
“Dasar. Kamu justru enak-enaknya kembali kemari, lalu tidur.”
Sans heran melihat Riri berdiri di hadapannya, di kamarnya sendiri. Ia merasa secara tiba-tiba Riri seakan menerobos masuk ke kamar hanya untuk bertanya keadaannya.
Yudai pun hanya berdiri menyandar di dekat jendela memperhatikan konfrontasi tersebut. Pada saat yang sama, ia lega Sans telah sehat sentosa di kamarnya. Sungguh, selama kemarin, semenjak Sans melarikan diri sehabis dihajar habis-habisan secara verbal oleh hampir seluruh murid kelas khusus, ia sering sekali melamun.
“Kami khawatir setengah mati tentang keadaanmu!” tegur Riri. “Lagipula, kamu kemana saja selama ini? Kamu juga tidak hadir saat pengumuman di aula. Dan teman sekamarmu ini yang paling mengkhawatirkanmu!”
“Oke. Aku tahu kalian mengkhawatirkanku,” jawab Sans santai, “sebenarnya … setelah aku melarikan diri dari kelas, aku ke pantai untuk menenangkan diri. Lalu … aku bertemu Profesor Dolce.”
Nama Dolce langsung terngiang-ngiang di telinga Yudai, memicunya untuk mengulang perkataannya. “Kamu bertemu Dolce?”
Sans mengangguk dan kembali bercerita.
***
Embusan angin lembut memicu rambut-rambut kecil di lapisan epidermis naik, menyeimbangkan hawa panas dari sinar mentari terik dan kumpulan siulan camar di langit. Menatap ombak dari tengah-tengah laut menuju pesisir pantai seakan menyapu segala kekhawatiran.
Sans memperhatikan setiap nelayan dan nahkoda bekerja keras dari menurunkan berbagai barang dagangan dari kapal, terutama hasil tani dan pancingan laut, hingga mulai lepas jangkar untuk kembali berangkat mengarungi samudera. Sama sekali tidak ada cibiran, semuanya hanya menuntut untuk bekerja keras.
Jika dibandingkan dengan nasibnya, setiap kali ia bekerja keras, setiap kali ia berusaha, setiap kali ia menjadi kuat, pasti semua orang akan mencibirnya, terutama statusnya sebagai murid bermantel putih, tanpa job resmi, melainkan hanya sebagai alchemist. Semua yang ia lakukan terasa salah bagi mata orang lain, padahal ia ingin divalidasi pantas tetap menjadi murid Akademi Lorelei. Ia juga telah diselamatkan oleh Arsius, tapi ia yakin, banyak sekali yang tidak ingin percaya padanya.
“Sans?”
Sans bangkit dari duduknya di tangga perbatasan antara pintu masuk ibu kota dan pantai. Ia mengangkat kepala sejenak, Dolce-lah yang menghampirinya.
“P-Pro—Dolce?” Sans melewatkan panggilan profesor pada Dolce. Ia kembali menurunkan wajahnya, menatap pasir putih kecokelatan bersama sepatunya.
“Kamu kenapa di sini sendiri? Bukannya kamu ada khusus bersama Clancy?”
Mendengar pertanyaan langsung dari Dolce, Sans kembali memalingkan wajahnya. Terpicu kembali setiap kata dari murid-murid lain, terutama dari tim Conti.
Hukum saja dia! Hukum!!
Hei, Sans! Kamu tidak pantas berada di sini!!
Dasar alchemist bangsat!
Mengingat kembali segala ejekan dari seluruh murid menyayat hati Sans. Air matanya menetes melewati pipi. Ingin sekali menyembunyikan ekspresinya dari Dolce. Ia tidak tahan lagi entah mengapa.
“Sans? Kenapa?” Dolce menyadari air wajah Sans. “Mukamu … terlihat ingin meredup. Kamu sebenarnya kenapa?”
Tidak ada pilihan lain. Dolce sudah melihat wajahnya, terlebih lagi, ekspresi masamnya, penuh air mata.
