
Beberapa hari terakhir terasa berbeda bagi Yudai.
Sambil hanya berbaring di tempat tidurnya, ia merenungi setiap kejadian yang terjadi selama Sans tidak ada di akademi. Memang, tanpa Sans sebagai teman sekamarnya, terasa berbeda daripada biasanya. Ia lebih sering berlatih dan menjalankan misi pada waktu luangnya pada waktu tersebut.
Ditambah lagi, situasi di kalangan teman terdekatnya juga cukup berbeda. Karena insiden pesta dansa pada hari terakhir Festival Melzronta, mereka jarang saling bertemu, terutama Beatrice dan Neu yang masing-masing saling menghindar, tidak ingin berbicara apalagi membahas masalah itu.
Terkadang, ia juga sempat mengajak Beatrice di beberapa misi yang ia jalankan sebagai latihan. Terkadang pula Sierra juga ikut bergabung. Ia bahkan tidak pernah mengajak Tay dan Neu.
Di setiap kelas umum, mereka juga jarang berbicara, apalagi berkumpul. Hal itu membuatnya merenungi bagaimana cara mendekatkan teman-teman terdekatnya seperti sedia kala, meski tanpa ada Sans.
Suara ketukan pintu memutus rantai renungannya. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengangkat kedua tangan layaknya baru bangun tidur sambil menguap. Suara ketukan sekali lagi membuatnya melangkah mendekati pintu.
Begitu membuka pintu, sosok familier telah berdiri di hadapannya. Ia sangat girang menyambut kedatangan sosok itu.
“Sans!!”
Sans cukup tercengang menatap Yudai begitu gembira menyambut dirinya kembali ke kamar asramanya.
“Yu-Yudai. A-aku pulang.”
“Bagaimana pelatihan—”
“Yudai!”
“Oh, benar.”
Yudai menutup pintu begitu Sans kembali memasuki kamar itu. Sangat girang, teman terdekatnya telah kembali menjadi teman sekamarnya setelah sekian lama.
Dinding berkeramik cokelat, jendela bergorden abu-abu, langit-langit bercat hitam bergaris, chandelier menggantung lengkap bersama lampu meja berwarna kuning jingga. Atmosfer kamar itu menyambut Sans memutus sebuah kerinduan.
“Oke, sekarang tidak apa-apa, kan?” tanya Yudai.
Sans sudah tahu pertanyaan Yudai. Pertama-tama, ia mengeluarkan gauntlet-nya dari kantong untuk menjawab pertanyaan itu. Secara tidak langsung, ia mengoreksi perkataan Yudai tentang “pelatihan”, melainkan pembuatan sarung tangan alchemist.
Yudai langsung terkilas kembali ketika melihat gauntlet itu. Ia terpana ketika menyaksikan setiap bagian dari sarung tangan, yakni warna biru metalik pada bagian punggung tangan, bagian pergelangan jari berwarna merah dari daun ars, bagian pergelangan tangan berwarna ungu, berupa deretan serpihan bubuk kristal variant.
Ketika Yudai menyentuhnya, dapat terasa begitu keras berkat bahan baja. Cukup tercengang semenjak ia tidak menyangka sarung tangan seperti gauntlet alchemist benar-benar keras dan ringan pada saat yang sama.
“Jadi … ini terbuat dari laba-laba es, daun ars, dan satu lagi, um … apa ya? Yang kamu dapatkan selama berada di sana?”
Sans menjawab, “Kristal Variant. Juga, baja.”
“Keren sekali!” Tatapan mata Yudai seakan bersinar. “Coba pakai!”
“E-eh?”
“Jangan bilang eh. Lagipula hanya kita berdua yang berada di sini. Tentunya, aku tahu kamu tidak akan menggunakan gauntlet ini selama bersama yang lain, bukan?”
Sans kemudian memasukkan tangan kanannya ke dalam gauntlet, dimulai dari jari-jemari yang menubruk bagian ujung jari sarungan hingga seluruh tangan telah terbungkus. Ia mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan gauntlet itu.
“Wow!” seru Yudai semakin kagum. “Keren! Keren!”
Sans tersipu malu ketika Yudai memuji dirinya mengenakan gauntlet alchemist buatannya sendiri hingga harus melepasnya.
“Oh ya, aku ingin tahu, bagaimana perjalananmu di sana? Bagaimana kamu dapat kristal variant-nya? Aku penasaran!”
Sans tentu ingin bercerita saking semangat dirinya. Akan tetapi, ia kesulitan merangkai kata sambil mengingat kembali setiap kejadian saat dalam perjalanan selama kurang lebih tiga minggu.
