Lorelei Chronicles

Lorelei Chronicles
Episode 47



Bukan kali pertama Sans menyusuri hutan sendirian, tanpa ditemani Yudai, Beatrice, atau Neu. Sans pernah menjalankan misi dari quest board seorang diri hanya untuk mendapat uang tambahan ketika ketiga teman dekatnya itu sedang sibuk. 


Begitu keluar dari perbatasan timur kota, ia mengambil arah utara, sesuai perkataan Duke.


Semakin tertutupnya langit oleh dedaunan pada batang pohon, ia menyimpulkan semakin dalam ia telusuri hutan itu. Butuh setidaknya 45 menit melangkah tanpa henti melewati bagian tanah tak berumput untuk menunggu agar mulai menghadapi para monster, termasuk hewan buas.


Ia menerapkan hasil latihan menggunakan belati untuk melindungi diri dari ancaman binatang buas, meski pada awalnya harus berimbas luka pada kulit akibat cakar atau gigitan.


Ancaman demi ancaman pun berhasil ia hadapi, meski harus mendapat luka pada tangan kiri akibat cakar harimau. Entah menghadapi dengan menyayat menggunakan belati, bersembunyi, melangkah diam-diam, atau berlari menghindari binatang buas, yang jelas ia kerap lolos.


Sans terpikir bahwa dirinya telah berkembang jika dibandingkan dengan saat pertama kali menggunakan belati hitamnya. Mulai dari mampu menghadapi Spinarcia, seorang laki-laki perlente yang ia temui waktu di Labirin Oslork, hingga menghadapi binatang buas hingga jika perlu sampai membunuh.


Begitu menemukan rerumputan di antara pepohonan lebat, ia mengambil arah barat laut. Demi menyelesaikan tugas dari Duke, yang menawarkan untuk belajar menjadi alchemist, yaitu berburu tulang kelelawar api.


Sebuah gua telah berada di hadapannya dan di dekat sebuah tebing, bentuknya hampir sama persis dengan gua laba-laba es yang semula ia kunjungi bersama Yudai. Kali ini, mulut gua tersebut berbentuk lonjong cokelat bercampur merah jingga, merepresentasikan seperti di ambang api.


Sans menarik napas sejenak, memberanikan diri untuk memasuki gua itu seorang diri. Meski sempat mengingat dirinya pernah memasuki gua yang kurang lebih serupa bersama Yudai, ia siap untuk menghadapi rintangan seorang diri.


Dinding merah jingga seakan menggantikan hitam pekat penuh kegelapan dari gua. Sans sempat memutar pandangan memastikan tidak ada ancaman lain pada pintu masuk gua, seperti binatang buas.


Sans sempat berbalik mengayunkan belatinya demi menambah kewaspadaan. Ia kerap menoleh ke belakang selagi melangkah, mengawasi setiap sudut ketika muncul bunyi bagai pukulan drum.


Peluh pun mulai bercucuran mulai dari kening Sans hingga leher. Semakin ke dalam gua tersebut, semakin naik pula temperatur di dalam ruangan. Tidak heran Sans mulai merasa kepanasan seperti sedang berada di ruangan bersuhu tinggi.


Sans berkali-kali mengusap kening dan leher seraya menyapu peluh dari bagian luar kulitnya menggunakan lengan bawah, mengurangi kenyamanan dalam berjalan, apalagi sambil berhati-hati agar tidak mengundang perhatian lebih banyak kelelawar api.


Sans juga mengedepankan genggaman belati hitamnya, mengantisipasi akan kedatangan kelelawar api. Otot tangannya mulai menegang, begitu pula dengan telapak tangannya yang mulai ikut mengucurkan peluh.


Sans sampai menarik napas berkali-kali saking panasnya gua tersebut, semakin dalam. Hawa panas sudah mulai menusuk kulit dan seakan memanggang bagian terdalam, membuat dahaganya meningkat. Sayang sekali, ia sama sekali tidak membawa botol minum sebelum berangkat dari akademi. Ia pun sempat meminum dari sebuah mata air di hutan, tetapi itu belum cukup untuk menawarkan dahaga akibat dari suhu panas gua tersebut.


Ketika berbelok, Sans menatap salah satu kelelawar api telah terbang di langit-langit. Tidak seperti kelelawar biasa, kepakan sayap kelelawar tersebut bagai menyala bara api, seakan membakar kedua sayap hidup-hidup. Tentu ia tidak bisa menyentuh sayap kelelawar tersebut karena tanganya akan terbakar oleh bara api.


