
Jangan heran kalau ruangan, atau bisa dikatakan sebagai kantor, khusus profesor terbagi menjadi dua, satu berupa kantor utama yang cukup luas di mana mereka dapat berkumpul dan menjadi saksi pemanggilan murid bermasalah, satu lagi berupa kantor pribadi masing-masing, terpisah dari ruang utama. Jika ruang khusus profesor berada di lantai dua, deretan ruang pribadi profesor berada di lantai empat.
Ruang pribadi setiap profesor sekaligus menjadi kamar tidur. Kantor dan kamar pribadi menjadi satu kesatuan dalam ruangan. Tidak heran ruang pribadi setiap profesor terlihat seperti rumah yang hanya memiliki dua ruangan, ruang utama dan kamar mandi.
Memasuki kantor pribadi Duke, Sans terlebih dahulu menatap berbagai botol dalam beragam bentuk, terutama bentuk labu, berisi berbagai cairan di hadapan pintu keluar.
“Tutup pintunya,” pinta Duke.
Sans hanya mengangguk sebelum menutup pintu dengan rapat. Begitu berbalik, dia menatap Duke membuka rak di dekat jendela bergorden di hadapannya, Di sisi kanan terdapat tempat tidur menghadap rak.
Dinding batu bata putih ditambah pilar di setiap sudut dan lantai keramik bermotif kotak sudah melambangkan kamar profesor lebih superior daripada kamar asrama murid. Sans sampai terengah-engah akan cukup nyaman ketika tinggal di kamar tersebut sebagai seorang professor.
“Ini dia.” Duke mengambil sarung tangan alchemist dari rak itu.
Sans pun menghampiri Duke, ingin melihat lebih dekat sarung tangan, atau gauntlet, yang menjadi ciri khas alchemist tersebut. Begitu diambilnya benda tersebut dari genggaman Duke, terlihat sarung tangan itu berwarna biru metalik pada bagian punggung tangan, bagian pergelangan jari berwarna merah dari daun ars, bagian pergelangan tangan berwarna ungu, berupa deretan serpihan bubuk kristal variant. Terlebih, dapat terasa pada genggaman kerasnya baja dari sarung tangan tersebut.
“Wow.” Sans terpana menyaksikan keindahan dari sarung tangan tersebut.
“Sebenarnya, baja merupakan bahan inti dalam pembuatan sarung tangan ini. Ketiga bahan tadi, yaitu jaring laba-laba es, bubuk kristal variant, dan daun ars, bersatu dalam harmoni membentuk kekuatan dalam sarung tangan ini, termasuk dalam pertarungan. Saya ingin kamu membuat sarung tanganmu sendiri, Sans. Saya akan dengan senang hati membantumu.”
“Ta-tapi, saya hanya kekurangan kristal variant. Bagaimana kalau kita ingin ke sana untuk mendapatkannya?”
“Itu bisa diatur nanti. Untuk sekarang, saya akan menjelaskan alchemist padamu terlebih dahulu. Tetapi, hanya kita berdua yang boleh mengetahui hal ini.”
“Ke-kenapa?”
“Pokoknya ini hanya urusan kita berdua. Kamu akan menjadi alchemist hebat, Sans. Kamu punya potensi hebat. Benar-benar hebat. Sekarang, saya ingin kamu mulai melanjutkan baca Buku Dasar Alchemist kembali, besok kamu kemari lagi.”
“Sa-saya harus ke sini lagi?”
“Ya. Saya akan memperlihatkan kekuatan alchemist secara langsung di hadapanmu. Salah satu contohnya pernah kamu lihat saat menjahilimu. Lalu, kita bahas bersama-sama materi dari Buku Dasar Alchemist. Setelah kelasmu selesai besok, kembalilah ke sini. Kalau kamu bertemu professor lain, katakan saja kalau kamu ingin bertemu saya.”
“Ba-baik, Professor.” Sans menyerahkan kembali sarung tangan alchemist pada Duke.
***
“Tidak mungkin! Professor Duke pelakunya!” sahut Beatrice.
“Beatrice, pelan-pelan!” Neu memperingatkan.
Tepat setelah makan siang di kantin, Sans dan ketiga teman dekatnya tengah melangkahi selasar menuju gedung asrama. Tidak heran Neu mengingatkan tidak mengungkapkan pelaku kejahilan itu di depan publik, terlebih murid-murid yang tengah ikut melintas.