“A-a-aku … Maaf.” Sans masih tidak ingin melirik pada wajah Dolce. “Anda tahu saya … sudah ditangkap karena telah menjadi alchemist, job yang terlarang di akademi. Maafkan aku. Maafkan aku. Saya … pikir Anda kecewa dengan saya, seperti murid-murid lain, Profesor Alexandria juga.
“Sa-saya memang tahu—” Dolce memotong. “—saya sudah mendengar semuanya dari Profesor Duke. Apalagi Profesor Alexandria.”
“Anda … pasti tidak percaya ini.”
“Memang kenapa?” Dolce memang ingin tahu.
Sans sedikit mengangkat kepala, menggeleng halus. “Jadi … saat sidang, Profesor Arsius tiba-tiba datang. Tiba-tiba … beliau membantu saya lolos dari hukuman. Anda boleh percaya atau tidak. Profesor Arsius benar-benar menyelamatkan saya.
“Lalu … saya diejek habis-habisan dengan murid lain, dari saat saya kembali dari sidang, sampai … sampai—” Sans mengusap matanya menggunakan lengan kiri. “—tadi … saya menggunakan skill alchemist saya, lalu semuanya ingin aku dihukum, dikeluarkan, dan … mereka bilang aku tidak pantas lagi menjadi murid Akademi Lorelei.”
Dolce terdiam sejenak setelah mendengar semua penjelasannya dari Sans. Sans bahkan tidak mampu menatap ekspresi wajah profesor tersebut, pada akhirnya pasti tidak akan percaya. Sama saja.
“Aku paham. Kamu bersungguh-sungguh mengatakan hal itu.” Itulah balasan yang terlontar dari bibir Dolce. “Hampir semua murid membencimu karena kamu berhasil lolos dari hukuman berat, dikeluarkan dari akademi. Saya sudah menduganya, otomatis banyak murid lain yang akan iri, mereka akan menjatuhkanmu, agar mereka benar-benar senang melihatmu ingin menyerah.
“Sebenarnya saya masih belum tahu apakah benar Profesor Arsius menyelamatkanmu. Di luar itu—” Dolce memberi nasihat. “—satu saja. Kalau kamu ingin benar-benar maju, benar-benar terus menatap ke depan, benar-benar berkembang, benar-benar fokus pada tujuan, tidak perlu memusingkan omongan yang lain. Kalau saya terus pedulikan omongan orang, mana mungkin saya bisa sampai sekarang.”
Masih saja diam. Sans mendekatkan mata pada kedua lengan.
“Oke, mungkin mudah bagimu untuk bilang itu hanya profesor, sedangkan saya bukan apa-apa. Percayalah, kamu tidak akan maju kalau begini terus. Pada akhirnya, kamu akan menentukan nasibmu sendiri.”
Langkah kaki terngiang-ngiang di telinga Sans, memicunya menatap ke belakang. Dolce mulai memasuki ibu kota. Ia bangkit berbalik. Seperti cairan menggerogoti ubun-ubunnya, ia merasa tidak nyaman menatap Dolce meninggalkannya begitu saja.
Ia memutuskan untuk mengejar sampai mendekati gerbang.
“Dolce! A-anu … maksudku Profesor—”
“Dolce saja. Tidak apa-apa. Yudai sering memanggil saya begitu.” Tidak disangka, Dolce menjawab panggilannya.
“A-anu … bisakah saya berlatih bersama Anda? Tapi—”
Dolce menghentikan langkah saat mereka menapakkan kaki di alun-alun, terutama di lantai keramik krem bercampur cokelat. Sans hanya terfokus pada Dolce, tanpa melihat bangunan sekeliling yang telah ia lewati.
“Akhirnya,” ucap Dolce, “kamu akhirnya memintanya.”
Tanpa menambah jawaban apapun lagi, Dolce pun berbelok, mengambil jalan timur. Sans sampai terheran, hanya mengikuti langkahnya. Tidak ada satu patah kata pun ia lontarkan, tanpa keluhan lagi dalam hati.
Kesempatan. Sans ingin memanfaatkan nasihat Dolce. Ia ingin sekali melawan profesor yang telah mengalahkannya dua kali selama ujian, pertama aptitude test, kedua ujian akhir semester lalu.
