Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 82



Sesuai dengan kesepakatan pada hari sebelumnya, Sans dan keempat rekannya dalam misi kelas A, yaitu membasmi basilisk, melewati jalan selatan dari Silvarion demi menuju Salazar. Tanpa menyewa kereta kencana sama sekali, demi menghemat uang dan keselamatan sendiri.


Perlengkapan, termasuk makanan dan air minum, telah mereka beli untuk berjaga-jaga. Apalagi membutuhkan setidaknya dua hari untuk mencapai Salazar, atau tempat pengungsian penduduk terlebih dahulu.


Memang cukup melelahkan bagi Beatrice dan Katherine, tetapi mereka tetap tidak menyerah untuk mengikuti Sans, Yudai, dan Riri yang berada di depan mereka. Ketiga lelaki itu memperlambat langkah agar kedua gadis dapat secara leluasa mengikuti.


Ketika matahari telah menuruni puncak langit, peluh sudah bercucuran mulai dari kepala masing-masing. Tidak heran, stok air minum sudah mulai menipis lebih cepat dari perkiraan. Pepohonan pun semakin minim, membuat udara berembus lambat.


Setelah melewati jalan tanah setapak tanpa ada rumput, pepohonan lebat dan jalan penuh semak telah menanti. Cukup lama untuk mencapai tempat tersebut.


Deretan daun dan ranting pada semak-semak itu mencapai lutut, maka langkah mereka melambat etika melewati rambatan semak itu. Tangan mereka juga seakan menggeser setiap halangan ranting untuk membantu melangkah.


“Ah!” sahut Yudai.


“Whoa!” Beatrice juga sampai menghentikan langkah.


“E-eh?” ucap Riri menyadari sumbernya.


Tatapannya berfokus pada salah satu ranting semak belukar yang tengah mereka lewati itu. Beberapa dahan ranting tersebut memiliki duri, lebih dari satu untuk menghentikan langkah dan menembus kulit pada lengan.


“Si-sial,” ucap Yudai menekan kulit pada tangan untuk mengeluarkan duri tertancap, “i-ini.”


“Ouch! Sa-sakit sekali. Bahkan, aku sama sekali tidak bergerak secara leluasa, terutama untuk memotong dedaunan dan ranting.” Sans menurunkan belatinya setelah berusaha membuat jalan.


Beatrice mulai menundukkan kepala. “Ba-bagaimana ini?”


Di hadapan mereka, jalan penuh semak masih membentang dan cukup tebal. Cukup panjang sebelum jalan tersebut berakhir.


“Kalau begini terus—” Yudai menggosok belakang kepalanya. “—kita akan terluka parah sebelum tiba di Salazar.”


“Benar.” Riri menoleh pada Katherine. “Kamu punya sihir untuk menyembuhkan secara otomatis, kan?”


“I-iya.” Katherine secara gagap menjawab, “na-namanya regen. Ta-tapi kekuatan penyembuh otomatis tidak sekuat seperti heal.”


“Tidak apa-apa. Begitu kita berhasil keluar dari semak-semak ini, kamu gunakan heal untuk sembuhkan sisa luka kita.”


“Ba-baik!”


Katherine mulai mengepalkan kedua tangan dan menutup mata. Dia mulai berkonsentrasi mengingat mantra dan menyeimbangkan kekuatan untuk melancarkan sihirnya.


“Refra oura kanarta yreve tempu hetw eht siqlo.”


Energi berupa kumpulan bola merah terang mulai bertebaran dan seakan mengikat tubuh masing-masing dalam bentuk lingkaran. Energi tersebut akhirnya masuk ke dalam tubuh, menimbulkan energi yang membantu menyembuhkan luka.


“Ah!” seru Yudai menatap luka akibat tusukan duri perlahan menutup secara otomatis. “Aku sudah semakin membaik. Terima kasih banyak, Katherine.”


“E-eh?” Katherine tersipu malu. “A-aku hanya melakukan yang terbaik.”


Riri kembali mengambil alih. “Oke. Sebaiknya kita segera melangkah secepat mungkin. Kalau efek regen kita habis, Katherine, tolong rapalkan mantra itu lagi pada kita semua.”


“Ba-baik!”


Mereka akhirnya kembali melangkah dan melanjutkan perjalanan. Sans juga mengayunkan belatinya untuk menebas setiap dahan semak berduri yang menghalangi demi membuat jalan agar dapat lebih leluasa, itupun jika jalan sudah terlalu sesak.


***


Selesai melewati semak berduri yang cukup panjang, berbagai monster pun mulai menghadang jalan mereka. Monster-monster pun bervariasi, mulai dari jamur, tikus humanoid, lebah bertangan duri, hingga slime ungu.