Sans mengingat pesan Duke agar merahasiakan urusan antara mereka berdua, terutama tentang alchemist. Menatap ketiga temannya, terutama Yudai, sungguh sulit untuk menyembunyikannya.
Apalagi, Yudai sudah mengetahui dirinya mendapat Buku Dasar Alchemist dari awal, sejak pertemuannya dengan Nacht di kapal menuju Aiswalt. Beatrice dan Neu sama sekali tidak mengetahui pilihannya untuk memilih job alchemist sebagai alternatif, semenjak dirinya tidak lulus aptitude test dan mendapat job sesuai dengan job system.
“Omong-omong, beliau berbicara apa saja denganmu, Sans?” Neu membuyarkan lamunan Sans ketika berbelok.
“Whoa. Uh, beliau hanya meminta maaf padaku. Professor Duke sudah menyesal karena telah menjahiliku selama tiga pertemuan terakhir kelas sejarah.”
“Masa? Apa dia berbicara sesuatu padamu? Lalu mengapa hanya kamu yang dijahili?”
“I-itu—”
Beatrice menebak, “Kamu satu-satunya murid bermantel putih di kelas, kan? Mungkin saja Professor Duke ingin bersimpati padamu. Aku yakin, dia ingin melatihmu suatu saat.”
Neu membantah, “Ngaco! Selama yang kulihat, setiap professor tidak terlalu memedulikan murid bermantel putih. Paling tidak, itu menguatkan desas-desus waktu itu. Kebanyakan murid bermantel putih memutuskan untuk keluar. Jika mereka tinggal, peluang besar akan dikeluarkan.”
Yudai membela Sans, “Tapi Sans sudah berlatih keras. Kita juga sudah tahu itu. Mungkin Professor Duke ingin menyamakannya dengan murid lain. Dia ingin menjadikan Sans sebagai bukan sekadar murid bermantel putih.”
“Tapi kenapa hanya Sans? Masih ada murid bermantel putih lainnya?” Neu menantang pembelaan Yudai.
Begitu memasuki gedung asrama, percakapan mereka terhenti ketika Sierra menghampiri di hadapan mereka, tengah akan keluar. Beatrice pun memutuskan untuk menyapa.
“Sierra? Kamu buru-buru sekali?”
“Aku lupa kalau aku harus pakai seragam saat menuju kelas. Professor pengampu kelas job priest akan marah kalau aku pakai gaun atau terlambat lagi. Permisi.”
Sans dan Yudai yang berdiri di posisi tengah bergeser membiarkan Sierra untuk lewat. Menoleh ke belakang, perempuan ber-job priest itu mulai berlari, memelesatkan langkah agar tiba di kelas tepat waktu.
“Wow, si murid priest itu, anu, aku lupa siapa namanya lagi—" komentar Yudai.
“Sierra. Kita pernah mengacaukannya saat aptitude test—” potong Neu.
“Ya, jujur saja, dia kalau memakai pakaian apapun tetap elegan. Dia adalah perempuan elegan dan mempunyai kecantikan unik.”
“Yudai!” Neu pun melanjutkan setelah berdehem menenangkan diri, “Kembali ke persoalan tadi, kalau Profesor Duke ingin memperlakukan khusus murid bermantel putih, tidak harus hanya Sans, tetapi juga yang lain. Sans, pasti ada alasan mengapa Professor Duke ingin dekat denganmu sebagai guru dan murid.
“Sudah, sudah. Sans butuh waktu untuk beristirahat,” usul Yudai ketika mereka melewati tangga menuju ruang utama asrama. “Begitu juga dengan kita, kan?”
“Aku ingin ke perpustakaan nanti sore. Kalian ikut?” ajak Neu.
“Um, mungkin tidak,” tolak Beatrice halus.
“Ah ….” Yudai meretangkan kedua tangan ke atas. “Malas sekali. Tugas dari Profesor Duke sudah melelahkan dan membuatku menguap, apalagi jika ditambah buku lain.”
“Kabar baiknya, kalian bisa mendapat referensi tambahan untuk mendukung pendapat kita,” Neu menyampaikan saat berbelok menghadapi gerbang gedung asrama dan melewatinya.