Begitu tiba di sebuah padang rumput, tidak jauh dari perbatasan timur ibukota. Dolce berbalik menghadapi Sans dan mundur beberapa langkah, menaruh quiver dan busur di sampingnya, serta mengambil belati dari pinggangnya.
“Kita mulai. Kamu bisa menyerang saya dulu.”
Meski sedikit terkejut, Sans mulai memasang posisi kuda-kuda, kaki kiri di depan; mengambil belatinya. Lagi, ia akan berhadapan dengan Dolce sekali lagi, kali ini bagian dari latihan.
Sans mulai menjinjitkan kaki kanan sebagai pemicu percepatan lari. Saat ia mulai mengangkat kaki kanan, ia melesat dan mengayunkan belatinya, menyerang Dolce.
Begitu mendekatinya, Dolce berputar ke kanan, menghindari serangannya.
Selama berjam-jam, Dolce sama sekali tidak menyerang, melainkan menghindar, melompat, dan bergeser. Sans bertubi-tubi menyerang. Ia sekuat tenaga mengincar Dolce dari setiap arah, belati ia luncurkan bertubi-tubi.
Sampai langit menghitam, Sans mulai ambruk. Pahanya terlebih dahulu mencapai tanah berumput. Belatinya juga sampai terjatuh. Napasnya sungguh cepat berhiperventilasi. Ia menggeretakkan gigi, menyipitkan mata, meringis merenungi usahanya. Ia tidak mau tertinggal dari teman-temannya. Ingin sekali tetap menjadi murid Akademi Lorelei, lulus ujian akhir semester, dan melanjutkan impiannya.
Terpicu oleh pikiran tersebut, ia ubah penderitaan tersebut menjadi bara semangat. Perlahan ia menempatkan kedua tangan di rumput, tangan kanannya kembali meraih dan menggenggam belatinya.
Dolce menghela napas. “Sudah cukup larut, lebih baik kita kem—”
Sans melesat mengayunkan belatinya tanpa peringatan apapun. Dolce terdiam sampai tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak berkutik saat Sans mendekatinya dan mendekati mata pisau pada kulit lehernya.
Dolce menelan ludah. Ia telah lengah hanya karena menatap Sans tidak mampu berlatih kembali. Ia membiarkan Sans memanfaatkan titik lemahnya.
“Be-berhasil.”
***
Mendengar cerita dari Sans, apalagi saat terakhir, saat ia berlatih seharian penuh hingga larut malam, melewati jam malam di akademi, Yudai dan Riri hanya mengangguk-angguk.
“Pantas saja aku tidak melihat Profesor Dolce semalam,” ucap Riri.
“Hah? Perasaan tadi aku melihat Dolce duduk bersama profesor-profesor lainnya!” sanggah Yudai. “Atau hanya perasaanku?”
“Sans. Lain kali jangan melakukannya lagi. Kamu membuat kami semua khawatir. Ya hanya teman-temanmu.” Riri lupa ia kembali sok akrab dengan Sans semenjak insiden penangkapan terduga alchemist. "Ya, kamu memang alchemist, tidak bisa dibantahkan. Aku tahu tujuanmu, menyembuhkan ibumu menggunakan sebuah obat. Obat itu mungkin hanya bisa dibuat oleh seorang alchemist, bukan job lain.”
“Kamu benar,” Sans memastikan, “obat itu. Obat yang katanya bisa menyembuhkan penyakit apapun, terutama penyakit langka yang diderita ibuku. Kurasa aku mengambil langkah tepat. Meski ilegal di kerajaan Anagarde dan Akademi Lorelei.”
“Kamu beruntung bisa lolos dari hukuman,” Riri mendekati Sans hanya untuk menepuk bahunya. “Jangan begitu lagi. Lebih baik, jangan dengarkan mereka. Fokus pada tujuanmu saja. Fokus pada dirimu.”
“Baik.”
Melihat Yudai langsung meninggalkan kamar begitu saja, Sans bangkit dari tempat tidur. Ia mengambil belati dari kantung dan meletakkannya di pinggang kanan.
