
Beberapa lampu berbentuk lingkaran bertempelkan lilin di empat sisi menyambut seluruh murid ber-job tipe fisik yang berhasil masuk kelompok A. Terangna cahaya api lilin berwarna oranye turut menonjolkan warna atap dan pilar kayu serta dinding cokelat.
Baru saja memasuki ruang depan, sebuah tavern ikut menyambut setiap tamunya. Meja beralaskan warna kuning tutul, karpet berwarna oranye, lukisan-lukisan bertatakan di dinding, dan perapian berbentuk trapesium di bagian tengah. Tidak lupa, tangga berbentuk spiral yang akan mengantar mereka menuju pintu-pintu kamar. Dari pandangan, penginapan tersebut terasa seperti di rumah sendiri atau asrama Akademi Lorelei.
Seluruh murid berdecak kagum hingga beberapa dari mereka tidak dapat menahan kegirangannya dengan menjerit. Mereka bangga dengan keindahan penginapan mewah di Silvarion, penginapan yang akan ditempati oleh murid kelompok A.
Seperti biasa, ketika mereka tiba di lantai dua, tulisan dua nama telah tertempel di masing-masing pintu, berarti mereka akan mendapat teman sekamar selama bootcamp berlangsung.
Yudai, Zerowolf, dan Riri, sebagai salah satu murid kelompok A, masing-masing mendapat teman sekamar yang berbeda, sangat berbeda. Mereka mendapati nama yang kurang familier di ingatan, semenjak mereka belum pernah mengenal selama di Akademi Lorelei.
Zerowolf pun mengeluh, “Kalau saja aku sekamar dengan Riri, pasti akan lebih seru.”
Riri membalas, “Ya, ini saatnya untuk berbaur dengan orang yang tidak biasa kita temui.”
“Aaaah … aku tidak ingin menghabiskan seharian penuh dengan istirahat.”
“Sebenarnya aku juga ….” Yudai mengangkat kedua kepalan tangannya. “Kalau masih ada di akademi, aku akan berlatih.”
Zerowolf menyeringai saat menemukan ide cemerlang dari ucapan Yudai, matanya seakan berbinar Perlahan, ia melirik rival bebuyutannya itu penuh harapan.
“Baiklah kalau begitu!” Zerowolf mengacungkan telunjuk pada Yudai. “Kita adakan mock battle lagi!”
Yudai sampai kaget hingga mundur satu langkah. “Mo-mock battle?”
Riri justru protes. “Kita baru saja placement test, jadi jangan paksa dia dan dirimu!”
“Kalau begitu, siapa yang tertembak duluan, dia yang kalah!” Zerowolf tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Sebuah pukulan mendarat tepat di atas kepala Zerowolf, menghentikan ocehannya. Yudai dan Riri juga ikut tertegun menatap sang pelaku tepat di dekat mereka, sama sekali tidak menyangka ada orang yang berani menghentikan ucapannya hanya menggunakan cara kekerasan.
“Bukan saatnya untuk mock battle. Kalian baru saja tiba di Silvarion.” Orang itu adalah Baron, profesor pengampu job archer selama bootcamp berlangsung.
“Pro-Profesor Baron?” ucap Yudai dan Riri bersamaan.
“Simpanlah tenagamu untuk besok. Pelatihan lebih penting daripada mengadakan mock battle. Kalian berdua juga, sebaiknya kalian beristirahat daripada asal heboh seperti dia.” Baron kemudian melirik pada Yudai. “Apa kamu menjadi anak emas Dolce?”
“A-anak emas?”
“Akhir-akhir ini Dolce sering membicarakan tentang dirimu. Apalagi dia pernah terlambat masuk rapat profesor karena mengajakmu berbicara di ruangannya.”
Zerowolf cukup melongo mendengar kenyataan tersebut. “Ja-jadi Dolce sering bertemu denganmu, Yudai?”
Baron pun berlalu menatap murid-murid lain yang masih berada di depan pintu kamar masing-masing. “Ingat, penilaian tidak memandang siapa yang menjadi anak emas, semua murid adalah sama. Pastikan kalian semua tidak bersantai dan mulai bekerja keras selama bootcamp berlangsung, itu saja. Selamat beristirahat.”
Semuanya terdiam menatap Baron menuruni tangga, memang tidak akan ada kegiatan pada hari tersebut. Sampai-sampai mayoritas dari mereka melirik pada Yudai, Zerowolf, dan Riri.
Riri memalingkan wajah dari perhatian. “Dasar, inilah kenapa aku tidak ingin kalian mock battle pada saat begini.”