Untuk menghadapi setiap monster tersebut yang telah berdatangan, Beatrice terlebih dahulu bernyanyi Give Us Strength untuk menambah kekuatan fisik Sans, Yudai, dan Riri. Katherine merapalkan mantra Protection pada setiap rekannya.


Riri menyerang dengan pukulannya. Mengandalkan chakra yang telah terkumpul, sumber kekuatan tersebut membuat pukulannya dapat membanting satu per satu monster, terutama monster jamur dan tikus humanoid yang menjadi incarannya.


Yudai melancarkan tembakan dengan fokus incaran monster lebah bertangan duri. Dia tembakkan dengan menarik tali busur dan ekor panah. Begitu lincah dalam mengambil amunisi setelah menembakkannya mampu membasmi monster terbang itu.


Sans menebas setiap monster slime ungu menggunakan belatinya. Ayunan belatinya juga cukup cepat untuk membelah setiap monster slime hingga mati. Dia juga turut membantu Riri dalam membasmi monster jamur dan tikus humanoid.


Selesai membasmi gerombolan monster itu, langit pun mulai menghitam, warna jingga seakan tergantikan. Memang sudah tepat bahwa semuanya sudah cukup kelelahan dalam melakukan perjalanan, mulai dari melewati semak berduri hingga mengalahkan gerombolan monster.


“Selanjutnya, kita akan melewati kumpulan rawa beracun. Kalau tidak salah, setelah itu, kita akan tiba di desa Salazar. Karena sudah akan gelap, lebih baik kita cari tempat—”


Yudai memotong perkatan Riri, “Eh? Apa sebaiknya kita tidak mencari kota atau desa terdekat dulu?”


“Sayang sekali. Butuh waktu cukup lama untuk mencapai kota terdekat kalau dari sini. Lagipula, tidak ada kota di dekat sini, terutama di sekitar rawa beracun. Bukankah kamu sudah tahu saat kelas sejarah, Yudai?”


Beatrice menyentuh dagu menggunakan telunjuk. “Oh. Bagian selatan benua Riswein hampir seluruhnya menjadi lahan gersang yang tandus dan beberapa rawa yang beracun. Benar, kan?”


“Ya. Perubahan iklim lebih banyak terjadi di Riswein. Setidaknya, desa Salazar tidak terlalu di selatan sekali, cukup dekat dengan salah satu kumpulan rawa. Memang mereka sering mendapat bantuan dari Silvarion untuk membangun kota untuk mempertahankan tradisi,” lanjut Riri.


“Berarti … hampir sama seperti kampung halamanku,” ujar Sans, “bedanya kami tidak mendapat bantuan sama sekali.”


“Begitu juga dengan kampung halamanku,” lanjut Yudai, “meski kampung halamanku berada di antara tengah dan selatan Grindelr, tetap saja kami tidak mendapat bantuan.”


“Oh benar. Sans dan Yudai, kalian sama-sama dari Grindelr, ya? Kalau diingat lagi, Grindelr terbagi menjadi tiga iklim yang berbeda. Bagian utara beriklim kering dan tidak terlalu subur, Bagian tengah cukup subur, bagian selatan beriklim dingin, anehnya, selatan tidak sampai bersalju,” Riri menyimpulkan.


“U-um, sebenarnya iklim dingin di selatan Grindelr … disebabkan oleh pulau Familiar, ma-maksudku aura dari pulau Familiar lah yang menyebabkan hawa dingin di sana,” Katherine menjelaskan.


Yudai mengangguk. “Jadi begitu ya? Pulau Familiar—”


Begitu Yudai berhenti berkata sejenak untuk bereaksi, Sans dan Beatrice terlebih dahulu tertegun. “Pu-pulau Familiar?”


Yudai melongo. “H-hah! Pulau Familiar! Ja-jadi Pulau Familiar itu berada di sebelah selatan Grindelr?!”


Riri menggeleng. “Pantas saja kamu dibilang Archer Ceroboh oleh Profesor Alexandria. Kamu hanya mengandalkan kekuatan dalam pembelajaran di akademi. Kurang lebih sama dengan Zerowolf.”


“Ze-Zerowolf? Jangan-jangan kalian adalah teman sekelas,” tebak Yudai ketika mereka mulai mencari tempat yang setidaknya aman untuk mendirikan tenda kemah.


“Tepat. Dia benar-benar ceroboh dalam hal pelajaran, kecuali dalam berlatih sebagai archer.”


“Ja-jadi sebenarnya Yudai dan Zerowolf sama saja,” ulang Beatrice.