Ia berpikir Riri memang benar. Ia tidak boleh termenung hanya karena ejekan dan cemoohan orang lain, apalagi jika menyinggung tentang alchemist atau soal melanggar aturan. Ia harus tetap bersemangat ke depan.
Saat Riri menyusulnya keluar kamar, ia berpikir, ia tidak sendirian dalam menghadapi masalah di akademi.
***
Tampaknya teguran dari Clancy tidak berpengaruh banyak bagi murid-murid lain. Tidak sedikit yang masih menatapnya sinis, seperti kilatan petir mengintimidasi dari kornea. Masih banyak pula bisik-membisik tentang “dosa”. Tidak sedikit pula yang terdiam, diam-diam merasa iba.
Sans menyadari hal ini. Beberapa murid yang terdiam mungkin takut padanya sebagai sesama murid, sebagai ancaman. Berkat Clancy menegur, setidaknya, ia dapat bernapas lega bergabung ke kelas itu kembali. Beatrice dan Yudai juga melirik Sans di dekat mereka
“Semoga kalian dapat merenungkan apa yang saya katakan kemarin,” Clancy memulai kelasnya, “kita langsung saja mock battle-nya. Tim Riri melawan tim Zerowolf.”
Kedua tim tersebut, terutama Riri dan Zerowolf membuka mulut lebar, saling menatap. Sebagai teman yang hampir selalu bersama saat aktivitas di akademi maupun menjalankan misi, ini pertama kalinya mereka akan saling berhadapan.
Yudai melirik Zerowolf, ia tidak terkejut sama sekali rival terberatnya harus melawan temannya sendiri.
Kedua tim tersebut melaju dan mengambil posisi masing-masing di depan seluruh murid lain dan Clancy. Di sebelah kiri, terdapat Riri, Lana, dan Ruka. Lana dan Ruka merupakan murid perempuan berpedang, maka Riri akan memanfaatkan mereka menempati posisi terdepan.
Sementara di sebelah kanan terdapat Zerowolf, Katherine, dan Sandee. Sandee sebagai satu-satunya penyerang jarak dekat, lebih tepatnya menggunakan halberd, otomatis menempati posisi terdepan. Zerowolf, sebagai penyerang jarak jauh, berada di posisi belakang bersama Katherine yang berperan sebagai healer.
Seluruh murid beramai-ramai mendiskusikan kelebihan dan kekurangan kedua tim. Tim Riri diuntungkan karena didominasi oleh penyerang jarak dekat, alhasil mereka dapat bergerak secara leluasa. Sementara tim Zerowolf diuntungkan karena terdapat penyerang jarak jauh, khususnya Zerowolf yang dapat menembak anggota tim lawan secara akurat.
Beatrice berkomentar, “Siapa yang akan menang ya?”
“Kedua tim sama sekali tidak dapat dianggap remeh,” tambah Yudai.
Sans masih diam, matanya mengamati setiap gerak-gerik kedua tim, mulai dari genggaman senjata, gestur dari kaki untuk memulai posisi penyerangan, hingga ekspresi wajah, sebenarnya hal terakhir memang tidak penting, tetapi Sans dapat melihat ketegangan dari jawline Riri dan Zerowolf.
“Semoga tim yang terbaik menang,” sahut Zerowolf, “dan itu timku.”
“Silakan. Aku tidak sabar melihatmu kalah lagi, seperti saat melawan Yudai.”
Clancy mengangkat tangan kanannya untuk memberi aba-aba. “Mock battle kali ini … dimulai! Waktu kalian hanya lima menit!”
Lana terlebih dulu melepas tapakan kaki kanan di belakang untuk mulai melesat, ia juga mulai menggiring pedang dan tamengnya sambil belari. Semangatnya membara ketika menempatkan pedangnya dalam genggaman netral.
“Ayo!!” sahut Lana mengincar Sandee terlebih dahulu.
