
“A-aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan!”
Tersesat di dalam sebuah kebingungan, Tinsdale hanya dapat melangkah mundur mendekati panggung ketika menghadapi Sans dan teman-temannya. Sungguh, kehilangan kesadaran membuatnya semakin merinding, apalagi mendengar sang hantu merasuki dirinya.
“A-anu—”
Dua orang pemilik penginapan beserta Killam, pelayan berambut hijau, dan kelima musisi tuan rumah perlahan menaiki tangga. Kecuali Killam dan sang pelayan, tubuh mereka tetap gemetar dan tubrukan gigi di dalam mulut terdengar nyaring seakan sedang menggigil kedinginan.
“—a-apa semuanya sudah aman?” tanya sang pemilik laki-laki.
“Su-sudah aman!” jawab Katherine.
Yudai mengangkat tangan dan menyeringai menlengkungkan bibir, sebuah optimisme memicu pelangi cerah penuh gagasan dalam menyampaikan. “Baik, semuanya. Hantu yang selama ini meneror penginapan mewah ini, lebih tepatnya selama tanah ini berpenghuni, ya … lebih jelasnya sudah berbentuk bangunan seperti ini; menyimpan sebuah dendam pada masa lalu. Dendam itu ia lampiaskan dengan meneror setiap penghuni dari waktu ke waktu.
“Jika teror itu terabaikan, hantu itu akan merasuki tubuh si penghuni dan menyiksanya, kurang lebih begitu. Lalu … dia akan menghancurkan tubuh yang dirasukinya.”
“Ja-jadi … selama ini … saudara kembarku … dibunuh oleh si hantu secara perlahan?” Killam termenung. “Dia sudah kuanggap mati, mendengar mayatnya telah hancur oleh hantu itu …aku ingin melihat mayatya, meski sudah tulang berulang.”
“Aku turut berduka, Killam,” ucap Beatrice.
“Jadi penyebab hantu itu meneror adalah sebuah dendam, dendam yang selama ini terpendam, karena … karena … um—” Pikiran Yudai benar-benar terhenti. “—apa ya? Riri, kamu punya gagasan tentang—”
Tinsdale mulai menggila, “Aku tidak peduli apa motivasi hantu, atau yang jelas-jelas kuanggap sebagai perbuatan onar, bolehkah aku … segera pergi dari sini dan menjauh dari kalian!”
Riri menjawab, “Masih berpikir hantu di sini sebagai perbuatan onar ya? Jawaban dari pemicu dendam sang hantu ada di cincinmu, Tinsdale.”
“Ci-cincinku?”
“Bolehkah kamu menunjukkannya?”
“U-untuk apa? Pasti kalian ingin mencurinya!”
Yudai berkomentar, “Anda … wanita yang kaya, hebat sekali.”
Killam menambah, “Tolonglah, kita semua harus tahu mengapa hantu itu meneror dan menghilangkan setiap penghuni di tanah ini!”
“Ti-tidak! Kalian bicara apa!”
Riri menjelaskan, “Cincinmu itu … adalah memory shard, fungsinya untuk me-reka ulang sebuah kepingan ingatan di tempat tertentu. Hantu itu bilang memory shard telah menampung kejadian itu di sini bertahun-tahun lalu. Tolong tunjukkan.”
“O-omong kosong!” jerit Tinsdale.
Sang musisi berambut merah tegak itu juga meminta, “Aku juga ingin melihatnya.”
Tinsdale menghela napas. “Baiklah.”
Ia melepas cincin yang disebut-sebut sebagai memory shard pada batu akik. Warna merah muda mulai mengkilat ketika ia mengangkatnya tinggi-tinggi agar seluruhnya dapat berbondong-bondong mengamati lebih dekat.
Kilasan cahaya dari batu akik itu memancar vertikal dan horizontal dan menyilaukan pandangan seketika. Tubuh mereka bergetar merespon begitu pikiran mereka mulai mengacak. Seperti ingin pingsan, itulah yang mereka rasakan.
Tampak sebuah bangunan berbentuk kubus sempurna terbuat dari campuran batu dan kayu. Sekumpulan massa telah berkumpul menggenggam obor bernyalakan api. Saat itu, angin sejuk beserta langit hitam telah menyingsing, berarti peristiwa itu terjadi saat tengah malam.
“Alchemist!” jerit mayoritas dari massa.
“Tidak dapat dimaafkan!”
“Jangan sampai dia kabur!”
Dari setiap sudut, barisan terdepan satu per satu melempar obor, memicu bara api yang memakan bagian depan dari bangunan itu. Api itu semakin membesar seiring semakin banyak obor yang terlempar.
Sama sekali tidak ada bangunan di sekitar, mereka dapat leluasa membakar kemarahan dengan api karena sang penghuni telah melakukan hal tabu.
“Ya! Mati kau, alchemist!”
“Membakarlah di neraka!”
Kilas balik pun berakhir, sebuah cahaya memudar menuju pusat sebelum kembali mendapat kesadaran.
“A-alchemist,” Sans membisikkan kata itu.
“Ja-jadi—” Yudai berlutut lemas. “—hantu itu alchemist?”
“Ke-kenapa?” Beatrice menggeleng, mata berbinar.
“Kita tahu … alchemist yang menyebabkan salah satu kekacauan di kerajaan Anagarde, ta-tapi ini … keterlaluan. Rakyat kota ini … sampai membakarnya hidup-hidup,” ucap Killam.
“Kalian melihatnya?”