Ia memulai ceritanya dari saat ia memasuki tambang kristal Munich yang merupakan sebuah gua, mengalahkan golem, menghancurkan rune penghalang, mendapat kristal Variant, lalu menghadapi wyvern crystal.
Yudai turut tercengang bahwa Duke terluka akibat melawan wyvern crystal. Seperti dugaannya, Duke selamat berkat Sans membantu menyembuhkan luka itu.
Kemudian, Sans kembali bercerita tentang proses pembuatan gauntlet alchemist. Mulai saat ia meminta seorang pengrajin untuk membuat beberapa sarung tangan sebagai dummy untuk uji coba, berburu kelinci hutan menggunakan kekuatan alchemist, melakukan uji coba gauntlet dummy, hingga melakukan transmutasi untuk membuat gauntlet asli secara mandiri.
Tepat setelah Sans menyelesaikan ceritanya, suara perut keroncongan Yudai meledak. Sans pun sedikit tertawa sambil melihat dari jendela matahari telah mencapai puncak langit.
***
“Ya, bisa kutebak kamu merindukan hidangan di kantin akademi.”
Tebakan Yudai cukup tepat. Sans menikmati setiap gigitan hidangan dari akademi pada siang itu, yaitu daging rusa bakar. Garingnya kulit dan daging berair sudah dapat ia nikmati dengan puas.
“Semuanya terasa beda tanpamu, Sans.”
Sans menganggapi, “Ke-kenapa? Apa karena aku tidak ada?”
“Sebenarnya—”
“Sans!” Neu menepuk pundaknya dari belakang, menghampirinya. “Kamu kembali juga! Akhirnya!”
“Neu, sudah lama tidak bertemu,” sapa Sans.
Neu mulai duduk di samping Sans. “Lebih dari tiga minggu? Wow, cukup lama. Kalau kamu tidak menggunakan surat izin, kamu pasti akan mendapat hukuman—”
“Neu, jangan bilang begitu pada Sans, ingat?” Yudai memperingatkan.
“Maaf, aku jadi ingat Sierra yang absen tiga hari tanpa izin,” bela Neu, “keadaan kelas berbeda tanpamu, Sans.”
Sans lagnsung bertanya, “Anu, Neu, apa kamu sudah berbicara dengan Beatrice?”
Mendengar pertanyaan itu, Neu langsung termenung.
“Ma-maafkan aku.”
“Ti-tidak masalah. Lagipula aku lebih ingin fokus pada bootcamp.”
Sans langsung terdiam ketika mendengar kata bootcamp terlontar dari mulut Neu. Ia mengingat kembali ia memang banyak tertinggal dalam materi pelajaran di setiap kelas umum. Kata itu lebih membuatnya sedikit berputar-putar.
“Tunggu dulu. Bootcamp?” Sans sampai mengulang kata itu.
“Hah!” Neu langsung menepuk meja. “Yu-Yudai, kamu belum memberitahunya?”
“Ya, aku juga terbawa suasana saat bertemu Sans lagi.” Yudai menepuk bagian belakang kepalanya.
“Juga, kudengar dari murid tingkat atas tentang hal ini. Murid bermantel putih yang bahkan bertahan di semester kedua biasanya akan memiliki performa rendah. Pada akhirnya, tidak peduli hasil mereka di ujian akhir semester, mereka akan dikeluarkan karena alasan itu.”
“Whoa, whoa, whoa!” Yudai memotong. “Meski mereka lulus ujian akhir semester? Dikeluarkan hanya karena memiliki performa rendah saat bootcamp saja sudah aneh dan tidak adil. Kenapa? Kenapa harus begini?”
Sans menundukkan kepala kembali. Ia mengingat perkataan murid tingkat atas pada saat dirinya tidak lulus satupun bagian aptitude test dan terpaksa menyandang sebagai murid bermantel putih, murid tanpa job. Perkataan-perkataan itu kini terasa seperti sebuah ancaman bertekanan tinggi. Tidak heran, ia mungkin akan bernasib sama seperti mayoritas murid bermantel putih pada umumnya, dikeluarkan pada akhir semester kedua meski memutuskan untuk melanjutkan tidak peduli apa yang terjadi.
Neu kembali menjelaskan, “Bootcamp di akademi sebenarnya terbagi menjadi dua berdasarkan tipe kemampuan, fisik dan sihir. Seperti yang kalian tahu, swordsman, archer, knight, monk, dan royal guard tergolong tipe fisik,. Sedangkan mage, priest, song mage, dan battle mage tergolong tipe sihir.