“Apa-apaan ini!! Kamu sering bertemu Dolce?” Zerowolf menjerit heboh. “Kamu dari tadi tidak menjawab pertanyaanku? Latihan khusus, kah?”
“Sebenarnya bukan apa-apa,” jawab Yudai mempertahankan wajah polos tidak bersalahnya.
***
Lokasi penginapan khusus murid kelompok B merupakan penginapan yang sama ketika pertama kali field trip ke Silvarion. Bangunan tersebut berada di pusat kota menghadap air mancur berpatung ksatria.
Hal-hal familier terasa ketika memasuki gedung penginapan, dinding cokelat beserta chandelier di langit-langit. Apalagi ketika mereka mengintip ruang makan dekat deretan pintu kamar.
Mereka bernapas cukup lega menyadari mereka tidak masuk kelompok C. Beberapa dari mereka bahkan “merayakan” keberhasilan agar terus bertahan di akademi.
Akan tetapi, kehadiran Tay, sebagai murid paling dibenci, memuramkan situasi. Mendadaknya, dirinya menjadi pusat perhatian. Banyak murid yang tidak ingin berpura-pura bahwa ia di antara mereka. Tatapan tajam, sinis, dan menusuk tampak tidak mempengaruhi dirinya.
Lana menghela napas menatap kehadiran Tay, pada saat yang sama ia menggesekan tangan pada rambut pendeknya. Benar-benar iba, berpikir bahwa Tay merupakan salah satu teman Sans, memang seharusnya tidak ada yang salah, apalagi setelah mencuri dengar percakapan beberapa dari murid laki-laki
“Astaga, lihat dia.”
“Ah, Tay, si swordsman sombong.”
“Gawat, kalau aku sampai sekamar dengan dia bisa jadi mimpi buruk.”
“Jangan dekat-dekat dia.”
“Setidaknya tidak ada teman dekatnya, ha ha ha.”
Lana mengempaskan keberaniannya untuk melangkah, tidak peduli omongan murid lain terhadap Tay. Akan tetapi, sebuah genggaman menghentikannya, terpaksa merelakan Tay berlalu.
Ia menoleh sambil membuka mulut. Sandee-lah orang yang menghentikannya untuk menemui Tay.
“Kamu tidak ingin dalam masalah, kan?”
“Oh! Kamu yang sering digoda Zerowolf, kan?”
Wajah Sandee memerah. Matanya melebar. Tersindir, apalagi sering sekali dirinya terlihat kesal ketika Zerowolf mencoba bercanda dengannya.
“K-kamu ngaco! Dia justru sering mengangguku, dan kamu sendiri tahu kan sebagai temannya?”
“Ah, jangan begitu dong. Oh ya, kenapa kamu menghentikanku? Padahal dia teman Kakak.”
“Kakak?”
“Itu lho, Sans.” Lana mengulumkan senyum tidak bersalahnya. “Kakakku yang bermantel putih dan sering bersamanya.”
“Ah, dia bukan ‘kakak’-mu benaran, kan?”
“Duh. Kasihan sekali si swordsman itu. Seandainya saja teman-temannya ada di sampingnya sebagai sesama murid kelompok B, atau mungkin dia bisa saja ke kelompok A.”
Sandee menepuk keningnya. “Duh, kebanyakan temannya justru pergi ke Vaniar. Lalu aku tidak mengerti, kenapa ‘kakak’-mu itu ikut ke sana, padahal senjatanya belati?”
“Wah, wah, wah….” Seluruh tatapan tertuju pada empat murid laki-laki bermantel dark blue cukup bernyali mendekati Tay. “Kita bertemu lagi, di sini.”
Tay langsung mengenali keempat orang itu. Mereka adalah keempat “mantan” sahabatnya semenjak masuk ke Akademi Lorelei, sekaligus teman sekelasnya.
Tay menggeleng. “Kalian mau menjatuhkanku?”
Salah satu dari empat murid itu memperhatikan intonasi mengintimidasi Tay. “Inilah kenapa semuanya membencimu. Kamu pantas menjadi murid yang paling dibenci di akademi ini!”
Lana bereaksi meniup napas. “Kejamnya.”
Tay kembali menyindir, “Daripada kalian mengangguku, daripada kalian menjauhiku, daripada kalian mencibirku, lebih baik kalian simpan tenaga untuk besok.”
“Masih berani sok mulia kamu!! Kamu pikir kamu itu suci? Kamu pikir teman-teman dekilmu mengasihanimu setelah kami membuangmu, hah!” jerit salah satu dari keempat orang itu.
“Aku tidak peduli.” Tay membuang muka. “Sudah kubilang sebelumnya, kalian hanya buang-buang tenaga.”
