
“Mock battle? Seperti waktu aku melawan Dolce?”
“Jangan khawatir, kita tidak perlu saling membunuh menggunakan panah berujung lancip. Ini hanya mock battle. Kuharap kamu berani menerimanya, seperti saat kamu menantang—”
“Aku terima,” Yudai secara berani menjawab.
Sans, Beatrice, Neu, dan Sierra ikut melongo ketika Yudai tanpa berpikir panjang menerima tantangan mock battle dari Zerowolf. Tay hanya melanjutkan makan siangnya tanpa menganggapi macam-macam.
“Tapi ingat ya, sama seperti dirimu, Profesor Dolce juga menganggapku seperti salah satu yang terbaik dalam kelas job archer! Besok sore, aku tunggu di ruang kelas job archer! Oh ya, kalian juga boleh datang menyaksikannya. Aku permisi ya!”
“A-anu—” Beatrice kehabisan kata-kata ketika Zerowolf telah berlalu.
“Wow.” Yudai sampai tidak percaya. “Ternyata jadi rumor.”
“Kamu tidak berpikir panjang saat menantang Profesor Dolce!” seru Neu.
“Habisnya aku tidak pernah tahu kalau Profesor Dolce itu alumni nomor satu sepanjang masa!”
***
Hanya berdiri menyaksikan Yudai dan Zerowolf saling berhadapan, tanpa pembatas, tanpa tempat duduk, hanya ada deretan papan tembak di samping, kelima teman Yudai sungguh melongo ketika mock battle akan diadakan di ruang kelas khusus archer.
Kedua murid archer tersebut telah menggenggam busur masing-masing pada genggaman tangan kiri. Setidaknya beberapa panah berkepala tumpul telah terkumpul pada masing-masing quiver di punggung.
“A-apa ini tidak apa-apa?” Beatrice mulai khawatir.
“Tidak apa-apa, selama panah mereka tidak berkepala tajam seperti panah asli, tidak akan ada yang terbunuh sama sekali,” tanggap Neu.
“Be-benarkah? Syukurlah.”
Tay hanya berdiri terdiam, jauh dari Sans, Beatrice, Neu, dan Sierra. Memikirkan mengapa dia harus ikut bersama mereka, apalagi untuk menyaksikan Yudai, seseorang yang mengajak untuk berteman, bertarung melawan Zerowolf.
Zerowolf menjelaskan peraturan mock battle, “Peraturannya sederhana. Kita langsung saja pada babak saling menembak daripada repot-repot bertarung menggunakan tangan kosong. Kita punya masing-masing lima belas panah tumpul untuk ditembakkan. Siapapun yang berhasil menembak lawan terlebih dahulu menang. Tetapi, siapapun yang kehabisan panah terlebih dahulu juga akan kalah. Ini adalah pertarungan siapa yang berhasil menembak atau siapa yang kehabisan panah terlebih dahulu.”
Yudai mengangguk. “Aku tahu. Aku sudah pernah mock battle dengan Dolce. Satu hal lagi yang kamu lupa sebutkan.”
Yudai perlahan mengambil salah satu panah tumpul dari quiver-nya, bahkan tanpa siapapun yang memberi aba-aba untuk memulai mock battle. Zerowolf tercengang melihat lawan di hadapannya itu telah mencuri start.
“Whoa?” Neu tidak kalah kaget. “Tu-tunggu dulu? Yudai?”
“Yudai? Tunggu Kamu mau berbuat curang? Belum ada siapapun yang memberi aba-aba,” tegur Zerowolf.
Yudai menempatkan ekor panah pada tali busur dan mulai membidik Zerowolf. Dia mengungkapkan begitu menarik tali busur dan ekor panah secara bersamaan menggunakan tangan kanan. “Sudah kubilang, satu hal yang kamu lupa sebutkan. Dalam pertarungan sungguhan, musuh tidak akan memberi aba-aba sama sekali.”
