
Meski perlakuan terhadap dirinya sejak awal bertemu, Yudai bersikeras untuk membidik ranting hidup dari pagar rumput demi menyelamatkan Tay. Digenggamnya ekor panah menggunakan tangan kanan sambil mengumpulkan kekuatan.
Neu hanya terdiam, justru berpikir mengapa Yudai rela menyelamatkan Tay setelah beberapa kali perilaku buruk yang dia dapatkan. Terlebih, dia masih percaya pada hukum karma, jika seseorang berbuat baik atau buruk, sebuah konsekuensi akan didapat. Sekali lagi, dia memandang Tay pantas untuk ditinggalkan seorang diri.
Begitu rantai hidup yang mengikat bagian tangan Tay telah terkunci dalam bidikan, Yudai melepas genggaman ekor panah seraya menembak. Ketika kepala panah berujung besi lancip tersebut mengenai ranting, panah pun retak dan terbelah menjadi dua.
Ranting hidup juga mulai menyentuh pedang Tay yang tergeletak begitu saja di lantai, tanpa siapapun mengambilnya. Genggaman ranting hidup tersebut secara merambat mengepung mulai dari bagian gagang hingga badan pedang tersebut.
Yudai sempat tertegun ketika panahnya tertangkis hingga patah oleh ranting tersebut. Dia tidak punya pilihan lagi selain menembak satu panah lagi demi menyelamatkan Tay. Diambilnya kembali salah satu panah dari quiver, didekatkan pula ekor panah pada tali busur menggunakan genggaman tangan kanan.
Namun, Yudai terlambat menyadari ranting hidup telah merambat begitu cepat mengepung pedang Tay. Kaki kanannya tengah menginjak lantai tidak jauh dari pedang Tay.
“Who-whoaaaa!!” jerit Yudai tersandung ketika kaki kanannya mulai terikat dan tertarik oleh ranting hidup.
Yudai juga melepas ekor panah dan tidak sengaja menembak. Panahnya pun hampir terkena bagian pelipis kiri Tay hingga mencapai pagar rumput. Tay yang telah terkepung oleh ranting hidup pun sampai melotot menatap tancapan kepala panah tersebut.
Menyaksikan Yudai juga ikut terikat dan tertarik oleh ranting hidup, Neu mulai mengangkat telunjuk dan mengosongkan pikiran demi fokus akan tenaganya.
“Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!” Neu menjeritkan sebuah mantra.
Berbagai kumpulan api berbentuk seperti belati atau kristal bermunculan dari telunjuk Tay seraya menembak ranting hidup pada kaki kanan Yudai. Sihir fire blades tersebut seperti membelah ranting hidup dan membebaskan kaki kanan Yudai.
“Whoa! Whoa!” jerit Yudai ketika dirinya terlepas dari ikatan ranting hidup. “Aku selamat! Aku selamat!”
“Ayo!” jerit Neu menarik tangan Yudai untuk bangkit dan segera berlari.
“Tunggu! Tay masih—” Yudai mengingatkan.
“Biarkan saja! Dia yang meminta untuk menyelesaikan ini seorang diri!” Neu bersikukuh sambil terus memaksa Yudai berlari.
Yudai menoleh menyaksikan pedang Tay telah terselimuti oleh ranting hidup, begitu juga dengan hampir seluruh tubuh Tay. “Dia masih teman sekelompok kita, Neu! Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja!”
Neu menghentikan langkah dan ikut menoleh ke belakang. Menatap Tay telah hampir terselimuti oleh rantai hidup hingga tercekik, dia tidak punya pilihan lain. Dia menghela napas dan menggerutu pelan, mempertanyakan lebih lanjut mengapa dia harus menyelamatkan “orang jahat” seperti Tay.
Neu mengarahkan telunjuk pada rantai yang mengikat Tay beserta pedangnya dan mengucapkan mantra tiga kali, “Transformate eht pyro combi shattorv inbladari!”
Lebih banyak fire blades berupa kobaran api berbentuk belati kristal meluncur dan mengenai setiap sudut rantai hidup, terutama pada tubuh Tay dan pedangnya. Bungkusan rantai hidup tersebut kembali terbelah dan seakan-akan lenyap.
Tay mulai menarik napas dalam-dalam saking tercengang sehabis hampir kehabisan udara. Otot lengan dan kakinya akhirnya bisa kembali bergerak sedikit demi sedikit sehabis menerima rasa sakit dari ikatan rantai hidup.