Menatap bara api pada kedua sayap tersebut, Sans mulai membidik kelelawar tersebut sebagai target lemparan belati. Ia mengambil posisi kaki kiri di depan, mendorong kepalan tangan kanan pada belati hitamnya bersiap untuk melempar.


Bagi Sans, ini saat yang tepat untuk menerapkan praktik melempar belati seakan menembakkan panah dari Yudai ketika latihan bersama. Ia mengingat cara melempar sesuatu termasuk senjata memiliki teknik berbeda daripada melempar panah. Bidikan harus tepat sasaran, pikiran dan pandangan fokus pada target, tinggal teknik pelemparan yang harus disesuaikan tenaganya.


Belum sempat Sans melemparkan belatinya, kelelawar bidikan tersebut berbalik dan kembali terbang meninggalkannya. Ia menurunkan belatinya dan mempercepat langkah mengikuti kelelawar tersebut.


Kelelawar tersebut mengiringnya menuju sebuah ruangan luas berbentuk lingkaran. Tatapan Sans melirik ke atas, berbagai kelelawar api berterbangan mengelilingi langit-langit berbentuk seperti kubah berwarna oranye kemerahan yang menjadi representasi bara api berkat kepakan sayap masing-masing.


Gerombolan kelelawar tersebut beralih perhatian dari fokus untuk mengelilingi langit-langit kubah menuju Sans. Mereka berbelok memelesatkan kecepatan tepat mengarah padanya, mengepakkan sayap api masing-masing.


Melihat dirinya kalah telak dalam jumlah, Sans berbalik dan mulai berlari kencang, cukup kencang bagi standarnya, demi menghindari kejaran gerombolan kelelawar api. Tidak peduli dengan penerangan merah jingga pada dinding,ia harus sesegera mungkin keluar dari gua tersebut jika ingin selamat dari kejaran gerombolan kelelawar api. Pada saat yang sama, ia harus mengambil seekor kelelawar api dari gerombolan yang mengejarnya itu demi mengambil tulang untuk bahan tugasnya.


Kepakan sayap dan desisan kelelawar api semakin mengeras ketika hampir mendekati Sans yang tengah melangkah menuju jalan keluar gua tersebut. Satu per satu kelelawar api tersebut telah mendekati Sans, menambah suhu udara di sekitarnya semakin panas.


Sans mengayunkan belatinya demi membasmi satu per satu kelelawar api yang meghampiri sisinya. Satu per satu kelelawar yang mendatanginya pun berjatuhan akibat tebasan belati tersebut.


Namun, sayap dari empat kelelawar api turut mengenai kulit Sans hingga terasa panas, bara api juga mengenai bajunya. Sans meringis sambil terus mengayunkan belatinya demi membasmi gerombolan kelelawar yang menyerangnya itu.


Ketika cahaya dari pintu keluar sudah di depan mata, lama-kelamaan satu per satu kelelawar api mulai mundur tidak dapat menahan silaunya cahaya siang hari. Beberapa kelelawar di posisi terdepan juga masih menghajar Sans menggunakan sayap api.


Sans pun sempat menusuk badan salah satu kelelawar api di sebelah kirinya sebelum berhasil lolos dari gua tersebut menuju pintu keluar. Dengan cepat diambilnya bangkai kelelawar api yang berhasil ia tebas itu menggunakan tangan kiri sambil tiarap pada tanah.


Ketika berbalik, gerombolan kelelawar api itu akhirnya kembali memasuki gua tersebut, menyisakan sisa bangkai kelelawar api segar yagn seakan membuat jejak. Lega bahwa semuanya sudah berakhir.


Kabar buruknya, pakaian Sans mulai sobek akibat terbakar oleh bara sayap kelelawar api. Bukan hanya itu, luka bakar juga mulai merembes menuju kulit, tulang, dan saraf, alhasil, ia melambatkan langkah ketika berjalan menggenggam bangkai kelelawar dan belati hitam untuk kembali menuju akademi.


***


Sans tentu tidak heran dirinya menjadi perhatian ketika kembali ke akademi, bukan hanya genggaman bangkai kelelawar hitam di tangan kirinya, tetapi juga sebagian pakaiannya yang gosong hingga robek. Hal ini sering terjadi ketika seseorang, terutama laki-laki, dengan luka serius atau datang bertelanjang dada karena pakaian robek kembali memasuki kastel akademi.


Sans hanya mengabaikan tatapan dari murid lain. Ruang pribadi Duke menjadi tujuan utamanya menjelang sore hari. Dinaikinya setiap tangga menuju sekumpulan ruang pribadi profesor.