Tembakan pun akhirnya terlepas dari genggaman tangan Yudai, hasil dari tarikan kencang ekor panah dan tali busur itu membuat tembakan tersebut melesat tepat menuju Zerowolf.
Beruntung, refleks Zerowolf membuatnya bergeser dan menoleh menghindari tembakan tersebut. Saking kagetnya, dia sama sekali tidak menyangka Yudai akan mencuri start terlebih dahulu.
“Ke-kenapa?” ucap Beatrice ikut tercengang. “Padahal saat pertarungan aptitude test tidak seperti itu.”
Neu menjelaskan, “Yudai benar. Dalam pertarungan asli di luar akademi ini, tidak ada yang akan mengatakan aba-aba sama sekali, apalagi serangan diam-diam. Kita bisa saja tidak siap siaga jika seseorang atau segerombolan musuh menyerang kita dari belakang atau dari samping secara diam-diam.”
Sierra menambah, “Saat Sans bertarung di Labirin Oslork, aku ingat musuhnya bahkan mempersilakan dia untuk maju terlebih dahulu.”
Beatrice melongo. “Begitu. Ja-jadi pertarungan di luar akademi, apalagi setelah kita lulus dapat bervariasi.”
“Begitulah. Oh!” Neu ikut tercengang ketika Zerowolf mulai melancarkan tembakan pertama sambil melompat.
Lompatan Zerowolf menambah fokus dan kekuatan bidikan pada tembakan pertamanya menuju Yudai. Dia melepas tarikan kencang tali busur dan punggung panah ketika kedua kakinya masih berada di udara, sebelum kembali mendarat di lantai.
Yudai pun bergeser dan melompat menghindari tembakan tersebut. Masih sempat dia menarik salah satu panah dari quiver cukup cepat dan menembakkannya pada Zerowolf di hadapannya.
Sans, Beatrice, Neu, dan Sierra sampai memutar kepala berkali-kali, menyaksikan berbagai tembakan dari kedua murid archer tersebut. Keduanya dapat menyaksikan berganti posisi pertarungan sambil menembak.
Neu dengan cepat mengangkap panah tumpul tersebut dengan genggaman tangan kanannya. Beruntung refleks murid mage tersebut cukup cepat untuk melindungi Beatrice.
Tay berkomentar, “Beruntung bukan panah yang berlancip. Kalau benar, jangan harap bisa selamat.”
Neu membalas dan menurunkan genggaman tangan kanan, “Serius, bung? Saat seperti ini, kamu malah berbicara begitu? Kamu masih saja tidak tahu diri!”
Adrenalin Yudai semakin meningkat ketika dirinya menghindari tembakan Zerowolf. Pada saat yang sama, dia juga ingin mengalahkan lawannya itu hanya dengan satu tembakan. Bidikan bukan hanya harus dari tenaga genggaman tangan kanan ketika menarik tali busur dan ekor panah, tetapi juga arahan kepala busur yang digenggamnya menggunakan tangan kiri. Fokus matanya juga harus setajam pisau.
Sekali lagi, Yudai meluncurkan tembakannya. Kali ini, tembakan panahnya meluncur cukup cepat, melesat sesuai dengan hasil tenaga tarikan tali busur.
Zerowolf pun sekali lagi bergeser menghindari tembakan yang mengarah tepat menuju dirinya, ke kanannya. Panah tumpul tersebut sedikit hampir mengenai lengan kirinya, hanya sekitar lima centimeter.
Zerowolf pun terdiam ketika bagian lengan kirinya hampir bersentuhan dengan tembakan panah Yudai. Napasnya pun terengah-engah.
Diambilnya panah dari quiver tersebut, Zerowolf pun menyadari dari genggaman bahwa hanya tersisa tiga panah tumpul. Panah yang dia genggam merupakan panah ke-13.