Neu justru membuang muka pada Tay, sebenarnya terpaksa karena perintah Yudai. Dia membuang ludah sedikit melampiaskan sebuah ketidakpuasan.
“Tay, cepatlah!” Yudai dengan cepat menemui Tay dan mengulurkan tangannya ketika rantai hidup dari pagar rumput di belakang Tay kembali bergerak perlahan.
“Aku bisa sendiri.” Tay kembali bangkit tanpa menyentuh tangan Yudai dan mengambil kembali pedangnya. “Kengapa? Padahal aku bilang aku ingin mencari jalan keluar sendiri. Kenapa repot-repot menyelamatkanku?”
“Mana mungkin aku rela meninggalkanmu menderita seperti tadi? Diikat oleh ranting hidup sambil terselimuti? Kamu masih bagian dari kelompok kami! Kita masuk bersama, kita keluar bersama. Kita selesaikan tugas ini bersama-sama!” seru Yudai.
Tay semakin masam ketika mendengar perkataan Yudai, begitu juga dengan Neu. Sekali lagi, terpaksa mereka “bergabung” kembali demi kekompakan kelompok agar dapat keluar dari labirin bersama-sama.
***
“Tiga orang anak muda berasal dari Akademi Lorelei telah berada di hadapanku, satu seorang laki-laki, dan dua orang perempuan cantik, cantik merana, merana dan mempesona,” sambut lelaki berambut hitam panjang dan berbando di hadapan mereka.
Sans mengeratkan genggaman belatinya, mencurigai lelaki berambut hitam panjang dan berbando di hadapannya. Dia sama sekali tidak melihat lelaki itu sebagai profesor di Akademi Lorelei sama sekali, apalagi ketika upacara penerimaan murid dan pemberian mantel.
“Aku sama sekali tidak ingat orang itu! Dia benar-benar salah satu profesor Akademi Lorelei, bukan? Ah! Aku bingung!” Beatrice sampai menarik ujung sun hat putihnya.
Sierra membalas perkataan pemuda itu, “Ka-kamu sendiri siapa? Kami bahkan tidak pernah melihatmu sama sekali.”
Laki-laki di hadapan mereka itu membelai rambut panjangnya. “Ah, kenapa kasar begitu? Perempuan seperti kalian berdua masih lugu, benar-benar lugu, kenapa harus rusak dengan amarah begitu? Seharusnya kalian senang bertemu dengan lelaki tampan sepertiku, bahkan sampai rela menerima tantangan bertarung.”
Pipi Beatrice mulai memerah, malu, benar-benar malu dan tersinggung akibat ucapan lelaki berambut hitam panjang di hadapannya. Seakan energi dari tubuhnya ingin meledak seperti bom estrogen simbolis, wajahnya seperti panci mendidih berasap.
Lelaki berambut panjang itu memperkenalkan diri, “Namaku Spinarcia. Aku di sini untuk menguji kalian.”
Spinarcia kembali melangkah menghadapi mereka bertiga selagi mengeluarkan belati berwarna ungu. Belati ungu tersebut digengganya erat seraya mempersiapkan diri untuk bertarung.
“Ujiannya adalah pertarungan, aku rela hanya seorang diri dalam melawan kalian bertiga, apalagi kamu, laki-laki berkulit sawo matang, ditemani oleh dua gadis elegan dan cantik. Aku akan menikmati ini.” Spinarcia memamerkan kepala belati ungu lancip seperti mengkilat.
Sierra bertutur, “Sans, kurasa tidak ada pilihan lain. Kamu harus bertarung menggunakan belatimu. Kami akan membantumu.”
“Ta-tapi—” ucap Sans, “—aku belum pernah bertarung lagi dengan orang lain—”
Beatrice mengulang perkataan Sierra, “Tenang, kami akan membantumu. Aku bantu menambah kekuatanmu. Kamu pasti bisa melawannya!”
Beatrice mengeluarkan song sphere dan mulai menggenggamnya menggunakan kedua tangan seakan memegang sebuah perisai. Sierra tertegun menatap bentuk dari song sphere tersebut, bundar dan berwarna hijau.
“Give Us Strength,” Beatrice mengungkapkan judul lagu.
Sebuah gelombang berbentuk bundar bermunculan sejenak melingkari dirinya, Sans, dan Sierra sebelum menghilang seketika. Ketika terkena gelombang tersebut, gelombang lain turut memindai tubuh masing-masing.