“Nah.” Riri berhenti melangkah dan berbalik. “Sebaiknya satu per satu dari kita berjaga di luar, untuk siaga jika ada monster.”


“Mo-monster?” Beatrice kembali gemetaran.


Yudai melanjutkan, “Habisnya kita di alam bebas. Ini juga pertama kalinya kita bertiga menginap saat situasi seperti ini.”


***


Ketika fajar mulai sirna, semuanya akhirnya bangkit dari tidur dan mulai membereskan tenda, bersiap untuk kembali berangkat. Terlebih dahulu, mereka menghabiskan sisa bekal yang telah mereka beli sebagai sarapan. Sisa tersebut merupakan sisa bekal terakhir.


Ketika kembali melangkah, mereka lagi-lagi menemukan berbagai monster. Sekali lagi, mereka basmi monster-monster itu selagi mereka melangkah.


Ketika matahari mencapai puncak langit pada hari kedua perjalanan, kumpulan kubangan cairan hijau seperti aliran air pada sungai kecil telah berada di depan mata. Semakin banyak mengambil langkah, semakin tampak banyak kumpulan kubangan rawa.


Bahkan, mereka mendapati jalan tanah gersang cukup tipis dan panjang, hanya dapat menampung satu kaki setiap langkahnya. Terlebih, hanya ada rawa di antara dua sisi jalan sempit itu.


“Hi-hiiii!!” jerit Beatrice.


“Jadi ini ya? Salah satu rintangan di antrara rawa beracun itu?” terka Riri.


Yudai menggeleng dan menyipitkan mata. “Uh, dari warnanya sudah jelas bagaimana racun rawa itu.”


Sans ikut berkomentar, “Ja-jadi begitu rawa beracun di Riswein.”


“Kalau kita cari jalan lain, akan buang-buang waktu. Mari kita lewati. Aku akan berada di barisan terdepan, Secara berurutan seperti ini barisan di belakangku, Beatrice, Sans, Katherine, dan Yudai.”


“A-apa?” Katherine kembali merona mengetahui dirinya akan berada tepat di depan Yudai dalam barisan untuk melewati jalan tipis di antara rawa itu.


“Baik. Kita mulai.” Riri mulai melangkahi jalan tipis tersebut. Secara perlahan, ia merentangkan tangan dan mengambil satu per satu langkah dalam berjalan, agar tidak kehilangan keseimbangan hingga tercebur ke rawa beracun itu.


“Ja-jadi bagaimana kalau kita tercebur?” Beatrice mulai panik.


“Tenanglah,” ucap Yudai, “tenanglah. Selama kita semua berkonsentrasi, kita akan baik-baik saja. Pikirkanlah ini adalah petualangan yang menyenangkan!”


“Uh, sebenarnya ini misi kelas A. Apa ini tidak apa-apa?” tanggap Sans.


“Tidak apa-apa!” Yudai optimis.


“Ba-baik. A-akan kulakukan.” Beatrice mulai melangkahi jalan tipis, mengikuti Riri. “Pelan … pelan ….”


Setelah menyaksikan Beatrice melangkah secara perlahan melewati jalan tipis tersebut, Sans pun memberanikan diri mengambil langkah pertama. Kaki kirinya menginjak jalan tanah gersang tersebut.


Yudai meletakkan telunjuk pada dagu, mengamati jalan tanah gersang di antara dua sisi rawa beracun. Dia hanya mengangguk menyimpulkan dalam hati.


“A-anu, Yudai. A-aku … a-aku—”


Yudai memotong perkataan Katherine, “Tenang saja. Aku akan berada di belakangmu. Seperti yang kukatakan pada Beatrice tadi, selama kamu berpikir kamu akan baik-baik saja, kita akan selamat, terutama kamu. Aku akan berada di dekatmu, berusaha sebaik mungkin mendampingimu.”


Katherine seakan meledak ketika bereaksi pada Yudai. Wajahnya memerah seakan bingung. Perasaan ini merupakan sebuah hal besar baginya.


“Ka-Katherine? Ka-kamu baik-baik saja, kan?”


Katherine mengangkat kepalanya, menatap jalan kecil gersang itu. “Ka-kalau begitu, ayo.”


Katherine menarik napas dalam-dalam berusaha untuk menghilangkan ketegangannya sambil menutup mata. Dia membuka mata sambil mengambil langkah pertama secara perlahan. Lambat tapi pasti, satu per satu langkah dia ambil.


Yudai pun menyusul tepat di belakangnya, tetap mengawasi Katherine sambil menyeimbangkan diri dalam melangkah.