Tiba di hadapan pintu ruang pribadi Duke, Sans mengetuk pintu menggunakan kepalan tangan kanan. Tanpa perlu menunggu lama, Duke membukakan pintu sambil tercengang menatap Sans menggenggam bangkai utuh kelelawar api.


Duke berkata, “Kamu tidak usah membawa kulitnya segala. Kamu hanya harus mengambil tulangnya.”


“Aku belum mengambil tulangnya.” Sans membuka suara begitu memasuki ruangan tersebut.


“Baiklah, selanjutnya gunakan belatimu untuk mengambil tulangnya.” Duke menutup pintu. “Letakan bangkai kelelawar itu di meja—”


Ucapan Duke terhenti ketika melihat luka bakar di balik sobekan pakaian Sans pada dada kiri. Dengan sigap ia menempelkan jari kirinya pada luka bakar Sans.


“A-Ah!” jerit Sans meringis kesakitan.


“Baik, kemarilah. Duduk di situ.” Duke menunjuk kursi di hadapan meja kerja alchemist-nya. “Lepas bajumu.”


Sans hanya mengangguk dan mulai duduk di kursi tersebut. Pandangannya pun berbalik menatap Duke membuka sebuah lemari di dekat jendela dan mengambil sebuah botol balsem.


“Ah, benar.” Sans melepas baju dan melemparnya ke lantai.


Dilihatnya luka bakar pada dada bagian kiri Sans, Duke menghela napas sejenak sebelum membuka tutup botol balsem putih. Diambil sejentik balsem tersebut dan dioleskannya pada luka bakar Sans.


“A-aah,” Sans kembali meringis hingga bergeser.


“Diamlah dulu.” Duke kembali mengoleskan balsem tersebut, meski Sans harus menahan perih.


Olsean balsem tersebut lama-kelamaan menyejukkan luka bakar pada dada bagian kiri Sans, seperti sebongkah es yang turut berjuang membekukan demam.


Duke berpesan, “Lain kali kamu harus lebih berhati-hati jika berhadapan dengan kelelawar api. Bisa dibilang mereka juga binatang buas.”


“Terima kasih telah terlambat memberitahu.”


“Saya ingin kamu membedah bangkai kelelawar api menggunakan belatimu, ambil tulangnya, lalu saya bisa mengajarimu membuat barang menggunakan kekuatan alchemist.”


Sans mengangguk tanpa berbicara lagi. Diambilnya belati hitam sebelum mulai memotong kulit bangkai kelelawar api tersebut. Secara berhati-hati, tangan kirinya terlebih dahulu menyentuh kulit memastikan setiap bentuk tulang di dalamnya.


Sans memutuskan untuk membedah kelelawar tersebut mengikuti garis bentuk tulang. Dipotongnya kulit bangkai tersebut menggunakan belati hitam secara berhati-hati tanpa merusak bagian tulang, seperti mengupas buah.


Sans mengelupaskan kulit bangkai kelelawar tersebut begitu telah selesai memotong sesuai dengan bentuk tulang. Demi tidak merusak rangka secara keseluruhan, ia membalikkan bangkai tersebut pada meja dengan perlahan sebelum kembali membedah kulit.


Selesai menguliti kelelawar api tersebut, hanya tersisa tulang yang membentuk tubuh.


Duke menatap tulang utuh kelelawar utuh tersebut, sebuah kapur putih sudah berada di genggamannya. “Baik. Sekarang saya akan mengajarimu bagaimana caranya membuat sebuah bahan. Kita mulai dari yang paling mendasar.”


Duke menggunakan kapur putih untuk menggambar lingkaran besar pada meja kayu tersebut, disusul oleh sebuah bujursangkar di dalamnya, diikuti oleh lingkaran dan belah ketupat. Tiga bentuk terakhir tersebut seakan berada di dalam lingkaran besar pada meja kayu.


“Taruh ketiga bahan tersebut pada bentuk lingkaran besar itu.”


Sans meletakkan kayu pohon sier dan benang laba-laba antis bersama dengan tulang kelelawar api pada lingkaran besar tersebut dalam bentuk barisan horizontal.


“Bagus. Sekarang angkat tangan kananmu dan hadapkan pada pusat lingkaran itu. Fokuskan pikiran, kontrol kekuatanmu, dan biarkan mengalir dengan sendirinya.”