Sans dapat merasakan aura tambahan dari gelombang bundar yang telah memindai tubuhnya. Kekuatannya bertambah, apalagi ketika menggenggam belati hitam.
Song sphere milik Beatrice mulai memancarkan alunan musik secara otomatis, suara instrumen musik seperti bermain dengan sendirinya.
Give the bravery for us to fight
Eliminate the march of fear and doubtness
Begitu Beatrice menyanyikan dua larik pertama, Spinarcia mempersilakan Sans untuk menyerang terlebih dahulu dengan mengayunkan jari kiri.
Sebuah salib putih muncul menuju Sans dan terserap seraya menambah ketahanan fisiknya. Tak lama, Sans mulai mengambil langkah lari dan menguatkan genggaman belati hitamnya, mengarah pada Spinarcia di hadapannya.
Sans berlari mengarah lurus tepat menuju Spinarcia, menjerit dan mengayunkan belatinya, seperti saat dia berlatih sendiri. Ini adalah kali pertama dia menggunakan belati untuk melawan seseorang.
Spinarcia menyeringai dan mengangkat belati ungunya untuk menangkis serangan Sans dengan cepat. Kedua mata belati bertubrukan menimbulkan bunyi seperti barang pecah belah. Keduanya tetap saling menubrukkan mata belati demi memulai serangan.
Sans mencari celah di antara lawan di hadapannya demi memulai pergerakan. Dia ayunkan belati hitam itu menuju celah kosong agar dapat mengenai Spinarcia.
Spinarcia kembali menyeringai dan bergerak menghindari tubuhnya dari ayunan belati Sans. Justru, dia juga membalas mengayunkan belati ungunya untuk memanfaatkan celah.
“Ah!” jerit Sans ketika lengan kirinya terkena sayatan belati Spinarcia.
Sans terhenti sejenak menyaksikan luka sayatan dari Spinarcia pada lengan kirinya tidak signifikan, hanya merobek bagian lengan bajunya. Sama sekali tidak ada darah menetes, rasa sakit juga hampir tidak terasa berkat sihir protect Sierra.
Sempat tercengang menyaksikan Sans terkena sayatan belati Spinarcia, Beatrice tetap menfokuskan diri untuk bernyanyi demi menstabilkan kekuatan fisik Sans. Nyanyiannya semakin keras dan merdu mengikuti irama musik dari song sphere.
Sierra juga terdiam menyaksikan Sans sempat terlena. Dia mengikat kedua tangan, membentuknya menjadi kepalan, dan mulai berharap agar mereka dapat selamat.
Sans terengah-engah menatap Spinarcia menggenggam belati ungu sambil kembali berada di posisi kuda-kuda di hadapannya. Dia mengeratkan genggaman belati hitamnya selagi kembali fokus mencari celah untuk kembali melakukan serangan.
Spinarcia kembali melesat dalam mengambil langkah dan mengayunkan belati ungunya. Dia mendorong belati tersebut mengarah pada Sans lagi, mengincar bagian lengan kanan.
Sans dengan dengan cepat bergeser dan merunduk menghindari tebasan belati tersebut. Diayunkannya belati hitam demi membalas serangan Spinarcia di hadapannya.
Spinarcia berputar menghindari tebasan pedang Sans. Pada saat yang sama, embusan angin terasa cukup cepat baginya seperti pisau melewati kulit. Tebasan belatinya juga mengikuti putaran untuk membuat serangan tidak terduga.
Sans memundurkan diri dan sedikit membaringkan punggung ke udara, seakan tengah ingin terjatuh dibantu oleh keseimbangan. Ayunan sayatan belati Spinarcia sekali lagi berhasil dia halangi.
Sans kembali bangkit dan mendorong genggaman belatinya, mengincar bagian lengan kiri Spinarcia. Dia memanfaatkan celah demi melukai lawan di hadapannya itu.
Namun, Spinarcia justru mendorong tenaga pada tangan kirinya, melihat Sans belum bangkit secara sempurna. Dia dorong lawannya menuju lantai.
“AAAH!” Dada Sans terdorong oleh tangan kiri Spinarcia.
Ketika punggung Sans bertubrukan dengan lantai, darah segar pun memuncrati wajah dan bajunya. Matanya melotot ketika unsur merah tersebut telah seperti mengalir.
“Ah!” jerit Sierra ketika membuka mata menyaksikan kejadian tersebut.
Beatrice juga ikut tercengang, baru beberapa saat dia selesai menyanyikan Give Us Strength, tidak menyangka kejadian tersebut berada di depan mata.
