


“Saya juga pernah bilang terkadang kamu harus melakukannya seorang diri, baik dalam menjalankan misi atau berlatih. Kamu akan tahu bagaimana rasanya ketika lulus dari akademi kelak.”


Sans kembali melihat tangan kanannya yang sedang terbungkus oleh gauntlet alchemist-nya. Ia mengepalkan tangannya. Tinggal langkah selanjutnya demi mencapai tujuan, mengumpulkan semua bahan inti untuk obat sang ibu.


Ketika tanah seakan perlahan berubah menjadi pasir di hadapan mereka, pantai sudah di depan mata. Akan tetapi, di pesisir pantai, tidak ada satu pun kapal yang singgah.


“Oh sial. Sepertinya kita tidak beruntung,” ucap Duke, “kebanyakan kapal tidak akan singgah di sini, mungkin kita harus ke Silvarion saja.”