Yudai juga menarik napas berkali-kali saking kelelahan berlari menghindari dan membidik Zerowolf pada saat yang sama. Sisa panahnya hanya tinggal empat buah di quiver punggungnya.
“Yudai, kuharap tembakanku kali ini kena dirimu.” Zerowolf mendekatkan ekor panah pada tali busurnya menggunakan genggaman tangan kanan.
Memanfaatkan situasi Yudai yang sedang menatap lantai menarik napas dan mengumpulkan kembali tenaga, Zerowolf melepas genggaman pada ekor panah bersamaan dengan tarikan tali busurnya. Tembakannya pun melesat tidak memedulikan situasi.
“Whoa!” Yudai mengangkat kepala ketika Zerowolf telah menembakkan panah sekali lagi menuju dirinya.
Yudai pun menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan berguling menghindari tembakan tersebut. Beruntung, refleks cepatnya dia manfaatkan. Diambilnya satu panah dari quiver sambil berbaring. Ekor panah dia tempatkan pada tali busur sebelum menarik keduanya secara bersamaan dan melepas meluncurkan tembakan.
“Whoa!” jerit Zerowolf ketika menyaksikan Yudai membidik dadanya.
Tembakan Yudai pun begitu cepat karena sekuat tenaga dia menarik ekor panah dan tali busur. Mengira tembakannya akan meleset dan mendarat pada lantai, kaki Zerowolf justru menjadi tempat pijakannya.
Zerowolf mengira tembakan Yudai akan meleset menuju lantai di hadapannya, maka dia lambat dalam bergerak. Begitu kaki kirinya terkena kepala panah tumpul tersebut, dia tercengang ketika sentuhan tersebut terasa, memicu pengalihan pandangan.
“A-apa?” ucap Zerowolf masih kaget.
“H-hah?” ucap Neu juga melongo.
“Whoa?” Yudai kembali bangkit dari posisi berbaring menyaksikan panah tembakannya mulai berbaring di lantai sehabis mengenai kaki Zerowolf. “A-aku menang?”
“Ya! Kamu menang!” jerit Beatrice.
“He-hebat, Yudai!!” seru Sans.
Zerowolf kini berlutut, sama sekali tidak percaya akan kekalahan atas Yudai. “Sialan!” Dia menepuk kening.
“Zerowolf.” Yudai menghampirinya dan mengulurkan tangan kanan. “Tadi itu mock battle yang menyenangkan. Aku menikmatinya.”
Zerowolf menyeringai, bangkit tanpa bantuan uluran tangan Yudai. “Ya. Kamu memang hebat. Tapi selanjutnya aku akan melebihi kemampuanmu dalam bertarung dan menembak. Mulai detik ini, kamu adalah rivalku! Selanjutnya, aku akan menjadi pemenangnya dan membuatmu merasakan ketegangan berlebih!”
“E-eh?” ucap Yudai sampai tidak bisa berkata-kata untuk membalas ucapan Zerowolf.
“Dalam mock battle selanjutnya, aku akan menjadi lebih kuat daripada dirimu!” Zerowolf menunjuk Yudai menggunakan telunjuk kanan. “Sebaiknya kamu tidak kabur saat aku menantang dirimu dalam mock battle sekali lagi. Kamu pasti akan menantikannya!”
“I-iya. Aku … menantikannya.” Yudai ikut menyeringai. “Aku tidak sabar jika waktunya sudah tiba. Aku juga akan mengembangkan diriku.”
“Baiklah!” seru Zerowolf pamit. “Sampai jumpa!!”
Melihat Zerowolf pamit sesudah mendeklarasi diri sebagai rival Yudai sambil menjerit, Sans dan Beatrice melongo tanpa suara sama sekali.
Neu hanya menggeleng. “Paling tidak dia hanya mencari perhatian. Dia hanya ingin menjadi yang terbaik dengan cara itu.”
Yudai membantah begitu menemui kelima teman dekatnya kembali. “Kurasa bukan begitu maksudnya.”