Sans beralih pandangan pada belati hitamnya. Darah segar, darah, dan darah, telah melapisi mata pisau tersebut hingga menetes.
“Si-sial,” ucap Spinarcia memindahkan telapak tangan kiri pada bagian tulang rusuk.
Darah pun mengalir dari bagian tulang rusuk kiri Spinarcia, membasahi bajunya sampai bernoda merah. Meski genggaman tangan kanan pada belati ungunya tidak terpengaruh oleh rasa sakit, dia menurunkan sambil menghela napas.
Sans mengacungkan belati hitamnya, menonjolkan kepala belati berbentuk lancip terhadap Spinarcia demi memastikan.
Spinarcia kembali menyeringai sambil menutup mata. “Kurasa segitu saja. Kamu benar-benar kuat, sungguh kuat. Tidak heran kamu mampu melukaiku.”
Sans terengah-engah sampai genggaman pada belati hitamnya bergetar. Napasnya naik turun menyaksikan Spinarcia mengambil langkah mundur.
“Kalian bertiga berhasil menunjukkan kekuatan masing-masing dan bekerja sama untuk melawanku. Seorang laki-laki berkulit sawo matang ditemani oleh dua perempuan elegan dan cantik. Kuanggap itu sebagai keberuntungan semata. Lain kali, jika kita bertemu lagi, laki-laki berkulit sawo matang, aku ingin melawanmu seorang diri.”
Ketika mengambil langkah mundur terakhir, sebuah asap mulai bermunculan pada tubuh Spinarcia. Asap abu-abu tersebut membuat ketiganya terheran, memenuhi pandangan di depan mata.
Asap itu lama-kelamaan menghilang, begitu juga dengan Spinarcia.
“Spinarcia?” Sans menurunkan genggaman belati hitamnya. “Siapa dia?”
“Sans!” Beatrice berlari menemui Sans di hadapannya. “Kukira kamu terluka!”
Sans kembali bangkit dan berbalik menoleh pada Beatrice. “A-aku hanya terluka sedikit, hampir tidak terasa sakit.”
“Sans!” Sierra juga ikut menemui Sans. “Syukurlah. Sini.”
Sierra mulai menyentuh sobekan pada bagian lengan kiri pada baju Sans menggunakan kedua tangan. Fokusnya mulai terpicu saat menutup kedua mata.
Sierra mengucapkan sebuah mantra, “Dstorv eht pyjuness hetw weib siqlo.”
Sebuah cahaya putih mulai menyelimuti sentuhan tangan Sierra pada lengan kiri Sans. Rasa sakit ringan seakan hancur dan tergantikan oleh cahaya yang menjahit sayatan tebasan pedang tersebut.
Sans akhirnya dapat menggerakkan lengan kiri kembali setelah heal dari Sierra berakhir. “Terima kasih.”
Beatrice masih terheran. “Siapa Spinarcia sebenarnya? Mengapa dia tiba-tiba saja datang? Apakah kelompok lain juga bertemu dengan orang sepertinya?”
Sierra menjawab, “Aku tidak tahu. Untuk sekarang, kita masih harus mencari cara untuk keluar dari labirin ini sebelum matahari terbenam.”
“Sierra benar.” Sans kembali berbalik menatap jalan lurus. “Kita masih tidak tahu apa mau Spinarcia, apa dia salah satu staf Akademi Lorelei yang menjadi kejutan bagi kita. Mau tidak mau, kita selesaikan tugas ini sebelum matahari terbenam. Ayo!”
“Sans, kamu yakin, kamu baik-baik saja? Tidak istirahat dulu?” Beatrice memberi usul.
Sans menggeleng. “Tidak masalah. Nanti saja. Cepatlah!”
Menyusul Sans dan Beatrice dalam berlari melewati jalan lurus di hadapan mereka, Sierra tersadar. Lelaki berkulit sawo matang di depannya memang seorang murid bermantel putih di Akademi Lorelei, merepresentasikan kegagalan dalam aptitude test dan tidak memiliki job.
Sierra telah mengamati perjuangan Sans dalam bertarung, terutama melawan Spinarcia. Dia menyimpulkan bahwa Sans bukan orang gagal seperti yang dibicarakan banyak murid di akademi.
Sierra menjulurkan bibir hingga membentuk lengkung. “Kurasa aku terlalu meremehkanmu, Sans. Kamu akan menjadi murid dengan kekuatan yang tidak terduga.”