Sandee pun membalas mendekati Lana, terlebih dahulu ia mengayunkan halberd-nya ke belakang. Ia kemudian mendorong genggaman belatinya menuju mata pedang Lana, semenjak ia berencana untuk menghunuskan senjata terlebih dahulu.
Ruka pun membayang-bayangi serangan Sandee dari belakang Lana, mencari kesempatan untuk menyerbu selagi lengah. Akan tetapi, Zerowolf juga mengincar Ruka, ia sudah mengambil panah dari quiver dan menempelkannya pada tali busur.
Tatapan Zerowolf berfokus pada gerak-gerik Ruka. Mengunci target, sungguh sulit karena Ruka bisa dibilang cukup lincah dalam melangkah mengikuti gerak-gerik Lana, bahkan sampai benar-benar membelakangi.
Riri menggabungkan kedua kepalan tangan, menutup mata. Ia terlebih dahulu mengumpulkan chakra, memanfaatkan posisinya yang paling belakang. Terlebih Zerowolf juga tidak mengincarnya sama sekali. Ia dapat merasakan chakra mengalir dari pembuluh darah hingga ke kulit, seperti sebuah cahaya terkumpul di dadanya.
Katherine mengangkat tongkatnya tinggi dan mengucapkan mantra selagi Lana dan Sandee membentrokkan senjata masing-masing. Mantra Protection-lah yang ia pakai.
Aliran mana proteksi seakan mengalir pada dalam tubuh Sandee dari bagian luar kulit, memicunya untuk lebih cepat merespon serangan Lana. Halberd-nya ia bentrokkan pada mata pedang lana. Ia berputar dan mendorong halberd ke depan mengincar dada Lana.
“Terima kasih, Katherine!” sahut Zerowolf dapat lebih fokus dalam mengunci Ruka sebagai target tembakannya. Berdasarkan arah kaki Ruka, ia melepas tarikan panah dan meluncurkannya.
Ruka menatap ke arah Zerowolf. Responnya terhadap tembakan panah tersebut memicunya untuk menebas. Mata pedangnya menghantam mata panah besi kecil hingga memicu patah.
Ia langsung berlari dan mengayunkan pedangnya dari samping, seakan melewati hadapan badan. Zerowolf menjadi incarannya,
Zerowolf bertubi-tubi mengambil panah dan menembakkannya. Ruka bergeser dan mengelak setiap tembakan. Begitu ia hampir seratus centimeter lebih dekat di hadapannya, ia menembak kaki kanannya.
“AAAH!” sahut Ruka pelan saat panahnya tertancap pada kaki, memicunya tersandung dari samping. Giginya menggeretak menahan nyeri. Tusukan panah itu juga memicu darah menetes dan mencemari sepatunya.
Dengan Ruka tidak mampu lagi bertarung, sementara Sandee sibuk menghadapi Lana, ia terfokus pada Riri yang masih terdiam mengumpulkan chakra. Cukup sembrono, ia melesat dan mengambil panah dari quiver-nya lagi. Memanfaatkan kesempatan itu, tanpa ragu lagi ia melesat dan menarik sekencang-kencangnya panahnya.
Akan tetapi, Riri membuka mata dan melancarkan pukulan dari jarak jauh. Hantaman udara seakan menghentikan Zerowolf dan menghantamnya tepat pada wajah sebanyak limam kali, membatalkan tembakannya.
“Cih! Far Away Fist, ya?”
“Yang benar itu Far Rapid Fist!” Riri mengoreksi sambil melancarkan chakranya pada kepalan tangan dan menghantamnya pada tanah.
Zerowolf tahu betul serangan itu, ia melompat ke belakang. Di udara, ia bahkan masih sempat mengambil panah dari quiver dan menembakkannya saat kedua kaki mendarat kembali.
Riri mulai berlari ke samping menyerong ke depan selagi menghindari setiap tembakan Zerowolf. Matanya mengunci tepat pada wajah Zerowolf, mengincar targetnya seperti saat Zerowolf mengincar dirinya.