Sebuah suara memicu perhatian tepat di atas panggung. Sosok pria bertubuh gelap layaknya sebuah bayangan dan berambut emas telah berdiri menghadapi semuanya.
“A-a-apa!” Kedua pemilik penginapan itu kembali tercengang. Bulu kuduk mereka menegang menghantarkan sebuah teror akan kembali terjadi. Hal yang sama terjadi pada para musisi yang ikut menjerit.
“Mu-muncul lagi?” ucap Sans.
“Ti-tidak mungkin …. Padahal kita sudah mengalahkannya …,” lanjut Beatrice.
Hantu itu mendekati Tinsdale dan menjulurkan telapak tangan. “Kalian sudah melihatnya, bukan? Serahkan memory shard-nya!”
“A-AAAAAAAH!!” jerit Tinsdale langsung mundur cukup cepat hingga bersandar pada dinding.
“Serahkan memory shard-nya!”
“Ba-baiklah! Ja-jangan rasuki aku lagi! Apalagi membunuhku!”
Tinsdale terburu-buru menyerahkan cincinnya pada sang hantu. Tangannya benar-benar gemetar tidak ingin kesadarannya kembali menghilang hingga menjadi gila dan menyerang semua orang.
Hantu itu kemudian melewati para tamu dan pekerja penginapan begitu saja, terutama Sans dan keempat rekannya. Ironisnya, sangat ironis, alih-alih menghilang, ia justru menuruni tangga.
‘Tu-tunggu dulu!” jerit Riri menunjuk “hantu” itu.
“Hi-hiiiii!!” jerit kedua pemilik dan para musisi kembali ketakutan, bahkan mulai saling memeluk untuk menenangkan diri.
“Ha-hantunya berlari?” Yang penting Tinsdale dapat bernapas lega bahwa nyawanya selamat. “A-aku takut sekali, untunglah.”
“Itu bukan hantunya,” bantah Riri.
“Tapi itu benar-benar hantu, ciri khasnya sama persis,” Yudai membantah perkataan Riri.
“Me-mengerikan sekali!!” jerit musisi berambut merah tegak.
“Hantunya … kuharap dia tidak datang menghantui tempat ini. Dia sudah mendapat apa yang dia inginkan,” komentar Killam.
“Tidak! Kalian tidak melihatnya? Hantu akan menghilang kalau dia ingin pergi! Seperti yang dikatakan Katherine! Kalian juga mengatakannya, bukan? Para pemilik?” Riri membela pendapatnya.
“Di-di-dia tiba-tiba muncul lagi!” jerit sang pemilik perempuan menunjuk panggung.
“Tidak! Selama ini … dia sudah bersembunyi di sekitar panggung saat kita melihat penyebab hantu itu meneror penginapan ini!” Riri sangat frustrasi. “Dia pasti telah mengincar cincin Tinsdale.”
“TIDAAAAAAAK!!” Tinsdale berlutut menyesali apa yang telah terjadi. Ia mengangkat kedua tangannya. “cincin seharga sepuluh ribu vialku diambil! Diambil!!”
***
“Terima kasih banyak telah membongkar misteri hantu yang meneror penginapan kami. Ini bayaran untuk kalian.”
Kedua pemilik penginapan itu akhirnya menyerahkan karung berisi uang vial.
Menatap Riri menerima bayaran itu sebagai perwakilan, Sans, Beatrice dan Yudai sungguh tercerahkan mendapati hadiah lebih banyak dari misi yang biasa mereka selesaikan, terutama misi kelas C. Akhirnya, sebuah kepuasan mengisi lubang dari saat tidak mendapat apapun setelah menyelesaikan misi menumpas basilisk, misi kelas A.
Kali ini, Riri tidak menolak hadiah tersebut. Mereka berlima antas mendapatkannya karena telah “mengusir” sang hantu dari penginapan mewah.
“Mereka sama sekali tidak percaya.” Riri menundukkan kepala lesu.
“Yang penting kita berhasil menyelesaikan misi ini, bukan?” Yudai menyikut pinggang Riri. “Hantu itu tidak akan pernah menganggu keadaan penginapan mewah itu lagi, tidak akan pernah.”
Beatrice mengulum senyuman. “Semoga penginapan itu mengundang banyak tamu.”
“Hei.” Sans menghentikan langkah sambil menepuk bahu Riri. “Aku sebenarnya percaya padamu. Kurasa yang mengambil cincin Tinsdale ber-memory shard itu bukan hantu.”
“Sans,” gumam Riri.
“Aku sebenarnya lebih penasaran mengapa memory shard dapat menampung peristiwa masa lampau dan bagaimana cara membuatnya.”
Meski mendapat hasil yang tidak memuaskan tentang misteri hantu di penginapan mewah itu, Riri dapat tersenyum lega menatap Sans, Beatrice, Yudai, dan Katherine di hadapannya, berbagi kepuasan setelah menyelesaikan misi kelas B. Ia berharap dapat mengajak mereka kembali untuk menyelesaikan misi kelas B lagi.
Sementara … Katherine?
Murid priest perempuan itu begitu murung hingga menurunkan kepala. Pikirannya kacau, benar-benar kacau. Menatap Yudai sangat lancar dan tersenyum saat berbicara pada Sans, Riri, dan Beatrice di hadapannya, sebuah penyesalan juga menusuk benaknya.
Ia harap bisa memutar waktu untuk berbicara lama dengan Yudai, terutama saat ia terbebas dari upaya sang hantu merasuki tubuhnya. Ia harus menunggu waktu berlalu kembali agar dapat menyelesaikan misi bersama-sama.