“Nah kedua kelompok tipe kemampuan itu akan terpisah selama bootcamp. Tipe fisik akan mengadakan bootcamp di Silvarion, sedangkan tipe sihir di Vaniar, kota khusus penyihir.
“Nah, secara teknis, murid tanpa job tidak termasuk ke dalam keduanya. Kamu harus membuat keputusan mau mengikuti bootcamp yang mana. Tipe fisik atau sihir. Apapun yang kamu pilih, kamu harus melakukan sebisamu. Cobalah untuk dapat nilai yang cukup agar kamu bisa bertahan.
“Sans, kamu mungkin menggap aku hanya bilang seakan ini hal yang mudah, jujur saja, bagiku, bootcamp akan menjadi hal yang terberat selama tahun ajaran pertama kita. Keputusanmu sangat penting dalam memilih tipe kemampuanmu. Apalagi kamu tidak memiliki job.”
Yudai berkomentar dan memberi usul, berlagak seperti tidak tahu rahasia Sans. “Kamu kan pakai belati. Masuk akal jika kamu ikut bootcamp job tipe fisik denganku!”
“Begitu. Aku harus memutuskannya. Sulit sekali,” ucap Sans menghela napas.
***
Kesulitan untuk memutuskan akan mengikuti salah satu dari kedua bootcamp tersebut, Sans memutuskan untuk menemui Duke. Padahal, mereka baru saja tiba di akademi pada hari itu.
Ia telah berdiri di hadapan pintu ruang pribadi Duke. Semakin ia merenungi dua pilihan sulit, kemampuannya sejauh ini, dan dua tipe elemen penyerangan yang berbeda sebagai alchemist – belati dan kumpulan skill yang menyerupai sihir – semakin sulit pula ia mengelilingi benaknya untuk membayangkan.
Ibarat menemui sebuah jalan buntu, Sans ingin meminta pendapat dari Duke tentang bootcamp tersebut. Ia terlebih dahulu mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Nihil jawaban. Tidak ada respon sama sekali, apalagi pintu masih tertutup.
Sekali lagi, ia mengetuk pintu. Masih berpikir Duke pasti berada di ruangan pribadinya setelah tiba bersamaan di akademi. Sudah menunggu beberapa lama, masih saja hening.
“Oh, Sans!” Terdengar sapaan Hunt dari samping kirinya. “Sayang sekali, Duke sedang ke luar kota.”
Sans menoleh pada Hunt yang membawa tumpukan dokumen di sekitar selasar ruangan pribadi profesor. Ia melongo mendengar Duke langsung ke luar kota tepat setelah tiba di akademi bersamaan.
“Kamu sudah mendengar kalau seluruh murid tahun pertama akan mengikuti bootcamp, kan?”
Sans hanya mengangguk, mengetahui bahwa bootcamp akan diadakan dalam tiga hari mendatang.
“Kamu juga sudah mendengar murid tanpa job sepertimu harus memilih di antara dua pilihan, bukan? Apa kamu sudah memutuskan akan mengikuti kategori yang mana?”
“Uh, masih belum. Saya … cukup bingung, Profesor.” Sans sedikit menunduk.
“Oh, kamu menggunakan belati, kan? Begini saja, kamu lebih baik mengikuti bootcamp untuk job tipe fisik di Silvarion. Pada ujian akhir semester, Profesor Dolce pernah bilang kamu sudah lebih berkembang daripada saat aptitude test. Menurut saya, akan lebih masuk akal kalau kamu ke Silvarion.”
Nasihat Hunt memicu berbagai kilas balik. Memang, Sans sering sekali bertarung menggunakan belati saat menjalankan misi dan tugas dari akademi. Pada saat yang sama, ia juga ingin memanfaatkan skill alchemist lebih jauh lagi, ia masih ingin belajar tentang sihir.
“Pada akhirnya, kamu sendiri yang akan menentukan. Saya meminta keputusan kamu sehari sebelum bootcamp dimulai. Keputusanmu sebagai murid tanpa job sangat krusial.”
Krusial. Sans mengerti pasti setiap murid bermantel putih yang bertahan di akademi setelah satu semester sama-sama sedang menghadapi kesulitan. Apapun yang terjadi, apapun pilihannya, apapun usahanya, peluang bagi murid tanpa job mendapat performa rendah selama bootcamp sangat tinggi.
“Jujur saja, saya tidak ingin kamu dikeluarkan pada akhir semester ini. Kamu cukup menjanjikan sebagai murid tanpa job. Semoga kamu dapat melakukan yang terbaik.”