“Pelan-pelan, pelan-pelan.” Beatrice merentangkan kedua tangan sambil melangkah secara berhati-hati dalam posisi di antara Riri dan Sans.


“Tetaplah berhati-hati,” ucap Riri, “begitu jalan ini berakhir, kita bisa lega kembali berjalan leluasa.”


“I-iya!” kata Sans.


Katherine menarik napas berusaha menenangkan diri sembari berjalan. Melihat warna rawa beracun sudah membuat dirinya cukup tegang. Apalagi, rawa beracun tersebut benar-benar berbahaya bagi manusia jika tercebur.


Dia sama sekali tidak ingin mati karena sedang berada dalam perjalanan menyelesaikan misi kelas A, terutama di hadapan Yudai. Terlebih, masih banyak hal yang ingin dia lakukan sebagai priest, yaitu mengimbangi Sierra dalam hal pelajaran.


Ketika mengambil langkah sekali lagi, kaki kirinya tersandung tanpa dia sadari. Badannya mulai miring ke kiri, menyebabkan badannya turun menuju rawa beracun itu.


Beruntung, Yudai menggapai punggung Katherine tepat dari belakang, menyelamatkannya. Tangan kirinya secara penuh tenaga menahan tubuh gadis priest itu dari terjatuh ke dalam rawa beracun itu.


“E-eh?” Katherine mendapati Yudai menyentuh pinggang kirinya.


Yudai juga menari tangan kanan Katherine untuk membantunya berdiri tegak dan kembali melangkah mengikuti Riri, Beatrice, dan Sans.


“Hati-hati. Perjalanan masih panjang.”


Katherine mengangguk, pipinya kembali memerah sebagai reaksi tidak menyangka, sama sekali menyangka atas perilaku Yudai. “I-iya.”


***


Begitu selesai melewati jalan tipis gersang itu dan juga berbagai rawa beracun, mereka mendapati berbagai monster mulai berdatangan ketika perjalanan berlanjut. Sama seperti hari sebelumnya, mereka mengerahkan kemampuan sebaik mungkin dan sekuat tenaga untuk mengalahkan monster-monster itu.


Berbagai monster pun mereka tumbangkan seiring berlanjutnya perjalanan menuju desa Salazar. Riri yang kembali memimpin dalam setiap pertarungan melancarkan setiap pukulan yang dapat membasmi setiap monster dalam satu hantaman.


Beatrice bernyanyi Give Us Strength untuk menambah kekuatan serangan Sans, Yudai, dan Riri. Katherine merapalkan mantra Protection untuk melindungi dirinya dan keempat temannya selama bertarung.


Yudai tanpa ragu tidak memberi jeda antara mengambil panah dan menembakkannya pada setiap monster. Bahkan, jika perlu, dua atau tiga panah dia tembakkan sekaligus.


Sans pun mengayunkan belati begitu telah berdekatan dengan setiap monster di hadapannya. Tebasannya pun mampu menumbangkan setiap monster, tergantung kekuatan tebasannya.


Pada akhirnya, ketika langit kembali menghitam, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tanah gersang tanpa pendamping pepohonan, kecuali retakan pada tapakan kaki.


Yudai pun mengemukakan sebuah pertanyaan, “Kalau tanah gersang begini, kenapa desa Salazar tetap dapat bertahan di sekitar sini? Maksudku, mereka tidak setiap hari atau begitu lama mendapat bantuan, kan?”


Riri menjawab, “Aku juga tidak tahu, justru berpikiran sama denganmu, Yudai. Lebih tepatnya, aku justru berpikir jika perubahan iklim seperti ini, Salazar seharusnya sudah runtuh. Tapi entah mengapa, menurut buku yang telah kubaca, masyarakatnya tidak ingin meninggalkan kampung halaman yang telah penuh dengan tradisi.”


“Tradisi? Apa maksudmu hal itu berkaitan dengan Basilisk?” Sans bertanya.


Riri mengangguk. “Benar. Mereka sering melakukan tradisi yang dipercaya, bagaimana cara bilangnya, ya? Sebenarnya, penduduk Salazar mengagung-agungkan Basilisk sebagai pelindung kota. Tapi, pada zaman dahulu, sebelum perang seluruh dunia meletus yang menyebabkan perubahan iklim di Riswein, masyarakat telah berusaha untuk membunuh basilisk, meski harus kehilangan beberapa jiwa. Sejak saat itu, Basilisk bisa dibilang sebagai makhluk suci.”


“Tapi Basilisk itu kenapa sampai menyerang kota itu? Apa mungkin karena—” Beatrice menganggapi.


“Ah!” Riri tertegun ketika menghentikan langkah.


“Ti-tidak,” ucap Sans.