Sans menghela napas sambil menutup mata. Telapak tangan kanannya ia hadapkan pada pusat lingkaran, terutama pada tulang kelelawar api yang terletak di bagian tengah barisan horizontal.


Sans mengerahkan tenaga dan pikiran demi memfokuskan untuk membuat barang dari ketiga bahan tersebut. Waktu pun berlalu, belum terjadi apapun dan ia mulai kehabisan kesabaran sampai menggetarkan tangan.


“Dengan perasaan,” bujuk Duke, “sabar. Hal ini sering terjadi pada pemula. Hayatilah prosesnya.”


Sans menegakkan tangan kanannya kembali, berusaha meredam ketidaksabarannya dengan berfokus pada ketiga bahan kembali. Tekanan darahnya lama-kelamaan meningkat menahan frustrasi sebagai reaksi tidak terjadi apapun.


“Ti-tidak terjadi apapun,” tutur Sans berhenti fokus dan menurunkan tangannya, setelah setidaknya sepuluh menit. “Ini tidak berhasil.”


“Sans, kamu hanya harus fokus. Percaya saja, kalau kami lebih santai dan fokus, pasti ketiga bahan ini akan menyatu menjadi sebuah barang.”


“Tidak mungkin,” Sans menggeleng dan kembali duduk di hadapan meja tersebut. “Anda bilang saya punya potensi menjadi alchemist. Saya rasa Anda salah memilih, Profesor.”


“Tidak. Saya tidak salah. Kamu adalah orang yang tepat untuk menjadi alchemist. Kamu sudah punya potensinya. Mana kemauan kerasmu saat kamu berlatih? Aku ingin kamu menunjukkannya padaku dengan membuat bahan ini. Konsentrasi, fokus, dan santai, itu saja. Tenanglah, tarik napas, lalu lakukan lagi.”


Sans menghela napas, membuang frustrasinya jauh-jauh. Kini, ia kembali melatih potensinya. Tangan kanan ia angkat dan hadapkan pada ketiga bahan sambil menarik napas kembali. Ia memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengalir menuju tangan kanan, seakan-akan sedang menggunakan sihir, bedanya hanya mengandalkan otak.


Waktu kembali berselang cukup lama, tidak sabar ingin berhenti setelah menatap tidak terjadi apapun. Namun, sebuah cahaya bagai kilat berwarna putih kebiruan muncul dari tangan kanan seakan menyambar garis lingkaran tersebut beserta ketiga bahan.


“Ah!” ucap Sans tercengang.


“Tetap konsentrasi!” seru Duke.


Sans mengembalikan fokusnya, semakin banyak cahaya bagai kilat tersebut menyambar garis lingkaran berserta ketiga bahan hingga seakan menjadi ledakan kecil menyilaukan. Ledakan kecil menyilaukan dari kilat putih kebiruan itu lenyap mengungkapkan ketiga bahan itu telah menyatu menjadi sebuah barang.


Sebuah tongkat kayu berpercik api kecil telah berada di hadapan meja di antara garis lingkaran. Sans mengangkat tongkat tersebut jauh dari meja.


“Wow.”


“Proses pembuatan barang yang tadi kamu lakukan adalah transmutasi,” Duke menjelaskan, “Tongkat tersebut adalah contoh yang paling sederhana dan cukup mudah dibuat bagi alchemist pemula seperti dirimu. Dalam proses transmutasi, molekul dari setiap bahan didekonstruksi sebelum kemudian saling disatukan untuk membentuk sebuah barang.


“Ini baru awalnya. Kamu sebaiknya jangan senang dulu, karena saya akan memberikan kamu lebih banyak latihan, kamu akan menghadapi beberapa bahan sulit. Proses pembuatan setiap barang yang bisa dibilang cukup sulit memerlukan konsentrasi dan tenaga banyak. Jadi, setiap hari, kamu harus kembali ke sini untuk berlatih.”


“A-aku harus kembali ke sini?” ulang Sans.


“Ya, kamu sudah menunjukkan awal yang cukup bagus, kamu akan menjadi berbakat, alchemist berbakat. Kalau kamu ada kelas, kamu bisa datang ke sini setelah kelasmu.”


“Ba-baik.”


“Sans,” Duke memanggil saat Sans mengambil bajunya yang tergeletak di lantai, “pastikan tidak ada siapapun yang mengetahui hal ini. Tidak ada yang boleh tahu sama sekali.”


Sans sekali lagi terheran ketika Duke memperingatkan larangan itu sekali lagi. Alih-alih menganggapi, ia memakai bajunya dan melangkah keluar dari ruangan pribadi Duke.