Saat ia hampir 50 centimeter lebih dekat, ia berbelok dan melompat mengayunkan pukulan, menggunakan resapan chakra dari dalam tubuh menuju kepalan tangan. Meski salah satu panah Zerowolf mencapai garis jari antara telunjuk dan jari tengahnya, sedikit memicu goresan kecil pada telunjuk, ia menangkisnya dan memukul rivalnya tepat pada perut.
Zerowolf tetap menahan kakinya hingga tergelincir ke belakang, masih dapat menyeimbangkan diri dalam posisi berdiri tegak. Bagian bawah busurnya juga hampir kena pukulan Riri. Ia menghela napas terpicu oleh nyeri pada bagian perut hingga membuatnya berlutut.
Ia memperhatikan Ruka sudah ia anggap gugur, secara anggota, ia memang lebih unggul. Tinggal ia mengalahkan Riri, sementara Sandee berhasil menggesekkan halberd pada pipi Lana, membuat goresan kecil berdarah.
“HAAAA!!” jerit Lana kembali mengayunkan pedangnya.
Sandee menyingkir ke kiri, akan tetapi, refleksnya lambat sampai rambutnya terpotong.
“K-kau akan membayarnya!!”
Zerowolf membuang ludah sejenak sebelum kembali bangkit menghadapi Riri yang sudah memasang posisi kuda-kuda, siap untuk melancarkan pukulan lagi.
Ruka menempatkan ujung pedangnya pada tanah untuk membantunya berdiri, tergopoh-gopoh, ia menyaksikan incarannya adalah Katherine. Dengan begitu, ia mempercepat langkah selagi Zerowolf tengah terdistraksi oleh serangan Riri.
Katherine yang hanya diam sambil merapalkan mantra Protection langsung tertuju pada Ruka. Dilihatnya Ruka mulai membawa pedang dan mengincarnya, ia mulai mundur, ketakutannya seperti udara masuk ke dalam mulut dan menggerogotinya.
Zerowolf kini melompat dan kembali membidik sambil menjerit. Cukup cekatan dalam menarik panah dari quiver dan memasangkannya pada busur, ia berapi-api ketika mengunci Riri sebagai target.
Riri juga ikut melompat dan mengayunkan kepalan tangannya ke belakang. Merasakan chakranya mengalir menuju tangan. Kepalan tangannya meluncur.
“Waktu habis!” sahut Clancy.
Zerowolf dan Riri sampai menghentikan serangan masing-masing. Masih berada di udara, mereka tersandung di tanah, sampai-sampai panah Zerowolf terempas dari tali busur. Panah tersebut hampir mengenai salah satu murid yang tercengang.
“Hi-hiiii!!”
Lana, Ruka, Sandee, dan Katherine tergopoh-gopoh dalam menarik napas, apalagi memperhatikan Riri dan Zerowolf terjatuh dalam posisi berbaring. Pasti sangat sakit jika tulang ekor mendarat terlebih dahulu, itu yang mereka pikir.
“Baik. Hasilnya seri,” Clancy mengumumkan.
“Se-seri?” Tidak hanya anggota perempuan kedua tim yang merespon datar, tetapi juga Sans, Beatrice, dan Yudai.
Terpicu dengan kata seri, Zerowolf langsung bangkit, mengabaikan nyeri di bokongnya. Entah mengapa, ia seakan mudah menggerakkan kaki dan mengangkat badannya untuk kembali berdiri.
“Tu-tunggu dulu!” sahutnya. “Padahal jelas-jelas timku yang paling unggul! Kenapa Anda justru menetapkan ini seri, Profesor!”
Clancy menjawab tegas, “Saya akan jelaskan pada akhir kelas nanti. Silakan kalian kembali ke tempat kalian.”
Ekspresi yang sama persis seperti saat terkalahkan oleh Yudai. Alis dimiringkan, mata melotot, dan suara berdesis dari mulut. Sebuah sentuhan pada bahu turut menghentikan ekspresi tersebut, bokongnya seperti terhantam besi.
“A-a-aaaa! Sa-sakit!!” jerit Zerowolf.
Riri lah yang menyentuh bahu Zerowolf sebagai tumpuan untuk bangkit kembali. “Ayo. Kita lihat mock battle lainnya.”