Sans kembali terdiam menyaksikan Duke berlalu. Satu lagi beban seakan tertanam. Hunt menaruh ekspektasi padanya agar ia dapat melakukan yang terbaik selama bootcamp berlangsung.
***
“Ah! Sans!”
Panggilan Beatrice terdengar dari belakang ketika ia berbelok melewati tangga, membuatnya berbalik.
“Kamu kembali juga.”
Bibir melengkung ke atas, mata biru, serta sun hat khas putihnya. Ciri khas Beatrice seperti itu yang Sans rindukan.
“A-apa ibumu baik-baik saja?”
Berbohong, satu-satunya solusi dalam menjawab pertanyaan seperti itu. Sejak ia menulis alasan palsu dalam surat izinnya, ia telah memendam sebuah jawaban. Bagi Sans, berbohong tidak mengenakkan, apalagi semenjak alchemist dianggap sebagai ilegal, ia tidak mungkin berkata hal sebenarnya. Sudah menjadi rahasia di antara dirinya, Yudai, dan Duke.
“Maafkan aku.”
“Ti-tidak, tidak apa-apa. A-aku hanya berharap ibuku baik-baik saja. Aku berharap agar bisa mendapat air mata phoenix lagi, meski hanya setetes, untuk menyembuhkan ibuku. Pada akhirnya, aku tidak sempat ke gunung berapi tepat sebelum kembali kemari.”
“Aku tahu, kalau saja ayahku tidak sakit, pasti—”
“Tidak, tidak, ayahmu paling membutuhkannya waktu itu. Kamu juga tidak ingin keluar dari akademi dan pulang ke rumah, bukan?”
“Benar.” Beatrice meniupkan napas. “Mungkin setelah bootcamp selesai, kamu bisa mencari phoenix dan mengambil air matanya. Tapi … cukup sulit untuk mencari phoenix, tidak akan semudah sebelumnya.”
“Ya, phoenix juga cukup langka.”
“A-anu—” Beatrice mengangkat kepalanya. “—se-sebenarnya aku ingin berbicara denganmu. A-aku … akhir-akhir ini … entah mengapa Neu menjauhiku. Semenjak insiden di pesta dansa, terutama saat kamu tidak ada, jarak di antara kami berdua semakin jauh, seperti saat dulu, saat kami berdua tidak boleh saling bertemu selama bertahun-tahun.”
Seperti dugaan Sans, dapat ia perhatikan Beatrice termenung ketika bercerita tentang dirinya dan Neu akhir-akhir ini. Perasaan ini hampir ekuivalen dengan saat Neu mendapat pertanyaan yang sama.
“Aku hanya ingin berbicara dengannya tentang apa yang terjadi. Aku menyesal … sangat menyesal. Neu telah kubawa ikut campur dengan urusanku, urusanku dengan Earth. Aku hanya ingin Earth menjauh dariku saat itu. Aku … merasa bertanggung jawab. Saat ingin bertemu dengannya untuk berbicara, dia justru menjauhiku.
“Aku tidak tahu mengapa. Aku merasa kami berdua akan saling berjauhan lagi, lebih buruk lagi, dia sampai tidak ingin berbicara denganku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.”
Sans menepuk pundak Beatrice. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku tidak tahu apa-apa tentang memberi nasihat. Akan kukatakan sebisa mungkin. Yang berlalu biarlah berlalu.”
Sungguh berat bagi Sans untuk mengatakannya, apalagi mengingat dirinya pernah menyesal tidak lulus aptitude test dan berakhir menjadi murid tanpa job.
“Kamu orang yang benar-benar ceria, kurang lebih mendekati Yudai. Mungkin, sebentar lagi, kamu akan bisa berbicara dengan Neu lagi. Kalau kamu siap, cobalah. Mungkin Neu juga memiliki perasaan yang sama seperti dirimu akhir-akhir. Aku sendiri sudah dengar dari Neu saat makan siang. Neu juga pasti sedang mempersiapkannya. Kalau kalian berdua siap, kalian bicaralah.”
Tanpa sepengetahuan mereka, Neu berdiri di balik dinding, mengintip dan mencuri dengar percakapan. Hatinya sedikit tersayat saat Beatrice memiliki perasaan yang sama.
Ia merenungi sebuah konsekuensi yang telah ia perbuat, berkonflik melawan Earth, apalagi tanpa ia sangka, Tay turut membantu.
Bootcamp kategori sihir di kota Vaniar dapat menjadi kesempatannya untuk berbicara kembali dan mengatasi masalah tersebut.