“Awas saja! Kami akan buat kamu menderita di kelompok B!”
“Nanti kalau ada mock battle, kalian yang akan menderita.”
“Kita bertanding siapa yang akan lebih hebat!” jerit keempat mantan teman Tay kompak menantang.
Seluruh murid kelompok B pun merinding menyaksikan pernyataan dari kedua belah pihak, empat lawan satu, memang tidak adil jika akan ada mock battle pada hari-hari mendatang selama bootcamp berlangsung.
“Kurasa saya sudah mendengar cukup panjang.” Suara seorang pria memicu kebungkaman seluruh murid hingga menoleh.
“Pro-Profesor Speed!” sahut beberapa murid.
Pria berambut cokelat kuning panjang mencapai leher dan gendang telinga tersebut merupakan salah satu profesor pengampu selama bootcamp murid job tipe fisik. Seluruh murid job swordsman mengenalinya sebagai profesor ber-job swordsman.
“Buk-bukannya harusnya Profesor Rivera yang hadir sebagai wakil profesor pengampu job swordsman?” ucap salah satu mantan teman Tay.
“Profesor Rivera sedang berhalangan hadir. Saya mendengar semuanya, keributan yang menguras tenaga. Kalian bisa saja menganggu pemilik penginapan jika terus bersikap seperti itu.
“Saya tidak mau bertanggung jawab kalau kalian sudah lelah dan tidak mampu melakukan pelatihan tepat pada hari pertama, yaitu besok. Kalian punya waktu banyak untuk beristirahat, seharian penuh.” Speed menghela napas. “Selama beberapa hari ke depan, kalian buktikan bahwa kalian pantas berada di Akademi Lorelei, buktikan pada saingan-saingan kalian kalau kalian lebih hebat, itu adalah cara terbaik daripada adu mulut atau berkelahi sembarangan.
“Saya akan menjadi salah satu pelatih untuk kelompok B, bersama asisten saya. Saya ingin melihat kalian maju bersama-sama sebagai kelompok B. Saya harap tidak perlu berbicara dengan kalian seperti ini lagi pada hari-hari mendatang.”
“Baik, Profesor Speed,” jawab beberapa dari murid kelompok B.
Salah satu dari mantan teman Tay mengacungkan jari. “Tay, kita berempat bersaing denganmu! Kamu akan kalah!”
Begitu seluruh mantan teman Tay berlalu, situasi di ruang depan penginapan kembali menjadi kondusif. Beberapa murid kembali bercakap-cakap, mengalihkan topik perseteruan antara Tay, sebagai murid paling dibenci satu angkatan, dan keempat mantan temannya.
Lana menepuk kedua pipinya. “Ah jadi kacau begini di hari pertama.”
Sandee berkomentar, “Aku sering melihat Tay dan keempat murid itu bersama-sama pada awal masuk ke akademi ini. Sering sekali mereka mengintimidasi beberapa orang, bahkan aku juga. Aku dibilang gadis gemuk.”
“Oh, jadi sebelum Zerowolf—”
Sandee mengangkat jari. “Tidak ada hubungannya dengan dia! Ya, meski Tay sudah berpisah dengan keempat orang itu, aku juga cukup kasihan dengan Tay.” Sandee membuang muka. “Aku sebenarnya tidak bisa memaafkan apa yang dia telah katakan padaku, ya, berharap saja Tay mampu melewatinya.:
Lana cekikikan. “Manis sekali.”
“Ti-tidak! Kamu salah paham!”
***
Tidak ada yang menyukai lokasi penginapan khusus kelompok C, atau bisa dikatakan tempat tersebut bukan penginapan. Sebuah gedung kosong melompong dan hanya ada satu ruangan, beberapa jendela telah pecah, lantai lapuk, dan kotak-kotak kayu kotor bertebaran di keempat sudut ruangan.
Sama sekali tidak ada tempat tidur. Tidak ada pilihan selain memilih lantai lapuk dan kotor sebagai tempat untuk tidur. Seluruh murid kelompok C tidak menyukai suasana kumuh lokasi penginapan itu, tidak ada satupun karyawan yang melayani seperti di penginapan lain, semuanya, termasuk makan, minum, dan bahkan buang hajat mereka harus siapkan sendiri
Mayoritas murid perempuan mulai meledakkan air mata menatap kondisi “penginapan” itu. Perasaan akan pertanda terabaikan oleh profesor, mimpi buruk tentang masa depan di Akademi Lorelei baru saja dimulai. Mereka semakin terancam begitu mendapat perlakuan seperti itu.
Melihat banyak murid perempuan menangis, memeluk, dan saling menghibur, Ruka justru membuang muka, tidak acuh terhadap kondisi kelompok C. Apalagi menatap banyak murid laki-laki satu per satu mulai menundukkan kepala dan merenungi performa mereka di hadapan kelima profesor pengampu bootcamp.
Penyesalan, itulah rasa yang mereka alami. Mereka berpikir jika mereka lebih giat lagi dalam berlatih, menyelesaikan misi, dan memperhatikan setiap profesor pengampu di kelas, mereka bisa saja berada setidaknya di kelompok B.
Sambil merenungi dan menghayati kehancuran untuk melangkah lebih jauh, mereka dengan berat hati mulai mengambil posisi dan berbaring di lantai, menginginkan bootcamp segera berakhir.
Ketika malam semakin larut bertaburan bintang, beberapa murid tidak dapat terlelap dalam kondisi “penginapan” bobrok itu. Air mata kembali bercucuran atas penyesalan dan ketakutan ketika bootcamp berlangsung. Mereka tahu, kalah sebelum bertanding merupakan hal yang tak dapat termaafkan bagi profesor pengampu, akan tetapi, mereka tidak dapat menahan bayangan jika mereka tidak menjalani bootcamp dengan baik. Apalagi, mereka takut masa depan mereka akan suram.
***
“BANGUN!!”
Jeritan Alexandria menginterupsi lelapnya tidur seluruh murid kelompok C. Ia sama sekali tidak memedulikan kondisi murid-muridnya yang masih sangat lelah sehabis meratapi kesedihan.
“Semuanya harap keluar temui saya selama satu menit!”
Mau tidak mau, seluruh murid bangkit dari tidur dan keluar dari “penginapan” satu ruangan tersebut. Kantung mata abu-abu, kerutan, dan wajah masam menjadi hal paling banyak terlihat bagi semuanya.
Di hadapan mereka sudah berdiri Alexandria dan dua orang murid tahun kedua sebagai asisten. Alexandria, seorang profesor yang sama sekali tidak diharapkan menjadi seorang pembimbing bagi kelompok C itu, menjulurkan bibirnya ke bawah.
“Jujur saja, kalian ini adalah yang terburuk yang kulihat kemarin,” Alexandria membuka suara sambil berkacak pinggang. “Kalian tidak berusaha keras untuk menunjukkan kemampuan kalian di hadapan saya, seluruh profesor pengampu, dan kelima murid asisten.”
Kata-kata Alexandria menusuk hati hingga memicu tumpahnya air mata beberapa murid kelompok C.
“Saya perhatikan beberapa dari kalian menangis. Tapi saya tidak peduli dengan kesedihan kalian. Saya tidak peduli bagaimana kalian anggap kelompok C seperti apa. Biar saya beritahu, tidak ada menangis bagi petualang, sesederhana itu.
“Kalian di sini mengikuti bootcamp untuk berlatih keras menjadi petualang! Saya tidak peduli dengan segala keluhan kalian terhadap kondisi penginapan kalian! Itu adalah hasil dari usaha kalian sendiri kemarin!
“Kalau kalian begini terus, bagaimana mau maju? Bahkan ada ya beberapa dari kalian akan dikeluarkan dari akademi ini pada akhir semester kalau usahanya seperti itu! Jadi saya harap kalian akan berusaha lebih daripada kelompok A dan B!
“Sebelum kita mulai, kalian lihat fajar sudah tiba.”
Alexandria menunjuk menggunakan wajah terhadap sang surya yang baru saja terbit dari ufuk.
“Kalian sudah tahu, kalian tidak diberi makanan atau minuman, jadi, saya beri tugas pada kalian. Kalian hanya punya satu jam untuk berburu untuk makanan. Begitu satu jam berakhir, saya ingin kalian kembali ke sini dan kita mulai pelatihannya. Kedua asisten saya akan mengawasi dan menemani kalian selama berburu. Kalau terlambat, nilai akan saya kurangi. Paham? Baik, kalian boleh ke hutan.”
Mendapat Alexandria sebagai profesor pengampu selama bootcamp seperti sebuah tamparan keras bagi hampir seluruh kelompok C. Beberapa dari mereka hanya berjalan dan berusaha keras untuk tidak tampak lesu dan lemas.
Beberapa dari mereka pula, seperti Ruka, justru mengabaikan bentakan dari Alexandria dan menganggap hal tersebut tidak terjadi. Mereka mulai berlari dan menyiapkan senjata masing-masing ketika mereka berlari menuju hutan melewati gerbang pembatas kota cukup dekat.